7 Purnama

7 Purnama
Bab 25


__ADS_3

. "Rama tunggu!" Rama yang sudah berlalu pun berbalik saat mendengar panggilan Dira. Pandangan Rama tertuju pada sosok yang berada di belakang Dira, ia menatap tajam pada Rama dan terlihat pula sirat amarah di wajahnya.


"Lalu apa hal istimewa darimu sampai Arisa mau padamu. Kau memanfaatkannya kan? Atau kalian sudah tidur bersama sampai Arisa terus terikat denganmu. Kau menjijikan Rama." Ucap Dira selanjutnya dengan tak bisa menahan kekesalan yang menggebu dalam hatinya. Cemburu, mungkin saja ia memang masih cemburu pada Rama. Sebab Rama lah yang memutuskan hubungan, bukan Dira.


"Maaf. Tolong tarik kata-katamu kembali. Jika boleh jujur, Rama terlalu baik untukku. Dia sangat menjagaku, dan bahkan tak pernah melakukan apapun padaku selain physical touch yang wajar. Jangankan tidur, mencium tangan dan bagain wajahku saja dia tak pernah. Dia hanya menggenggam tanganku untuk berjalan bersama, tak peduli siapa yang lebih punya segalanya. Nyatanya aku tak seperti yang kalian kira, kalian menganggap ku bahagia dengan hidupku, kalian berpikir aku menikmati harta orang tuaku. Tapi sebenarnya, kebahagiaan ku bukanlah di rumah mewah yang kalian sebut-sebut itu. Tapi kebahagiaan ku ada pada Rama. Terdengar menggelikan memang, tapi itu kenyataannya. Rama yang merubah pandanganku pada dunia yang aku pikir sangat keras dan tak adil padaku. Terima kasih sudah melepaskan Rama sepenuhnya. Dengan begitu, aku tak perlu khawatir akan ada yang mengganggu Rama. Siapapun itu!." Tak biasanya Arisa berkata tegas seperti ini pada orang lain, Rama yang mendengarnya pun ikut merinding. Bahkan ia yang ingin ke toilet pun lupa akan niatnya saat Arisa menariknya kembali ke kelas. Setelah di kelas, Arisa tak sedikitpun berbicara kembali pada Rama sehingga Rama merasa bersalah sendiri.


"Aris..." belum sempat Rama melanjutkan ungkapannya, terdengar siswa lain berteriak ada guru yang masuk ke kelas mereka. Dengan terpaksa Rama kembali ke kursinya dengan perasaan yang gundah. Ia takut jika Arisa marah padanya dan malah menjauhinya. Bukan apa-apa, ia sudah terlanjur menyimpan rasa dan berjanji pada diri sendiri akan membahagiakan Arisa di sisa hidupnya.


"Apa akan sampai jika aku meminta satu tahun? Sepertinya tidak. Tapi, aku harap aku masih hidup saat dia berulang tahun bulan depan." Batinnya semakin sendu menatap rambut Arisa yang tersibak angin yang berhembus.


"Bapak ke sini hanya ingin mengumumkan tentang jadwal kelulusan dan perpisahan. Kelulusan akan di laksanakan tanggal 10 Juni, dan perpisahan pada 24 juni. Sekian terima kasih." Tutur pak Guru yang memberi pengumuman.


"Aih... hanya itu pak?" Terdengar Reski dari belakang seperti orang yang protes.


"Hanya itu. Untuk informasi lanjutan mungkin akan di umumkan nanti siang."


"Berarti kita jangan dulu pulang pak?" Naufal ikut bertanya.


"Jangan. Setelah pengumuman kalian baru boleh pulang."

__ADS_1


"Jam berapa pak?" Tanya siswa lain.


"Sekitar jam 9 atau jam 10 mungkin." Setelah memberi jawaban tersebut, pak guru segera berlalu dari kelas menuju kelas lain.


"Aris." Panggil Rama yang sudah berada di dekatnya setelah tak lama guru berlalu. Teman sebangku Arisa beranjak dan memberi tempat duduknya pada Rama.


"Kau marah karena aku berbicara dengan Dira?" Bukannya menjawab, Arisa malah menyeka embun di kelopak matanya.


