7 Purnama

7 Purnama
Bab 70. Episode terakhir


__ADS_3

Arisa menggenggam erat tangan Rama yang terasa berkeringat, air matanya bercucuran namun ia enggan berbicara sepatah katapun. Meski begitu, Rama tersenyum seraya mengelus pipi Arisa yang berderai air mata karena menangisinya.


"Jangan menangis! Kau lebih cantik saat tersenyum" Ucapnya malah membuat Arisa semakin keras terisak. Bagaimana mungkin Arisa tersenyum di saat kekasihnya tengah meregang nyawa. Mungkin hanya orang yang tak punya perasaan yang bisa melakukan hal itu.


"Kenapa Rama? Kenapa kau tak bilang? Kenapa aku tak tahu kau sedang melawan penyakit mematikan? Aku ini siapa mu? Kau tak menganggap ku sebagai rumahmu?" Tanya Arisa semakin erat menggenggam tangan Rama.


"Jangan menangis, kumohon! Kalau kau terus menangis, aku tak akan tenang." Suara Rama kian menghilang, terdengar semakin terbata sampai Arisa menyipitkan matanya untuk mencerna maksud Rama.


"Diam! Jangan bicara. Hiks! Kau bohong Rama. Kau bohong. Kau sama saja dengan mereka. Kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu." Lirih Arisa yang hanya bisa di dengar oleh Rama saja.


"Aris.. maaf ya. Aku tak bisa lebih lama denganmu. Jangan menangis! Aku tak akan kembali. Aku yakin kau akan menemukan penggantiku yang tak akan meninggalkanmu." Lirih Rama dengan memaksakan agar ia masih bisa bersuara.


"Apa salahku? Kenapa kau tak menepati janjimu?" Arisa tak kalah lirih seraya membenamkan wajahnya pada telapak tangan Rama yang sudah terasa hambar dan sedikit dingin.

__ADS_1


"Sampai bertemu di keabadiannya. Maafkan aku... sayang...aku... sangat... cin.. ta." dan setelah mengatakan kata manis itu, Rama terlelap dengan senyum yang lebih manis dari kata terakhirnya. Tangannya hampir terlepas dari genggaman Arisa yang menangis semakin menjadi dan langsung memeluk Rama dengan erat. Ia berharap Rama akan bangun jika Arisa memeluk dan memanggil namanya. Namun hanya usaha yang sia-sia.


"Rama bangun! Jangan tinggalkan aku sendirian. Aku benar-benar tak bisa jika harus hidup sendiri. Rama.... kau mencintaiku kan? Cepat bangun. Kau janji akan melamar ku nanti. Rama.." teriak Arisa memekik telinga. Namun semua yang ada di sana tak bisa menegur Arisa karena mereka tahu sehancur apa Arisa saat ini.


"Aris sudah. Ikhlaskan Rama, nak." Ucap Diah yang sama-sama tak bisa membendung kesedihannya. Tentu saja ia merasa sedih, Ibu mana yang tak bersedih saat anaknya pergi untuk selamanya. Namun nyatanya, Arisa terlihat lebih bersedih dan kehilangan di bandingkan dengan yang lain. Atau mungkin karena Diah dan Dimas sudah ada kesiapan atas kepergian Rama. Sedangkan Arisa sendiri ini seperti kejutan yang tak bisa di perkirakan sebelumnya. Tio pun sama-sama terkejut, bahkan ia ikut menitikkan air mata melihat Rama terlelap di pelukan adiknya. Bukan hanya kepergian Rama, tapi ia juga menangisi nasib adiknya yang begitu malang. Ia tahu bahwa Rama adalah rumah yang sudah Arisa anggap sebagai tempat untuk pulang.


"Dimas cepat periksa Rama. Kembalikan dia lagi! Jangan biarkan dia pergi. Dimas!" Arisa beralih meraih jas Dimas dengan tatapan memohon. Namun apa yang harus Dimas lakukan? Ia saja merasa syok dan tak bisa menerima kenyataan bawa adiknya telah pergi untuk selamanya.


