
Sepasang iris mata kecoklatan milik Aileen terus mengamati setiap gerak yang dilakukan Juna, dengan gelarnya yang sekarang seperti menambah pesona pemuda itu. Aileen menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman yang enggan memudar. Sedangkan Tyas sedang meratapi kegagalannya sebagai tim sukses, harapannya untuk menjadikan sekolah ini populer sirna sudah. Tapi dia juga merasa lega setidaknya Adit masih terpilih menjadi wakil ketua osis, ancaman Jamal jadi tidak akan berlaku.
Aruna yang berada di tengah mereka hanya meletup-letupkan permen karet di mulutnya untuk memecahkan keheningan. Sudah lebih dari sepuluh menit mereka berada di balkon kelasnya.
"Udah kali senyumnya, emangnya ga pegel ya ?? " tegur Aruna yang berbaik hati menemani kedua temannya itu untuk tetap berada di sekolah, padahal sudah jam pulang.
Aileen menggeleng pelan, "Tyas Aileen pulang aja yuk~," rengek Aruna yang ingin segera merebahkan dirinya di kasur kamarnya, hari ini cukup menguras tenaganya.Kedua orang yang memiliki umur yang sama itu menggelengkan kepalanya.
Pelajaran fisika dan matematika di hari yang sama setelah itu dilanjut dengan olahraga, Melelahkan sebuah kata yang bisa menggambarkan hari ini tapi tidak dirasakan oleh Aileen sama sekali.
"Kamu tuh bukanya di tembak sama dia kok senengnya kebangetan sih Aileen~. Tyas juga, Tyas kan bukannya lagi di putusin kak Adit kok mukanya nelangsa gitu sih,"
Di antara ketiganya hanya Aruna yang tidak punya ketertarikan pada kakak kelas, siapapun itu. Dia gadis normal tapi terlalu malas untuk melakukan obrolan tentang pria, gadis yang membosankan.
"Aruna ga berperikebaperan, kita tinggalin aja dia Leen," Tyas menggandeng Aileen, meninggalkan Aruna sendiri.
Biarkan saja temannya itu di gondol hantu yang berwujud pemuda tampan biar dia jatuh cinta pada hantu itu.
"Kalian belum pulang?" sapa seorang pemuda yang sekarang sedang berdiri di depan cermin, menghadap tangga penghubung lantai satu dan dua.
Aileen melihat kearah belakang, memastikan siapa yang di sapa oleh Juna.
"Saya tanya kalian,"
Aileen mengangguk, cepat-cepat dia menjawab, "Iya kak, ini kami baru mau pulang," jelasnya.
YA TUHAN!!! Batin Aileen berteriak senang. Ia tidak menyangka pertanyaan sederhana itu bisa membuat hatinya membuncah seperti musim semi.
Sebenarnya, mereka sudah sering menukar pandangan. Entah itu saat di kantin ataupun di perpus, tapi tidak sekalipun Juna menyapanya secara langsung seperti ini. Walaupun tidak hanya dia sendiri yang disapa kali ini, tapi itu cukup membahagiakan bagi Aileen.
"Nih bocil ganggu orang pdkt aja,"
Rangkulan seseorang yang terlalu tiba-tiba membuat Tyas hampir tersungkur, tapi tubuh ringanya itu berhasil diselamatkan.
"Ihh kak Jamal kaya set*n aja munculnya, hampir aja aku jatoh," sungut Tyas.
"Tapi kan gua tangkep kaga jatoh juga,"
"Udah yuk Leen kita balik keburu gelap," ajak Tyas.
"Udah jangan ganggu mereka, gua anter lu pulang yok," Jamal merangkul tubuh Tyas, menjauh dari dua orang yang menahan rasa gugup mereka masing-masing.
Juna melihat dengan teliti penampilan Aileen. Dengan seragam sekolah dan tanpa riasan di wajahnya saja gadis ini masih terlihat sangat cantik dimatanya. Pantas banyak pemuda di sekolah ini yang menyukainya.
"Hari ini di jemput?"
Aileen menyunggingkan senyum tipisnya. Ternyata pemuda ini juga diam diam memperhatikannya.
'Lain kali saya yang antar kamu pulang ya?'
__ADS_1
Rasanya mulut Juna sudah gatal ingin menanyakan hal itu, akan tetapi dia susah payah menahannya. Dia tidak mau terlihat agresif yang malah membuat Aileen tidak nyaman.
"Emm iya kak, kalau gitu aku duluan," pamit Aileen kemudian berlalu melewati Juna.
"Ahh iya kak," Juna yang baru saja menaiki beberapa anak tangga berhenti dan menoleh.
"Kak Juna, selamat atas kemenanganya, udah jadi ketua osis sekarang," ucap Aileen sambil tersenyum.
Juna kembali menuruni anak tangga, di dekatinya Aileen.
