7 Purnama

7 Purnama
Bab 67


__ADS_3

Karena sudah terlanjur kesal, Arisa memilih untuk pergi tanpa menghiraukan panggilan Yugito yang semakin keras, bahkan ia membanting pintu sehingga Yugito terhenyak karena terkejut.


"Awasi Aris, jangan sampai dia keluar kamar." Ucap Yugito pada orang yang ia hubungi lewat telepon. Di sisi lain, Arisa menjatuhkan diri di atas sofa dengan air mata yang sudah tak terbendung. Karena terlanjur marah pada Yugito, Arisa kembali bangkit lalu bergegas keluar dari kamar. Namun, ia amat terkejut mendapati beberapa bawahan Ayahnya kini tengah berjaga di depan kamarnya.


"Maaf, Nona tak boleh keluar."


"Hah? Siapa yang melarangku keluar?" Dengan kesal bercampur bingung, Arisa tak bisa menahan kepalanya untuk tidak menggeleng keheranan.


"Tuan besar yang melarang Nona Arisa agar tidak keluar dari kamar."


"Apa hak Ayah melarangku? Ayah saja tak peduli padaku."


"Maaf Nona. Tapi ini perintah. Sebaiknya Nona kembali ke dalam. Atau, Tuan besar akan marah pada Nona, dan mungkin Nona tak bisa lagi bertemu dengan Rama."


"Ayah memang jahat. Katakan pada Ayah! Aku membencinya! Sangat benci!" Pekik Arisa lalu memasuki kamarnya dengan membanting pintu sangat keras.


Sepanjang hari, Arisa terus menangis tanpa ingin menghentikannya. Bahkan hingga malam tiba, Arisa masih terdengar terisak saat Bi Ina datang membawakan makan malam untuknya. Bi Ina yang merasa khawatir pun terus membujuk Arisa untuk makan. Pasalnya, sedari siang Arisa tak memakan apapun. Sudah lelah membujuk, Bi Ina menyerah dan memilih untuk meninggalkan Arisa.


Setelah Bi Ina merapatkan pintu, Arisa beranjak dari tempat tidurnya menuju balkon. Ia menatap lekat pada bulan yang masih memancarkan cahaya terangnya dan bentuknya yang bulat sempurna. Kemudian, Arisa mengirim sebuah pesan singkat kepada pemilik nomor yang menjadi favoritnya.


[Rama. Kau kemana saja? Kenapa tak membalas pesanku?]

__ADS_1


Tak lama setelahnya, ada sebuah balasan membuat Arisa tersenyum di sela tangisannya. Dan ia langsung mengirim pesan suara sebagai balasan dari pesan Rama.


"Aku dilarang keluar kamar. Apa salahnya jika aku ingin bertemu denganmu? Hiks. Aku kesal Rama. Aku ingin bertemu denganmu. Aku khawatir." Rengeknya seraya kembali menangis mengadu pada kekasihnya itu.


Di seberang, Rama tersenyum mendengar suara manja Arisa yang Dimas putar untuknya.


"Balas lagi Bang. Katakan kalau aku akan segera menemuinya." Ucap Rama dengan enteng membuat Dimas terbelalak tak percaya.


"Kau gila Li? Kondisimu tak memungkinkan untuk beraktivitas. Tunggu sampai cangkok hati di lakukan, baru kau boleh keluar dari rumah sakit!" Tegas Dimas benar-benar kesal pada adiknya.


"Itupun kalau aku berhasil sembuh kan?" Dan, Dimas terdiam mendengar pertanyaan Rama yang jelas tak bisa ia jawab. Meski hatinya ragu, namun ia ingin Rama sembuh seperti sedia kala.


"3 minggu lagi hari ulang tahunnya. Ya Tuhan! Apa kau akan mengambilnya saat hari istimewa itu? Kumohon jangan membawanya pergi. Aku belum siap jika harus berpisah dengannya." Batin Dimas dengan menghindari Rama dan memilih berbalik membelakangi adiknya. Tak lama berselang, Diah datang dengan wajah yang sudah sendu. Rama melirik mengikuti kemana ibunya melangkah. Ia tahu, Diah mungkin akan menangis di sampingnya.


"Sudah menjadi kewajiban Ibu merawat kamu, nak! Ibu tidak merasa direpotkan. Justru Ibu senang karena kalian ada bersama Ibu."


