7 Purnama

7 Purnama
Bab 48


__ADS_3

Menjelang malam, Arisa menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong seraya merasakan perih di tangan kanannya. Terlihat Dimas membawa beberapa perlengkapan untuk memeriksa kondisi Arisa. Setelah itu, ia memberikan beberapa obat untuk diminum oleh Arisa, dan berniat meninggalkan pasiennya jika tugasnya sudah selesai.


"Kak, bisa tolong periksa ini tidak? Soalnya sakit terus." ucapnya sambil memperlihatkan tangan kanannya yang sedari tadi terus berdenyut dan terasa sangat perih. Dimas yang sudah berada di dekat pintu pun kembali lagi dan mulai memeriksa apakah ada yang salah dengan tangan Arisa atau tidak. Ia perlahan membuka kasa yang menutupi luka Arisa, dan menggantinya dengan yang baru.


"Kenapa sampai begini?" tanya Dimas dengan fokus membalut luka Arisa.


"Aku melepas paksa infusannya, kak." jawab Arisa sedikit merengek karena merasakan linu yang seakan menusuk ke tulang-tulang.


"Iya, kenapa? Harusnya itu tidak boleh. Jadinya kan kau terluka begini."


"Sedang khawatir pada orang lain, mana ada aku pikirkan diriku sendiri."


"Menjawab saja ya!" Dimas menepuk dahinya Arisa dengan gemas, sehingga membuat keduanya tertawa, dan hal itu terlihat jelas oleh Rama dari pintu. Sejenak Rama menunduk dengan sendu, kemudian ia menarik senyum dengan tatapan yang sayu. Lalu, ia memberanikan diri menghampiri Dimas dan Arisa dengan tangan yang masih bertautan.


"Hai..." sapa Arisa dengan santai, ia tidak berpikiran hal negatif karena kedekatannya dengan Dimas semata hanyalah sebagai dokter dan pasien.


"Hai juga. Kenapa itu?" tanya Rama menyembunyikan kecemburuannya dan memilih bersikap seolah ia tidak keberatan dengan kedekatan mereka.


"Pacarmu ini harus banyak dicermahi, Li." Dimas menjawab cepat sebelum Arisa mencari alasan.


"Memangnya kenapa, kak?"

__ADS_1


"Melepas infusannya sendirian. Jadinya begini. Kalau lebih fatal bagaimana?"


"Marahi saja, kak. Anak ini memang sulit dijelaskan."


Arisa yang menyimak obrolan kakak beradik di depannya hanya menggembungkan pipinya dengan kesal. Meski menjadi bahan ejekan, melihat senyum Rama dan Dimas membuatnya sedikit iri. Ia dan Raisa saja jarang bercanda seperti ini, lalu sekarang ia merindukan Tio yang entah kapan akan membuka matanya.


Melihat perkembangan kesehatan Tio, dokter memutuskan untuk memindahkan Tio ke ruang inap, tepatnya kamar VIP. Yugito menatap dalam nan dingin pada Tio yang belum sepenuhnya sadar. Ia tahu siang tadi Tio sempat membuka mata namun belum sadar dengan keadaan sekitarnya, dan karena itu, Tio kembali tertidur lelap sampai sekarang.


Raisa perlahan menghampiri Yugito dengan perasaan cemas dan takut Tio akan mengadukan aksinya yang hendak bunuh diri. Di tengah kecemasannya, terlihat Tio membuka mata, lalu melirik ke arah Raisa seolah ia tidak melihat ayahnya di sana. Raisa semakin menghimpit di belakang Yugito mendapati lirikan tajam dari kakaknya.


"Ayah. Aku ingin bicara dengan Rais." Mendengar ucapan Tio tersebut, Yugito mengangguk lalu meninggalkan kedua anaknya untuk berbincang. Meski penasaran mengapa Tio begitu serius ingin berbicara dengan Raisa, ia tidak ingin mencari tahu urusan anak-anaknya tanpa izin.


"Kau puas?" pertanyaan dingin Tio itu berhasil membuat Raisa terhenyak.


"Lalu, apa kau mengatakan alasanku menamparmu?" Raisa menunduk dan menggeleng menanggapi pertanyaan Tio, dan ia tidak berniat untuk mendongak dan menatap langsung wajah Tio yang ia rasa tengah menatapnya dengan tajam.


