17 Years Old

17 Years Old
Study Tour


__ADS_3

Ada beberapa lokasi yang akan dikunjungi pada kesempatan pertama study tour yang diikuti seluruh siswa IPA.


"Aileen mana ya kok jam segini belum dateng"


Tanya Aruna yang tampak khawatir karena Aileen belum kunjung datang padahal tinggal 20 menit lagi mereka akan pergi.


"Saya udah coba telpon tadi, tapi engga diangkat"


"Anak-anak yuk yang udah dateng bisa masuk bis nanti di dalem diabsen nya"


"Gimana dong ini Aileen kok tumben banget telat"


"Kalian kedalam dulu aja biar Aileen saya aja yang tunggu. Tapi tempatin ya" ucap Azka.


"Iya oke deh"


"Eh ini koper saya bawa dong buat nempatin"


Tyas dan Aruna membawa koper milik Azka kedalam bis.


"Si Azka bawa apaan sih berat banget"


"Ga tau heran padahal kan kita cuman tiga hari pergi"


Dengan kompak Aruna dan Tyas sedikit membanting koper milik Azka sesat mereka masuk kedalam bis.


"Udah disini aja deh"


Aruna dan Tyas duduk ke sebrang barisan agar satu jajar dengan kursi Azka.


"Eh kenapa lu duduk sama gua" tanya Aruna karena Tyas duduk seenak jidatnya disamping dia karena sebelumnya Aruna janjian dengan Aileen.


"Ih temen sebangku gua ga ikut study tour jadi gua ga ada temen, Aileen biar sama Azka aja lah. Gua ga mau duduk sama Azka berisik dia"


"Kalau Aileen marah gua ga tanggung jawab" ucap Aruna


"Tenang aja Aileen ga akan marak kok, lagian dia duduk sama Azka ini"


Suasana gaduh yang bisa menggambarkan kondisi bis saat ini,


"Eh apaan ini tuh orang kaga salah naik bis kan"


Aruna dan Tyas tampak heran sekaligus kaget karena siswa kelas 3 IPA 1 tiba-tiba masuk kedalam bis mereka.


"Karena bisnya besar jadi digabung ya"


Pengumuman sederhana dari salah satu guru membuat Aruna dan Tyas tersulut emosi. Tanpa persetujuan atau diskusi dulu kenapa dengan mendadak seperti ini main gabung aja.


Baik Aruna ataupun Tyas sangat tidak menyukai anak Kelas IPA ini karena mereka selalu mengomentari hidup adik kelasnya.


"Bisa engga sih kita ganti bis aja, aduh engga akan betah nih gua kalau gini cara nya" ucap Aruna cukup keras seperti pengumuman membuat kakak kelasnya itu menatap sinis kearahnya. Aruna tidak mempedulikan nya dia memang benar-benar sedang kesal.


Tiba-tiba


"Kak duduk sini aja"


Aruna menarik tas ransel yang masih digendong si pemiliknya, membuat pemuda itu sedikit tersungkur ke belakang karena gerakan tiba-tiba yang dilakukan Aruna.


"Disini kosong emang"


"Iya kosong kok kak"


"Oke makasih" ucap Axel yang sekarang sedang membuka tas ranselnya.


Aruna tiba-tiba merasa senang, ide berliannya muncul saat melihat sosok Axel. Kenapa dia biasa melupakan pemuda ini yang juga anak kelas IPA 1,


"Aruna lu mau bikin Aileen duduk sama Axel?"


Dengan berbisik Tyas bertanya ide gila itu pada Aruna,


"Iya tenang aja lu, ini moment baguskan buat mereka pdkt"


"Tapi ini menurut gua agak ekstrem mana mau Aileen"


"Eh kan belum juga dicoba, lu diem aja udah. Ntar kalau mereka jadian kan lu juga ikut dapet traktiran"


Tyas pun mengangguk setuju,


Setelah semua orang duduk di tempat masing-masing, dan diabsen oleh guru mereka masih punya waktu 10 menit lagi untuk pergi menuju lokasi tujuan, sebari menunggu beberapa siswa yang belum datang.


