
Arisa membuka pintu kamarnya dengan menghela nafas lega, sebab ia tak bertemu dengan siapapun di rumahnya saat ia membawa jajanan masuk. Arisa mengambil satu pics camilan dan membawanya ke balkon. Dengan santai, ia menonton drama kesukaannya seraya memakan camilan dengan sembunyi-sembunyi.
"Hei! Kau suka itu juga?" Mendengar suara Raisa dari belakangnya, Arisa terhenyak dan menyembunyikan camilan miliknya agar Raisa tidak melihat. Ia pikir Raisa mengatakan itu pada camilannya, namun ternyata maksud Raisa itu adalah drama yang tengah ditonton olehnya.
"Aku juga menonton drama itu." Ucap Raisa kemudian duduk di samping Arisa dan ikut menonton drama di laptop Arisa. Arisa sendiri merasa tak nyaman dengan keberadaan Raisa di sampingnya. Ia tak leluasa memakan camilan, karena jika Raisa melihatnya, ia pasti akan dilaporkan pada ibunya dan saat itu juga Rahma akan memarahinya habis-habisan. Camilan berkemasan seperti ini sangat dilarang keras oleh orang tuanya, apa lagi dengan rasa pedas seperti yang sedang Arisa makan.
"Mau ih!" Ucap Raisa mencoba meraih camilan yang di sembunyikan Arisa. Meski ragu, namun Arisa membagi camilannya dengan Raisa.
"Apa mama tak akan marah?" Tanya Arisa yang benar-benar takut jika ibunya akan memarahi mereka, dan mungkin akan memarahinya saja karena memberi Raisa makanan yang di larang.
"Asal jangan ketahuan, mama tak akan marah." Jawab Raisa diiringi tawa kecil seraya melahap camilan pedas tersebut.
"Bagaimana kalau ketahuan?"
"Tak akan." Setelah Raisa menjawab demikian, keduanya terdiam dan fokus menonton drama dengan mengemil tanpa menyadari ada seseorang di belakang mereka.
"Huh pedas. Aku ambil air dulu ya!" Raisa bangkit dengan nafas yang sudah kepedasan. Ia terdiam seketika saat mendapati ibunya sudah berdiri tegap di ambang pintu balkon dengan menatap tajam ke arah mereka.
"Ma-mama?" Pekik Raisa mundur beberapa langkah sehingga Arisa terhenyak dan ikut bangkit, namun karena ia yang panik, makanan pedasnya jatuh dan berserakan di lantai. Wajah keduanya terlihat semakin panik, apa lagi saat Rahma berjalan menghampiri mereka. Rahma diam seribu bahasa, lalu ia meraih camilan yang jatuh dan membersihkannya, lalu Rahma beralih menggeledah kamar Arisa sehingga semua camilan yang baru Arisa beli pun di rampas oleh ibunya.
__ADS_1
"Mama... jangan di ambil." Ucap Arisa memohon dengan meraih tangan Rahma yang seketika itu juga menepis kasar genggamannya. Rahma masih diam seakan ia tak mempedulikan Arisa yang sudah kesal karena camilannya ia bawa keluar dari kamar. Arisa terus membuntuti ibunya berharap camilannya di kembalikan. Arisa sudah bisa menebak Rahma akan kemana, dan benar saja, Rahma membuang semua camilannya di tempat sampah depan rumah sehingga Arisa berdecak kesal karena hal itu.
"Mama jahat." Pekiknya sudah terlanjur marah pada Rahma.
"Apa? Mama jahat? Kamu yang tak mengerti Aris! Kamu punya penyakit lambung, tapi kamu terus memakan makanan pedas. Dan sekarang, kamu mengajak Rais untuk ikut makan makanan sampah ini. Mau kamu apa? Kamu mau sakit lambung karena memakan ini? Kamu sengaja? Jadi selama ini kamu sakit karena sengaja agar Mama memperhatikanmu? Kalau sengaja, jangankan merawatmu, melirik saja Mama tak mau." Bagaikan sebuah petir yang menyambar di siang hari, Arisa mematung mendengar penuturan ibunya yang begitu menyesakkan. Bagaimana bisa ibunya berpikir demikian terhadapnya? Arisa tak bisa menahan air matanya yang kini berderai dari pelupuk matanya.
