7 Purnama

7 Purnama
Bab 57


__ADS_3

Sepulang bekerja, Arisa bergegas menuju rumah sakit tempat dimana Rama dirawat. Ia ingin memastikan bahwa Rama tidak separah yang dipikirkan. Sampai di ruang inap yang sudah Rama beritahukan, Arisa menghampiri Rama dengan tatapan yang begitu sendu.


"Kenapa sakit terus? Kan aku sudah bilang jangan telat makan, banyak istirahat." Ucap Arisa setelah ia bertatap muka dengan Rama.


"Aris sendiri sudah makan?" Tanya Diah yang melihat kondisi Arisa hari ini sedikit berbeda. Ia terlihat kelelahan dengan keringat yang sudah membasahi pelipisnya.


"Hehe. Belum bu." Jawab Arisa dengan tertawa menanggapi pertanyaan calon mertuanya.


"Hemmm mulai nakal lagi ya!" Dengan gemas Rama menepuk dahi Arisa sehingga Arisa meringis dan merajuk padanya.


"Rama... tak boleh begitu pada perempuan." Mendengar teguran Diah, Arisa merasa puas dan tertawa tanpa suara untuk mengejek Rama.


Malamnya, setelah Arisa dan Diah makan bersama, mereka kembali ke kamar Rama. Namun karena Dimas mengizinkan Rama keluar, malam ini Rama mengajak Arisa ke taman rumah sakit untuk melihat purnama bersama. Dimas meninggalkan Rama dan Arisa yang kini menikmati kebersamaan mereka.


"Bulannya tertutup awan." Ucap Arisa mengeluh dan matanya semakin sayu menatap pada bulan yang jauh di atas sana.


"Apa kau bersedih?" Mendengar pertanyaan Rama tersebut, Arisa terhenyak dan ia menatap tajam Rama seketika.


"Kenapa kau bertanya begitu?"


"Karena kalau kau tak bersedih, langit juga tak akan kelabu seperti ini."


"Itu efek mendung saja Rama. Bukan karena aku. Lagi pula, ini sudah masuk musim penghujan. Jadi wajar kalau langit ada mendungnya."


"Benarkah? Terus, kenapa 2 minggu ini kau tak pulang? Bahkan kau baru mengaktifkan ponselmu? Kalau kau tidak sedih, lalu itu artinya apa?"

__ADS_1


"Bukan urusanmu."


"Jadi begitu? Sekarang kau tak mau bercerita apapun padaku?"


"Tidak semua cerita harus diceritakan Ram." Bentak Arisa dengan beranjak dari duduknya. Ia terlihat benar-benar kesal dan tanpa ingin mendengar celotehan Rama lagi, Arisa cepat-cepat berlalu meninggalkan Rama sendirian.


"Aku semakin yakin untuk meninggalkanmu Aris." Ucap Rama yang masih terdiam di tempatnya, memalingkan padangan dari punggung wanita terkasihnya, dan mengepalkan tangan membulatkan tekad untuk mati secepatnya.


Rama yang sudah merasa baikan pun mulai bertanya pada Dimas kapan ia akan pulang. Dan dnegan santainya, Dimas hanya menjawab 1 minggu lagi. Rama menghela nafas berat lalu membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit ruangan. Ia berpikir bahwa malam ini adalah malam purnama terburuk yang dialaminya. Sudah 1 jam selepas kepergian Arisa, dan Rama belum juga berniat untuk menghubungi Arisa lebih dulu. Ia akan membiarkan kemarahan Arisa mereda sendirinya.


Hari berganti, Rama diperbolehkan untuk pulang, dan tujuan pertamanya bukanlah rumah, melainkan mencari keberadaan Arisa. Ia mendapat informasi dari Tio bahwa jam sekarang, Arisa tengah berada di Mall, namun Tio tak memberitahu Rama alasan Arisa berada di sana. Meski demikian, ia tak ingin hilang kesempatan, sejak semalam Arisa belum menghubunginya. Dan sekarang ia ingin memberi kejutan dan meminta maaf karena ia sendiri mengaku salah. Ia baru terfikir kalau Arisa marah bukan hanya karena ucapannya, namun juga karena kelelahan selepas bekerja.


Setelah bersiap, Rama melaju ke Mall yang di maksud Tio dengan hati yang sudah berbunga. Ia baru pertama kali bertengkar dengan Arisa dan baru pertama kali juga ia mempersiapkan diri untuk meminta maaf. Sensasinya seperti akan mengutarakan perasaan, dan ada rasa takut di tolak oleh Arisa.


Rama menyusuri setiap gerai pakaian yang berjejer rapi. Dan dari kejauhan, ia melihat Arisa yang sepertinya tengah berbincang dengan seseorang. Saat Rama berjalan semakin dekat, ia terhenti seketika saat mendapati lawan bicara yang mengobrol dengan Arisa, yang tak lain adalah seorang pria. Matanya menyipit dengan tatapan dingin memperhatikan setiap gerak-gerik mereka. Terlihat saat itu, Arisa tengah menolak pemberian dari pria tersebut, namun si pria terus memberikan sampai Arisa menerimanya dengan tak enak hati. Terlihat juga Arisa mengucapkan terima kasih. Setelah itu, keduanya memasuki gerai dan memilih beberapa pakaian di sana. Rama semakin merasa tersayat saat Bayu mencocokkan sebuah dress yang Rama ketahui berharga sangat mahal pada tubuh Arisa. Namun, Arisa hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi sehingga barang itu di berikan kepada kasir untuk di transaksi. Setelahnya, terlihat Arisa berbicara pada beberapa pelayan di sana, lalu Arisa berjalan mengiringi langkah Bayu. Dari jauh, Rama mengikuti kemana mereka pergi. Ia kembali mengawasi dari jarak yang begitu jauh agar keduanya tak menyadari bahwa ada Rama yang memperhatikan mereka.


