17 Years Old

17 Years Old
Upacara


__ADS_3

Hari senin pagi seperti biasanya kegiatan rutin upacara bendera, upacara akan dimulai pada pukul 7 tepat.


Pukul 6 pagi ini sebagian siswa sudah datang, apalagi semua anggota osis yang berjaga di depan gerbang sekolah untuk menyambut seraya mengecek atribut siswa dan jika tidak lengkap atau menyalahi peraturan sekolah, anggota osis siap mencatat nama kalian di buku besarnya.


Aileen datang di pagi hari bahkan sampai mendapat pujian karena dia datang sepagi anggota osis yang bertugas.


"Huwaa Aileen" sapa Bima sang ketua osis yang membaca name tag gadis itu.


"Kamu datang pagi dan atribut mu juga lengkap" sambung Bima yang juga berjaga pagi ini.


Aileen hanya tersenyum malu mendapat pujian itu, menurut Aileen itu agak berlebihan sampai harus mendapat pujian dari seorang ketos.


"Masuk ke aula dan langsung bergabung ke lapangan ya" kali ini Adit yang berbicara.


Aileen mengangguk dan berjalan masuk sesuai perintah dari kakak kelasnya itu.


Saat di aula ternyata suasana disana masih sangat sepi, bahkan bisa dihitung oleh jari siswa yang sudah datang pagi ini.


Aileen menaruh tasnya dan berniat langsung berbaris di lapangan, namun saat Andra menghampirinya niat itu berubah.


Andra kakak kelas sekaligus anggota osis, meminta Aileen mengikutinya ke belakang aula dan Aileen menurutinya mungkin memang ada yang perlu dia bantu.


"Aileen boleh aku minta nomer telpon mu"


Andra langsung memberikan ponselnya pada Aileen saat mereka ada di belakang aula. Aileen tidak langsung merespon permintaan Andra, dia masih mencerna apa maksud Andra meminta nomer telponnya.


"Aileen~"


Aileen kamu terlalu banyak berpikir, apa susahnya memberikan nomor ponselnya. Tapi ini kali pertama Aileen diminta nomer telpon oleh seorang pemuda, sampai-sampai Andra memanggil nya untuk membuat Aileen menghentikan pikirannya itu.


Aileen mengambil ponsel milik Andra dan memasukkan nomer telponnya, memberikan kembali ponselnya pada si pemilik .


"Makasih ya"


"Ayo kita ke lapang sebentar lagi upacara dimulai" ucap Andra yang langsung berlalu begitu saja.


...🏫🏫🏫...


Berbeda dengan Aileen yang mendapat pujian dari Bima, Tyas yang baru menginjakan kaki nya di gerbang sekolah langsung di hadang oleh Bima dengan wajah datar.


"Perasaan gue pake atribut lengkap, ada apa nih?" batin Tyas


"Jaket" ucap Bima datar.


"Eh ?"


Bima yang melihatnya lantas membuka buku catatannya "Dilarang memakai jaket di area sekolah kecuali sakit. Jadi, kamu harus kumpulin jaket di keranjang itu. Cepet ya, bentar lagi upacara di mulai" ujar Bima.


Tyas yang tidak rela pun akhirnya melepas jaket dan meletakkannya di keranjang, bertepatan dengan itu seorang lelaki yang entah siapa namanya berjalan santai dengan jaketnya.


Tyas yang tidak terima pun lantas berujar "Kak, kenapa dia boleh pake jaket ?" Sembari menunjuk sosok yang dimaksud.


Bima dengan segera menoleh dan memanggil lelaki tersebut "Jamal ! Hey, jaketnya"

__ADS_1


Lelaki bernama Jamal pun menoleh dan tersenyum jahil "Gua kira lu gak akan liat gua Bim"


Bima pun hanya tersenyum dan mengambil jaket yang dikenakan Jamal dan berbincang sedikit dengan Jamal.


Tyas yang merasa terlupakan dengan segera mengambil jaket nya dan memasukannya kedalam tas, dan berlari sekencang mungkin agar tidak ketahuan oleh Bima dan segera memasuki barisan tepat di belakang Aileen.


Sedangkan Aruna, karena ada sedikit perdebatan dengan ibunya tadi pagi, membuatnya datang terlambat di hari upacara pertama sekolahan barunya.


Dia bersi kukuh akan masuk nanti saja saat kegiatan belajar sudah mulai tanpa mengikuti kegiatan orientasi, dipikirnya nanti pun akan mengenal teman-teman sekelasnya dan tau lingkungan sekolah, toh dia akan bersekolah disana selama tiga tahun.


Karena paksaan ibunya akhirnya dia pun masuk , dan di hari senin ini namanya sudah di catat di buku besar anggota osis sebagai siswa yang datang terlambat.


"Jaketnya,"


Kembali menghela nafas, Aruna meletakan jaket yang dia pakai dan menaruhnya di keranjang yang sudah di sediakan oleh sekolah. Dia berjalan ke dalam barisan dan memaki dalam hati soal peraturan yang di anggapnya tidak penting dan sama sekali tidak ada pengaruh di kehidupannya.


Dia tidak suka saat jaketnya harus ditumpuk dengan milik orang lain, terlihat seperti tumpukan baju bekas di pasar loak.


"Terlambat lagi ?" tanya seseorang di sebelah barisannya.


"Ya~ ini cuman nasib buruk di hari senin," jawab Aruna sekenanya.


...🏫🏫🏫...


Suara bel nyaring terdengar bertanda waktu istirahat telah tiba, semua siswa baru akhirnya bisa bernapas lega begitu pula semua anggota osis yang ikut mendampingi mereka.


