
Sampai saat ini belum ada yang tahu alasan tepat kenapa kakak kelas selalu merasa sok berkuasa ? padahal notabenenya meraka pun pernah jadi adik kelas. Apa karena mereka di perlakukan hal yang sama ?? dan akhirnya meniru ??
Dan teman sekelas perempuan yang tidak satu frekuensi kenapa selalu merasa tersaingi saat ada temannya yang lain lebih populer di kalangan murid laki-laki ? bukan seharusnya sekolah ini tempat belajar ? kenapa malah menjadi ajang popularitas ?
"Aileen, nanti kita istirahat bareng ya?" ajak Argi.
Kali ini dia leluasa mendekati Aileen karena kedua temannya tidak ada di kelas. Sebenarnya bukan hanya Argi yang tertarik dengan Ailee di kelas ini tapi hanya Argi yang memiliki keberanian lebih dari pada yang lainnya.
"Tapi aku bawa bekal jadi-"
Sebelum Aileen menyelesaikan kalimatnya, Argi mengeluarkan kotak bekal yang entah dari mana datangnya.
"Gerak cepat banget si Argi," ucap Tyas saat memasuki kelas.
"Udah kaya liat sayur seger tu ulet pagi-pagi," timpal Aruna.
Mereka yang baru datang langsung menghampiri Aileen.
"Itu tangan mau ngapain?"
Suara Aruna menghentikan pergerakan tangan Argi yang hendak merangkul Aileen. Gadis itu mendongak melihat Tyas dan Aruna. Kedua gadis itu nampak tidak bersahabat saat melihat Argi.
"Kenapa masih duduk? udah sana," ucap Tyas dengan nada sedikit tinggi, mengambil alih tempat yang di duduki Argi barusan.
Argi tidak bisa melanjutkan usaha PDKT nya pada Aileen, ia kembali duduk di bangku miliknya, di sambut tepukan pelan di punggung dari teman sebangkunya.
...🏫🏫🏫...
Aileen berjalan keluar kelas dengan Tyas yang menggandeng tangannya. Mereka berdua berjalan menuju perpustakaan sekolah, ada beberapa buku yang akan mereka pinjam untuk belajar. Sedangkan Aruna memilih ke kantin sekolahan. Dia tidak terlalu menyukai aroma buku-buku yang menurutnya bisa menghipnotisnya untuk tertidur, jam masih menunjukan jam istirahat pertama, masih terlalu lama menuju jam pulang.
"Bukunya ada di sebelah mana ya?" tanya Aileen berbisik.
Tyas mengendikkan bahunya sebagai jawaban.
"Coba cari di lorong sana aja," ucap Tyas dengan bisikan juga.
Karena memang sudah di dalam perpus jadi mereka harus berbisik kalau tidak mau kena tegur pasukan kutu buku para penghuni perpus ini.
"Ternyata kalau udah di tumpuk gini banyak juga ya buku yang harus di pinjam,"
Buku terakhir yang Aileen cari ia letakan di tumpukan paling atas, sekarang dia seperti sedang menggendong keponakannya, sama beratnya.
"Tyas kemana ya dia," Aileen mengedarkan pandangannya, mencari penampakan teman kecilnya itu. Karena tadi mereka mencari buku di lorong yang berbeda.
__ADS_1
Di salah satu lorong Aileen menaruh semua buku yang ia bawa di lantai.
"Tunggu disini aja kali ya," Di tempatnya berdiri sekarang akan memudahkan jika nanti Tyas mencarinya.
Aileen mengambil salah satu buku yang menarik perhatiannya. 'Introvert' judul buku yang sama dengan karakter dirinya.
"Kapan ya aku bisa berinteraksi sama orang baru dengan cepat, bisa bicara setegas Tyas dan seberani Aruna, bukan bisanya cuman nunduk aja kalo merasa gak nyaman," ucap Aileen yang tengah berdialog dengan dirinya sendiri.
"Kamu harus mencobanya, bukan berarti kamu harus mengubah kepribadian. Kita hidup untuk jadi lebih baik setiap harinya, bukan cuman pasrah sama ngedumel ke diri sendiri. Kalau perlakuan orang lain buat kamu gak nyaman, hak kamu untuk bilang ke orang itu. Cuman nunduk dan ngerasa gak enak, orang di sekitar kamu bukan dukun yang bisa baca pikiran orang lain,"
Aileen langsung menoleh kesamping saat seseorang tiba-tiba menanggapi prolognya. Dia bicara panjang lebar sambil membenarkan tali sepatunya. Aileen mencoba melihat wajah pria itu, tapi tidak nampak karena dia sedang merunduk.
"Kamu siapa ?"
Aileen terkejut saat pria itu berdiri tegak dengan wajah tegas yang bisa dibilang lumayan tampan. Dia menarik dagu Aileen agar gadis itu tidak lagi menunduk. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat Aileen terdiam, dia hanya menatap bingung tanpa berkedip. Nafas beraromakan greentea menyeruak dari mulut pria bernama Arjuna Dirgantara.
