7 Purnama

7 Purnama
Bab 40


__ADS_3

. Bis terhenti di sebuah halte, Rama dan Arisa bergegas turun setelah mereka membayar ongkos. Arisa terlihat keheranan mengapa mereka turun di halte yang masih jauh ke stasiun.


"Bis yang kita tumpangi tadi itu tidak searah. Sebentar ya! Kita tunggu yang ke stasiun." Mendengar penuturan Rama, Arisa hanya mengangguk dan menurut saja. Ia tak tahu arah dan tujuan bis-bis yang lewat. Jika mau, ia bisa meminta Mang Ujang atau Juna untuk mengantarnya langsung ke stasiun sekarang. Namun karena ingin bersama Rama, Arisa hanya bisa mengikuti kemanapun Rama pergi. Hingga akhirnya Rama melihat ada bis yang datang. Melihat tujuan bis tersebut, Rama segera melambaikan tangannya agar bis itu menepi. Setelah bis berhenti di depan mereka, sesegera mungkin keduanya naik dan mencari kursi yang kosong. Sepanjang jalan, Arisa terlihat begitu antusias dan sama sekali tak merasakan panas atau gerah saat di dalam bis.


Sampai di stasiun, keduanya cepat-cepat membeli tiket dan menunggu waktu keberangkatan. Melihat banyak orang yang satu arah dengannya, Rama terus merangkul Arisa agar tak berdesak-desakan dengan orang lain. Ketika ada yang lewat, Rama dengan sigap melindungi Arisa. Hal itu membuat Arisa tertegun mendapat perhatian kecil dari orang lain selain kakaknya. Ketika memasuki kereta, Arisa duduk di samping jendela dengan girang. Rama sengaja memesan tiket sampai ke Bogor. Di tengah perjalanan, Arisa menatap kagum pada setiap apa yang ia lewati. Ini baru pertama kali baginya menaiki kereta api sepanjang hidupnya.


"Rama lihat!" Arisa menunjuk sesuatu yang ia lihat dan menurutnya sangat menarik sehingga Rama pun ikut melihatnya. Keduanya saling memberitahu ada sesuatu yang menarik perhatian mereka. Arisa membuka camilan yang sempat ia beli di stasiun dan ia mulai memakannya. Ada seorang anak kecil yang terus menatapnya seakan ia ingin meminta makanan yang tengah ia makan. Dengan tersenyum, Arisa menawarkan camilan tersebut sehingga anak kecil itu ikut tersenyum dan menghampirinya.


"Ehhh jangan. Itu punya kakak nya." Tegur ibunya segera merebut dan kembali memberikan pada Arisa.


"Tak apa bu. Saya tidka keberatan. Ayo dek! Kita makan sama-sama ya!" Bujuk Arisa berharap ibu anak ini bisa memaklumi.


"Terima kasih ya nak." Dan Arisa hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan ibu tersebut. Sampai akhirnya tiba di stasiun Bogor, Rama dan Arisa segera membeli tiket untuk kembali. Memang tak ada pekerjaan, namun ini begitu menyenangkan baginya. Kapan lagi Arisa menjalani hari-harinya seperti ini jika bukan dengan Rama. Keduanya duduk menunggu kereta mereka datang, dan Arisa memilih membeli beberapa camilan dan minuman untuk mengisi waktu luang mereka. Beberapa kali Rama menjahili Arisa sampai akhirnya Arisa kesal dan merajuk pada Rama. Rama kembali menggoda Arisa untuk tidak marah dengan mencuri camilan Arisa dengan diam-diam. Tiba-tiba tanpa di duga, Arisa memergokinya sehingga Arisa terbelalak dan berniat untuk memarahi Rama. Dengan cepat Rama berlari menghindari amarah Arisa yang mungkin hanya sebuah candaan. Keduanya berlari saling mengejar seraya menunggu kereta datang. Rama merasakan sesak dan sakit di bagian ulu hati sehingga ia terhenti dan meraih dadanya dengan mencoba untuk menahan rasa sakit itu di depan Arisa. Arisa yang sudah menyusul Rama pun segera melompat dan memeluk punggung Rama dengan girang. Rama hanya bisa bersikap biasa saja dan ia berusaha terlihat kuat di depan orang yang paling terkasihnya ini. Rama tersenyum lalu menggendong Arisa yang masih memeluk lehernya. Arisa merasa bahwa hari ini adalah hari terbaiknya. Ia bisa begitu lepas tertawa dan begitu bebas bersikap tanpa takut jika ada yang akan memarahinya. Juna tersenyum haru dari kejauhan menatap Arisa yang begitu bahagia. Ia yang di tugaskan Yugito untuk mengawasi Arisa diam-diam, memilih untuk berada di kejauhan agar Arisa tak curiga dan protes nantinya. Keseruan Arisa dan Rama terhenti saat kereta yang mereka tunggu akhirnya datang.

