
Keesokan paginya, Arisa sudah menunjukkan tanda-tanda kesembuhan pada kondisinya. Hari ini, terlihat Diana sudah menemani Arisa yang semakin tak sabar ingin menemui Tio setelah mendengar cerita Diana yang mengatakan bahwa Tio sudah siuman dan keadaannya baik-baik saja.
"Semoga hari ini Aris bisa pulang." Ucapnya menyemangati diri sendiri. Diana yang melihat Arisa begitu antusias pun hanya bisa tertawa kecil. Ia mulai memahami karakter Arisa yang ternyata memang diluar dugaan. Awalnya, Arisa bersikap dingin dan seperti tidak peduli. Namun jika diberi perhatian lebih, ia justru menjadi orang yang sangat menyenangkan. Tentu hal itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang sudah dekat dengan Arisa saja. Selebihnya hanyalah orang-orang yang sok tahu tentang kehidupannya.
Singkatnya, menjelang sore, Arisa di perbolehkan melepas infusan dan beristirahat di rumah. Mendengar hal itu, Arisa tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya dan ia segera ke kamar Tio bersama Yugito yang menemaninya ke sana. Arisa membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu, ia mematung seketika dengan senyum yang memudar melihat Raisa tengah menyuapi Tio. Hatinya terasa remuk dan sesak mendapati kakaknya pun begitu menyayangi saudari kembarnya. Ada rasa tak rela melihat Raisa sangat dekat dengan Tio saat ini, apa lagi saat kondisi tubuh Arisa masih terhitung belum pulih sepenuhnya.
Melihat Arisa yang terdiam di ambang pintu, Tio tersenyum dan terlihat ia melambaikan tangan menyuruh Arisa menghampirinya. Arisa hanya membalas senyuman Tio dengan senyum paksa dan ia perlahan menghampiri Tio dengan rasa sesak yang ia sembunyikan.
"Sudah sembuh?" Tanya Tio mengacak rambut Arisa dengan gemas, dan Arisa hanya tersenyum menanggapinya. Semula Arisa berniat memeluk Tio, namun niatnya urung seketika saat melihat keberadaan Raisa di sana.
"Tak mau peluk kakak?" Tanya Tio selanjutnya, ia paham pada perasaan Arisa saat ini dan ia tak ingin mengabaikan keinginan adiknya yang tak terungkapkan itu. Terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa Arisa ingin sekali memeluk kakak sulungnya dengan erat dan menumpahkan rasa rindunya saat itu juga.
"Aris mau bilang, kalau Aris akan pulang sekarang. Kata dokter, Aris harus istirahat di rumah. Kakak cepat sembuh ya." Tutur Arisa dengan tersenyum getir seraya berbalik dan berjalan menjauh dari Tio. Ia bahkan melewati Yugito yang berdiri tak jauh darinya.
"Rais. Ayah akan mengantarkan Aris pulang, apa kau akan ikut sekalian?" Tanya Yugito sebelum berlalu dari kamar putranya, ia ingin memastikan bahwa Raisa akan ikut pulang dengannya atau tidak.
__ADS_1
"Rais di sini saja, Ayah. Rais ingin menemani kak Tio." Jawab Raisa dengan tersenyum meyakinkan. Arisa mengepalkan tangan ketika ia melewati pintu tanpa menoleh ke belakang. Jawaban Raisa itu cukup membuatnya tak bisa bernafas dengan benar.
Sampai di rumah, Arisa segera memasuki kamarnya dengan perasaan sendu. Yugito yang tak bisa menyusulnya karena tuntutan pekerjaan pun memberikan penjelasan pada Arisa lewat pesan singkat dari ponselnya.
[Maaf ya, Aris! Malam ini Ayah tak bisa menemanimu. Ayah banyak pekerjaan karena kakakmu yang tidak masuk kerja beberapa hari ini, dan juga Mama pasti di rumah sakit menunggu Tio yang harus di rawat sampai kondisinya pulih.] Begitu isi pesan yang Yugito kirim.
