7 Purnama

7 Purnama
Bab 33


__ADS_3

. Seno datang dengan nafas yang terengah, namun ia mulai merasa tenang dan menghela nafas lega mendapati Tio yang tak memaksa Arisa untuk pulang.


"Tio."


"Sen. Aku bawa Aris ke apartemenku. Dan jangan kau beritahu ayah tentang ini." Tutur Tio menyela cepat ucapan Seno yang mungkin akan kembali bicara.


"Tapi... apa boleh Aris menginap di sini semalam lagi. Aku masih ingin bersama adikmu." Tio terdiam, ia beranjak lalu berhadapan dengan Seno seraya menatap kedua mata Seno dengan tajam. Ia melihat ketidak relaan yang terpancar di wajah Seno saat ia hendak membawa Arisa.


"Adanya Aris disini, rasanya aku punya adik perempuan Tio." Ucap Seno kemudian. Tio meraih pundak Seno lalu beranjak dari tempatnya melewati Seno begitu saja.


"Kau bisa menganggapnya adik setelah ini. Aku tak keberatan jika kau menyayangi Aris saat aku tak ada. Aku hanya ingin kau menyayanginya lebih dariku." Tutur Tio terhenti sesaat sebelum ia benar-benar berlalu dari kediaman Seno.


. Sesuai yang di sepakati, esoknya Tio bergegas menjemput Arisa ke rumah Seno. Tanpa ia sadari, sebuah mobil melaju mengikutinya kemanapun ia pergi. Sampai di depan gerbang rumah Seno, Tio segera masuk dan orang yang mengikutinya terhenti tak jauh dari kediaman Seno. Tanpa di duga, penguntit itu adalah Raisa yang diam-diam ingin mencari keberadaan saudari kembarnya. Ketika ia turun dari mobil, ia melihat ke dalam dan matanya membulat melihat Arisa datang menyambut Tio dengan senyum yang mengembang.


"Jadi mereka di rumah kak Seno? Kak Tio juga? Selama ini ternyata Aris tidak hilang, tapi bersembunyi dengan kak Tio. Pantas saja kak Tio tak pernah pulang sejak Aris di nyatakan hilang, ternyata kak Tio juga menemani Aris bersembunyi dari ayah. Lagi-lagi kak Tio menemani Aris di manapun. Sedangkan aku, semenjak aku di marahi olehnya, aku sudah tak di anggap ada di rumah. Bahkan aku tak pernah di sapa sama sekali oleh kak Tio." Gumam Raisa pelan seraya mencengkram ujung seragam sekolahnya. Ia berbalik dan bergegas pergi dari kediaman Seno. Raisa menangis keras di dalam mobil mengingat betapa sayangnya Tio pada saudari kembarnya. Ia bertekad untuk memberitahu ayahnya tentang keberadaan Arisa yang ternyata membuat Yugito begitu tertekan. Yugito tak lagi berkumpul keluarga bersama Rahma dan dirinya di ruang tengah. Setelah makan malam, Yugito selalu mengurung diri di ruang kerja sampai larut malam. Tak jarang ia tertidur di sana sampai pagi karena sibuk mencari informasi Arisa. Dan tak jarang pula Raisa memergoki ayahnya keluar dari ruang kerja dengan wajah yang memerah karena mungkin menangis sendirian.


. Sampai di rumah, Raisa segera menemui ayahnya yang mungkin sudah pulang dari kantor. Dan benar saja, Yugito tengah tertidur di sofa dengan memegangi foto Arisa yang sendirian. Raisa merasa hatinya teriris dengan apa yang di rasakan oleh ayahnya.


"Mereka tega membuat ayah sampai begini." Batin Raisa dengan mulai kesal mengingat wajah berseri Arisa saat di rumah Seno.


"Ayah." Panggil Raisa sedikit keras. Namun Yugito tak kunjung bangun dari tidurnya sehingga Raisa menaikkan suaranya berharap ayahnya segera bangun. Terlihat Yugito membuka mata dan melirik ke arah Raisa dengan mata yang menyipit.