Aileen dan Azka masuk lewat pintu belakang bis, mencari bangku kosong dengan tas Azka sebagai petunjuk untuk mencari kursi mereka.


Aileen duduk dibagian dekat kaca sedangkan Azka duduk disampingnya.


Axel duduk tepat didepan bangku mereka sendirian. Aileen tidak menyadari jika pemuda yang di depannya itu adalah Axel.


Sementara Aruna dan Tyas mereka turun lewat pintu depan bis dengan niat ikut menunggu Aileen, sehingga mereka tidak mengetahui jika Aileen sudah datang dan masuk ke dalam bis bersama Azka.


"Leen ga apa kan saya duduk sama kamu"

__ADS_1


"Iya engga apa kok tenang aja"


"Saya bawa psp nanti kita main bareng ya"


Aileen tersenyum mengangguk,


Arjuna yang duduk di barisan yang sama dengan Aruna tidak sengaja melihat Aileen saat dia menaruh tasnya di bagasi atas.


Tanpa pikir panjang,


Arjuna meraih kembali tas yang baru saja dia taruh dan berjalan menuju tempat duduk Axel.


"Axel kamu duduk dibangku aku aja, biar aku disini"


"Tapi-"


"Engga apa, biar aku duduk disini sendiri kamu duduk disana aja"


Axel pun menuruti perkataan Arjuna karena terlihat jelas Arjuna sedikit memaksa untuk bertukar tempat.


Aileen yang tadinya sedang mengobrol dengan Azka, sekarang ikut menyimak pembicaraan kedua pemuda yang tepat ada depan tempat duduknya.


Arjuna dan Aileen saling bertukar tatapan dan tatapan itu terhenti saat Axel bangun dari tempat duduknya.


"Jadi yang tadi duduk depan aku itu kak Axel"


Aileen baru menyadarinya, dan sekarang pemuda yang ada dihadapannya berganti menjadi Arjuna. Itu membuat Aileen merasa dongkol dan tidak habis pikir kenapa Arjuna menukar tempat duduknya dengan Axel.


"Ih~ kalian ternyata udah di dalem kesel ih" Tyas memukul bahu Azka cukup keras dan membuat pemuda itu meringis.


"Emang kalian dari mana"


"Nyariin kalian lah, ih nyebelin banget cape tau"


Keluh Tyas kembali,


"Anak-anak semua udah masuk ke dalem kan, Azka Aileen kalian udah di dalem" tanya pak Tatang.


"Iya udah pak" Jawaban kompak dari Azka dan Aileen.


"Aruna, Ningtiyas duduk bisnya mau jalan"


"Tyas pak bukan Ningtiyas"


"Iya sama aja ayo duduk kita mau berangkat"


...🏫🏫🏫...


Saat bis baru saja keluar dari kawasan sekolah,


"Apaan ini!?" Tyas membuat seisi bis kaget


"Apaan sih Yas" ucap Aruna


Kini Tyas sudah mendapatkn tatapan dari penghuni bis lainnya.


"Sorry sorry bukan apa apa, cuman agak kaget"


"Lu jangan kaget ya, diem lu"


"Apaan sih engga jelas banget lu"


Tyas berbisik pelan di telinga Aruna,


"Itu kok kenapa yang duduk depan Aileen kok jadi si Junet"


Mata Aruna langsung memastikam dan benar saja dia baru menyadari hal ini, sedetik kemudian Aruna beranjak dari tempat duduknya


"Udah Aruna udah biarib aja ntar kita malah ributkan engga lucu kan"


"Si junet bener-bener ngajak ribut"


Aruna benar-benar dongkol dengan sikap Arjuna.


...🏫🏫🏫...


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya bis yang membawa siswa IPA dari sekolah sampai ke salah satu hotel yang menjadi tempat menginap selama di Bogor. Waktu keberangkatan mereka saat itu sore jadi malamnya mereka baru sampai, karena siangnya siswa IPA masih tetap mengikuti pelajaran seperti biasa.


