
. Arisa semakin kesal saat ia mendengar ayahnya hanya mengikuti kemauan ibunya. Ia sudah tak berharap lebih pada acara ulang tahunnya yang hanya tinggal menghitung hari. Yang ia inginkan adalah kehadiran Tio saat hari H, dan itu sudah cukup. Namun akhir-akhir ini Tio jarang pulang. Jika ada pulang pun selalu larut, bahkan ia kesulitan berinteraksi dengan Tio.
Hari ini, ia memutuskan untuk menemui kakaknya di kantor. Kali ini berbeda, ia tak mengenakan seragam, melainkan pakaian kasual agar tak di kira anak kecil.
Sebelum ke kantor, Arisa mampir di sebuah toko buku untuk membeli beberapa novel kecil yang tak sampai 100 halaman. Ia akan gunakan itu sebagai pengisi waktu luangnya saat menunggu Tio nanti.
Sampai di kantor, Arisa menunggu Tio di ruang tunggu layaknya seorang tamu dari luar. Melihat Arisa menunggunya, Tio segera mengajak adiknya ke ruang direktur agar Arisa merasa lebih tenang dan santai.
"Maaf ya. Akhir-akhir ini kakak sudah jarang bertemu denganmu." Ucap Tio yang tahu alasan kedatangan Arisa ke kantor.
"Tak apa kak. Aku mengerti. Tapi aku lega, kakak baik-baik saja meski pekerjaan kakak sangat melelahkan."
"Mau bagaimana lagi. Kakak bekerja kan untuk kamu." Mendengar ungkapan Tio tersebut, Arisa tertawa pelan kemudian memeluk Tio dengan manja khas anak kecil pada ayahnya. Tio merasa tenang jika Arisa masih bisa tertawa meski jauh darinya, dan kemungkinan Arisa merasa kesepian tanpa kehadirannya.
. Setelah puas bermain di ruangan Tio, Arisa yang sudah merasa bosan pun bergegas pulang. Ketika ia melewati taman, matanya tertuju pada dua orang yang saling berhadapan. Terlihat obrolan mereka begitu serius sampai Rama berekspresi lain dari biasanya. Arisa menepikan mobilnya dan ia turun, lalu menghampiri Rama yang masih berbincang dengan seorang gadis seumurannya. Semakin dekat Arisa menghampiri mereka, makan semakin jelas pula obrolan yang di bahas oleh keduanya.
"Aku masih menyukaimu Rama." Ucap gadis itu dengan memberanikan diri.
"Maaf Anggia. Tapi aku sudah punya pacar."
"Putuskan saja. Aku yakin tak ada yang lebih baik dari pada aku untukmu." Mendengar penuturannya, Rama hanya tersenyum kemudian membenarkan rambutnya yang tersingkap oleh angin.
"Mungkin dia memang tidak lebih baik darimu. Tapi dia lebih istimewa darimu."
"Apa istimewanya? Apa dia lebih kaya? Lebih cantik? Atau lebih pintar dariku?"
"Entahlah. Di mataku, dia itu gabungan dari semua pertanyaanmu. Cantik, baik, dan juga pengertian."
"Tapi tidak kaya?" Belum sempat Rama membalas celotehan Anggia, Arisa datang lalu menggandeng tangan Rama.
"Ini siapa sayang?" Tanya Arisa dengan melirik sesaat pada Anggia.
"Ini..."
"Aku mantan pacarnya. Anggia." Ucap Anggia menyela cepat sebelum Rama memperkenalkan dirinya dengan Arisa. Ia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Arisa.
"Ohhh mantan.... aku pacar Rama. Arisa." Arisa tak kalah angkuh membalas uluran tangan Anggia.
"Arisa Fandhiya Putri."
__ADS_1
"Kau tahu namaku?"
"Tentu saja.".
"Oh terima kasih. Tapi maaf aku tidak mengenalmu." Anggia mengepalkan tangannya mendengar penuturan Arisa yang begitu angkuh di depannya.
"Jadi pacarmu adalah Arisa?" Tanya Anggia beralih menatap Rama yang mengangguk menanggapi pertanyaannya.
"Kenapa? Kau tak percaya?" Arisa balas bertanya pada Anggia yang sepertinya memang tak percaya pada hubungannya dengan Rama.
