7 Purnama

7 Purnama
Bab 59


__ADS_3

Meski Arisa terus menghindar dan sengaja menyimpan novel miliknya, namun Raisa tetap tak ingin kehilangan kesempatan untuk dekat dengan Arisa seperti dulu. Ia terus mengikuti kemana langkah Arisa, dan karena Arisa sendiri sudah lelah diikuti oleh Raisa, ia memilih untuk diam kembali di balkon dengan memakan camilan yang ada di sana.


"Hei Aris." Lirih Raisa sesaat setelah suasana berubah hening.


"Apa?" Sahut Arisa tanpa menoleh sedikitpun.


"Kau membenciku?"


"Kenapa bertanya begitu?"


"Kau selalu menghindar dariku."


"Apa menghindar itu artinya aku membencimu?"


"Bisa saja kan?"


"Aku tidak membencimu Rais."


"Lantas?"


"Aku hanya menghindari masalah yang mungkin datang padaku jika melibatkan mu."


"Kapan kau melibatkan ku dalam urusanmu? Kau selalu melakukannya sendiri meski itu seharusnya dilakukan dengan orang lain."


"Sudahlah Rais. Kau seharusnya sudah tahu alasanku. Kau sangat disayangi oleh Mama. Kau tak akan dibiarkan terluka sedikitpun oleh Ayah. Dan aku? Tak perlu kau tanya kenapa, aku selalu melakukan apapun sendiri karena keinginan Ayah dan Mama."


"Tapi tidka harus bekerja juga kan? Kalau mau, kita bisa berbagi uang jajan."


"Tak semudah itu memutuskan Rais. Yang ada aku yang akan dimarahi oleh Mama. Pasti Mama berpikir aku yang memintanya padamu. Aku bekerja pun menuruti keinginan Mama agar akau tak menyusahkan dan menjadi beban keluarga."


"Tapi belum waktunya kita bekerja Aris."


"Kita? Kenapa kita? Kau berbeda Rais. Kau tinggal meminta saja, Ayah pasti akan memberikannya untukmu."


"Kau juga sama. Kenapa kau tidak bicara pada Ayah?"


"Bicara apa? Hem? Jangan pikir aku dan kau sama. Kita berbeda Rais."

__ADS_1


"Aris..."


"Sudah ya! Sebaiknya kau tinggalkan aku sendiri. Aku ingin tidur siang hari ini." Dengan tegas dan tanpa ingin ada penolakan, Arisa langsung beranjak dan berbaring di tempat tidur dengan membelakangi Raisa yang terlihat masih ingin menghabiskan waktu bersama Arisa.


"Aris... maaf jika aku melakukan kesalahan." Lirih Raisa sebelum benar-benar menutup pintu. Meski matanya terpejam, namun embun itu tetap berderai begitu saja. Arisa kembali terbangun dan memilih duduk bersandar di atas tempat tidurnya menghadap pada pintu yang sudah tertutup.


"Apa aku terlalu keterlaluan?" Lirihnya menghela nafas dalam sejenak. Ia beranjak lalu mengambil kunci mobilnya di atas nakas, dibukanya pintu dan ia biarkan saja terbuka ketika ia meninggalkan kamar. Arisa mengetuk pintu kamar Raisa dan melirik sinis pada pengawal yang terus berjaga di depan kamarnya. Tanpa menunggu lama, Raisa membuka pintu dengan mata yang memerah.


"Apa kau menangis?" Tanya Arisa tanpa memberi kesempatan Raisa untuk menanyakan maksud ia datang ke depan kamar Raisa.


"Oh... tidak. Haaha" jawab Raisa langsung mengelak dan mengusap kelopak matanya dengan terus tertawa menghindari kemungkinan Arisa akan mencurigainya.


"Terus?"


"Aku terkena debu tadi. Sial sekali malah terkena mata, bersin-bersin pula. Hidungku merah juga?" Meski merasa curiga dengan gelagat Raisa, namun Arisa hanya mengiyakan pertanyaan kembarannya tersebut.


"Jadi, ada apa?" Tanya Raisa selanjutnya.


"Kau mau ikut keluar tidak? Sekalian jalan-jalan." Jawab Arisa dengan suara yang begitu pelan dan sedikit memalingkan wajahnya. Penjaga yang berada di depan kamarnya terlihat mengulum senyum mendengar obrolan si kembar yang terasa sedikit canggung, namun hal itu juga yang mereka harapkan selama ini. Kebersamaan 2 anak manusia yang seharusnya terus bersama, namun malah menjadi renggang.


"Apa tak masalah jika aku ikut?" Tanya Raisa terlihat sedikit kebingungan.


"Baiklah. Tunggu sebentar!" Ketika Raisa kembali ke dalam kamarnya, Arisa menoleh sesaat pada penjaga dengan lirikan sinis.