Karena kelelahan banyak siswa yang langsung mendatangi guru mereka untuk mendapatkan kunci kamar dan segera pergi istirahat. Setiap kamarnya terdapat dua kasur untuk di isi oleh empat orang siswa. Begitu pula dengan tiga serangkai. Mereka bertiga, dengan salah satu teman sekelasnya yang bernama Sandra di tempatkan di satu kamar yang sama.


Niat hati saat sudah sampai hotel mereka ingin lansung tidur.


Tapi nyatanya saat jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari, Sandra memilih untuk tidur duluan di ranjang dekat pintu kamar mandi sesaat setelah mereka sampai. Tyas yang menjadi teman satu ranjangnya masih duduk diranjang Aileen dan Aruna. 3 gadis itu masih tetap terjaga. Mereka masih asik dengan obrolan mereka.


"Kak Axel kok bisa satu bis sama kita ya tadi?? emangnya dia kelas IPA 1?"


"Dari taun kemaren juga dia emang kelas IPA 1," jawab Tyas.


"Masa? terus waktu ujian sekolah kenapa dia ga ada dikelas yang sama kaya kita Aruna?"

__ADS_1


"Dia kan murid pindahan Leen, walaupun anak IPA 1 karena murid baru ya nama absennya masih di belakang,"


"Hooh dia kan sekelas sama aku waktu ujian," tunjuk Tyas pada dirinya sendiri.


"Ah~ pantes kalau gitu,"


"Tapi tadi sebel banget deh gua, harusnya yang duduk depat kamu tu kak Axel, eh ini malah si Junet," umpat Aruna kesal.


"Padahal tadi kita udah mau deketin kamu sama kak Axel tuh Leen. Tapi gagal sudah rencana kita,"


"Iya tadi juga aku liat sendiri waktu kak Juna minta tuker tempat. Nyebelin ya, maksud dia apa ?? apa belum bisa move on dari aku ,"


"Dihh kepedean banget ni cewe," cibir Aruna.


"Dia yang putusin eh dia sendiri yang gagal move on, menyedihkan," ucap Tyas yang direspon anggukan kedua temannya.


"Aruna, menurut kamu kak Axel tu orangnya kaya gimana ??"


Tidak ada salahnya bukan Aileen mencari tau sedikit hal tentang Axel pada temannya ini. Sebagai bentuk usahanya sebelum kesempatan berdekatan dengan Axel datang lagi.


"Emangnya kenapa Leen?"


"Aruna Aruna, beneran ga peka ya lu?"


"Apaan??"


"Aileen tu lagi ngumpulin info soal kak Axel, biar pas pdkt nanti tu enak gitu ada bahan obrolan,"


"Oh~ bilang dong, kan mana paham gw," Ucap Aruna dengan memukul pelan Tyas dengan novel yang di pegangnya. Ia baru mengerti maksud dari obrolan panjang mereka yang banyak membahas soal Axel. Gadis itu bahkan menunda acara membaca novelnya saat sampai tadi.


"Eh, itu buku yang dikasih kak Axel bukan?" tanya Aileen sambil menunjuk novel yang sedang Aruna pegang. Dia ingat betul dengan sampul hitam novel pemberian Axel yang sering Aruna bawa ke sekolah. Apa ceritanya seseru itu sampai Aruna sering sekali terlihat sedang membaca buku itu. Yang Aileen tahu, Aruna hanya butuh waktu beberapa jam untuk menyelesaikan bacaannya, apalagi novel hitam dengan cover mawar merah itu tidak terlalu tebal.


Aruna menganguk sebagai jawaban, "Kamu udah selesai bacakan ?? aku boleh pinjam ga ?"


"Novel ini ?? jangan jangan, gw belum selesai baca," Aruna menyimpan novel itu si bawah kakinya, menindihnya dengan paha kanannya. Seakan menjaga novel iti agar tidak jatuh ketangan siapapun, termasuk temannya.


