7 Purnama

7 Purnama
Bab 28


__ADS_3

. Pintu terus di ketuk, namun hal itu tidak membuat Arisa beranjak dan membukakan pintu untuk orang yang berada di baliknya.


"Aris! Buka pintunya dek. Kakak minta maaf. Kakak tidak bermaksud. Buka pintunya Aris! Biarkan kakak menjelaskan semuanya." Arisa semakin kuat mencengkram rambutnya mendengar bujukan Tio itu. Ia sudah tak mempercayai apapun yang di katakan Tio padanya.


"Tio. Kenapa? Kau memarahi Aris?" Tanya Yugito menyusul mereka ke depan kamar Arisa.


"Arghhh Aris... ayo buka. Kakak dobrak ya." Tio terus sibuk membujuk Arisa dan ia tak sedikitpun menanggapi pertanyaan ayahnya.


Raisa membenamkan wajahnya pada bantal selama ia mendengarkan keributan di luar. Ia benar-benar merasa iri pada Arisa yang begitu di bela oleh Tio. Ia bahkan membandingkan sikap Tio padanya dan Arisa yang jauh berbeda.


"Padaku selalu marah-marah, tapi pada Aris kakak selalu bersikap manis." Batinnya terisak pelan sampai ia terlelap.


Dan karena sudah lelah Tio membujuk Arisa agar membukakan pintu, ia memutuskan untuk tidur di depan kamar Arisa agar nantinya ia bisa dengan mudah meminta maaf dan menjelaskan semuanya saat Arisa ketika keluar dari kamarnya.


Paginya, Arisa membuka pintu dengan kasar membuat Tio terbangun seketika. Sesaat ia melirik kakaknya yang beranjak lalu meraih tangannya dengan memohon. Hal itu bukannya membuat Arisa tenang, namun malah membuatnya semakin sakit hati. Ia merasa di hempaskan oleh keadaan setelah ia di terbangkan ke atas awan. Hari bahagia dengan ayahnya ternyata menyimpan rasa sakit setelahnya. Arisa menarik tangannya agar terlepas dari Tio lalu ia beranjak meninggalkan Tio yang benar-benar menyesal. Dengan tanpa di duga, Tio meraih tangan Arisa dengan bersimpuh sehingga Arisa terdiam tanpa menoleh pada kakaknya tepat di depan pintu kamar Raisa.

__ADS_1


"Aris. Maafkan kakak. Kakak tidak bermaksud mengatakan itu padamu. Kakak tak mengenalimu. Sungguh Aris kakak tidak ada niat mengatakan itu padamu."


"Sudahlah kak. Harusnya selama ini Aris tidak percaya pada semua yang kakak ucapkan. Kepedulian, rasa sayang, tindakan kakak, atau janji kakak yang sebenarnya itu hanya pura-pura." Ucap Arisa kembali menepis tangan Tio, kemudian ia meninggalkannya sendiri di tempatnya. Tio memukul lantai dengan keras sampai terdengar suara sendi nya yang seperti patah.


Raisa keluar dan ia melirik sesaat pada Tio yang sama-sama meliriknya sejenak. Keduanya kompak memalingkan pandangan dengan berjalan berbeda arah. Tio yang membereskan tempat tidurnya, sedangkan Raisa yang berlalu ke lantai bawah dengan hati yang semakin tersayat. Namun rasa sakitnya tak sebanding dengan Arisa yang pagi ini tak mendapati sapaan dari Rahma seperti dirinya.


"Sayang. Apa kau menangis semalam?" Tanya Rahma merapikan rambut Raisa yang sudah rapi sejak tadi.


"Tidak ma. Rais tidur terlalu lama. Jadinya ada mata panda." Jawabnya memaksakan senyum untuk meyakinkan.


Tio yang mendengar percakapan keduanya pun membanting pintu kamar dengan keras sehingga Raisa dan Rahma terhenyak karena terkejut.


"Ayah jalan dengan Aris?" Tanya Raisa tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia tak percaya ayahnya bisa mengajak Arisa pergi, sedangkan ia tak pernah sekalipun di ajak oleh Yugito. Jika seandainya pergi, itupun Raisa yang mengajak lebih dulu. Ia tahu ayahnya tak akan pernah menolak permintaannya apapun itu, namun hal itu juga yang membuatnya semakin jauh dari kakak dan adiknya. Raisa berlalu setelah ia berpamitan pada ibunya, namun wajahnya begitu sendu.