Mereka semua pasti lebih lelah dibandingkan siswa baru karena setelah jam istrahat mereka harus mengikuti pembelajaran di kelas dan sisanya siswa baru akan mendapatkan materi dari guru pembina.


Aileen sedikit merenggangkan tubuhnya karena letih terus menunduk menulis materi sejak tadi pagi.


"Kamu bawa bekel lagi ya Aileen? "


Aileen menjawab iya sambil membereskan alat tulisnya.


"Aku jajan sendiri lagi kalau gitu"


"Sama Tyas aja, Tyas kamu mau jajan ke kantin kan?" seru Aileen.


"Eh iya, kenapa kamu mau traktir aku? " tanya Tyas.


"Bukan, itu Aruna mau jajan juga ke kantin kalian bareng aja".


"Oh dikirain" Tyas tampak sedikit kecewa.


"Mau ke kantin engga?"


Ajak Aruna yang bangkit dari tempat duduk berjalan ke depan tempat duduk Tyas, lalu mereka pun berlalu menuju kantin untuk memberi asupan pada perut mereka yang sudah keroncongan sedari tadi.


Bahkan tidak jarang Aileen mendengar desisan Aruna yang terus mengeluh jika perutnya sudah kram karena tadi dia tidak sempat sarapan.


Aileen memakan bekalnya sendiri, agar dia tidak merasa canggung karena makan sendiri diantara teman-teman yang tengah makan bersama,


Aileen memutuskan untuk mendengarkan lagu dengan earphone nya. Beberapa lagu favorit di playlist ponselnya menemani makan siangnya.

__ADS_1


Jika dilihat Aileen bagaikan murid yang dikucilkan tapi bukan karena itu Aileen bukan gadis yang pintar bergaul jadi dia pasti akan memilih sendiri dibandingkan memulai bergabung dengan lingkungannya.


Sudah 15 menit waktu istirahat berlalu tapi kedua temannya Aruna dan Tyas belum kembali ke kelas, apa mereka sedang rebutan mie rebus atau memang mereka makan di kantin ya. Tanya Aileen pada dirinya sendiri. Masih belum terlihat batang hidung kedua teman barunya itu.


Aileen melepas earphone nya dan terdengar suara beberapa pemuda di belakang nya sedang bernyanyi, Aileen yang baru sadar tentang aktivitas itu pun menengok ke belakang ia ingin tahu siapa yang bawa gitar ke sekolah.


'Argi teman satu angkatannya, ia sama sama murid baru. Tapi itu bukannya pemuda bule yang kemarin duduk disebelahnya ya?'


Aileen memperhatikan mereka, kenapa pemuda bule itu selalu datang kesini bukannya dia kakak kelas ya. Apa dia kakak nya Argi ya, tapi ga mungkin masa kakak nya bule adiknya pale.


"Hayo merhatiin siapa?"


Tanya Aruna yang baru kembali dari kantin sambil mengunyah permen karet dimulutnya.


"Ah~ itu kakak kelas bule itu kenapa suka main kesini sih" jawab Aileen yang masih heran dengan penampakan pemuda itu.


"Jamal kak Jamal namanya itu" sambung Tyas.


"Oh~ Jamal namanya"


Aileen baru sadar akan sesuatu


"Eh!? Apa Ja Mal?"


Sedetik kemudian Aileen tertawa terbahak-bahak, membuat Tyas dan Aruna heran menatap Aileen.


"Eh kenapa? "


Tyas panik sekaligus heran kenapa Aileen tiba-tiba seperti itu, apa dia kesurupan ya katanya aula ini ada penghuninya.


"Ampun kok namanya ga cocok sama mukanya yang bule" Aileen mencoba menahan tawanya dengan membekam mulutnya sendiri.


"Ishhh jangan keras-keras ntar kedengar orangnya mampus"


Kali ini Tyas sedikit khawatir karena Argi dan Jamal sedang berjalan ke tempat mereka duduk.


"Disini aja bro, dibelakang udah mulai gerah" ujar Argi yang duduk di sebelah Aruna.


"Oke" ujar Jamal yang sekarang duduk disebelah Tyas dan memangku gitarnya.


Aileen langsung tertunduk dia masih ingin menertawakan nama orang berparas bule itu, Aileen menenggelamkan mukanya di lipatan tangan yang ia simpan di atas meja tempat duduknya.


Berusaha agar dia tidak ketauan jika sedang tertawa dalam hati, sedangkan Aruna tiba-tiba pergi ke toilet dan Tyas mengalihkan perhatiannya pada ponsel nya.


Tyas tidak mau temannya Aileen ketauan kalau dia baru saja menertawakan pemuda yang duduk di sampingnya itu. Dia memilih bermain sebuah games di ponsel android nya dan dua pemuda itu masih bernyanyi sesuka hati mereka untuk menghabiskan waktu istirahat.


Tidak sadar bahwa Jamal sedang memperhatikan dirinya yang tengah asik bermain games di ponsel, sambil terus memetik gitarnya mengiringi nyanyian Argi.


"Uh~ gitu aja ga bisa" ujar Jamal ketika Tyas gagal dalam games tersebut.


Tyas tersontak kaget ternyata dari tadi Jamal memperhatikan permainannya. Dasar pemuda tidak jelas.


"Udah ah gua mau ke kelas lagi, ntar pulangnya bareng ya Gi"

__ADS_1


Ucap Jamal pada Argi dan berlalu keluar aula dengan menenteng gitarnya, tidak lupa juga mereka berjabat tangan ala pemuda tongkrongan.


__ADS_2