"Ma... ada apa ini? Kenapa Aris dimarahi?" Yugito menyusul keluar rumah menghampiri istri dan anaknya yang ia dengar tengah bertengkar.
"Ini Mas. Anak kesayanganmu ini makan makanan pedas padahal dia punya penyakit lambung. Dia sengaja melakukannya mungkin agar kita beralih memperhatikannya dari pada Rais. Aku tak habis pikir Mas. Dan sekarang, dia ajak Rais untuk ikut makan dengannya. Bagaimana kalau Rais ikut sakit?"
"Aris tidak begitu ma!" Protes Arisa mencoba membela dirinya sendiri. "Aris tidak mengajak Rais. Rais sendiri yang mau." Lanjutnya sebelum Rahma kembali memarahinya.
"Aris benar Ma. Rais yang meminta. Mama jangan marahi Aris terus. Ini salah Rais." Raisa ikut menimpali dari arah pintu. Ia menghampiri ibu dan adiknya dengan berharap ibunya akan percaya dan tidak memarahi Arisa lagi.
"Sudahlah Rais. Kau jangan membela dia. Mama tahu kau pasti di ajak oleh Aris kan? Katakan saja yang sebenarnya Rais! Kau mengatakan ini juga pasti karena Aris yang menyuruhmu kan?" Raisa ikut kesal dengan tanggapan ibunya yang diluar perkiraannya.
"Aris tidak begitu Ma. Rais serius, Rais yang meminta camilan Aris." Raisa kembali menjelaskan agar ibunya percaya bahwa yang dikatakannya adalah benar.
"Rais! Kau masuk ke kamar SEKARANG! Dan kau Aris, mulai hari ini, uang jajan kamu tidak akan Mama berikan. Silahkan kamu bekerja sendiri kalau kau mau membeli makanan sampah itu. Jangan pakai uang Mama atau Ayah. Mama juga akan melarang Kakakmu untuk memberikanmu uang sampai kau masuk kuliah."
__ADS_1
"Kenapa Mama tidak usir saja Aris sekalian!" Teriak Arisa sudah tak kuasa menahan amarahnya pada Rahma. Arisa berlari ke dalam rumah dan memasuki kamarnya dengan terus terisak keras. Arisa mengambil ranselnya lalu memasukkan beberapa baju dan barang-barang lainnya untuk ia bawa pergi dari rumah.
"Aris. Kau mau kemana?" Teriak Yugito yang melihat Arisa menuruni tangga dengan menggendong ransel besar. Ia pikir Arisa hanya merajuk dan akan mengurung diri di kamar, namun Arisa malah berniat pergi dari rumah. Arisa tak menjawab, ia terus bergegas menuju teras rumah dan memasuki mobil sesegera mungkin sebelum Ayahnya menyusul. Arisa melajukan mobilnya dengan cepat, bahkan ia hampir bertabrakan dengan Tio yang kebetulan baru pulang dari luar. Tio terheran mengapa Ayahnya terlihat panik saat mencoba mengejar mobil Arisa. Belum sempat ia bertanya, Yugito segera menghentikan mobil Tio sehingga Tio menekan remnya kuat-kuat.
"Kejar Aris Tio!" Titah Yugito seraya memasuki mobil Putra sulungnya.
"Aris kenapa Ayah?" Tanya Tio yang belum mengerti akan situasi yang terjadi di keluarganya.
"Aris kabur. Dia bertengkar dengan Ibumu."
"Aishh lagi-lagi? Apa karena Rais?"
"Sepertinya begitu."
"Anak itu kapan dewasanya?" Geram Tio dengan melajukan mobil semakin cepat.
"Ayah juga tidak tahu harus menghadapi Aris bagaimana."
"Yang aku maksud bukan Aris, Ayah. Tapi Rais. Dia selalu saja mencari masalah dan selalu melemparkan kesalahannya pada Aris. Mama juga, kapan Mama akan bersikap adil pada Aris?" Tio dengan setengah berteriak menyalahkan Ibunya yang selalu menyalahkan Arisa.
__ADS_1
Bersambung