"Jadi, ayah membeli jepitan ini dengan Aris. Dan ayah tidak mengajakku?" Batin Raisa meraih jepitan yang ia pakai sekarang.

__ADS_1


. Di sekolah, Arisa lebih banyak diam. Rama sudah lelah membujuknya meski ia sudah membelikan camilan kesukaan Arisa. Sampai pulang sekolah, Arisa tak banyak bicara pada siapapun. Teman-temannya menyapa pun, ia hanya tersenyum menanggapinya. Ketika ia memasuki mobil, ada rasa ingin membuka media sosialnya, sehingga ia membuka aplikasi yang tertera di ponselnya, dan saat sudah masuk ke beranda, matanya membulat dengan mendadak berkaca-kaca. Tubuhnya kembali gemetaran hebat sehingga ponsel yang Arisa pegang pun jatuh begitu saja. Ia meraih jepitan rambutnya, lalu melemparkannya ke segala arah. Ia kembali menutup jendela kemudian melajukan mobil dengan begitu cepat meninggalkan sekolah. Arisa menangis sepanjang jalan dan ia sendiri tak bisa mengendalikan dirinya yang terus menangis keras.


"Harusnya aku juga tak berharap lebih bahwa ayah menyayangiku. Aku kira ayah benar-benar menemaniku saja, nyatanya ayah selalu memikirkan Rais setiap saat. Bahkan denganku saja, ayah tak lupa pada Rais. Apa gunanya aku hidup? Ya Tuhan! Perjanjian apa yang aku sepakati untuk hidup di dunia sedangkan aku tak mendapatkan kebahagiaan dalam hidupku?" Batinnya terus bergumam dan seakan ia menyalahkan takdir yang tak adil padanya. Postingan Raisa pagi tadi membuatnya merasa teriris, dan hatinya terasa hancur seketika. Pasalnya Raisa membuat postingan dengan foto barang-barang yang di belikan Yugito untuk Raisa, bahkan jepitan rambut yang ia kira untuk Arisa, nyatanya untuk Raisa.


Ketika pandangannya mulai kabur karena air mata, ia menginjak rem seketika dan mendadak. Nafasnya terengah, dan tubuhnya semakin gemetar. Ia turun tanpa mempedulikan dahinya yang terbentur dan air matanya yang berderai. Arisa meraih tangan seorang wanita berumur 40 tahunan tengah berdiri tegang di depan mobil Arisa yang nyaris menabraknya.


"Maaf. Bu tolong maafkan saya. Saya tidak fokus." Tanpa di duga, wanita itu mengusap kepala Arisa dan mengelusnya dengan lembut sehingga Arisa merasa terbuai dalam kehangatan yang di berikan wanita itu.


"Kau baik-baik saja nak? Kau menangis? Apa kau punya masalah?" Tanyanya membuat Arisa semakin terisak keras dan masih meraih tangan wanita itu.


"Tak apa bu. Saya baik-baik saja." Jawabnya jelas berbeda jauh dengan apa yang ia rasakan sekarang.


"Jangan di pendam. Saya tahu kamu sedang ada masalah. Kalau tidak, mana mungkin kamu menangis sampai seperti ini." Arisa terdiam, ia mengusap wajahnya yang sudah berantakan karena air mata. Setelahnya, Arisa memutuskan untuk menepikan mobilnya di sebuah kedai yang tak jauh dari tempatnya bertemu dengan wanita tersebut. Mereka duduk berdua setelah wanita itu memesan minuman dan camilan.


"Ada apa nak? Boleh cerita pada saya."

__ADS_1


"Apa anda punya anak perempuan? Maaf sebelumnya tapi saya ingin menanyakan ini pada orang lain." Meski tak mengerti, namun wanita yang bernama Sarah itu pun mengangguk dan mengiyakan bahwa ia punya seorang anak perempuan. Sarah merasa gadis ini terlihat mirip dengan putrinya, dari wajah, bahkan suaranya.


-bersambung


__ADS_2