
Tio berjalan santai membuka dan memasuki pintu rumah yang sudah tertutup rapat. Ia memikirkan cara bagaimana membawa adiknya pulang setelah ia datang membujuk namun tak ada hasil. Yang ada, ia malah di suruh pulang oleh pemilik kost karena sudah melebihi batas waktu. Di tambah, Arisa yang mengompori dengan mengatakan bahwa Tio tak ingin pulang padahal sudah di suruh pulang olehnya.
"Kenapa tidak di bawa?" Suara berat dan tegas yang khas terdengar tak jauh dari Tio yang perlahan menoleh kearah pemilik suara, dan benar saja, di sana ia mendapati Yugito tengah duduk bersandar di sofa seraya menatap kearahnya.
"Kenapa tidak dibawa?" Yugito kembali mengulang pertanyaannya.
"Apa?" Tio yang tak mengerti hanya melontarkan pertanyaan singkat itu berharap ayahnya memperjelas pertanyaan yang diucapkannya.
"Kau dari tempat Aris kan? Kau menemuinya kan? Kenapa tidak dibawa pulang?" Dan kali ini dengan tegas Yugito memperjelas pertanyaannya sesuai harapan Tio.
"Oh... jadi Ayah tahu Aris dimana, tapi Ayah tidak menemuinya?"
"Kenapa harus menunggu Ayah? Kau atau Ayah pun bukannya sama saja? Bahkan Aris lebih dekat denganmu."
"Jadi kedekatanku dengan Aris, Ayah jadikan sebagai alasan agar Ayah bisa mengabaikan Aris?"
"Lalu, apa menurutmu Aris akan mengikuti ajakan Ayah kalau Ayah yang datang?"
"Kenapa tidak? Aris menantikan perhatian Ayah dan Mama. Tapi buktinya kalian malah terus memperhatikan Rais. Padahal penyakit Rais sudah sembuh total dan kankernya sudah bersih. Kalau dia sudah dewasa, harusnya dia sudah bisa menjaga kondisinya sendiri tanpa harus selalu diingatkan Mama."
"Dan bukankah Aris juga sudah dewasa? Umurnya sama dengan Rais kan? Lalu kenapa kau bicara seolah Rais yang--"
"Apa Ayah memberikan perhatian pada Aris semenjak Rais sakit? Apa Ayah pernah mengambilkan raport Aris seperti Ayah mengambilkan rapot Rais? Coba katakan padaku kapan! Tidak pernah kan? Bahkan kemarin Ayah berjanji akan menghadiri acara kelulusan Aris, tapi buktinya mana? Aku lagi yang menghadiri dan menerima semua hadiah prestasi Aris. Ayah tak ada rasa bangga-bangganya pada Aris?" Terlihat jelas wajah kesal Tio yang terus mendelik mengutarakan isi hatinya. Yugito hanya diam membisu dengan tak langsung ia membenarkan apa yang di ucapkan Tio tentangnya.
__ADS_1
"Besok Ayah akan menemui adikmu. Dan membujuknya untuk pulang."
"Tak perlu Ayah. Besok Aris bekerja, dan aku yakin Aris tak akan mau meninggalkan pekerjaannya hanya karena Ayah memintanya pulang. Sekalipun itu adalah Presdir Artaris. Meski atasannya mengizinkan, tapi Aris tak akan mudah meninggalkan tanggung jawabnya." Mendengar ucapan Tio tersebut, Yugito terbelalak, ia terkejut dan tak menyangka jika putri bungsunya bekerja tanpa sepengetahuannya.
"Melihat reaksi Ayah, aku tebak, pasti Ayah juga tak tahu Aris bekerja kan? Hahah kalau tahu pun apa peduli Ayah? Tapi setidaknya Ayah tahu alasan Aris bekerja itu kenapa." Dengan tawa kecewanya, Tio seakan mengejek Ayahnya yang begitu jelas tak tahu apa-apa tentang Arisa. Yugito benar-benar terlihat seperti orang tua bodoh yang tak mengetahui alasan anaknya bekerja, sedangkan dirinya memiliki harta yang melimpah. Apapun keinginan putrinya selalu ia penuhi jika menyangkut masalah materi. Bahkan jika ketiga anaknya menginginkan hunian mewah pun ia pasti akan memberikannya saat itu juga. Uangnya tak akan habis hanya karena permintaan kecil anak-anaknya. Jika Arisa ingin sesuatu di sebuah Mall, ia bisa saja membeli Mall beserta isi-isinya langsung. Yugito berdecak kesal lalu beranjak dan memasuki ruang kerjanya. Tio yang menebak isi pikiran Ayahnya hanya tersenyum puas.
Tak lama, Tio yang hendak memasuki kamarnya pun merasa curiga saat Juna memasuki rumah lalu ke ruang kerja Ayahnya. Pikirannya semakin berkecamuk saat melihat yang lain menyusul Juna. Ia mengurungkan niatnya untuk memasuki kamar dan beralih ikut memasuki ruang kerja Yugito.
