7 Purnama

7 Purnama
Bab 68


__ADS_3

"Bertahan ya Bang. Gilang cari Bang Dimas dulu." Ucap Gilang dengan terisak keras saat ikut berlari ketika petugas rumah sakit membawa Rama masuk ke ruang UGD. Seperti anak yang hilang, Gilang terus menyusuri setiap koridor rumah sakit mencari keberadaan Dimas. Dan secara kebetulan, ia berpapasan dengan suster yang selalu bersama Dimas saat memeriksa pasien.


"Kak Sus. Tolong katakan pada Bang Dimas, kalau bang Rama ada di UGD sekarang." Ucap Gilang dengan menatap penuh harap pada suster.


"Tapi Dokter Dimas tidak ada hari ini, dek. Katanya dia cuti."


"Hah? Bang Dimas tadi pagi berangkat kok Sus. Pakai baju yang rapi juga seperti biasa dipakai kerja."


"Beneran Dek. Dokter Dimas tidak masuk kerja hari ini."


"Terus Bang Rama gimana Sus? Gilang takut Bang Rama kenapa-kenapa." Rengek Gilang kembali menangis sehingga suster merasa tak enak hati melihatnya.


"Sini Suster temani lihat kakakmu." Ucap Suster lalu menemani Gilang menuju ruang UGD.


Di sisi lain, Dimas menemui Arya yang memberi kabar bahwa Arya sudah menemukan organ hati untuk Rama. Dan setelah melihat analisa, Dimas semakin merasa gembira karena organ hati itu sangat cocok dengan Rama.


"Terima kasih Om. Saya tak tahu harus dengan cara apa saya membalas kebaikan anda."


"Tidak Dok. Saya yang meminta maaf atas kesalahan anak saya. Dengan ini, saya anggap Dokter sudah memaafkan anak saya."


"Tentu saja Om."


Di tengah perbincangan mereka, Dimas mendapat sebuah panggilan dari pihak rumah sakit. Pikirnya ia merasa heran karena hari ini ia sudah meminta cuti, dan pihak rumah sakit pun sudah menyetujui permintaannya meski mendadak.


Namun saat ia mendengar nama adiknya disebut, Dimas segera beranjak dan bergegas menuju rumah sakit dimana tempat ia bekerja. Sementara itu, Arya membereskan urusannya.


Singkatnya, Dimas sampai dan berlari menuju ruang UGD. Namun anehnya ia tak menemukan Gilang di sana. Melainkan hanya ibunya saja yang tengah menunggu Rama di luar ruangan.


"Dimas." Lirih Diah dengan menatap penuh arti pada Dimas.

__ADS_1


"Ibu tenang dulu. Dimas cek kondisi Ali. Setelah itu, Dimas akan segera memberitahu Ibu." Ucap Dimas mencoba menenangkan.


"Gilang dimana Bu?" Tanyanya kemudian.


"Gilang ke luar dulu." Jawab Diah menyeka air matanya yang terus berderai. Setelahnya, Dimas bergegas masuk ke dalam ruangan dan bergabung dengan seniornya di sana.


"Dok. Maaf saya ikut memeriksa adik saya." Ucapnya agar tak ada kesalah fahaman di antara mereka.


"Kau cuti kan? Sudah Dimas. Biar aku saja"


"Tidak Dok. Saya ingin menangani adik saya."


"Kau tak percaya padaku?"


"Bukan begitu. Tapi..."


"Ini perintahku Dimas. Jadi, mengertilah."


"Kamu terus menguatkan Ibu, tapu kamu sendiri menangis di pelukan Ibu."


"Dimas takut Bu. Dimas takut."


"Bagaimana dengan Aris? Apa dia sudah di beritahu? Kenapa dia tidak menjenguk Rama? Bukankah Aris dan Rama masih berpacaran?" Mendengar pertanyaan beruntun dari Ibunya ini, Dimas seketika terdiam membisu. Ia menghentikan tangisnya dan mencoba mengatur nafas sebelum menjawab.


"Aris belum tahu apa-apa tentang penyakit Ali, Bu." Dan, mendengar jawaban Dimas tersebut, Diah ikut mematung. Ia tak percaya jika Arisa tidak tahu menahu tentang penyakit Rama. Apa lagi Penyakitnya sudah lama di derita Rama.


