7 Purnama

7 Purnama
Bab 47


__ADS_3

. Arisa memeluk Tio dengan tangis yang tak bisa tertahankan. Ia berteriak meminta tolong pada Juna dan yang lainnya untuk membawa Tio ke dalam rumah. Namun tak ada satupun orang yang mendengar dan bahkan tak ada satupun orang yang terlihat di area depan. Kulit Tio sudah memucat, bibirnya sudah membiru dan detak jantungnya terdengar lemah. Arisa terus menangis seraya melepaskan ikatan tangan Tio meski kepalanya begitu berputar-putar. Ia tak mempedulikan infusan yang masih menancap di tangannya. Beberapa kali ia meringis saat jarum infus tersenggol dan menyebabkan pendarahan di tangannya. Karena kesal, Arisa melepaskan infusan dengan paksa lalu ia melemparkannya ke sembarang arah. Ia tak peduli lagi apapun yang akan terjadi setelahnya, yang penting saat ini Tio bisa terselamatkan. Arisa berlari dengan sempoyongan memasuki rumah dan meminta bi Ina untuk mengambilkan kunci mobil. Setelahnya, Arisa kembali keluar rumah dan melajukan mobilnya mendekati Tio. Ia berusaha memasukkan Tio ke dalam mobil dengan tenaga yang ia punya. Kepalanya semakin berat dan pandangannya semakin kabur. Keringatnya terasa dingin dan tenaganya semakin habis. Ia berdiri tegak sesaat lalu akhirnya ia terhuyung dan terlelap di pangkuan seseorang. Juna melirik Tio sejenak lalu membawa Arisa ke dalam rumah. Ia beralih kembali ke mobil Arisa setelah menidurkan Arisa di kamar Tio atas perintah Yugito. Kembali Yugito memperingatkan Juna agar tak membantu Tio, namun ia melanggar perintah tersebut dna memilih membawa Tio ke rumah sakit. juna tak ingin melihat Arisa semakin bersedih karena alasan Tio tidak di sampingnya.


. Arisa terbangun setelah beberapa saat ia pingsan. Ia mendapati tangannya sudah kembali di infus di bagian kiri sebab yang kanan sudah terluka akibat pelepasan paksa yang ia lakukan.


"Ayah... kak Tio ayah.... kak Tio... kak Tio..." Arisa mengadu dengan tak bisa mengatakan hal lainnya selain nama Tio. Yang terlintas di benaknya hanyalah wajah pucat Tio dan detak jantung Tio yang melemah. Yugito terdiam seakan tak mempedulikan ucapan Arisa.


"Kak Tio ayah.... Aris mau kak Tio. Kasihan kak Tio." Ucapnya lagi dan tak membuat Yugito luluh. Ia malah beranjak dan meninggalkan Arisa di kamar Tio.


. Sampai di rumah sakit, Yugito mematung namun ia masih bersikap biasa saja di depan Juna yang menunduk karena merasa bersalah sudah membantah perintah bosnya.


"Kenapa kau tak mendengarkan perintahku Ju?" Tegas Yugito bertanya sehingga Juna semakin menunduk.


"Maafkan saya Tuan. Saya bersikap lancang hanya karena tak ingin melihat Non Aris bersedih karena Mas Tio." Jawab Juna menjelaskan. Ketika Yugito hendak menanyakan keadaan putranya, terlihat seorang dokter dan perawatnya keluar dari dalam ruang pemeriksaan Tio. Tampaknya dokter tersebut memang baru keluar semenjak Tio di larikan ke sini.


"Kondisi pasien kritis karena hipotermia. Tapi untungnya anda segera membawa pasien ke rumah sakit. Jika telat beberapa menit saja, saya tak yakin pasien akan bertahan. Jantungnya sudah melemah, dan paru-parunya ada kerusakan." Mendengar penjelasan dokter, Juna terhenyak, ia ikut merasa berdosa jika seandainya Tio tidak tertolong. Ia akan semakin merasa bersalah pada Arisa karena bertanggung jawab sebagai orang yang merenggut kakak tercintanya.

__ADS_1


"Hipotermia dok?" Tanya Yugito mulai memperlihatkan wajah paniknya.


