
. Hari berikutnya setelah Arisa di nyatakan hilang, Seno merasa bersalah pada Tio karena telah menyembunyikan keberadaan Arisa darinya. Meski demikian, ia merasa kasihan pada Arisa yang mungkin akan dimarahi Yugito jika sampai ia di temukan.
"Ahhh.. biarkan begini saja dulu. Sampai aku tahu kebenaran ya sebenarnya." Batin Seno melihat Arisa yang masih tertidur pulas di kamar ibunya. Ia merasa bahwa Arisa mungkin kelelahan karena kemarin ia berpergian sembari menangis, dan efeknya sekarang ia menjadi tidur sampai siang.
"Sen. Coba kau bangunkan Aris. Kita sarapan." Titah Ani dari arah ruang makan.
"Iya Ma." Sahutnya segera memasuki kamar dan menepuk pundak Arisa.
"Aris... sarapan yu! Susah siang. Aariisss." Seno terus mengguncangkan tubuh Arisa yang tertidur dengan posisi membelakanginya dari pelan sampai sedikit keras. Seno mendelik karena Arisa yang tak kunjung bangun, lalu ia meraih rambut Arisa agar telinganya tampak, dan ia berniat untuk meneriaki Arisa. Namun, ia terkejut saat menyentuh kulit Arisa yang terasa panas dan wajahnya sangat pucat.
"Aris. Hei. Kau sakit?" Seno meraba ke setiap bagian wajah Arisa dengan begitu panik. "Ma.... Aris sakit Ma." Teriak Seno bergegas memanggil ibunya. Dan sesegera mungkin Ani menghampiri lalu ia pun meraba dahi, pipi, dan leher Arisa yang memang terasa panas.
"Panggil dokter cepat!" Titah Ani dan di turuti langsung oleh Seno yang meraih ponselnya lalu memanggil dokter keluarga mereka.
Sambil menunggu dokter datang, Ani memberikan pertolongan pertama dengan mengompres dahi Arisa. Hingga akhirnya dokter tiba, terlihat wajah dokter terkejut saat melihat Arisa yang ada di kediaman keluarga Seno.
"Bukankah gadis ini yang sedang di cari keluarganya?" Tanya dokter tanpa berpikir panjang.
"Iya. Dia kabur ke sini karena masalah keluarga. Tolong jangan beritahu siapapun! Aku tak yakin jika dia kembali pada keluarganya, dia akan bahagia."
"Baiklah. Sesuai perintah, saya tak akan memberitahu orang luar sekalipun itu keluarganya."
"Terima kasih." Setelah perbincangan selesai, dokter tersebut segera memeriksa kondisi Arisa.
__ADS_1
"Ini beberapa obat yang harus di konsumsi. Jangan lupa vitaminnya. Istirahat yang cukup, dan makanannya di jaga agar imun tubuhnya tidak menurun." Jelas dokter selepas memeriksa dan menganalisa hasil pemeriksaannya.
"Nona ini punya lambung yang sudah parah, saya sarankan agar tidak mengonsumsi makanan yang menimbulkan asam lambung." Ucap dokter kemudian.
"Baiklah. Terima kasih dok."
Setelah itu, dokter kembali berlalu dari kediaman Seno. Sedangkan Seno sendiri segera berangkat ke kampus untuk mengajar. Ani semakin sendu menatap Arisa yang lebih malang dari yang ia kira. Ia pikir gadis ini bahagia saja tinggal di rumah mewah, dan memiliki keluarga yang utuh, namun ternyata ia salah menilai.
"Mama... Aris minta maaf sudah merepotkan." Ucapnya ketika Ani membawakan makanan ke dalam kamar.
"Tak apa nak. Mama ada rasa senang kamu di sini. Rasanya Mama punya anak perempuan."
"Begitu ya?" Arisa tersenyum tipis mendengar jawaban Ani tersebut. Ia jua merasakan hal yang sama. Di saat sakit seperti ini, yang ia butuhkan memang perhatian dari peran seorang ibu.
"Apa maksudmu? Kau masih punya ibu kan?" Mendengar keterkejutan Ani, Arisa kembali tersenyum getir seraya menyeka embun yang menggenang di kelopak matanya.
