
Sampai di rumah sakit, belum sempat Arisa masuk, tangannya di tarik oleh seseorang. Wajahnya berpaling melihat siapa yang berani menyentuhnya tanpa izin.
"Kak Tio?" Pekiknya merasa tak percaya dengan keberadaan Tio di sana.
"Sedang apa kau di sini? Kau tidak pulang? Bukankah kau masih di hukum oleh Ayah?" Tanya Tio yang tak bisa menyembunyikan keheranannya.
"Aku.... mau... itu kak... emmm... anu.... lambungku tadi sakit. Jadi aku mau periksa."
"Kenapa tidak memberitahu kakak? Kamu sakit lagi? Kenapa sendirian?"
"Emm itu kak... a-aku pikir kakak sibuk. Jadi, aku berangkat sendiri saja."
"Ya sudah, kalau begitu kita periksa sekarang. Kakak temani." Dan, mendengar ajakan Tio, Arisa mendadak panik, pasalnya ia saat ini tak merasakan keluhan apapun, apa lagi lambung yang kambuh.
"Tidak jadi kak. Mungkin Aris telat makan saja."
"Terus?"
"Aris pulang saja. Kakak dengan kak Diana?" Arisa beralih melemparkan pertanyaan pada Tio yang semakin lekat menatap wajahnya.
"Tidak. Kakak menjalani medical check up."
"Untuk?"
"Untuk syarat. Ayah meminta kakak melakukan beberapa hal yang harus di lakukan sebelum menjadi pengganti Ayah di perusahaan."
"Oh.. begitu ya?"
"Apa kau yakin akan pulang? Tidak di periksa?"
__ADS_1
"Oh.. ya.... emmm yakin Kak. Yakin." Meski Arisa terlihat mencoba meyakinkan, namun Tio masih ragu dan sangat khawatir jika memang Arisa kembali sakit.
"Kita cari makan saja ya!" Ajak Tio kemudian. Arisa hanya mengangguk saja dan tak ingin menolak. Ia tak siap jika harus berpisah dengan Rama hanya karena ia tak mematuhi kakaknya. Imbas dari kejadian tempo hari, Ayahnya sendiri sampai menyuruhnya putus dengan Rama, sekarang pun ia takut jika ia tak menurut pada Tio.
Begitu kebersamaanya dengan Tio usai, Arisa kembali murung dan mengurung diri di kamar. Ia sudah putus asa mencari Rama yang tak kunjung ia temukan. Nomornya tak bisa di hubungi, dan Dimas pun tak ada mengabari. Arisa merasa Dimas seakan menghindarinya, dan seakan memang ini kesalahannya.
Sementara itu, ketika malam tiba Dimas menyadari pergerakan Rama yang mungkin telah sadar. Matanya mendadak berbinar setelah ia terbangun dari tidurnya di samping Rama. Dimas meraih kepala Rama dan mengusapnya dengan penuh kasih sayang.
"Li... kau sadar? Operasinya berhasil." Ucapnya dengan suara yang pelan. Namun, bukannya menjawab, Rama terlihat kesakitan. Ia menahan nafasnya dan tangan menyentuh dadanya. Keringat bercucuran di sekitar pelipis Rama dan kondisinya menjadi tak terkendali. Dimas segera memberi obat penenang agar Rama tertidur kembali. Ia yang semula merasa senang, kini menitikkan air mata sesal saat tahu kondisi Rama menjadi kritis. Dengan bantuan seniornya, ia terhenyak saat seniornya itu menggeleng lemas kepadanya. Seketika itu juga, Dimas ambruk karena merasa semua anggota tubuhnya melemas.
"Bukan operasinya yang gagal, tapi memang adikmu yang tak bisa di selamatkan. Kankernya sudah menyebar, dan sudah mencapai jantung dan paru-paru. Ini tak akan bisa di sembuhkan dengan mudah" Ucap Dokter senior pada Dimas. Mendengar berita buruk ini, Dimas segera menghubungi Gilang agar membawa Ibunya ke rumah sakit selagi Rama masih bernafas. Ia tak tahu kapan Rama akan menghentikan nafasnya meski memang ia tak rela.
