
Sekarang adalah minggu terakhir kegiatan belajar mengajar, karena minggu depan siswa sekolahan mulai memasuki ujian akhir semester. Banyak dari mereka yang mulai giat mengejar ketertinggalan dalam pelajaran, mulai dari meminjam buku di perpustakaan, membuat kelompok belajar dengan teman terdekat mereka dikelas, bahkan ada juga yang justru acuh dalam belajar. Tipe siswa yang akan belajar semalam sebelum ujian, ada juga yang sama sekali tidak belajar, dengan dalih 'belajarnya apa yang keluarnya apa, males'.
Dan jam 3 sore ini tiga serangkai itu masih berada di sekolahan. Setelah selesai dari kegiatan ekstra kulikuler mereka memutuskan untuk belajar bersama. Mereka mengeluarkan buku matematika, dewa dari segala pelajaran yang ada.
Kenapa ? karena patokan kepintaran siswa di negara ini adalah nilai bagus dalam pelajaran matematika. Mereka memilih belajar matematika dahulu bukan karena suka, tapi karena memang pelajaran ini yang menjadi pembuka dihari pertama ujian di kelas mereka.
"Gila opening ujian nih," gerutu Tyas dengan menepuk nepuk buku paket tebal di tangannya.
"Apa ga kasian ya guru tuh, seengganya pembukaan tu pelajaran yang ramah otak gitu," timpal Aruna.
"Kalian kalau males, jangan belajar aja, jadi aku yang pinter sendiri," ucap Aileen. Gadis itu bahkan sudah membuka halaman di materi yang akan keluar, sesuai kisi kisi yang sudah di beri tahu oleh guru mereka saat di kelas tadi.
"Toilet yuk Yas ,"
"Ayok gua juga mau cuci muka, baru liat rumusnya langsung ngantuk,"
Mereka berjalan keluar kelas meninggalkan Aileen sendiri.
"Kalian, tungguin dong,"
Tadinya Aileen mau belajar duluan saja tapi dirasa rasa, suasana di kelas di sore hari cukup mencekam kalau sendirian.
...🏫🏫🏫...
Beberapa menit meraka berada di dalam toilet dan masih belum juga keluar. Kebiasaan kaum wanita yang suka berghibah di depan cermin, seakan pantulan diri mereka di cermin adalah layar televisi besar yang sedang menyiarkan berita gosip.
"Tapi kasian juga kak Jamal,"
"Kasian dari mananya sih Leen ?? salah sendiri dia malah pacaran sama bocah SMP,"
"Bener Yas, gimana ga cemburu coba tu cewe yang deketin kak Jamal kan cantik cantik banget, mana body goals lagi,"
"Tyas juga deket sama kak Jamal kan," goda Aileen.
"Gua juga body goals dong," Tyas mengamati pantulan dirinya di cermin, memuji dirinya sendiri lebih lagi.
"Minimalis gitu body goals dari mananya ??"
__ADS_1
Ejekan Aruna itu langsung dibayar kontang dengan injakan dikakinya oleh Tyas.
"Sakit woiii!!"
"Rasain lu,"
Rintihan Aruna harus terhenti saat ponsel yang berada di saku celananya bergetar.
"Ishhh siapa lagi," rutuknya.
Aruna mengusap sebentar kakinya yang masih terbalut sepatu, setelahnya dia berjalan keluar toilet untuk mengangkat panggilan telepon dari bapaknya.
"Ga usah jemput pa, masih lama aku di sekolahnya,"
....
"Iya pulangnya naik angkot aja, ada temen ini nanti pulangnya, engga sendiri kok"
....
"emm okeyy,"
"Hueekkk"
Aruna melirik sebentar pintu toilet siswa laki laki yang menjadi sumber suara. Tadinya dia mau menghiraukan saja dan bergabung dengan kedua temannya yang sedang asik berfoto. Tapi karena terus terdengar suara orang sedang muntah gadis itu memutuskan untuk masuk.
Sebelum masuk Aruna mengetuk pintu lebih dulu, lalu membukanya. Saat masuk kedalam , gadis itu mendengar suara di salah satu bilik toilet, menbuatnya berjala kearah suara itu.