"Aku marah pada Dira. Kenapa dia mengatakan hal semacam itu padamu. Jelas-jelas kau itu baik, tapi kenapa Dira begitu?" Menanggapi celotehan pacarnya, Rama tersenyum seraya meraih kepala Arisa dan mengusapnya perlahan. Ia tak menyangka Arisa bisa sekesal itu pada Dira.


"Tak apa. Asal jangan kita saja yang begitu pada orang lain. Ingat ya Aris. Sejahat apapun orang lain pada kita, jangan sampai kita menyimpan dendam terhadap mereka. Biarkan mereka saja yang jahat, kita jangan."


"Emmmm apa ya? Nanti aku tanyakan pada tuhan." Jawabnya dengan bersikap seolah ia tak sedang sakit apapun yang mengancam nyawanya.


"Jaga dia saat aku sudah tak ada, Tuhan!" Batin Rama dengan pandangan semakin sayu.


. Sepulang sekolah, Arisa bergegas ke kantor Artaris karena hari masih terhitung siang dan kebetulan Rama ada urusan dengan kakaknya di rumah sakit. Arisa duduk sendiri di sebuah ruangan yang sepi dan tak ada orang berlalu lalang di karenakan ruangan itu adalah ruangan khusus untuk keluarga yang bertamu, atau yang tidak di perbolehkan menemui pemilik perusahaan secara langsung.


"Tio. Ada tamu untukmu." Ucap seorang karyawan yang menjabat sebagai manager di departemen yang di tinggali Tio sekarang.

__ADS_1


"Siapa?" Tanyanya dengan dingin dan seakan tak memandang tinggi siapa orang tersebut.


"Tidak tahu. Sebaiknya temui saja di ruang tunggu khusus." Mendengar tanggapan managernya, Tio beranjak dari duduknya lalu bergegas menuju ruang tunggu yang di maksud. Ia perlahan membuka pintu dengan perasaan yang biasa saja. Tak berharap akan ada orang istimewa di balik pintu yang ia buka sekarang.


"Aris?" Panggilnya dengan heran dan mata yang semakin membulat. Entah apa yang ia sembunyikan sampai-sampai kedatangan adiknya saja ia merasa terkejut.


"Kakak mau istirahat kan? Aris boleh ikut makan dengan kakak?" Dan Tio malah terdiam tak menjawab pertanyaan Arisa tersebut.


"Sebenarnya apa yang ingin aku lakukan? Kalau aku pergi dari rumah, lalu bagaimana dengan Aris? Dia pasti akan sendirian. Apa aku terlalu egois dan hanya memikirkan diri sendiri saja?" Batin Tio mendadak sendu dan memalingkan wajah menyedihkannya dari Arisa. Arisa sendiri menyernyit dan penasaran akan sikap Tio yang berubah.


"Kau mau makan disini?" Mendadak Arisa mengangguk dengan antusias mendapati pertanyaan dari kakak tersayangnya. Meski Tio masih merasa kesal pada ayahnya, namun ia tak ingin melewatkan momennya bersama Arisa. Sangat jarang, bahkan tak pernah Arisa mengajak Tio untuk makan. Dan sebenarnya Arisa sendiri merasa malu jika harus makan siang di kantor jika bukan karena hatinya yang terus mendorong agar dirinya menemui Tio hari ini dan mengajaknya menghabiskan waktu berdua.


Tak lama, waktu makan siang pun tiba, dan Arisa mengikuti Tio untuk ke kantin yang ada di lantai dimana Tio bekerja. Arisa yang sudah lupa akan sikap dinginnya, kini ia bersikap layaknya anak SMA yang manja di depan karyawan ayahnya. Karena belum terlalu banyak karyawan yang datang, jadi Tio dan Arisa bisa mengambil makanan lebih dulu. Keduanya duduk di meja dekat jendela dan Arisa sangat menikmati kebersamaannya dengan Tio siang ini.


Tanpa di sadari, dari jauh ada sepasang mata yang tengah mengawasi mereka, namun tatapannya sangatlah sendu.


"Sepertinya non Aris yang ke sini." Ucap asisten Yugito yang sama-sama melihat Arisa dari jauh.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2