
. Arisa terdiam di balik ruangan mendengarkan setiap kata yang di ucapkan Tio. Namun, meski Tio mengatakan hal yang mungkin bisa meyakinkannya untuk percaya, nyatanya ia tak mempercayai Tio lagi. Semua ucapan itu masih terngiang di telinganya.
. Waktu bergulir, sudah hampir satu pekan Arisa tidak di temukan kabarnya, dan selama itu juga Seno tak lagi menemui Tio meski keduanya sempat mengadakan perjanjian pertemuan. Hingga suatu hari, Seno merasa berdosa pada Tio karena menyembunyikan keberadaan Arisa darinya. Sehingga akhirnya Seno mengajak Tio bertemu di suatu tempat.
"Ada apa Sen? Kau menemukan jejak Aris?" Seno terdiam dengan sedikit menunduk mendapati pertanyaan Tio yang langsung pada intinya meski Tio sebenarnya tak tahu apa yang membuat Seno memintanya untuk bertemu.
"Tio. Jika aku minta maaf, apa kau akan memaafkanku?" Tio sedikit memiringkan kepalanya seraya menyernyit karena ia tak paham maksud Seno ini apa.
"Katakan yang jelas Sen. Kenapa? Kau ada masalah? Kau mengajak Diana untuk balikan?"
"Tidak Tio. Bukan itu."
"Lalu apa?"
"Aris ada di rumahku." Sontak Tio terbelalak mendengar pernyataan yang Seno katakan barusan. Tio mendadak mematung dan membisu, ia seakan tak tahu harus berkata apa.
"Sejak kapan Sen?"
"Sejak Aris di nyatakan hilang, dan sebenarnya Aris bersembunyi di rumahku. Dia tak mau kau tahu keberadaannya." Semula Tio bersikap tenang karena tak percaya, namun ia tiba-tiba meraih baju Seno dan mencengkeramnya dengan kuat.
"Kau menyembunyikan adikku? Kau mendengarkan keluh kesahku tapi kau sendiri yang menyembunyikannya? Kau gila Sen. Gila!" Geram Tio yang tak bisa menahan amarahnya, namun ia masih bisa meredam karena di hadapan banyak orang.
"Itulah kenapa aku selalu bertanya padamu apa yang terjadi. Aris masih marah padamu, dan dia kecewa pada keluargamu."
__ADS_1
"Sekecewa apapun dia pada keluarganya selain aku, dia tak akan pergi sampai berhari-hari tanpa kabar. Kau tak tahu bagaimana aku memikirkannya seharian, dan tak bisa tidur semalaman, bagaimana dia makan, dan juga bagaimana dia tidur. Apa kau tak memikirkan aku? Sen. Kita sudah berteman lama. Aku menghormatimu karena kau lebih tua dariku, dan aku juga akui keluargamu lebih terpandang dari pada keluargaku. Tapi jangan karena itu, kau seenaknya padaku."
"Tio dengarkan aku dulu." Meski Seno mencoba membujuk, namun Tio sudah terlanjur marah dan ia pun menghempaskan Seno dengan kasar. Seno menatap nanar kepergian Tio dari hadapannya, dan ia pun tahu Tio akan kemana setelah ini.
Selama perjalanan, Tio menyeka air matanya yang terus berderai mengingat wajah adiknya. Ia benar-benar menyesal sudah mengatakan hal yang tak perlu di katakan. Meski itu bukan untuk Arisa, seharusnya ia pun tak bicara.
Sampai di rumah Seno, Tio bergegas memasuki rumah dan mencari keberadaan Arisa. Niat hati ingin membawa Arisa pulang, tiba-tiba ia mendadak mematung. Hatinya luluh seketika mendapati pemandangan di depannya. Air matanya kembali berderai menyaksikan betapa sayangnya Ani pada Arisa. Terlihat jelas dari sikapnya yang kini tengah mengelus lembut kepala Arisa yang tertidur di atas pahanya. Tio merasa sesak sendiri sebab ia pun menginginkan adegan itu di lihat di rumahnya, bukan rumah orang lain.
"Kasihan sekali nak. Kau itu gadis yang baik." Ucap Ani yang samar terdengar oleh Tio.