"Kalau begitu, Rama minta maafnya untuk yang lain saja Bu. Rama minta maaf karena tak bisa bersama Ibu lebih lama lagi. Ibu jangan marah ya! Ibu jangan larang Rama pergi. Rama sudah banyak buat Ibu kerepotan. Dan maaf juga karena Rama belum bisa balas jasa Ibu. Tapi Rama selalu berdoa, semoga Ibu selalu bahagia." Diah tak kuasa menahan tangisnya mendengar kalimat yang mungkin menjadi kalimat perpisahan mereka. Meski Diah tak tahu kapan Rama akan pergi, namun ia sangat tahu bahwa perpisahan itu akan terjadi.


1 minggu kemudian, Dimas bisa kembali menyunggingkan senyum setelah selama ini ia memasang wajah datar tanpa ekspresi. Alasannya senyum kali ini ialah, tak lain karena kondisi Rama membaik, bahkan Rama sudah bisa keluar dari kamar inapnya dan berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. Kemoterapi yang dilakukan 3 hari yang lalu sedikit berpengaruh pada kondisi tubuh Rama. Dan Dimas mendapat kabar dari seniornya bahwa Rama bisa bertahan lebih dari 1 bulan ke depan. Meski demikian, Rama berniat memberitahu Arisa tentang penyakit yang di deritanya setelah sekian lama ia bungkam.


Hari berganti, Rama merasa ia sudah cukup beristirahat. Ia kembali menjalani aktivitasnya sebagai mahasiswa dan kembali bertemu dengan Arisa. Namun, ketika Arisa hendak merangkul lengannya, Rama seketika menjauh dan melarang Arisa untuk berdekatan dengannya.

__ADS_1


"Jangan dekat-dekat. Nanti kau tertular penyakitku." Ucap Rama sehingga membuat Arisa berekspresi kesal.


"Kalau flu, kemarin aku juga flu. Jadi tak akan tertular."


"Iya tetap saja aku takut kau sakit." Mendengar kekhawatiran Rama tersebut, Arisa yang semula merajuk pun tersenyum manis karena merasa di perhatikan.


"Aris. Aku ingin bicara sesuatu denganmu!" Ucap Rama setelah keduanya diam beberapa saat.


"Bicara apa?" Tanya Arisa dengan antusias. Namun ketika Rama menghela nafas dan hendak memberitahu Arisa, terdengar Seno memanggil mereka dan menyuruh Arisa untuk pergi ke gerbang depan, karena di sana ada Tio yang menunggunya. Sementara utu, Rama berjalan beriringan dengan Seno yang kebetulan hari ini adalah jadwal Seno mengajar di kelas Rama.


Hari kembali berganti, dan niat Rama memberitahu Arisa mengenai penyakitnya pun urung, dan bahkan ia sempat terlupa akan hal itu. Alasannya sederhana, Rama tak ingin mood Arisa yang saat ini bahagia di depannya menjadi hilang seketika. Sebab ia yakin, Arisa akan murung jika mengetahui penyakit yang ia derita.


Singkat cerita, sampai di hari ulang tahun Rama, Arisa meminta Rama untuk menemuinya di rumah dengan alasan ia sangat merindukannya. Namun ketika Rama sampai di rumah Arisa, ia terkejut melihat Arisa ambruk di gazebo tempat mereka biasa melihat purnama. Sontak Rama yang dilarang berlari pun tak sadar ia berlari sekencang mungkin menghampiri Arisa. Dan sesegera mungkin Rama meraih dan mengguncangkan tubuh Arisa yang terlelap tanpa ingin membuka mata.


"Aris. Hei bangun. Kau kenapa? Aris.. jangan begini Aris. Aku semakin tak mau meninggalkanmu. Aris!" Mendengar Rama yang panik, sejujurnya Arisa ingin tersenyum, namun ia menahannya karena ini sudah menjadi rencana untuk kejutan ulang tahun Rama. Saat Rama merasakan denyut menyakitkan di ulu hatinya, saat itu juga Arisa terbangun dan langsung memeluk Rama dengan antusias.


"Selamat ulang tahun sayang. Maaf sudah membuatmu khawatir." Dan dengan masih tertawa riang, Arisa meraih wajah Rama yang sudah terlihat pucat.


"I-ni tidak lucu Aris" tanpa di duga, Rama membentak Arisa dan beranjak meninggalkan Arisa sendiri di gazebo. Arisa yang terkejut pun hanya terdiam tak menyangka jika Rama bisa membentaknya begini.


"Rama... tunggu. Aku minta maaf. Aku ingin memberi kejutan untukmu." Dan meski Arisa memohon, Rama tetap memilih pergi. Bukan karena marah pada Arisa, namun ia sudah tak kuat menahan nyeri di ulu hatinya. Sesegera mungkin Rama pulang dan ia langsung berlari menuju kamar mandi. Gilang yang terheran pun mengikuti Rama, dan saat itu juga dia terhenyak melihat darah dimana-mana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2