
Sebagai rutinitas seorang mahasiswa, tentunya Arisa selalu memperhatikan waktu. Kali ini, ia tak lagi begadang seperti sebelumnya. Hanya saja, sudah berapa lama Arisa tak lagi makan apapun di rumah. Ia selalu beralasan akan makan di kampus, tapi sebenarnya ia tak memakan apapun. Bahkan ia sering berbohong pada Rama bahwa ia sudah mengisi perutnya. Padahal, suara perutnya jelas terdengar oleh Rama sendiri. Dan hari ini, Arisa berangkat sangat pagi, dan keluarganya yang lain pun belum ada yang keluar untuk sarapan.
"Pagi non!" Sapa Mang Ujang yang tengah menyiapkan mobil Yugito di depan garasi.
"Pagi Mang."
"Non ada kelas pagi ya?"
"Tidak Mang. Aris ada urusan saja. Jadi berangkatnya pagi-pagi." Jawab Arisa mencoba memberikan alasan logis agar supir pribadi Ayahnya ini tidak terus menerus mempertanyakan tentang dirinya. Arisa bergegas memasuki mobil dan menghangatkannya sebentar. Ia buru-buru pergi sebelum salah satu keluarganya ada yang menyadari kepergiannya pagi ini.
Sampai di kampus, Arisa tak langsung ke dalam area kampus, ia memilih untuk berdiam diri di dalam mobil dengan memainkan ponselnya. Tampak sebuah postingan yang kembali membuatnya kesal, yang tak lain ialah Raisa yang selalu mengunggah kebahagiaannya bersama Ibunya.
"Ah.. aku dan Rais memang berbeda. Dia mendapatkan segalanya, sedangkan aku tidak." Lirihnya mulai menunduk pada stir di depannya.
Setelah dirasa cukup berdiam diri di dalam mobil, Arisa melirik jam di tangannya lalu beranjak dan segera keluar. Ia pikir jika kelas pagi sudah dimulai, maka taman kampus akan sedikit lebih sepi. Namun saat di jalur taman, tepat ia akan memasuki kawasannya, terlihat sekumpulan senior tingkat akhir tengah berkumpul di sana. Niatnya urung begitu saja sebab ia tak mungkin berbaur dengan orang-orang yang tidak ia kenali.
Dengan langkah terburu-buru, Arisa tak menyadari ada orang di depannya.
"Maju saja terus. Tabrak! Terus nantinya kau bersikap seolah kau yang menjadi korban." Mendengar suara yang familiar tersebut, sontak Arisa terhenti tepat di depan Seno. Wajahnya perlahan mendongak dan memastikan bahwa dugaannya benar. Dan, saat melihat wajah datar Seno, Arisa menjadi kesal lalu memukul lengan Seno dengan keras.
"Ihhhhh.... kenapa berdiri di jalan? Apa kau gila?"
__ADS_1
"Aduh sakit Aris! Kau juga kenapa berjalan sambil menunduk begitu?" Tanya Seno yang tak bisa menyembunyikan rasa penasaran akan sikap Arisa yang terlihat seperti orang yang ketakutan.
"Tak apa." Jawabnya dengan memalingkan wajah seakan menghindari tatapan Seno.
"Tak usah bohong. Dan kenapa kau ada di sini sepagi ini? Kelasmu mulai nanti siang kan?" Dan, pertanyaan Seno kali ini tidak Arisa jawab. Ia justru menggeleng pelan seraya menghela nafas dalam sesaat.
"Suka-suka aku lah. Kakak mau mengajar kan? Sudah sana!."
"Aih! Kau mengusirku? Heh! Tak sopan ya mahasiswa berkata begitu pada Dosennya." Teguran Seno tersebut terdengar bernada serius namun sebenarnya Arida tahu bahwa Seno hanyalah bercanda. Apalagi Seno menegurnya dengan menepuk gemas dahi Arisa.
Hal tersebut dilihat jelas oleh Bayu yang kebetulan akan melewati koridor yang kini ada Seno dan Arisa di sana. Tatapan Bayu semakin sendu saat melihat candaan Arisa yang seperti sedang bersama Rama. Namun, tatapannya beralih tajam saat ia melirik Dosen yang berani merayu mahasiswinya.
