
. Rama yang merasa bersalah atas kebohongannya, ia hanya bisa menelan kepahitannya sendiri. Namun, ia bersyukur karena berkat pengobatan khusus yang di lakukan kakaknya kemarin, tubuhnya terasa sedikit lebih kuat. Ia merasa nyawanya aman-aman saja, padahal siapa yang tahu jika nyawanya mungkin akan melayang tiba-tiba jika ia salah bertindak.
Hari berganti, akhirnya sampai dimana Rama sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Rama terlihat penasaran pada sikap Arisa yang seperti tengah merasa bahagia hari ini, tapi bukan karena ia pulang dari rumah sakit.
"Kenapa senyum-senyum?" Rama sudah tak bisa menyimpan rasa penasarannya lagi. Ia tak ingin jika hanya menebak-nebak apa yang tengah Arisa pikirkan.
"Besok purnama. Dan aku senang kau sudah pulang." Jawab Arisa semakin terlihat bahagia. Rama termangu, ia bahkan lupa jika besok adalah purnama yang kesekian kali.
"Mau lihat bersama?" Dan Arisa mengangguk antusias menanggapi pertanyaan yang ia tunggu-tunggu dari Rama ini.
"Di rumahku tak apa kan?" Tanya Rama selanjutnya dengan rasa ragu, ia takut jika Arisa tak mau jika di rumahnya.
"Baiklah. Kali ini aku yang akan ke rumahmu." Jawab Arisa yang tak keberatan sama sekali. Rama akhirnya bisa menghela nafas lega, ia tak perlu khawatir lagi akan melewatkan purnama dengan Arisa.
. Besoknya, sesuai rencana dan kesepakatan, Arisa bergegas ke rumah Rama saat jam sudah menunjukkan pukul 19:00. Karena Yugito khawatir ini hanya akal-akalan Arisa saja, ia meminta Juna untuk mengawal Arisa langsung dan memastikan putrinya tidak kabur. Juna ikut menatap bulan dengan hati yang tenang. Pandangannya berubah sendu saat awan tipis melewati permukaan bulan dan membuat cahayanya sedikit meremang.
"Purnama ke-3 ya?" Lirih Rama seraya menatap kagum pada purnama yang sudah bersinar sepenuhnya.
"Rama... janji ya. Jangan meninggalkanku." Mendengar permintaan Arisa, Rama hanya tersenyum tipis tanpa menjawab sepatah katapun.
"Kau tak berjanji? Berarti kau akan meninggalkanku." Ucap Arisa kemudian sehingga Rama menoleh ke arahnya dengan tatapan yang begitu sayu.
__ADS_1
"Bukan aku tak mau berjanji. Hanya saja, aku takut jika nanti aku tak bisa menepati. Bukankah lelaki itu harus menepati janjinya?"
"Tapi kau mau kemana Rama? Kemarin-kemarin kau sudah berjanji akan selalu bersamaku. Tapi kenapa sekarang jadi berubah? Kau berniat meninggalkanku? Kalau memang begitu, kenapa tidak sekarang saja sebelum aku terlanjur mencintaimu semakin dalam." Arisa beranjak dengan sirat amarah yang meluap.
"Aris bukan begitu. Aku hanya...." Rama mendadak diam, ia tak melanjutkan kalimatnya meski Arisa menunggu apa yang ingin ia katakan selanjutnya.
"Ternyata kau sama seperti mereka." Rama mulai kehilangan kata-katanya. Arisa yang terlanjur kesal pun memilih untuk berlalu dari hadapan Rama. Ia segera meraih pintu mobil dan mengajak Juna untuk pulang saat ini juga.
"Aris.!" Panggil Rama dengan meraih tangan Arisa. "Tolong jangan pergi." Pintanya kemudian. Meski tak mendapati tanggapan dari Arisa, namun Rama tetap mecoba untuk membujuk Arisa agar tinggal di dekatnya sedikit lebih lama. Arisa perlahan berbalik dan berhadapan dengan Rama. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari kontak mata dan sebisa mungkin ia tak terlibat obrolan yang tak seharusnya di bahas.