Baru saja ingin menguping hal apa yang tengah di bicarakan, rapat berakhir dengan singkat. Ia tak tahu Ayahnya bicara apa saja sebelum ia masuk.
"Ayah rapat apa?" Tanya Tio dengan menatap curiga pada Ayahnya.
"Tidak ada. Bukan urusanmu." Jawab Yugito hanya demikian. Ia tak ada niatan sedikitpun untuk memberitahu Tio tentang rencananya. Tio berlalu dengan beribu tanya muncul di benaknya. Ia pun memiliki rencana untuk menyelidiki apa yang akan di lakukan oleh para bawahan Ayahnya pada Arisa.
"Ayah berniat menculikku lagi." Ucapnya dengan bergumam pelan namun masih terdengar oleh orang sekitar.
"Tidak Nona. Kami di sini untuk menjaga Nona saja. Nona bekerjalah dengan tenang. Kami hanya ditugaskan untuk mengawasi Nona dari bahaya." Arida terhenti dan sedikit terhenyak mendengar ucapan seseorang yang tak jauh ia lewati. Pandangannya mendapati bawahan yang di pimpin oleh Juna.
"Benarkah? Awas kalau kalian macam-macam padaku."
"Tidak Nona. Jika macam-macam pun itu perintah dari Tuan besar."
"Ayah memang gila." Cetusnya kembali berjalan dengan menunduk dan fokus tanpa ingin menoleh kemana-mana lagi.
__ADS_1
"Saya bisa menyampaikan isi hati Nona itu pada Tuan loh." Mendengar penuturan bodyguardnya, Arisa kembali terhenti dan mendelik malas padanya.
"Katakan saja! Aku tidak takut."
"Baiklah. Tes... siapapun yang ada di dekat Tuan, tolong katakan pesan Nona Arisa pada beliau. Katanya--".
"Ehhh suttttt. Kau lebih gila ternyata." Arisa segera menutup mulut bodyguardnya dengan wajah panik. Ia tak bisa membayangkan bagaimana murkanya Yugito mendengar ucapannya tadi. Arisa memberi tatapan yang menekan sebelum ia berlalu dari hadapan bodyguard menyebalkan ini.
Sampai di tempat kerja, ia membuka pesan terlebih dahulu. Ia tersenyum ketika menatap nama Rama tertera di layar ponselnya. Namun, senyumnya menghilang ketika ia membaca isi pesan yang di tulis oleh pacar terkasihnya tersebut, dimana Rama mengatakan bahwa ia tengah dirawat di rumah sakit dan tidak bisa melihat purnama bersamanya. Bukannya memberitahu secara rinci kondisinya pada Arisa, Rama malah menanyakan kondisi Arisa karena 2 minggu terakhir ini ia tak kunjung ditemukan keberadaannya.
"Siapa yang mengkhawatirkan siapa?" Ucapnya bergumam sendiri seraya mengetik panjang lebar di balasan pesan Rama.
Siangnya, Arisa yang tengah menjalankan tugas sebagai pelayan, ia terlihat begitu lihai membujuk para pembeli dengan kemampuannya mempromosikan pakaian. Bagaimana tidak, ia yang mengetahui kualitas barang, dengan sangat mudah mempromosikan kualitasnya meski harganya sangat tinggi. Ditengah ramainya pembeli, ia beralih melayani seorang pengunjung yang membuatnya ternganga lalu memeluknya dengan erat.
"Aris? Ka-kau?" Belum sempat Ani menanyakan kabarnya dengan detail, ia merasa Arisa semakin kuat memeluknya menandakan bahwa Arisa ingin menangis namun ditahan dengan sekuat mungkin.
"Mama apa kabar? Kak Seno mana?" Tanya Arisa mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Ani yang paham maksud Arisa pun memilih menanggapinya dengan keinginan Arisa.
"Baik nak. Kamu sedang magang?" Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan Ani tersebut.
"Aris kerja Ma. Mama mau belanja? Mau baju apa? Sini Aris bantu pilihkan." Melihat usahanya yang menyembunyikan keadaan hatinya, Ani merasa iba, namun ia hanya bisa mengikuti alur yang dimainkan oleh gadis kecil di depannya ini.
Terlihat Seno menghampiri mereka lalu meraih kepala Arisa berulang-ulang. Ia sangat merindukan adik kecilnya yang kabur tanpa kabar, yang ternyata menjadi seorang karyawan di sebuah pusat pembelanjaan. Untuk membantu Arisa mengeluarkan barang, Seno membeli beberapa baju untuknya dan untuk Ibunya. Setelahnya, Seno dan Ani berlalu dengan memberikan beberapa lembar uang tunai sebagai bekal untuk Arisa. Sepeninggal Ibu dan Anak itu, Arisa menatap sendu kepergian mereka, ia berharap bahwa yang mengunjunginya itu adalah Ayah dan Ibunya.
__ADS_1
Bersambung