"Maaf Aris. Aku tak bisa." Balas Dimas kini menangis pilu di depan Arisa sendiri. Di belakangnya, Gilang terisak pelan melihat wajah kakak keduanya yang sudah memucat.


Di pemakaman, setelah Rama di kebumikan, Arisa tak henti-henti menangis seraya memeluk nisan yang bertuliskan nama kekasih tercintanya itu. Ia masih tak menyangka jika kenyataan ini menjadi sebuah kejutan tak terduga sepanjang hidupnya. Bayu yang melihat hancurnya Arisa saat ini pun hanya terdiam di balik punggung Dimas. Ia tak cukup berani memperlihatkan wajahnya pada Arisa yang sudah membuat Rama kehilangan nyawanya. Meski memang sudah takdir, namun tetap saja, Bayu merasa jalannya tidak bisa ia duga.


Reski dan Naufal meraih bahu Arisa seraya memberi tatapan penyemangat agar Arisa lebih kuat menerima kenyataan bahwa Rama tak akan kembali.

__ADS_1


'Pada akhirnya, Rama sudah menjadi rumah bagi Arisa, dan Arisa telah kehilangan rumahnya tersebut. Kehilangan Rama membuatnya merasa kehilangan dunianya. Berkali-kali ia bergumam agar bisa secepatnya menyusul Rama. Dan pada akhirnya, janji hanyalah sebuah janji.'


'Rama meninggal tepat 10 hari setelah hari ulang tahunnya. Ia lahir di tanggal 10 November, dan meninggal pada tanggal 20 November.'


Semenjak kepergian Rama, Arisa terus mengurung diri di kamar, dan sering melamun di balkonnya. Ia masih saja meneteskan air matanya ketika mendengar nasehat agar ia bisa merelakan Rama. Rasanya tak mudah jika harus melupakan orang yang sudah di jadikan tempat untuk pulang. Bukan hanya mengurung diri, Arisa bahkan tidak masuk kuliah selama hampir 1 bulan. Ia belum siap jika harus memasuki kelas tanpa kehadiran Rama. Bayang-bayang Rama masih melekat dalam ingatannya, bahkan saat ia tertidur pun, rasanya masih terasa bahwa Rama bersamanya.


Saat malam tiba, Arisa selalu menatap langit sendirian. Ia menatap salah satu bintang yang bersinar lebih terang dari bintang lainnya. Ia teringat akan cuaca saat malam kematian Rama yang mendung dan seperti akan turun hujan.


'Bahkan dunia pun tahu bahwa malam itu adalah malam terakhirmu. Dan seakan langit pun ikut bersedih atas kepergianmu.'


Saat Arisa masih dirundung kesedihan, ia selalu diberi nasehat oleh keluarganya agar tidak terlarut dalam kesedihannya. Sampai suatu hari, Arisa mengetahui bahwa ia mengidap penyakit yang sama dengan Rama. Semula ia terkejut, namun ia terlihat sangat senang dengan kenyataan bahwa hidupnya mungkin tak akan lama. Hal itu membuat Dimas merasa cemas. Ia masih mengingat pesan terakhir adiknya untuk menjaga Arisa, namun Arisa malah mengidap penyakit yang sama-sama mematikan. Apa lagi, Arisa memintanya untuk merahasiakan ini dari semua orang. Dan juga Arisa tak mau melakukan pengobatan apapun dengan alasan ingin segera mati.


Hingga waktu semakin bergulir, Arisa selalu menyempatkan waktunya untuk datang ke makam Rama. Semula yang datang setiap hari, kini menjadi setiap sabtu. Dan sampai satu tahun setelahnya, rutinitas itu pun masih ia lakukan. Ia masih menjadi Arisa yang dingin dan seakan tak memiliki emosi semenjak kepergian Rama dari sisinya.

__ADS_1


...~SELESAI~...


Akhirnya sampai di penghujung kisah Arisa dan Rama. Saya ucapkan terima kasih kepada readers yang sudah mengikuti kisah '7 purnama'. Dan mohon maaf jika ceritanya kurang menarik dan tidak memuaskan. Di ingatkan kembali bahwa Novel ini masih terhubung dengan Novel 'TAK SAMA'


__ADS_2