"Aileen,"
Aileen mengernyit, "Iya kak?" tanya dia kemudian.
"Besok... kamu.. eumm" ucapan Juna tertahan kerena gugup. Dalam hati ia merutuki dirinya, dia bukan sedang berbicara di depan majelis hukum tapi kenapa segugup ini.
"Kak Juna?"
Juna menarik nafasnya, "Besok kita makan siang bareng ya,,"
"Ne?" Aileen melongo dengan wajah yang bingung.
"Saya tunggu di kantin, mau kan makan bareng ?"
"Ya aku mau kak,"
Badannya bergerak ke kanan, ke kiri dengan mata yang berbinar. Ingin rasanya Aileen bersorak serta meloncat girang saking senangnya tapi berusaha ia tahan.
"Kalau gitu saya ke kelas, kamu hati-hati dijalan," Ucap Juna. Melihat reaksi Aileen yang terlihat lucu membuatnya ingin cepat ke kelasnya, dia takut hilang kendali dan mencubit pipi Aileen saking gemasnya.
...🏫🏫🏫...
"Lepas ihh berat," Tyas mendorong tubuh Jamal kuat. Tidak ada pergeseran hanya tangan Jamal saja yang terlepas dari posisi rangkulannya.
Jamal menaiki motornya, menepuk jok bagian belakang mengisyaratkan Tyas untuk naik.
"Apa??"
"Cepet naik,"
"Gak mau,"
"Buruan mumpung gua berbaik hati mau anter lu pulang,"
Tyas memang suka yang gratisan, tapi dia lebih baik mengeluarkan ongkos dari pada mendapat tatapan mengerikan dari fans Jamal. Sekarang saja sudah ada beberapa mulut yang berbisik membicarakan mereka.
Dirasa lama, Jamal turun dari motornya. Kemudian menggendong Tyas dan mendudukan gadis itu di jok belakang. Gerakan cepatnya bahkan tidak di sadari Tyas yang terbengong.
"Pegangan,"
__ADS_1
Tyas menolak, "Kita beli ice cream dulu abis itu pulang," Tyas yang hendak turun, mengurungkan niatnya.
"Bilang dong dari tadi ,"
Gadis itu menepuk pundak Jamal dengan semangat, keburuntungan untuknya hari ini. Pulang di antar dan mendapat jajanan gratis.
"Udah siap?"
"Lets Go~!!"
Jamal melajukan motornya dengan kecepatan sedang, ia tak mau jika gadis yang sedang ia bonceng terhempas jika ia melajukan motornya seperti biasanya. Terlalu beresiko, pikirnya.
Mereka pun akhirnya sampai disebuah minimarket, Tyas yang sudah tidak sabar langsung melompat turun dan berlari masuk kedalam mini market diikuti Jamal dibelakangnya yang berjalan dengan santai.
"Jangan kelamaan milih ice krimnya, ambil yang lu suka terus pulang"
Tyas hanya mengangguk dan mengambil beberapa ice krim lalu membawanya ke meja kasir.
"Kak, beneran kan kakak yang bayar ?" Tanya Tyas memastikan.
Jamal yang melihat Tyas sudah menunggu dimeja kasir langsung menghampirinya dan membayar ice krim yang Tyas ambil tadi.
"Ayo" ujar Jamal sembari mendorong tubuh Tyas yang masih kegirangan dengan ice krim tangannya.
...🏫🏫🏫...
"Makasih ya kak"
Jamal hanya mengangguk dan melihat keadaan rumah Tyas yang nampak sepi, terlihat dari lampu dihalaman rumahnya yang belum menyala "Lu sendirian dirumah ?" Tanya Jamal pada akhirnya.
"Ah itu.. Tante ku belum pulang kayaknya kak" jawab Tyas
"Ooh oke, kalo gitu gua pulang ya"
"Gua baik kaya gini cuman karena kita sukses buat Adit jadi wakil ketua osis, ya walaupun dia ga jadi ketua osis setidaknya dia menang"
Ucap Jamal sesaat dia akan pergi, Jamal tidak mau ada salah paham nantinya.
Tyas pun mengangguk dan Jamal langsung melajukan motornya menjauh dari pandangan Tyas, merasa Jamal sudah pergi Tyas pun akhirnya membuka kunci gerbang dan masuk kedalam rumahnya.
"Oy bocil-!!"
Baru saja Tyas hendak membuka pintu, terdengar suara Jamal yang kembali kedepan rumahnya.
Tyas yang mendengarnya langsung menghampiri Jamal, "Ada apa kak ?" Tanya Tyas.
"Gua lupa, mana minta nomer lu" ujar Jamal sembari mengeluarkan ponselnya.
Tanpa pikir panjang Tyas pun langsung memberikan nomornya dan setelahnya Jamal kembali pergi. Tak lupa iya pun melambaikan tangannya pada Jamal.
__ADS_1