7 Purnama

7 Purnama
Bab 29


__ADS_3

. Arisa mencengkram rok sekolahnya dengan kuat seraya menarik nafas dalam-dalam sebelum ia melanjutkan obrolannya.


"Apa saya bisa percaya pada anda bahwa anda tak akan membocorkan rahasia ini?"


"Wah.. main rahasia ternyata? Kamu tenang saja. Saya pintar menyimpan rahasia."


"Saya punya kakak perempuan, dia sempat sakit parah dan perhatian keluarga saya tertuju padanya sejak saat itu. Bahkan sekarang pun, saya tak merasakan perhatian yang dia dapatkan dari ayah dan mama saya. Apakah itu wajar?" Seketika Sarah terdiam dan ia berpikir sejenak untuk menjawab keluhan gadis malang di depannya.


"Rumit. Seharusnya jangan, tapi memang hal ini banyak yang terjadi. Jadi, kau menangis karena merasa orang tuamu pilih kasih?" Lalu Arisa mengangguk menjawab pertanyaan Sarah tersebut.


"Kenapa kau tidak tanya saja pada ayah atau ibumu mengapa mereka bersikap demikian?"


"Itu tak mungkin. Justru saya akan di salahkan karena tidak mau mengerti keadaan saudari saya." Jawaban Arisa ini terdengar begitu menyesakkan, dan ketika Sarah hendak kembali berucap, ia di kejutkan oleh suara klakson dari mobil yang terhenti tepat di samping mobil Arisa.


"Bunda... ayo!" Terdengar anak perempuan dari dalam mobil, namun Arisa tak berniat melihat dan mencari tahu siapa mereka.


"Nak.. maaf ya. Bunda sudah di jemput. Pesanannya sudah bunda bayar, lebih baik kau habiskan makanan dan minumannya ya!" Arisa hanya mengangguk menanggapi ucapan Sarah tersebut. Ia membiarkan wanita itu pergi dari hadapannya, dan ia pun membiarkan mobilnya melaju semakin jauh. Arisa menunduk menatap minuman yang ada di depannya. Air matanya kembali meluruh melewati pipinya yang chubby dan mulai memerah karena menahan tangis.


Setelahnya, ia pun beranjak dan melajukan mobil tanpa tujuan. Sampai ia tiba di sebuah taman, ia turun dan menyusuri taman seorang diri dengan memakai masker dan kaca mata untuk menyembunyikan wajah berantakannya. Karena fokus pada ponsel, ia tak sengaja menabrak seseorang.


"Maaf." Ucapnya mendongak dan menatap orang tersebut yang hanya mengangguk menanggapi ucapan maaf dari Arisa. Ketika Arisa beranjak dan hendak berlalu, secepatnya Seno menarik tangan Arisa sehingga Arisa terhenti dan menunduk tak menoleh sedikitpun.


"Aris. Kau kah itu?" Tanya Seno mencoba untuk memastikan. Meski Arisa menggeleng, namun ia begitu sadar bahwa gadis ini adalah Arisa. Seno membuka paksa masker dan kaca mata Arisa sehingga Arisa memarahinya dengan menahan tangis.

__ADS_1


"Kau kenapa? Hei kenapa menangis?" Dan lagi, Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan Seno.


"Sini... kakak temani kamu. Dimana Tio?" Lagi, Arisa menggeleng, dan sekarang membuat Seno menjadi geram.


"Kau ini kenapa sih? Kakak tanya kamu geleng-geleng terus."


"Aris boleh menginap di rumah kakak tidak?"


"Hah? Kau mau menginap? Tapi kenapa? Ayahmu memarahi mu lagi?" Seno tak bisa menahan rasa penasarannya mendengar permintaan Arisa tersebut. Hal ini jelas di luar nalar jika memang tak ada apa-apa antara Arisa dan keluarganya. Ia tahu bagaimana Arisa hidup, dan ia juga tahu bagaimana ia di perlakukan oleh keluarganya.


"Ya sudah. Nanti saja ceritanya. Ayo ke rumah kakak." Seno akhirnya setuju, ia juga tak tega melihat Arisa terus merasa sendiri di rumahnya.