"Aruna jangan pelit dong,"


"Iya, itu kan novel udah lama, masa lu belum selesai juga bacanya,"


"Di bilang belum selesai, dan sebaiknya lu jangan baca deh Leen,"


"Kenapa emangnya ?? ada pesan rahasia dari kak Axel di novel itu ??"


"Bukan itu, pokoknya lu ga akan suka deh liatnya. Percaya sama gua,"


"Awas," Tyas yang memang duduk di sebelah kanan Aruna dengan mudah mendorong gadis itu, dan berhasil mengambil novel hitam itu dari benteng pertahanan Aruna. Aruna bahkan hampir tersungkur kebawah ranjang saking kuatnya dorongan Tyas yang tiba-tiba barusan.


"Gua jadi penasaran sama ni buku," Tyas menggeser duduknya jadi di sebelah Aileen. Aileep pun merapatkan duduknya. Di bukanya buku itu oleh Tyas di salah satu halaman dengan acak.


"Astagfirullah," ucap kedua gadis itu bebareng. Bahkan Tyas melempar buku itu kesembarang arah.


"Itu kok ada gambar set*nnya ??"


"Serem Ihhh,"


"Kan gua udah bilang jangan,"


Novel itu jatuh ke lantai dengan halaman yang terbuka di bagian yang Tyas dan Aileen lihat tadi. Di halaman sebelah kiri terdapat gambar sosok perempuan yang memang menyeramkan, dan halaman sebelah kanan terdapat sebuah nama dengan sepenggal cerita.


Saat Aruna hendak mengambil novel miliknya ia di kejutkan dengan satu pasang kaki pucat.


"Astaga Sandra bikin kaget aja lu," Sandra yang terkantuk tidak memperdulikan ucapan Aruna barusan, dia alangsung berlalu ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Atas permintaan kedua temannya Aruna memasukan novel itu ke dalam tasnya. Sebaikanya dia lanjutkan nanti saja. tak lama Sandra keluar dari kamar mandi. Meminta teman sekamarnya itu untuk segera pergi tidur karena besok pagi meraka akan ke Museum IPTEK. Takutnya karena tidur telat mereka akan susah di bangunkan dan akan mengantuk saat melakukan kegiatan nanti.


Pada saat mereka akan pergi tidur, mereka berempat mendengar suara shower kamar mandi yang menyala. Membuat mereka kembali terbangun dan menatap satu sama lain. Dilihatnya Sandra yang memang dialah orang yang terakhir kali menggunakan kamar mandi tersebut.


"Gua ga ada nyalain shower kok," Saat Sandra berkata seperti itu. Suara shower yang menyala tadi itu menghilang seperti ada yang mematikan.


Mereka membatin, di kamar ini hanya mereka berempat saja , tidak ada siswa lain lagi.


Setalah itu mereka mendengar suara derap langkah. Bukan langkah kaki di lantai tapi suara itu terdengar tepat di atas kepala mereka.


Aileen memeluk erat lengan Aruna, begitu pula Tyas yang sudah berpelukan dengan Sandra. Mereka tahu betul kalau itu suara kaki yang sedang berjalan. Dan merekapun merasakan seperti ada sesuatu yang meyapu puncak kepala mereka. Empat gadis itu yakin kalau itu adalah rambut.


Aruna memberanikan diri untuk melihat ke atas, didayapatinya rambut yang menjuntai dari sosok perempuan dengan posiai terbalik.


Saat itu, tiba tiba, mereka berempat mendengar suara lirih perempuan. suara itu berkata


'Jangan berisik, ini sudah malam,'


AAAAAA!!!!


Teriak mereka saat melihat sosok perempuan dengan rambut panjang menjuntai sedang duduk di atas lemari, sosok itu mengayun ayunkan kakinya.


AAAAAAAA!!!


Mereka berempat langsung berlari keluar dari kamar itu. Tanpa memperdulikan barang mereka. Empat gadis itu mengetuk dengan keras pintu kamar didepan kamar mereka. Berharap seseorang akan membukanya dan membiarkan mereka masuk.

__ADS_1


__ADS_2