"Muka kamu cantik, seharusnya kamu lebih percaya diri lagi."
"Ishhh ga cukup ya lu gangguin Aileen mulu di kelas sekarang pake ngintilin kesini juga".
Omel Tyas yang sudah naik pitam karena melihat sosok pemuda yang tengah berhadapan dengan Ailee ditambah tangan genitnya yang seenaknya menarik dagu temannya itu.
Tyas langsung menepis tangan pemuda itu dan segera mengomeli pemuda itu yang Tyas yakini kalau itu Argi.
Tyas tidak melanjutkan perkataannya padahal dia sudah menunjuk muka pemuda itu dengan telunjuknya dan siap mengumpat dihadapannya, tapi niat itu seketika menciut saat tau sosok pemuda itu bukan Argi melainkan kakak kelasnya sekaligus mentor osis nya.
Ailee yang kaget langsung menurunkan tangan Tyas yang masih mematung kaget dengan mulut menganga. Aileen berulang kali meminta maaf dan langsung menyeret Tyas untuk keluar perpus sebelum mereka diusir karena membuat keributan .
Setelah berjalan cukup jauh dari perpus,
"Mampus aja deh gua" rengek Tyas.
"Besok gua ga mau sekolah pokoknya, aduh mana besok penutupan ospek lagi. Gua ga mau ketemu kak Juna lagi pokoknya".
"Makanya liat-liat kalau mau ngomel" celetuk Aileen.
"Mana aku tau kalau itu kak Juna, aku kira Argi. Aduh mau ditaro dimana muka gua ini".
"Pake nunjuk segala lagi kamu, telujuk kamu sampai nyentuh hidung dia tau" Aileen cekikikan sendiri mengingat kebodohan yang telah dilakukan Tyas.
"Aduh bodohnya diriku ini" kali ini Tyas memukuli kepalanya sendiri.
"Sini aku bantuin jedotin kepala kamu sekalian" tawar Aileen.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu"
Tyas langsung menatap begis teman nya itu, namun Aileen langsung berlari menuju kelas yang berada di lantai dua gedung sekolah.
"Yak!! Aileen awas ya kalau ketangkep. Aku biarin kamu jadi santapan si Argi" Tyas mengejar Aileen yang sudah lebih dulu menaiki anak tangga.
Aileen berlari masuk ke dalam kelas kedapatan Aruna yang tengah duduk dibangku ditemani snack dan minuman dingin.
Aileen bersembunyi di kolong meja, memberikan isyarat pada Aruna untuk diam tidak memberi tahu soal keberadaannya yang tengah sembunyi.
"Aileen Diandra dimana lu"
Suaranya membuat seisi kelas bergema, membuat Aileen sampai merinding mendengar suara Tyas yang sudah sampai di kelas. Kakinya yang kecil boleh juga menyaingi langkah kaki jenjang Aileen berlari.
"Aruna liat Aileen engga" tanya Tyas dengan napas terengah-engah.
Aruna hanya terdiam tanpa menanggapi pertanyaan Tyas, membuat Tyas harus bekerja lebih untuk dapat menemukan Aileen.
Tyas menarik bangku untuk duduk dihadapan Aruna dengan ritme napas yang masih dia atur.
"Salah sih gua kalau saingan sama onta kaki dia kan panjang mana ke kejar gua, dia lari kemana aja gua kaga tau" keluh Tyas yang sekarang sedang mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya untuk sekedar menghilangkan rasa gerahnya walaupun hanya 1%.
Aileen keluar dari kolong meja, berpikir bahwa mungkin Tyas sudah menyerah padanya.
"Aishhh tenyata disini orangnya tau gitu aku tendang aja ini meja" omel Tyas ketika melihat sosok Aileen keluar dari kolong meja. Aileen hanya tersenyum puas karena bisa lolos dari kejaran Tyas.
"Ada apasih kalian kejar-kejaran segala, kaya anak sd aja" tanya Aruna yang masih asik dengan cemilannya.
"Itu Tyas ampun bego banget dia" Aileen tertawa kembali mengingat kejadian di perpus tadi.
"Ya udah sih Aileen ah, jangan diungkit aib gua itu"
Pernyataan Tyas membuat Aruna semakin penasaran aib baru apa yang sudah Tyas lakukan dan Aileen menceritakannya dengan detail diakhiri dengan gelak tawa Aruna dan Aileen, namun tidak berlaku bagi Tyas yang tengah menekuk bibirnya.
"Kalau dilihat-lihat kak Juna boleh juga" celetuk Aileen.
"Kamu suka? Sama kak Juna" tanya Aruna.
"Dia manis tau, aku baru liat kak Juna sedeket itu. Kalau aku disuruh milih kakak kelas yang paling favorit kayanya aku bakal pilih kak Juna deh"
"Iya juga sih dia paling manis sih dari yang lain, kak Adit juga ganteng tapi narsisnya bikin ilfeel" Tyas ikut berpendapat.
"Iya juga ya" Aruna menyetujui pendapat kedua temannya itu.
__ADS_1