Saat ini, terlihat Bayu dan Arisa memilih beberapa aksesoris yang sangat cocok jika di pakai oleh Arisa. Dan memang, beberapa kali Bayu mengeluh karena Arisa terlihat cantik dan cocok saja jika di kenakan aksesoris apapun, sehingga Arisa tersenyum malu-malu menanggapi pujian Bayu tersebut.


"Ah... pantas saja Aris akan merasa bahagia dengannya. Aku tak punya apa-apa untuk di berikan sebagai hadiah. Aku anak yang biasa saja, sedangkan dia, sepertinya dia dari keluarga yang sangat kaya. Membeli apapun untukmu sangat tak ada masalah. Aku paham, rasa bahagiamu ini sangat kau nantikan saat bersamaku kan? Tapi nyatanya aku tak memberikanmu apapun. Memang seharusnya aku mati saja, agar kau tak terus menerus terbebani olehku. Dia memberikanmu barang-barang mahal, sedangkan aku, aku hanya meminta maaf karena tak bisa memenuhi inginmu. Meski kau selalu bilang kau tak masalah jika aku tak memberikan apapun, tapi wajahmu sekarang tak bisa membohongi dirimu sendiri Aris. Kau sangat bahagia dengan apa yang di berikan oleh pria itu. Ahh Yaa Tuhan! Kenapa aku begitu tidak tahu diri? Aku tak bisa memberinya apa-apa, tapi aku sangat kesal melihatnya diberikan sesuatu oleh pria lain." Batin Rama yang sebenarnya ingin pergi jauh dari tempatnya dan tak ingin menyaksikan kebahagiaan Arisa dengan orang lain.


Ketika ia hendak berlalu, ternyata Arisa dan Bayu sudah selesai berbelanja, dan ia merasa ingin menyelesaikan urusannya saat itu juga.


"Terima kasih ya Aris. Aku yakin sepupuku akan suka dengan hadiah ini." Ucap Bayu seraya tersenyum lega.


"Tak apa kak. Kakak juga membantuku, jadi tak ada salahnya aku membalas kebaikan kakak. Apalagi, ponselnya kan kakak berikan padaku. Ini bukan apa-apa jika untuk membalas kebaikan."

__ADS_1


"Ehh tak apa Aris. Aku tulus memberikannya padamu. Pokoknya kalau kau ada apa-apa, katakan saja pada kakak."


"Iya... tapi tidak sering ya! Aku tidak enak pada kakak. Jadi membebani"


Melihat perbincangan Arisa dengan pria lain itu, Rama semakin dibuat remuk. Pasalnya Arisa bersikap manja sama seperti kepadanya. Entah karena apa, namun ia benar-benar tak rela jika ada pria lain yang melihat sisi manja Arisa selain dirinya saja. Karena biasanya diluar Arisa selalu bersikap dingin dan acuh pada siapapun.


Saat Arisa tengah tertawa karena candaan Bayu, Rama berhenti tepat di depan Arisa dengan melemparkan lirikan tajam dan dingin seakan ia begitu tak menyukai Arisa.


"Ra-Rama? Ka-kau? Mengapa kau disini?" Dengan terbata Arisa bertanya tentang keberadaan Rama di tempatnya bekerja.


"Ahahah ada pacar. Aris. Aku pergi ya! Terima kasih. Nanti aku ke kost mu lagi." Mendengar penuturan Bayu tersebut, Arisa dan Rama sama-sama terhenyak. Arisa terhenyak karena Bayu yang sembarangan bicara, dan Rama terhenyak karena terkejut Arisa kost, dan Bayu selalu menemui Arisa di sebuah kost.


"Kost? Kau? Serius?" Dengan masih tak percaya, Rama mencoba bertanya apakah yang ia pikirkan itu tidaklah benar.


"Nanti saja membahasnya. Maaf saat ini aku sedang sibuk." Ucap Arisa kemudian berjalan melewati Rama.


"Denganku sibuk, tapi dengan orang lain kau meluangkan waktu. Apa karena dia membelikanmu barang mahal, sedangkan aku tidak?" Pertanyaan Rama itu berhasil membuat Arisa terhenti sehingga keduanya saling membelakangi. Arisa termangu di tempatnya dan ia tak percaya mengapa Rama bisa berpikir demikian. Rama berbalik lalu menyusul Arisa yang masih mematung.


"Jika kau sudah siap kehilanganku, katakan saja! Jangan begini caranya." Ucap Rama seraya melewati Arisa dan terus berjalan tanpa ingin menoleh kembali ke belakang. Arisa meremas jemarinya kuat-kuat lalu kembali ke tempat pekerjaannya.


Rama semakin cepat melangkah menuju pintu keluar, ia tak mendapatkan panggilan dari Arisa di belakangnya, jujur ia sangat kecewa.


"Bahkan kau tak memanggilku, meski untuk sekedar menjelaskan bahwa kau tidak mendua."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2