__ADS_1


Di dalam kereta, Arisa dan Rama saling bertukar cerita dan sesekali mereka membahas hal yang random, dari cerita sekolah sampai mengomentari semua hal yang mereka lewati. Sampai waktu menunjukkan tengah hari, mereka baru sampai di stasiun Jakarta dengan keadaan perut yang lapar. Arisa mengajak Rama untuk mencari makan siang di dekat area stasiun.


. Di waktu yang sama, Tio melajukan mobilnya menuju butik Diana dan ia meminta pacarnya itu untuk mencarikan baju untuknya. Diana yang tahu style Tio pun memberikan sebuah stelan jas yang memang sangat cocok dengan Tio. Stelan jas berwarna navy, sangat cocok di sandingkan dengan gaun Arisa yang di hadiahkan tadi malam.


"Kau datang ya!" Diana termangu mendapati ajakan Tio yang sebenarnya ia tunggu-tunggu sejak lama.


"Tapi... aku rasa aku...."


"Aris pasti menanyakan mu nanti." Ucap Tio menyela cepat sebelum Diana mengelak meski dalam hatinya Diana merasa sangat senang.


"Tap-tapi...."


"Kau banyak tapi nya."

__ADS_1


Karena Diana yang menjadi gugup, Tio berlalu mengitari butik dan mencari gaun yang cocok untuk Diana. Dan pandangannya tertuju pada sebuah gaun tanpa lengan dan hanya selutut yang di pajang di pojok ruangan dengan model yang sederhana namun terlihat mewah. Warna gaun itu senada dengan stelan jas yang di pilihkan Diana untuknya. Diana mencoba memakaikannya pada dirinya sendiri dan meminta penilaian Tio sebelum ia benar-benar memilih gaun itu.


Dengan ragu, Diana keluar dari kamar pass, dan Tio terlihat tertegun menatap Diana yang begitu anggun. Tak salah ia memilihkan gaun itu untuk di kenakan Diana di acara keluarganya.


"Cantik Di." Pujinya seakan tanpa sadar karena ia tak berkedip sedikitpun ketika menatap Diana yang baru keluar dari kamar pass.


"Sekarang, kau ikut aku!" Dengan tiba-tiba, Tio beranjak dan menarik tangan Diana menjauh dari kamar pass.


"Mau kemana Tio?" Tanya Diana terdengar seperti protes.


"Ikut saja. Nanti juga kau tahu." Jawab Tio menyisakan rasa penasaran di benak Diana.


"Tapi ganti baju dulu. Ini untuk nanti kan?" dan saat itu juga Tio terhenti lalu membiarkan Diana mengganti pakaiannya kembali. Tak perlu menunggu lama, Diana keluar dengan pakaian awalnya. Ia kemudian menyimpan gaun pilihan Tio di laci meja pribadinya agar tak ada yang mengganggu.

__ADS_1


Setelahnya Tio membawa Diana ke sebuah toko sepatu, dan lagi-lagi Tio memilihkan sepatu untuknya. Saat mencoba, Tio yang memakaikan untuknya.


-bersambung.


__ADS_2