"Tapi perannya tidak." Air mata itu semakin deras, dan bibirnya bergetar tak bisa lagi memaksa untuk kuat jika membahas tentang ibunya. "Aris merindukan Mama yang dulu. Aris juga merindukan Ayah yang dulu. Tapi harapan Aris selalu saja di patahkan tanpa belas kasihan."
"Nak... sekarang, apa kamu bisa ceritakan alasan kamu tidak mau pulang? Mama semalaman berpikir kau kabur bukan hanya karena kakakmu, atau sikap orang tuamu. Tapi masih ada masalah kan?"
"Kalau sikap Ayah dan Mama mungkin Aris sudah biasa, tapi ucapan kak Tio juga. Meski kak Tio bilang itu salah faham, tapi menurut Mama apa mungkin hanya salah faham? Kak Tio mengatakannya dengan sadar, dan juga menatap mata Aris secara langsung. Jika salah mengenali, kenapa hanya kak Tio saja yang setiap harinya selalu mengatakan bahwa Aris dan Rais berbeda."
"Ada lagi?" Ani terus mendesak agar anak ini mau mengatakan semuanya. Jika tidak, ia mungkin tak akan bisa melindunginya dengan alasannya sendiri. Terlihat Arisa meraih ponselnya lalu memperlihatkan postingan saudari kembarnya.
__ADS_1
"Kemarin, Ayah mengajakku jalan-jalan, lalu Aris di belikan beberapa barang yang Aris suka. Saat di gerai terakhir, Ayah mencocokkan sebuah jepitan rambut pada Aris. Aris pikir itu untuk Aris, jadi Aris bilang Aris tak suka dan memilih aksesoris yang lain. Aris kira Ayah tak membelikan untuk Rais. Ternyata.... ya seharusnya Aris tak langsung menyimpulkan bahwa Ayah benar-benar menyayangi Aris, seperti Ayah menyayangi Rais. Mau bersama Aris selama apapun, yang ada di pikiran Ayah hanyalah Rais seorang."
"Jadi intinya kau cemburu pada saudari kembarmu?" Dan Arisa mengangguk menanggapi pertanyaan Ani tersebut.
"Ya sudah. Kamu di sini saja dulu."
"Tapi... apa Aris tidak merepotkan? Baru semalam Aris di sini, Aris sudah membuat Mama repot karena Aris sakit."
"Tak apa. Kau boleh tingga selama yang kau mau. Dan temani Mama di sini."
"Terima kasih Ma."
"Sekarang, waktunya makan. Dan setelah itu minum obat, agar kamu lekas sembuh." Dengan mengangguk dan bersemangat, Arisa memakan makanan di depannya. Ia terlihat begitu menikmati sampai Ani pun tertegun dengan lahapnya anak ini memakan makanan buatannya.
. Di sekolah, tepatnya di kelas Arisa, seluruh siswa sudah ramai membicarakan hilangnya Arisa. Sempat mereka curiga pada Rama karena di pacarnya, namun nyatanya Rama pun tidak mengetahui dimana Arisa berada.
Dan di kantor Artaris pun, Juna memberi laporan bahwa Arisa tidak masuk sekolah hari ini. Semula ia hanya berpikir Arisa kabur ke rumah temannya, namun jika tidak sekolah, ia sudah berpikiran kemana-mana.
"Hubungi polisi di setiap distrik. Aku tak mau tahu, putriku harus di temukan secepatnya. Jika kabur, bawa pulang saat itu juga. Dan jika di culik, bunuh penculiknya saat itu juga." Tegas Yugito segera di turuti oleh para bawahannya.
Hari-hari telah berganti, sudah hari ke-3 Arisa belum di temukan, Tio kembali ke rumah Seno. Ia ingin meluapkan keluh kesahnya pada Seno atas kehilangan Arisa yang tiba-tiba.
"Jika apa yang aku ucapkan itu sangat melukai hatinya, aku ingin meminta maaf lagi padanya Sen. Sungguh perkataan itu sama sekali bukan untuk dirinya. Aku sangat menyayangi Aris. Dia seakan sudah menjadi separuh hidupku Sen."
__ADS_1
-bersambung