Dan ketika saat ia hendak menghubungi Arisa, terdengar ponsel Rama yang beberapa saat ia hidupkan kini berdering tanda panggilan masuk. Dilihat siapa yang menghubungi, tangannya gemetar, ia tak tahu harus berkata apa pada Arisa. Dengan ragu, Dimas menjawab panggilan dari Arisa.
"Ha--"
"Rama... kenapa diam saja? Kau masih marah padaku?" Arisa kembali bertanya.
"Kau sedang apa?" Dimas mencoba bertanya dengan suara yang tertahan.
"Aku di balkon. Melihat bulan. Tapi malam ini bulannya tertutup awan. Rasanya dingin, dan gelap." Jawab Arisa jelas tak mengenali suara Dimas. Ia merasa itu adalah Rama karena suaranya yang tak berbeda.
"Aris. Ini aku Dimas." Dan sontak Arisa terkejut, sejak kapan Rama menjadi Dimas?
"Rama nya dimana?" Tanya Arisa dengan sedikit meninggikan suaranya. Perlahan Dimas menoleh pada Rama yang terlelap di belakangnya.
"Rama... kritis."
"Kri-kritis? Kenapa Dimas?" Tak lagi ingat dengan panggilan hormat pada Dimas, Arisa semakin memekik menanyakan hal yang jelas tak pernah terbayang dalam pikiran Arisa.
__ADS_1
"Rama mengidap kanker. Sekarang kondisinya kritis." Mendengar jawaban Dimas tersebut, Arisa mendadak lemas sehingga tubuhnya ambruk di samping meja. Air matanya berderai dengan ponsel yang sama-sama jatuh ke lantai.
"Kanker?" Lirihnya yang entah bertanya pada siapa.
"Non... bibi bawakan makanan untuk non Aris." Ucap Bi Ina dengan membawa wadah berisi makanan.
"Non Aris." Pekik Bi Ina ketika melihat Arisa menangis di lantai. Sesegera mungkin Bi Ina meraih dan menenangkan tangis Arisa.
"Non Aris kenapa? Bertengkar lagi dengan Tuan besar?" Tanya Bi Ina mencoba mencari tahu kenapa Arisa menangis.
"Rama Bi.. Rama.." belum ingin menjawab lebih, Arisa merasa suaranya tersenggal dan tak bisa berkata apapun lagi.
"Den Rama kenapa Non? Non bertengkar dengan Den Rama?" Bi Ina terus menebak apa yang sebenarnya terjadi pada nona kecilnya ini. Namun, Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan tersebut. Bi Ina semakin heran, lalu apa yang membuat Arisa menangis seperti ini?
"Rama kritis Bi... Aris mau ke rumah sakit sekarang." Rengek Arisa dengan tangis yang semakin keras. Sampai-sampai Tio yang baru datang pun segera berlari menghampiri Arisa di balkon.
"Aris. Kau kenapa? Ada yang sakit lagi?" Tanya Tio ketika ia melihat Arisa sudah tak karuan.
"Aris mau ke rumah sakit kak. Antarkan Aris sekarang!" Teriak Arisa semakin tak terkendali.
"Aris tenang! Kau kenapa? Ada apa?"
"Rama kak Rama... pokoknya Aris mau ke rumah sakit sekarang." Dan Arisa masih menangis keras memohon pada Tio. Tio sendiri merasa heran kenapa adiknya menangis sampai begini. Karena tak ingin menambah rumit, Tio membawa Arisa ke rumah sakit tanpa bertanya lebih jauh.
Sampai di rumah sakit, Arisa segera berlari mencari keberadaan Rama. Dari petunjuk perawat, Arisa cepat-cepat ke kamar dimana Rama berada. Dan saat membuka pintu, Arisa mematung tak bisa bergerak saat melihat kondisi Rama uang sangat mengkhawatirkan. Diah melirik ke arah Arisa dan menyuruhnya untuk menghampiri Rama. Saat Arisa mendekat, Rama berbisik lirih.
"Maafkan aku. Aris!"
Bersambung
__ADS_1