"Aris..." belum sempat Raisa memberitahu ayahnya, Yugito segera beranjak dan meraih pundak Raisa dengan penuh harap.

__ADS_1


"Aris kenapa? Kau menemukan informasi tentangnya? Katakan nak." Melihat Yugito yang begitu antusias, Raisa membisu sesaat, rasanya ia tak rela melihat ayahnya begitu peduli pada anak yang sudah membuat keluarganya kesusahan.


"Aris... ada di rumah kak Seno." Jawab Raisa dengan sendu. Dan saat itu juga Yugito beranjak lalu memanggil beberapa bawahannya untuk ikut dengannya. Raisa mengepalkan tangan merasa kesal pada sikap Yugito yang mati-matian mencari keberadaan Arisa yang jelas bersembunyi darinya.


Ketika Yugito dan semua bawahannya sampai di kediaman Seno, ia langsung menanyakan keberadaan putrinya pada pemilik rumah.


"Maaf tuan. Orang yang anda maksud tidak ada di rumah saya." Ucap Ani dengan tegas.


"Apa aku akan percaya?" Yugito tak kalah tegas menatap Ani yang jelas tak menyembunyikan apapun di wajahnya. Tatapan dan raut wajahnya begitu datar.


"Jika anda tidak percaya, silahkan anda geledah rumah saya." Kali ini, Yugito sedikit ragu pada laporan Raisa tentang keberadaan Arisa di rumah Seno. Ia jelas tak menemukan tanda-tanda keberadaannya sedikitpun. Jika memang ada, harusnya mobil Arisa pun terparkir di sana.


"Apa kau punya ruangan tersembunyi?" Tanya Yugito kemudian.


"Boleh aku membuka ini?" Tanya Yugito sebelum ia membuka cover.


"Silahkan!" Kini raut wajah Ani berubah tegang meski ia mempersilahkan Yugito untuk membuka cover yang menyembunyikan salah satu mobil di garasinya. Ketika terbuka, Ani menghela nafas lega karena mobil itu adalah mobil lama milik Seno.


"Syukurlah jika Seno sudah memindahkannya." Batin Ani seraya mengikuti langkah Yugito yang menuju keluar dari garasi. Setelahnya Yugito berlalu begitu saja dari kediaman Ani dan hal itu membuatnya semakin merasa lega.


"Tio... sebenarnya apa yang kau mau?" Batin Ani yang terheran sendiri dengan sikap kedua anak Yugito yang terus menghindari ayahnya yang jelas-jelas begitu mengkhawatirkan mereka.


. Tio susah payah membawa beberapa barang adiknya yang ternyata lebih banyak dari yang ia kira. Arisa tertegun dengan isi apartemen kakaknya yang baru ia tahu sekarang.

__ADS_1


"Kakak sudah lama punya apartemen ini?" Tanya Arisa menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


"Semenjak kuliah."


"Hemm pantas saja kakak jarang pulang."


"Kau mau makan apa malam ini?"


"Pizza boleh...." jawab Arisa begitu santai. Seno yang baru datang pun segera memasuki apartemen Tio dengan nafas terengah.


"Kau dari mana Sen?"


"Apa kau lupa pada mobil adikmu?" Geram Seno menjawab pertanyaan Tio.


"Hehe iya maaf. Terima kasih tuan Seno."


"Sama-sama tuan Tio...." mendengar candaan kedua kakaknya, Arisa tertawa kecil sehingga Tio dan Seno saling berpandangan.


. Di waktu yang sama, Yugito memasuki rumah dengan wajah yang memerah menahan amarah. Ia segera mencari keberadaan Raisa yang ia anggap memberikan informasi palsu mengenai keberadaan Arisa.


"Kau membohongi ayah?" Geram Yugito ketika putrinya sudah berada di hadapan matanya.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2