7 Purnama

7 Purnama
Bab 21


__ADS_3

. Agar lebih santai, Diana mengajak Tio ke butiknya dan meminta Tio untuk menceritakan masalahnya di sana. Tio sengaja memakai masker dan kaca mata hitam saat memasuki butik dan melewati beberapa karyawan yang jelas menatapnya dengan penuh tanya. Terlihat salah seorang karyawan menghampiri Diana sehingga Diana terhenti seketika.


"Maaf kak. Ada tamu di dalam." Ujar karyawan tersebut seraya menunjuk ruangan pribadi Diana dengan sopan.


"Siapa?" Tanya Diana penuh rasa penasaran.


"Tuan Seno." Jawabnya sesaat melirik pada sosok pria yang kini bersama dengan bosnya. Terlihat Diana ikut melirik Tio lalu segera menggandeng tangannya dan berlalu memasuki ruangan pribadinya.


"Aih ada tamu." Ucap Diana terdengar santai setelah ia menutup pintu. Seno termangu mendapati Diana datang dengan pria lain, dan ia sangat mengenali pria itu.


"Tio. Kenapa kau pakai masker?" Tanya Seno mengalihkan pandangannya dari Diana yang menggandeng tangan Tio sejak tadi masuk.


"Tak apa. Aku sedang tak enak badan." Jawab Tio memalingkan wajahnya menghindari tatapan Seno. Ia merasa bersalah saat ini, dimana Diana terus menggelayut manja pada lengannya di hadapan Seno. Seketika itu, Tio melepas kaca mata dan maskernya sehingga memperlihatkan wajah berantakannya pada Seno. Seno pun terkejut mengapa Tio seperti orang yang baru selesai menangis.


"Tio kau?" Mendengar Seno yang ingin bertanya, Tio segera melepaskan tangan Diana darinya.


"Seno... jika kau ingin marah, marah saja padaku. Jika kau ingin memukulku, pukul saja sekaranh. Aku memang menginginkan Diana. Jika kau sudah melepaskannya, biarkan aku yang menjaganya. Jika aku salah, mungkin memang aku salah Sen. Diana baru putus denganmu tapi aku sudah menjadikannya pacar. Kau pantas dan kau juga berhak jika marah padaku."


"Apa yang kau katakan Tio?" Seno merasa tak paham dengan celotehan Tio yang tiba-tiba. Dan Tio tertegun melihat kelapangan hati Seno yang kini melempar senyum ke arahnya meski Tio tahu bahwa hati Seno tengah merasakan sesak melihatnya dengan Diana.


"Syukurlah kau yang menjadi penggantiku. Jaga baik-baik, kau sendiri sudah tahu bagaimana aku mencintainya kan?" Ujar Seno menepuk pundak Tio yang terdiam dan sedikit menunduk. "Jika boleh jujur, aku memang masih mencintainya. Tapi kau tahu keluargaku bagaimana." Lanjut Seno kembali bicara, dan kali ini Tio menoleh pada Seno dengan menatap sendu sahabatnya ini.

__ADS_1


"Kau tak marah padaku?" Sontak Seno tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Tio.


"Kenapa harus marah? Justru jika dia mendapatkan orang lain aku akan marah. Aku sangat mencintainya Tio."


"Yah.. aku sudah tahu."


"Aku harap kau menjaganya dengan baik."


"Sudah pasti."


"Terima kasih."


"Sama-sama. Tapi maaf Sen. Aku mencintainya bukan karena dirimu, tapi karena aku ingin menjadi penggantimu sepenuhnya."


"Kau di jodohkan dengan Lusi kan?" Diana menyela cepat sehingga Seno terlihat terkejut mendengarnya, ia tak mengira bahwa Diana sudah tahu tentang ini.


"Jangan terkejut begitu, aku tahu karena aku sudah mendengar kabarnya. Tak apa Seno. Kebahagiaan orang tua itu lebih penting." Tutur Diana dengan ekspresi datar. Padahal jelas kini ia ingin menangis di hadapan Seno, namun ia tak ingin di anggap lemah dan tak rela jika Seno bersama orang lain. Begitupun dengan Seno, sejujurnya ia ingin memeluk mantan pacarnya meski di hadapan Tio, namun ia tak ingin perasaannya semakin membelenggu dan membuatnya tak bisa melupakan Diana.