"Apa yang membuatmu ingin mati? Kau kekurangan apa sampai kau berpikir mati adalah jalan keluarnya? Kekurangan uang jajan? Bukankah ayah banyak uang? Atau kurang kasih sayang? Bukankah ayah dan mama lebih banyak memberikan kasih sayang padamu dari pada aku dan Aris? Kurang apa lagi? Karena alasan apa kau ingin mati?"


Raisa menggigit bibir bawahnya dengan tangan yang mengepal, dan ia merasa gelisah sebab alasannya hanya iri saja. Ia memikirkan ulang pertanyaan Tio terhadapnya yang sepenuhnya benar.


"Jika kau merasa Aris merampas mama darimu, harusnya kau mengingat lagi siapa yang lebih membutuhkan mama saat ini. Aris sudah mengerti pada keadaanmu, dan seharusnya kau pun mengerti keadaan Aris. Kau bersikap seperti peduli pada Aris, nyatanya kau tidak mau berbagi kasih dengannya." lanjut Tio memberi nasehat dengan mata yang perlahan menutup. Sejujurnya ia menahan rasa sakit di hidung dan pelipisnya yang terasa linu dan berdenyut. Namun melihat Raisa baik-baik saja, ia pun ikut merasa lega dan merasa sakitnya sedikit berkurang.

__ADS_1


"Apa saat malam acara ulang tahunku dan Aris, kakak menemani Aris di luar?" mendengar pertanyaan Raisa ini, Tio membuka mata lalu menatapnya dengan menyipit. Ia berpikir ulang dan menyimpulkan bahwa Raisa mempermasalahkan hal ini.


"Kenapa harus dibuat masalah? Wajar saja aku menemani Aris. Di hari ulang tahunnya, Aris meminta ayah untuk liburan, tapi mama menolak dan meminta agar membuat acara karena kau meminta diadakan acara. Aris hanya ingin mewujudkan keinginannya sendiri. Untungnya dia punya pacar sebaik Rama."


"Jadi, di sini aku yang terkesan egois. Padahal, aku hanya bercanda dengan mama. Kupikir mama tidak akan menganggapnya serius." batin Raisa menatap kosong pada apa yang ada di depannya.


Di samping itu, Yugito beralih menjenguk Arisa yang berada di samping kamar Tio. Terlihat Rama tengah menyuapi makan Arisa, dan ia tertegun karena Arisa begitu nyaman di samping Rama yang hanya seorang anak dari kelurga sederhana. Namun, jika diperhatikan kembali, ia tidak menemukan hal mencurigakan dari Rama. Seperti mengincar hartanya saja, atau memanfaatkan status Arisa yang merupakan anak orang berada. Ia melihat Rama begitu menyayangi Arisa melebihi dirinya. Terlihat Rama terkejut dan mendadak gugup menyadari kehadiran Yugito di sana.


"Kenapa terkejut?"


"Ehehe, tidak, om."


"Kak Tio bagaimana ayah?" tanya Arisa langsung menanyakan keadaan kakak sulungnya.


"Kamu yang bagaimana? Pulihkan dulu kondisimu, baru nanti tanyakan orang lain."


"Tapi, Kak Tio bukan orang yang biasa-biasa saja. Kak Tio itu merupakan rumah bagi Aris. Jika Kak Tio mengalami masalah, Aris juga tak akan baik-baik saja." Yugito menjadi tidak berdaya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Arisa akan membalas perdebatan mereka dengan tegas seperti ini. Dan jika dipikir, mungkin Arisa benar. Tio bisa dianggap sebagai rumah bagi Arisa untuk pulang. Jika sampai Tio hilang, maka Arisa akan merasa hancur. Yugito menyadari bahwa dirinya tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama Arisa. Maka dari itu, ia berencana untuk memberikan waktu untuk menghadiri acara kelulusan Arisa nanti.


"Apakah Rama akan berkuliah di kampus yang sama dengan Aris?" tanya Yugito, beralih pada Rama.


"Iya, Om. Kebetulan kami berada di satu fakultas yang sama," jawab Rama sambil mengangguk.

__ADS_1


"Tolong jagalah anak saya ya. Saya percaya kepada kamu." Mendengar permintaan Yugito, Rama hanya mengangguk seraya tersenyum menyetujui permintaan tersebut.


- Bersambung


__ADS_2