"Rama melarang kita untuk memberitahu Aris. Dia bilang, dia yang akan memberitahu Aris sendiri."


"Tapi sampai kapan Dim? Kondisi Rama sudah begini. Aris harus tahu. Bagaimana pun, Aris itu orang yang sudah menganggap kita sebagai keluarganya."

__ADS_1


"Iya Bu. Dimas mengerti. Dimas juga berencana untuk memberitahu Aris. Tapi rasanya sekarang waktunya belum tepat."


"Apa kondisi Rama yang sudah begini kau bilang belum tepat?" Mendengar perkataan Diah, Dimas dengan kasar menghembuskan nafasnya.


"Iya bu. Nanti Dimas beritahu Aris. Tapi, Dimas ingin memastikan kalau Ali akan baik-baik saja Bu. Saat ini Dimas belum berpikir harus bagaimana memberitahu Aris. Di pikiran Dimas sekarang itu keselamatan Ali saja Bu. Dan juga, Dimas takut jika Dimas memberitahu Aris, Ali akan marah pada Dimas."


"Kalau begitu, Ibu saja yang bicara pada Aris."


"Tidak Bu. Sebaiknya jangan dulu! Setelah cangkok hati dilakukan, Dimas sendiri yang akan memberitahu Aris. Ibu tenang saja. Tapi untuk sekarang, Dimas ingin fokus pada operasinya dulu." Mendengar kalimat penenang dari Putra sulungnya, Diah akhirnya bisa mempercayakan semua hal pada Dimas.


Tak terasa, seminggu telah berlalu, Arisa semakin merasa bersalah pada Rama, apa lagi seminggu ini Rama tidak bisa di hubungi. Saat jadwal kuliah pun, Rama tidak masuk tanpa alasan. Malamnya, Arisa menatap ke langit, dimana kini bulan sudah hampir bersinar sepenuhnya. Batinnya bergumam bahwa beberapa hari lagi, purnama akan tiba, dan ia tak bisa menyembunyikan kesedihan dan penyesalannya karena sudah membuat Rama menghilang tanpa kabar.


Di sisi lain, Dimas dan Arya berbincang di taman rumah sakit, mereka membicarakan tentang Rama yang masih koma pasca operasi.


"Semua administrasinya sudah aku lunasi. Bahkan aky lebihkan, takut jika nanti adikmu masih harus di rawat." Ucap Arya mengelus punggung Dimas.


"Teruma kasih Om. Saya benar-benar tak tahu harus membalas kebaikan Om dengan cara apa."


"Tak apa Dimas. Selain karena Bayu yang bersalah, kamu juga temannya kan? Dan jika tidak dengan begini, kapan aku membantu orang yang sedang membutuhkan?"


"Terima kasih Om. Semoga Rama cepat sembuh, agar dia bisa berterima kasih juga kepada Om."


"Iya Dimas." Sesaat Arya menghela nafas lalu beranjak dari duduknya. "Kalau begitu, Om pulang ya! Besok Om harus ke luar kota."


"Baik Om." Dan setelah mendengar jawaban Dimas, Arya berlalu dengan tersenyum ringan melihat Dimas yang masih ingin berdiam di tempatnya. Perlahan Dimas mendongakkan kepalanya, ia termenung menatap bulan yang mengingatkannya pada Rama dan Arisa.


"Apa kau akan menyerah Li? Bukankah setiap purnama, kau selalu ke rumah Aris. Atau, apa ini memang rencanamu yang sudah tahu kalau kau tak akan hidup lama? Makanya kau membuat kenangan dengan Aris di setiap bulan purnama. Kau benar-benar bodoh Li. Aris akan sangat kehilanganmu jika begini caranya." Ucap Dimas berbicara sendiri.


Beberapa hari kemudian, Arisa yang sudah tak bisa menahan dirinya pun bergegas mencari Rama ke rumahnya. Namun, ia tak menemukan siapapun di sana. Sampai hatinya merasa menyerah, Arisa teringat akan Dimas yang masih bekerja di rumah sakit, dan mungkin akan memberitahunya dimana Rama.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2