"Kalau begitu, aku pamit." Diana mengangguk mengiyakan dan membiarkan Seno berlalu dari hadapannya.


"Sen!" Panggil Tio berhasil menghentikan langkah Seno yang sudah berada di ambang pintu.

__ADS_1


"Aku titip Aris padamu saat di kampus nanti." Ujarnya membuat Seno tersenyum.


"Masih lama. Kuliah semester baru akan mulai 3 bulan lagi. Aris juga belum lulus kan? Tapi kau tenang saja. Aris sudah seperti adikku juga, jadi tak perlu kau minta pun aku akan menjaganya."


"Terima kasih Sen."


Seno hanya menanggapi dengan senyum, kemudian ia segera berlalu dari butik Diana. Kini di ruang pribadi Diana, hanya menyisakan mereka berdua dalam situasi yang mendadak canggung. Tio menoleh pada Diana yang masih diam melamun di tempatnya.


"Di... aku juga pamit, sudah waktunya masuk kantor." Ucapan Tio berhasil membuyarkan lamunan Diana seketika.


"Emm Tio." Tio yang sudah berbalik pun mendadak kembali menoleh mendengar panggilan dari Diana. "Jangan salah faham ya! Meski Seno berkata begitu, tapi aku--"


"Hahaha tak apa. Kau sudah dewasa, jadi apa yang harus di khawatirkan?" Diana menatap dalam wajah Tio yang tersenyum menyembunyikan perasaannya yang lain.


"Tapi Tio... emmm jaga dirimu. Jangan terlalu lelah, makan yang teratur, dan jangan pulang larut malam." Kini giliran Tio yang termangu mendapat nasehat dari Diana. Tio menghampiri Diana yang kini menunduk dengan wajah yang sudah merona, lalu dengan tiba-tiba Tio memberi kecupan di dahi Diana sebelum dirinya berlalu dari hadapan sang kekasih.


. Selepas pulang sekolah, Arisa dan Rama berjalan-jalan di taman untuk mengisi waktu luang mereka. Keduanya hanya berkeliling dan sesekali berfoto bersama untuk sekedar menyimpan kenang-kenangan. Setelahnya Rama membawa Arisa ke rumah sakit dimana Dimas bekerja. Di sana Arisa di beri obat untuk luka agar cepat membaik. Saat Rama akan membayarkan biaya obat tersebut, Arisa menolak dan ingin membayar sendiri. Arisa memberi beberapa alasan agar Rama mengalah dan membiarkannya membayar dengan uangnya saja. Lalu, keduanya bergegas pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, Arisa langsung mengurung diri di kamar. Ia memilih untuk menonton film kesukaannya, di lanjutkan membaca novel seraya menunggu Tio pulang. Terlihat plastik kemasan camilan Arisa sudah menumpuk saat dirinya tertidur di sofa. Yugito yang melihatnya hanya menghela nafas gusar menyikapi putrinya yang sulit di tebak apa maunya. Hari yang sudah sore, tapi Arisa masih tertidur dengan pulas. Sampai akhirnya Tio menemuinya dan membangunkan tidurnya agar ia cepat-cepat mandi dan berganti baju.


Setelahnya, Arisa kembali menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur karena semua sampah sudah Tio bersihkan. Ia melirik kakaknya yang tengah menatap layar laptop di meja belajar. Wajahnya begitu datar, namun ia tahu di baliknya ada sesuatu yang di sembunyikan. Entah itu rasa sakit, atau kebahagiaan, Tio selalu menutupinya dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.


"Kak.... kakak harus bahagia ya! Fokus pada masa depan kakak." Seketika itu, Tio menghentikan aktivitasnya mendengar ungkapan Arisa.

__ADS_1


"Kau yang harus bahagia Aris. Kakak akan merasa bahagia jika kau bahagia." Arisa hanya tersenyum menanggapinya.


-bersambung


__ADS_2