"Dosen baru tapi sudah bertingkah." Ucap Bayu bernada pelan seraya melanjutkan langkahnya dan melewati kedua orang itu dengan pandangan menunduk. Berharap Arisa akan menyapanya, namun nyatanya suasana hening yang ia dapatkan.
"Bukan." Jawab Arisa begitu singkat.
"Jadi, kenapa kau datang sepagi ini padahal kelasmu dimulai nanti siang?" Kembali Seno mempertanyakan hal yang belum ia dapatkan jawabannya.
"Malas di rumah." Dan jawaban itu cukup membuat Seno mengerti akan situasi dan apa yang terjadi pada Arisa.
"Kenapa lagi? Bertengkar dengan siapa?" Kali ini, Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan Seno yang menurutnya tak bisa dijawab dengan sebuah kata-kata.
__ADS_1
"Kalau begitu, sekarang kau ke kantin saja. Sarapan! Aku yakin kau belum makan apa-apa kan? Lihat tubuhmu! Kau sudah begini kurus, masih saja menunda makan. Lambungmu sudah parah kan? Minggu lalu kau hampir pingsan gara-gara lambungmu kambuh."
"Kenapa kakak malah ikut menyalahkanku? Yang diharuskan kenapa makan saja? Kenapa kakak tidak memintaku untuk mengurangi beban pikiranku? Dan kenapa aku hidup." Suaranya kian lirih saat Arisa mengatakan kalimat tersebut. Meski sebelumnya ia terdengar begitu kesal, namun sepertinya yang terakhir membuatnya sedikit takut pada Seno.
"Mau sampai kapan kau berpikir mati itu solusi terbaik? Apa kau tak pernah berpikir kalau dibalik semua masalahmu ini akan ada bahagia yang datang nantinya."
"Iya kapan? Kalau memang aku akan bahagia setelah semua kepedihan yang aku alami, harusnya sekarang masa bahagianya. Buktinya, kakak sendiri tahu Mama lebih menyayangi Rais daripada aku. Ayah lebih mementingkan pekerjaan daripada aku. Dan kak Tio lebih--"
"Lebih apa? Tio lebih apa? Kurang apa Tio padamu hah? Dia sibuk karena dia yang akan menjadi penerus ayahmu menjadi pimpinan di Artaris. Aris! Aku teman kakakmu, lalu kau adik dari temanku, dan aku juga sudah menganggapmu sebagai adikku. Kalau Tio kau anggap tak bisa memberimu kebahagiaan, aku bersedia menggantikan perannya." Mendengar semua yang diucapkan Seno, Arisa mendadak terdiam, tatapannya menjadi kosong dan mulai menunduk.
"Maaf kak. Aku permisi. Kau harus segera ke kelas kan?" Ucap Arisa kemudian meninggalkan Seno yang sama-sama terdiam di tempatnya.
"Rumah yang bagaimana yang kau inginkan Aris? Yang tak ada sosok Ayah seperti di rumahku?" Lirih Seno menahan embun yang hampir lolos dari pelupuk matanya.
Hari berganti hari, dan minggu berganti minggu, sikap Arisa kian lebih pendiam dari biasanya. Bahkan Rama sering memergoki Arisa tengah menahan air mata yang selalu menggenang namun tak kunjung menetes. Saat ia tanya ada apa, Arisa hanya menjawab tak ada apa-apa.
Hari itu, Arisa duduk bersandar di kursinya seraya membaca sebuah novel berukuran kecil. Di belakangnya, Rama yang sudah tak bisa menahan diri untuk menjahili Arisa pun memainkan rambut kekasihnya tersebut sampai pemiliknya menoleh dan menatapnya dengan kesal.
"Kemana senyummu? Akhir-akhir ini kau selalu murung. Aku jadi tak bersemangat." Keluh Rama menunduk di atas tangannya yang ia letakkan di meja.
"Kenapa harus senyumku yang menjadi semangatmu?" Tanya Arisa mulai memutar tubuhnya untuk lebih jelas menatap Rama.
__ADS_1
"Karena kau cantik saat tersenyum." Dan seketika itu juga, Arisa termangu lalu perlahan, senyumnya mulai terlihat sehingga Rama tersenyum kegirangan karena berhasil mendapatkan sumber semangatnya.
Bersambung