
. Arisa terhenyak mendengar suara keras Tio yang memekik telinganya. Ia mencoba memusatkan pikirannya pada Tio karena baru terbangun dari tidur lelapnya.
"Kau memakan makanan seperti ini lagi? Ish Aris... kau ini kenapa? 3 hari aku tidak m3ngawasimu, dan kau malah keenakan makan pedas begini? Kenapa? Kau punya masalah?" Kembali Tio menginterogasi adiknya dengan suara yang keras.
"Aris mengantuk kak. Aris ingin tidur." Ucap Arisa kembali memejamkan matanya dan merubah posisi tidurnya sehingga ia membelakangi Tio. Arisa sengaja bersikap seolah ia tak mendengarkan kemarahan kakaknya agar Tio cepat-cepat pergi dari kamarnya. Acara kelulusannya semakin dekat, dan ia tak tahu harus meminta pada siapa untuk hadir di acaranya. Semua persiapan kebaya dan make up sudah ia atur sesuai jadwal, dan juga ia sudah menyiapkan beberapa keperluan lainnya sendiri. Dibalik mata yang terpejam itu, Arisa tak bisa menahan air matanya untuk keluar dan mengalir begitu saja tanpa sepengetahuan Tio.
Singkat cerita, setelah surat kelulusan di bagikan, dan Arisa mendapatkan nilai tertinggi di angkatannya, ia sempat merayakan momen itu dengan Rama, Reski, dan Naufal. Momen itu mereka gunakan sebagai perpisahan karena Reski yang akan kuliah di luar Negeri, dan kemungkinan Reski tak akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Sedangkan Naufal yang akan ikut dengan keluarganya pindah ke luar kota.
Di acara kelulusan dan perpisahan mereka, Arisa mengenakan kebaya berwarna dusty pink dengan make up yang menghiasi wajah cantiknya. Ia berangkat sendirian tanpa didampingi oleh keluarganya. Ia tak meminta Tio untuk datang, dan tidak pula meminta Ayahnya untuk menghadiri acara tersebut. Dengan alasan tak ingin merepotkan dan tak ingin berharap lebih, Arisa memilih untuk tidak lagi meminta apa yang ia inginkan pada semua anggota keluarganya. Ia menunduk lesu saat melihat siswa lain didampingi oleh wali mereka di sampingnya, sedangkan ia duduk tanpa ada pendamping yang duduk di sampingnya. Beberapa kali Arisa melirik kursi dengan nama 'orang tua siswa' yang tanpa ada orang yang duduk di sana. Rasanya ia ingin menangis, namun ia menguatkan diri dengan memberi sugesti dirinya sendiri bahwa keluarganya tengah sibuk.
Ia merasa sesak saat acara pembagian hadiah bagi murid berprestasi yang seharusnya di ambil oleh orang tua, namun ia tidak ada yang mewakilinya. Saat namanya di sebut, Arisa berdiri dan hendak melangkah menuju panggung. Namun niatnya urung saat ia melihat lelaki berjas rapi setengah berlari menaiki panggung. Terlihat wajahnya yang kelelahan akibat berlari dari parkiran menuju tempat acara. Arisa tak kuasa menahan air matanya yang tiba-tiba berderai melihat Tio dengan bangga menerima piala dan piagam bertuliskan nama adiknya sebagai murid berprestasi peringkat pertama. Ia mengucapkan beberapa kata sambutan dan isi hatinya pada adik kesayangannya. Yang Arisa ingat dari ungkapan Tio adalah kalimat "Arisa itu adik saya yang sangat tertutup. Saking tertutupnya, dia bahkan tidak memberitahu saya hari ini ada acara kelulusannya. Dia terlalu pengertian, dan terlalu memikirkan pekerjaan saya dan Ayah saya, sampai-sampai dia tak memikirkan dirinya sendiri. Meski begitu, Arisa merupakan adik kesayangan saya. Aris! Kakak dan Ayah bangga padamu. Kedepannya, lebih semangat lagi ya!".