"Tapi kak Seno bisa kan mematikan fungsi GPS di mobil Aris?" Seno benar-benar di buat heran, ia tak menyangka Arisa sampai ingin menghilangkan jejaknya.


Menjelang malam, tak biasanya Arisa telat pulang tanpa memberi kabar. Tio semakin cemas dan ia langsung menghubungi Rama, namun Rama tak mengetahui dimana Arisa sehingga ia sendiri terbawa panik dan berniat untuk mencari Arisa saat ini juga. Setelah telepon terputus, Rama berniat melepas infus yang terpasang di lengannya karena sudah melakukan beberapa pengobatan yang di anjurkan Dimas untuknya.


"Mau kemana? Kau mau kabur lagi?" Tegur Dimas dengan wajah yang sudah menunjukkan amarah padanya.


"Aku mau mencari Aris kak. Dia hilang." Jawabnya mencoba meyakinkan Dimas.


"Kau tidak menghargai usahaku? Jika kau ingin mati karena penyakit ini, lupakan pacarmu itu dan jangan pernah menghubunginya lagi. Dia itu putri orang yang kaya raya, meski kesepian, dia pasti akan di cari oleh seluruh anggota keluarganya dengan melibatkan wartawan dan polisi." Mendengar apa yang kakaknya ucapkan, Rama terdiam dan ia merasa bahwa semua yang Dimas katakan ini benar adanya.


"Diam. Kalau kau ingin lebih lama dengan Aris, diam lah di sini dan ikuti prosedur pengobatan. Hargailah usahaku Rama." Rama hanya memalingkan wajahnya menanggapi celotehan kakaknya tersebut.

__ADS_1


. Di rumah Seno, Arisa terlihat ragu untuk masuk ke dalam, dan ia hanya berdiri seperti orang kebingungan di depan pintu. Seno yang menyadarinya, segera menarik Arisa masuk ke dalam dan membawanya menemui ibunya.


"Ma... ini ada Aris. Dia bilang mau menginap di sini." Ucap Seno seketika membuat ibunya terkejut.


"Kamu bawa anak SMA? Ya ampun Seno... mama harus bilang apa pada keluarga besan? Dan juga nenekmu pasti--"


"Suuutttt suttt diam ya Mama. Mama ini berpikir apa? Ini Aris! Adiknya Tio. Mama tak tahu?" Dengan berani Seno menyela seraya menutup mulut ibunya yang terus mengoceh kemana-mana.


"Aih? Adiknya Tio? Yang mana? Kakaknya atau adiknya?" Tanya Ani lagi dengan beruntun.


"Adiknya. Arisa." Jawab Seno, dan Arisa hanya tersenyum menyapa Ani yang begitu antusias. Ia ke sana bukan karena sudah akrab dengan Ani, hanya bermodal nekat karena tak mau pulang dan bertemu dengan keluarganya.


"Tapi sebelumnya, kenapa kamu mau menginap disini? Dan kenapa wajahmu sembab? Kau menangis?" Arisa mendadak gugup mendapati beberapa pertanyaan yang mungkin belum bisa ia jawab.


"Nanti saja Ma tanya-tanyanya ya! Sekarang biarkan Aris mandi dan berganti pakaian. Kau bawa pakaian ganti kan?" Dengan polosnya, Arisa menggeleng sehingga Seno terlihat membeku seketika.


"Terus?" Dan Arisa lagi-lagi menggeleng seakan ia benar-benar kehilangan semua memorinya. "Atau aku hubungi kakakmu saja untuk membawa kamu baju ganti?" Dengan cepat Arisa meraih tangan Seno dan menatap harap dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Jangan! Aris mohon jangan beritahu siapapun Aris ada di sini."


"Tapi kenapa? Aris! Dari tadi kau terus diam, dan aku tak tahu harus berbuat apa. Sekarang sebaiknya katakan lebih jelas padaku alasannya agar aku bisa mengerti."


"Kak Tio tidak menyayangiku, dan semua keluargaku tidak ada yang peduli padaku. Kakak puas?" Kali ini, Seno dan Ani yang terlihat tak percaya dengan jawaban Arisa tersebut.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2