"Non Aris! Ada tamu." Teriak Bi Ina dari lantai bawah yang kebetulan melihat Arisa di atas balkon.


"Untuk Aris Bi? Siapa?"


"Den Rama Non." Mendengar nama Rama disebut, Arisa mendadak berbinar lalu ia berlari menuruni tangga dengan perasaan yang berbunga. Saat melihat sosok kekasih tengah berdiri di ruang tamu, Arisa tak bisa menahan dirinya dan langsung memeluk Rama dengan erat.


"Kemana saja kau? Kenapa kau tak mengabariku lagi?" Tak biasanya, Rama tak membalas pelukan Arisa, ia terdengar menghela nafas berat dan mencoba menenangkan dirinya.


"Aris. Kita putus ya!"


'Deg!'


Arisa terhenyak mendengar penuturan Rama tersebut, ia langsung melepas pelukannya lalu menatap Rama dengan tawa getir.

__ADS_1


"Kau... kau bercanda kan? Ahaha Rama... kau selalu jahil padaku."


"Aku serius Aris. Kita putus." Tawa Arisa terhenti melihat keseriusan wajah Rama yang memang sudah tak bisa diragukan lagi.


"Apa kau punya pacar lain? Atau--".


"Kau yang mendua Aris. Maaf aku tak bisa terus berada dalam hubungan yang mengundang orang ketiga. Aku akui, aku tak sekaya dia, dan aku tak sepopuler dia. Jadi, sebaiknya aku saja yang mengalah."


"Apa yang kau bicarakan ini Rama?"


"Aku yakin kau sudah paham apa yang aku bicarakan." Setelah mengatakan kalimat tersebut, Rama melepaskan tangan Arisa yang menggenggamnya dan ia kemudian melangkah hendak menjauhi Arisa, namun Arisa tak semudah itu mengijinkan Rama pergi. Ia menghalangi jalan Rama bahkan jalan Tio yang kebetulan akan memasuki rumah.


"Aku tak punya pacar lain Rama. Kalau tak percaya, kau bisa tanya kak Tio, Rais, atau siapa saja yang tahu aku hanya punya pacar kau saja."


"Sudah. Aku bertemu dengan Bayu. Dia yang bilang kau adalah pacarnya, bahkan dia memberimu ponsel kan? Dia selalu menemuimu di sebuah kost-an, dan kalian menghabiskan waktu di sana." Sontak raut wajah Arisa berubah keheranan, sejak kapan ia dan Bayu berpacaran.


"Kapan dia bilang?"


"Kenapa? Kau terkejut aku mengetahui rahasiamu?" Kini nada bicara Rama berubah, ia terdengar seperti mencibir Arisa dengan semua kenyataan yang ia dapatkan tempo hari.


"Tidak. Aku ingin bertemu dengannya saja."


"Tinggal bertemu. Kalian pacaran kan?"


"Oke. Sekarang percuma saja aku bicara. Kau tak akan percaya, dan kau tak akan mengerti." Tanpa ingin mendengar balasan Rama, Arisa segera berlari menuju lantai atas dan memasuki kamarnya. Diwaktu yang sama, Rama yang hendak berlalu pun ditahan oleh Tio agar tetap di sana. Ia berniat untuk menginterogasi Rama karena berani menuduh Arisa demikian. Namun, belum sempat ia berucap, Arisa sudah kembali dan kini dengan menarik tangan Raisa yang keheranan. Arisa tak mempedulikan Rama yang masih berada di rumahnya, ia terus berjalan kearah mobil. Tio segera menyusul saat Arisa melaju dengan kencang meninggalkan pekarangan rumah.


Tio ikut menyusuri kemana Arisa pergi, sampai di sebuah cafe, Arisa turun dan menghampiri sejumlah anak muda yang tengah berkumpul. Adegan tak terduga terjadi tepat didepan mata semua orang, pasalnya Arisa menampar keras pipi Bayu lalu melempar ponsel dan uang cash ke atas meja.


"Terima kasih atas bantuanmu, dan terima kasih juga atas pengakuan palsumu." Ucap Arisa dengan wajah yang sudah merah padam karena menahan amarah pada Bayu. Saat teman-teman Bayu hendak melerai dan menenangkan Arisa, Bayu menahannya dan menghadapi Arisa sendirian.


"Kita bicara di tempat lain."


"Tak ada yang perlu dibicarakan. Aku sudah cukup muak dengan wajahmu, dan dengan semua bualanmu. Apa kau sekarang puas membuat Rama memutuskan hubungannya denganku? Itu yang kau mau?"


"Aris... aku..."


"Sampai kapanpun, aku tak akan pernah berpisah dengan Rama. Ingat itu!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2