"Maaf ya... aku dan Rama ada urusan. Jadi aku tinggal dulu." Tutur Arisa kemudian berlalu dari tempatnya. Ia membawa Rama memasuki mobilnya lalu bergegas melaju entah kemana tak ada tujuan. Sepanjang perjalanan, Arisa terus diam tak bicara sepatah katapun.
"Aris. Apa kau cemburu?" Tanya Rama hanya di tanggapi lirikan oleh Arisa.
"Menurutmu."
"Aishhh maaf. Aku tidak sengaja bertemu dengannya."
"Tidak sengaja tapi mengajak balikan."
"Dia yang mengajak bukan aku."
"Tapi tetap saja."
"Tapi aku tak suka"
"Ya sudah maaf. Maaf jika membuatmu marah dan tak suka."
"Memang."
"Di maafkan tidak?"
"Tidak."
"Aih jangan begitu."
"Sudahlah."
"Kau masih marah Aris?."
__ADS_1
"Tidak."
"Masih."
"Ihhh ku bilang tidak."
"Terus kenapa kau kesal?"
"Aku tidak kesal."
"Dasar perempuan. Susah untuk jujur." Meski Rama menyindirnya dengan keras, namun Arisa memilih untuk diam. Ia sudah terlanjur kesal pada pacarnya yang bertemu dengan gadis lain.
Setelah keduanya berputar-putar di jalanan kota, mereka akhirnya terhenti di sebuah cafe dan membicarakan hal tadi sampai selesai.
. Waktu kembali bergulir, di suatu malam yang sudah larut, jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, Arisa perlahan membuka mata dan ia mendapati kamarnya sudah gelap gulita. Ia mencoba meraih lampu di meja belajar untuk sekedar penerangan sementara. Ketika ia berbalik dan hendak kembali tidur. Seseorang mengejutkannya dengan memasang wajah konyol sehingga Arisa berteriak karena ketakutan. Tak lama setelahnya, lampu kembali benderang menyinari seluruh kamar Arisa yang ternyata sudah di hiasi dengan berbagai macam hiasan khas ulang tahun.
"Happy birthday...." teriak Tio dengan kue yang ia bawa ke hadapan Arisa. Juna menyalakan lilin yang terpajang di atas kue dengan angka 18 yang menunjukkan usia Arisa saat ini. Arisa berdoa sesaat kemudian ia meniup lilin sampai apinya mati seketika. Dan saat itu juga Tio dan juna ikut antusias memeriahkan kejutannya untuk Arisa. Setelahnya, Tio memberikan sebuah kado pada adik kesayangannya dan Arisa menerimanya dengan hati yang berbunga.
Ia tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagianya karena kakaknya begitu memprioritaskan dirinya. Tak lupa ia pun mengucapkan terima kasih pada Juna yang ikut serta memberikan kejutan untuknya. Perlahan Arisa membuka kotak hadiah dari Tio, kemudian matanya berbinar melihat isi dari kotak tersebut.
"Wahhh... apa ini cocok untukku?" Tanya Arisa dengan ekspresi ragu karena ia tak yakin jika ia akan cocok memakai gaun yang di belikan Tio untuknya.
"Kakak rasa itu sangat cocok. Diana yang merancangnya."
"Terima kasih kak... aku sangat suka." Dengan perasaan senangnya, Arisa memeluk lalu ia memberi kecupan di pipi Tio.
"Oh iya. Pakai di acara malam nanti ya!"
"Oh baiklah." Meski menyetujui, namun raut wajah Arisa tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Kenapa?" Tio sendiri tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya mengapa Arisa berubah sendu padahal ia begitu bahagia beberapa saat yang lalu.
"Tak apa. Lupakan saja."
"Eh jawab yang benar. Apa yang harus di lupakan? Kakak tidak ingat kau bilang sesuatu."
"Tidak pada kakak. Aku bilang pada ayah."
"Memangnya apa yang kau bilang?"
__ADS_1
"Aris bilang, di hari ulang tahun Aris, Aris ingin liburan dengan ayah. Tapi Aris dengar mama tidak setuju dan hanya akan mengadakan acara malam nanti. Itupun keinginan Rais." Tio membisu, lagi-lagi harus Raisa yang di prioritaskan.
-bersambung.