"Tante." Seketika itu Ani terhenyak mendengar panggilan Tio. Tio tahu arti tatapan Ani terhadapnya, dan ia pun mengerti mengapa Ani begitu terkejut. Jika bukan karena izin dari Ani, Seno pun tak mungkin akan membiarkan Arisa tinggal bersamanya.
"Ti-Tio." Pekik Ani mendadak begitu panik.
"Jangan bergerak Tan. Nanti Aris bangun." Dan seketika itu juga Ani merasa sedikit lebih tenang. Ia pikir Tio akan marah dan akan membawa Arisa dengan paksa.
"Apa dia menyusahkan Tante dan Seno?" Tanya Tio kemudian.
"Tidak. Justru dia sangat membantu Tante."
"Begitu ya?" Tio tersenyum tipis mendengar jawaban Ani yang jelas tanpa menyembunyikan apapun. "Apa dia makan dengan teratur?" Tanyanya lagi.
"Sangat teratur. Dia alergi telur ternyata. Dan dia sangat suka kentang." Kali ini Tio tertawa dengan jawaban Ani.
__ADS_1
"Iya memang. Baguslah. Aku senang." Lirih Tio kemudian menunduk dan terisak keras di samping wajah Arisa.
"Kau senang, tapi kau menangis Tio."
"Bagaimana aku tidak menangis, sedangkan aku sangat mengkhawatirkannya, takut jika dia tak makan dengan teratur, dan juga tak tidur di tempat yang nyaman. Tapi nyatanya dia hidup dengan sangat baik, bahkan lebih baik dari pada saat di rumah. Sebenarnya apa yang di sebut rumah? Jika hanya sekedar bangunan saja tidak bisa membuat bahagia penghuninya. Jika orang, orang yang bagaimana yang pantas di sebut rumah?"
Ani yang mendengarnya pun ikut terbawa suasana. Ia menyeka embun yang sudah menggenang di pelupuk matanya yang hampir jatuh dan mengenai pipi Arisa.
Terlihat Arisa perlahan mengerutkan dahinya, dan ia mengerjapkan mata mencoba melihat dengan jelas mengapa Ani terus menyeka kelopak matanya.
"Mama menangis?" Tanya Arisa segera bangkit dan meraih wajah Ani dengan panik. Arisa tersadar, dan ia terhenyak meski enggan menolehkan wajahnya pada Tio. Ia tahu bahwa pria di bawah adalah kakaknya, bukan Seno.
"Aris." Panggil Tio dengan suara yang tengah menahan tangis. Arisa tak menanggapi, ia memalingkan wajahnya ke arah lain dengan memeluk lengan Ani dan perlahan menyandarkan kepalanya pada pundak Ani.
"Aris. Kakak minta maaf. Ayo pulang!" Dan Arisa masih diam, seakan ia tak mendengar apa yang di ucapkan oleh Tio.
"Kakak melukaimu? Kakak tidak bermaksud. Kakak pikir kau adalah Rais. Aris! Kakak mohon maafkan kakak. Kakak tak bisa jika kau tak ada di rumah. Kakak kesepian." Meski Tio memohon, namun Arisa masih enggan menolehkan wajahnya.
"Aris. Bicaralah! Ayo pulang dengan kakak. Nanti akan kakak beri apapun yang kau mau."
"Sudah tak ada lagi yang Aris mau. Dan juga, jika Aris katakan pun kakak tak akan melakukannya untuk Aris."
"Katakan saja Aris. Kakak akan berusaha melakukan apa yang kau mau."
__ADS_1
"Aris ingin Ayah dan Mama menyayangi Aris. Apa kakak bisa? Tidak kan? Jangankan menyayangi Aris, melirik Aris saat Aris sakit saja Ayah dan Mama tak pernah melakukannya." Arisa menoleh kasar seraya mengatakan ungkapan itu pada Tio. Ia sudah tak bisa lagi menangis di depan kakaknya, dan ia sudah tak tahu lagi harus berekspresi apa pada kakaknya. Rasanya untuk bersedih pun, sudah tak ada lagi alasan.
-bersambung