Terlihat seseorang sedang muntah , berusaha mengeluarkan isi perutnya yang hanya air saja. Dirasa sudah selesai , pemuda itu membersihkan mulutnya dengan tissue toilet. Tubuhnya lemas karena entah kali kebarapa dia muntah hari ini.
Saat membalikan badannya, pemuda itu kaget dengan kehadiran Aruna.
"Astaga,"
"Kak Andra ??"
"Ini toilet cowo kamu ga liat tanda di depan pintu,"
__ADS_1
"Tau, itu masih mual kak ?"
Secara tiba tiba pemuda itu merasa mual kembali. Ia membalikan tubuhnya dan memuntahkan cairan lagi.
Sempat Aruna berfikir apa wajahnya ini menjijikan sampai membuat pemuda di hadapannya ini kembali mual. Tapi cepat cepat ia tepis. Sekarang Aruna memijat tengkuk Andra untuk memudahkannya.
"Udah ?"
Andra mengangguk lemah. Dia sebenarnya heran kenapa gadis ini ada disini, dan bersikap baik padanya. Padahal mereka sering melemparkan tatapan tidak suka satu sama lain saat bertemu.
Mereka juga pernah adu mulut untuk membela teman mereka masing masing. Aruna pernah kedapatan mengumpat tentang Juna , kalo pemuda itu 'pria yang tidak punya pendirian dan keyakinan, Juna juga orang yang gampang terhasut'. Andra yang memang teman dekat Arjuna tidak terima dan menyebabkan mereka saling adu mulut.
Tapi sekaramg Aruna memberikan perhatian lain juga dengan membersihkan mulutnya.
"Makanya kalau masih sekolah jangan salah gaul, kalo hamil gimana,"
Aruna tetap Aruna, sikap baiknya yang bak malaikat tadi seakan terbungkus sifat iblisnya di mata Andra. Kalau saja tidak sedang sakit seperti sekarang mungkin dia akan membalas ucapan gadis ini.
Aruna mengalungkan tangan Andra kepundaknya bermaksud membopong kakak kelasnya itu. Walaupun menyebalkan tapi dia masih punya rasa kasihan, dia takut kalo di biarkan sendiri Andra akan pingsan di toilet.
"Saya bisa jalan sendiri,"
"Oh ya udah,"
Aruna menjauhkan tubuhnya, pergerakannya yang tiba tiba itu membuat Andra yang lemas hampir saja tersungkur ke belakang kalau saja tidak ada bilik tembok yang menahannya.
"Lemes kan ?? udah deh jangan banyak protes, udah baik di tolongin," Aruna kembali membatu pemuda itu.
Andra berdecak sebal menatap Aruna. Gadis itu benar membopongnya menuju UKS, dia sedikit kesusahan karena Andra lebih besar dari badannya. Kalau tidak ingat dosa , saat menuruni tangga tadi ingin rasanya Aruna menjatuhkan pemuda itu dan kembali membopongnya saat dilantai 1.
Mereka sudah sampai di UKS, dengan cepat Aruna menghempaskan tubuh Andra ke kasur yang berada di UKS. Meregangkan tubuhnya yang terasa pegal sekarang.
"Ketempelan hulk apa gimana kak ? berat banget,"
Andra tidak menjawab, dia langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Karena ambisinya untuk mendapatkan nilai yang sempurna dia sampai sakit seperti sekarang. Dia terlalu semngat dalam belajar sampai lupa dengan kondisi tubuhnya.
Aruna menarik selimut untuk menyelimuti Andra. Tadi saat tubuh mereka berdekatan Aruna merasakan suhu dingin pada tubuh Andra. Dia benar benar pria es.
__ADS_1
"Tunggu sini aku bawain teh hangat dulu buat kakak,"
Aruna kembali keluar. Tapi tak lama dia menyembulkan kepalanya, "Telpon orang rumah suruh jemput kakak," setelah berkata seperti itu dia kembali menghilang dari balik pintu.