"Aku akan menemanimu selama hidupku Aris!" Tutur Rama berhasil membuat Arisa terbelalak. "Tolong. Jadikan momen kebersamaan kita itu sangat berkesan. Agar aku tak menyesali kedekatan kita. Jika nanti aku pergi lebih dulu, aku harap kau selalu hidup dan menemukan kebahagiaanmu sendiri."
"Rama... kau menyembunyikan sesuatu dariku kan?" Lirih Arisa yang masih berada di dalam pelukan Rama.
"Tidak."
"Lalu kenapa sikapmu begitu?"
"Karena aku takut kehilanganmu." Rama menjawab dengan melepas pelukannya dan ia menatap dalam kedua manik Arisa yang teduh dan sayu.
"Apa kau mau berjanji akan selalu di sisiku dalam kondisi apapun?" Kali ini giliran Rama yang bertanya. Arisa menunduk, ia pun merasa sependapat dengan Rama bahwa ia juga tak berjanji akan selalu ada. Ia tak mau jika nantinya ia berjanji, namun pada akhirnya ia juga yang mengingkarinya.
__ADS_1
"Selama kau berada di sisiku, aku akan selalu di sisimu." Begitulah jawaban Arisa yang terdengar tak yakin. Dan Rama hanya tersenyum, ia sudah tak berharap Arisa akan menemaninya, karena dalam waktu dekat ia juga akan pergi meninggalkan gadis kesayangannya ini.
"Non Aris. Den Rama! Bulannya sangat cantik. Kenapa tidak di pandang seperti purnama sebelumnya?" Ucap Juna mencoba mencairkan suasana yang terlihat begitu canggung.
Rama dan Arisa sama-sama menatap bulan, lalu keduanya saling berpandangan dan akhirnya tertawa bersama. Hingga malam semakin larut, sinar bulan sudah semakin benderang. Dan Arisa sudah tertidur di pundak Rama dengan lelap. Juna membawanya masuk ke dalam mobil lalu ia melaju meninggalkan kediaman Rama.
Rama menatap kepergian Arisa dengan meraih dadanya yang terus berdenyut sedari tadi. Ia segera masuk dan menyelimuti tubuhnya agar terasa hangat. Rama benar-benar tak ingin Arisa tahu sedikitpun tentang penyakitnya. Ia terus menerus menutupi hal yang mungkin akan menjadi sumber kecurigaan Arisa tentang kesehatannya.
. Paginya, Arisa terbangun dan ia sudah berada di dalam kamar. Mentari bersinar dengan memberi kehangatan. Arisa beranjak lalu ia keluar dan berdiam diri di balkon kamar. Ia menyirami semua tanaman hias miliknya, dan setelahnya Arisa beralih duduk di sofa dengan menikmati suasana pagi yang cerah dnegan secangkir kopi dan beberapa camilan yang sudah tersedia. Suasana hatinya sangatlah baik hari ini, di tambah beberapa chat dari Rama membuatnya semakin merasa bersemangat. Ia dan Rama sama-sama tidak masuk sekolah, sebab di bulan-bulan ini absen oun susah tidak berlaku. Jika ada yang sekolah, mungkin itu akan menjadi nilai plus nantinya di daftar hadir. Namun yang tidak sekolah, mungkin tak ada sanksi apa-apa, namun tak akan mendapatkan poin juga.
. Setelah selesai membereskan kamar, Arisa memakai pakaian rapi dan ia bergegas keluar tanpa memberitahu siapapun. Ketika di ujung tangga, ia tak sengaja mendengar obrolan orang tuanya yang masih berada di meja makan.
"Acaranya sudah di atur. Rais meminta tema outdor, besar kemungkinan akan di taman depan saja."
"Tapi Aris meminta liburan."
"Liburannya setelah acara saja Mas. Pasti Aris akan mengerti."
Arisa terdiam membisu mendengar percakapan mereka yang jelas lebih mengutamakan Raisa dari pada dirinya.
-bersambung.
__ADS_1