Arisa menggenggam kuat ponsel di tangannya dengan menunduk lesu membaca pesan tersebut. Hatinya semakin terasa sakit sebab kepulangannya dari rumah sakit dengan kondisi yang belum pulih, tapi tak ada satu orang pun yang menemaninya. Jangankan mendapat kasih sayang yang lebih, bahkan ucapan selamat datang saja tak ia dapatkan.
[Tak apa Ayah. Aris baik-baik saja.] Setelah mengirim balasan pesan pada Ayahnya, Arisa berbaring dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia berharap mimpi akan membawanya kepada harapan semu untuk sekedar melupakan kenyataan yang membuat dadanya sesak.
"Mam--" ucapnya terhenti saat ia mendapati Bi Ina yang memasuki kamar.
"Non Aris sudah bangun? Bibi buatkan sarapan untuk Non. Kata Tuan, Non jangan dulu sekolah, pulihkan dulu tubuh Non!" Ucap Bi Ina membuat Arisa tak berselera makan.
"Sekarang Ayah dan Mama di mana Bi?"
__ADS_1
"Tuan sudah berangkat ke kantor, dan Ibu sudah berangkat ke rumah sakit Non."
"Rais?"
"Non Rais sudah berangkat sekolah dengan Ibu."
"Begitu ya?" Lirih Arisa mendadak begitu sendu. Ia kecewa pada ekspektasinya sendiri yang beranggapan bahwa Rahma memperhatikannya yang masih sakit. Arisa beranjak lalu mencari beberapa barang dari laci dan lemarinya. Ia mengambil semua barang yang di beli oleh Yugito di pameran tempo hari, lalu ia bergegas keluar dari kamar dengan langkah cepat. Bi Ina yang merasa ada yang tidak beres pada Anak asuhnya, segera menyusul kemana Arisa pergi. Tanpa diduga, Arisa memasukkan semua barang-barang itu ke dalam tempat sampah yang berada di area depan rumah. Lalu ia mengambil korek dari meja yang sering di gunakan Mang Ujang untuk merokok di sana. Melihat aksi Arisa yang hendak membakar barang-barang tersebut, Bi Ina segera merebut korek dari tangan Arisa dengan paksa. Belum sempat Bi Ina berkata sesuatu, Arisa menangis dan menutupi wajahnya di depan Bi Ina.
"Non... Non Aris kenapa? Cerita pada Bibi! Non jangan memendamnya sendiri." Mendengar ucapan Bi Ina, Arisa menangis semakin keras. Rasanya kepedihan kemarin tak membuatnya merasakan bahagia setelah rasa sakit datang. Arisa memaksa dirinya untuk berhenti menangis, dan ia membulatkan tekadnya untuk tidak lagi terbuai dengan kebahagiaan sementara dari perhatian orang tuanya yang hanya sesaat. Dan semenjak pagi itu, Arisa tak lagi sarapan atau memakan makanan yang di buat di rumah. Ia hanya memakan camilan yang ia bawa dari luar. Sampai 3 hari berlalu, akhirnya Tio dinyatakan pulih dan bisa pulang siang harinya. Yang pertama ia tuju adalah adik kesayangannya. Tio bergegas menaiki tangga, ia perlahan membuka pintu kamar Arisa dengan niat ingin mengejutkannya. Saat Tio membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada tempat sampah yang sudah dipenuhi dengan plastik kemasan snack kesukaan Arisa. Matanya membulat mendadak kesal sehingga ia membangunkan Arisa yang tengah tertidur lelap. Arisa memaksa matanya untuk terbuka dan ia mencoba mengenali siapa orang yang ada di hadapannya.
"Eh kak--"
"Apa-apaan ini hah?" Teriak Tio membentak Arisa yang hendak menyapanya.
Bersambung
__ADS_1