"Iya pak. Pasien mengalami hipotermia. Saya menduga pasien di biarkan kedinginan setelah di pukuli. Pelipisnya robek dan hidungnya mengalami cidera." Yugito terduduk merasakan lututnya mendadak lemas setelah dokter memberitahu lanjutan penjelasannya.


Tanpa di duga, Arisa menyusul mereka ke rumah sakit dengan memakai hoodie berukuran besar untuk menyembunyikan infusannya. Meski dokter sudah melarang, namun ia lebih takut kehilangan Tio dari pada dirinya sendiri.


"Aris! Kenapa kau ke sini?" Yugito meraih Arisa yang memeluknya dengan erat sembari menangis tersedu-sedu.


"Mas. Aris kabur sendirian." Rahma mengadu agar suaminya tak memarahinya. Raisa ikut berlari dari belakang dengan wajah sesal karena menempatkan Tio dalam bahaya. Meski demikian, Ayah dan Ibunya tak mempercayai bahwa Tio tidak bersalah.


"Kak Tio." Lirih Arisa meraih pintu dan menerawang jauh ke dalam ruangan meski ia tak melihat apapun.


"Aris mau kak Tio dok. Aris mau lihat." Rengeknya memohon pada dokter agar ia bisa masuk ke dalam ruangan.


"Maaf Nona. Tidak bisa."

__ADS_1


Yugito meraih Arisa dan ia mencoba untuk menenangkan agar Arisa tidak terlarut dalam kesedihannya. Raisa yang terlanjur merasa bersalah atas kejadian ini, ia mengajak Arisa untuk berbincang. Sebelum itu, Yugito menyuruh Arisa untuk di rawat saja sekalian menunggu Tio siuman. Namun, Arisa menolak. Ia lebih memilih untuk di infus sembari berjalan-jalan dengan membawa kantung infusannya. Kini, Arisa dan Raisa berada di taman rumah sakit dengan perasaan yang berbeda. Arisa dengan perasaan khawatir pada Tio, sedangkan Raisa dengan perasaan yang sudah berkecamuk.


"Aris... apa kau akan marah jika aku katakan bahwa kak Tio tidak bersalah, dan sebenarnya aku yang bersalah?"


"Menurutmu?" Mendengar tanggapan Arisa ini, Raisa sudah bisa menebak Arisa akan marah padanya.


"Jadi, apa yang kau lakukan sampai kak Tio di ikat di luar? Aku yakin kak Tio sengaja di buat begitu kan? Aku mendengar keributan semalam." Ujar Arisa kemudian. Raisa yang mendengarnya pun mulai berkaca-kaca, ia tak kuasa jika harus jujur bahwa dirinya berniat untuk bunuh diri hanya karena melihat kembarannya di sayang oleh orang tuanya. Percobaan bunuh diri yang gagal, dan kesalah fahaman orang tua sehingga menyebabkan kakak sulungnya yang menanggung konsekuensi tanpa ada penjelasan sebelumnya.


Arisa beranjak dan berjalan perlahan menuju kamar Tio yang belum di pindahkan. Arisa duduk di kursi tunggu dengan Juna di sampingnya.


"Ju... apa kakak di hukum ayah?" Tanya Arisa berhasil membuat Juna terhenyak. Ia ikut bersalah karena sudah membuat Tio sampai sekarat. Tak bisa di pungkiri, ia yang paling merasa bersalah padahal ia yang paling dekat dengan Tio. Dengan kata lain, ia seperti orang kepercayaan Tio sendiri.


"Saya minta maaf. Saya kurang tahu soal itu." Hanya begitu jawaban Juna. Ia tak kuasa jika Arisa tahu kebenarannya bahwa memang Tio di hukum oleh ayahnya.


"Hei Aris! Pasien tidak boleh berjalan-jalan seperti ini. Cepat kembali ke kamar!" Ucap seseorang yang kebetulan lewat di depan Arisa. Arisa perlahan menoleh ke asal suara dan mencari tahu siapa yang bicara.

__ADS_1


"Eh kak Dimas. Sedang apa kakak di sini?" Pertanyaan konyol itu terlontar dari Arisa yang tersenyum kikuk seraya menahan kepalanya yang masih terasa berputar.


-bersambung


__ADS_2