Arisa mengangguk dari kursinya dan melempar senyum pada Tio yang mulai menuruni anak tangga dan menghampirinya, lalu Tio merangkul dan mencium dahi Arisa memberi selamat. Arisa yang senang dengan kehadiran Tio yang tak di sangka-sangka, ia terus bersandar pada bahu Tio dengan tangan memeluk lengannya dengan erat.
__ADS_1
Sampai acara selesai, Tio tak ingin kehilangan kesempatan, ia mengajak Arisa untuk berfoto bersama lalu ia memfoto Arisa sendiri. Tak lupa Tio mengajak Rama unyuk berfoto bersama dan mengabadikan momen perpisahan mereka. Tio yang ikut bahagia melihat Arisa bahagia pun mengabaikan beberapa panggilan di ponselnya yang terus berdering sejak tadi.
"Aris!" Panggil seseorang dari jauh. Bukan hanya Arisa, Tio dan Rama pun ikut menoleh mendengar teriakan pria yang memanggil nama Arisa. Tio melirik tajam saat Seno menghampirinya dengan membawa buket bunga mawar untuk Arisa.
"Selamat atas kelulusanmu!" Ucap Seno seraya memberikan buket dan menepuk pipi Arisa dengan gemas.
"Terima kasih." Dengan senyum yang mengembang, Arisa menerima buket bunga yang di berikan oleh Seno.
Di samping itu, Rama semakin menyipit melihat lingkungannya saat pandangannya mulai kabur.
"Aris! Hei!" Arisa terkejut mendengar suara Seno yang semakin keras karena tak mendapati jawaban darinya.
"Beri nafas buatan!" Ucap Seno selanjutnya, Arisa yang mendengarnya pun mematung dengan wajah memerah. Ia tak mungkin memberi nafas buatan di depan banyak orang, termasuk ibunya Rama yang sama-sama ada di sana. Di tengah kegugupannya, terlihat Tio memukul kepala Seno dengan lirikan tajam yang mengintimidasi.
__ADS_1
"Kenapa tidak kau saja yang memberinya nafas buatan." Geram Tio membuat Seno terkekeh lalu meminta maaf padanya dengan membujuk dan memohon.
"Maafkan saya Tuan." Canda Seno mencoba meredakan kekesalan Tio karenanya.
Arisa menatap Rama dengan ragu, ia tak mungkin memberikan nafas buatan untuk Rama, sedangkan Rama sendiri mati-matian menjaga kehormatan Arisa dan tak sekalipun memberi kecupan di wajah, apa lagi ciuman di bibir.
Di tengah kebimbangan Arisa, akhirnya Rama membuka mata dengan meringis dan meraih dadanya. Terlihat Rama belum sadar akan kehadiran orang korang di sekelilingnya, sehingga ia menggeram dan mencengkram kemejanya kuat-kuat.
"Rama... sadar nak." Diah meraih Rama yang kesakitan dan Tio pun ikut menenangkan Rama. Mendengar suara Tio, Rama seketika tersadar dan nafasnya terengah memaksa agar dirinya tenang di depan orang-orang ini.
"Rama. Kamu kenapa nak?" Tanya Diah yang sudah tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pada Rama. Arisa ikut khawatir melihat Rama yang seperti tengah merasakan sakit di dadanya. Ia menjadi penasaran pada apa yang di sembunyikan Rama, sebab ia sudah curiga dari lama jika Rama tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Rama tersenyum menatap Arisa lalu menggeleng meyakinkan pacar kesayangannya bahwa dirinya baik-baik saja.
"Sial. Rasa sakitnya semakin tak tertahan. Aku ingin muntah. Tapi aku yakin yang keluar pasti darah lagi." Batin Rama mencoba menahan diri untuk tidak memuntahkan apa yang membuatnya mual.
__ADS_1
Bersambung