
Selepas bekerja, Arisa tak langsung kembali ke tempatnya, ia justru pergi ke rumah Rama tanpa sepengetahuan siapapun. Namun saat di rumah Rama, tak ada seorangpun yang menyambutnya. Bahkan rumahnya terlihat sepi, dan tak menunjukkan bahwa didalamnya ada orang. Dengan rasa khawatir yang menyelimuti dirinya, Arisa mencoba menghubungi Rama, namun tak ada jawaban sama sekali. Setelah 3 kali menghubungi Rama, Arisa menyerah dan ia memutuskan untuk pergi. Namun saat di persimpangan, ia yang hendak menghentikan pun melambaikan tangannya agar mobil tersebut berhenti. Arisa masuk dan memberitahu kemana tujuannya saat ini. Terlihat sang sopir pun mengangguk tanda mengerti, lalu mobil melaju menembus jalanan yang tidak terlalu padat. Arisa memilih mencari tahu keberadaan Rama selama perjalanan. Ia mulai terheran saat waktu yang di lewati berbeda dengan perkiraannya. Kali ini, perjalanannya terasa lebih lama, ia berpikir seharusnya 15 menit saja ia sudah sampai di kost. Ia tak ingin ambil pusing, dan memilih untuk membiarkan taksi melaju asalkan ia sampai di tempat yang dituju.
Waktu tempuh menunjukkan sampai 30 menit, dan Arisa semakin panik. Saat ia hendak bertanya, ia sudah mengenali jalur yang ia lewati saat ini.
"Pak? Saya minta ke kost Melati. Bukan ke rumah ini." Protes Arisa sudah tak bisa menyembunyikan kekesalannya saat taksi memasuki pekarangan rumahnya.
"Sudah sampai nona." Ucap seseorang yang begitu Arisa kenal saat taksi sudah tiba di rumah.
"Kak Ega.... Aris tidak mau turun. Antarkan Aris ke kost Aris sekarang." Rengek Arisa memohon pada Ega agar dirinya tidak jadi turun dan berharap Ega akan menuruti permohonannya. Ega diketahui adalah bodyguard Raisa seperti Juna. Ia selalu mengawasi Raisa dari kejauhan tanpa menunjukkan dirinya.
"Aris turun!" Terdengar suara berat dari luar berhasil membuat Arisa terdiam. Ia perlahan melirik ke arah sosok yang sangat ia hindari saat ini.
"Ayah bilang turun!" Yugito semakin tegas sehingga Arisa terhenyak dan ia turun dari mobil tanpa ingin mendengar suara Yugito yang lebih menyeramkan lagi.
__ADS_1
Arisa melihat Tio berada di ambang pintu menyaksikannya di tarik paksa oleh ayahnya. Arisa hanya bisa pasrah saja, ia memilih tak berontak dan mengikuti langkah Yugito menuju kamarnya.
"Jangan keluar sampai ayah mengizinkanmu keluar!" Tegas Yugito kemudian berlalu dan menutup pintu rapat-rapat.
"Lagi-lagi Ayah begitu. Ayah tak sayang pada Aris! Ayah membenci Aris, Ayah egois." Dari dalam, Arisa terus berteriak sampai suaranya tersenggal dan nafasnya mulai sesak. Ia terdiam merasakan ada sebuah cairan keluar dari hidungnya tanpa henti. Dadanya terasa ditusuk-tusuk duri, dan dengan bergegas, Arisa berlari menuju kamar mandinya. Ia menunduk di wastafel membiarkan darah itu keluar membuat wastafelnya menjadi berwarna merah. Ia terheran, tak biasanya mimisan sebanyak ini. Dan juga, ulu hatinya terus terasa sakit dan perih.
Ketika malam sudah larut, Juna menyelinap masuk ke kamar Arisa dengan tanpa suara. Juna mencari keberadaan Arisa, namun ia tak menemukan dimana gadis itu berada. Sepoi-sepoi angin melewati rambutnya, Juna terfokus pada pintu balkon yang terbuka. Benar saja dugaannya, Arisa tengah tertidur di sofa dengan menyanggah dagunya dan saat ini hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Dengan cepat, Juna membawa Arisa kembali ke tempat tidur. Setelahnya, Juna meninggalkan Arisa dengan raut wajah yang begitu iba. Ia benar-benar merasa kasihan pada nona kecilnya yang selalu sendirian. Setiap kali dekat dengan keluarganya, Arisa pasti kembali kesepian setelahnya.
Paginya, Arisa terbangun dengan perasaan teramat heran, sebab ia tak merasa pindah tempat saat tidur. Ketika mengumpulkan semua nyawanya, Arisa terfokus pada sebuah ransel dan beberapa barang lainnya di dekat meja belajar. Ia tahu itu adalah barang-barangnya dari tempatnya kost kemarin. Ia pun sudah menebak bahwa Ayahnya tak akan lagi mengizinkan dirinya pergi lagi setelah ini.
Di teras rumah, Rama melirik sesaat ponsel miliknya yang tak menunjukkan tanda-tanda adanya pesan masuk. Jujur, ia sangat menantikan panggilan atau pesan dari Arisa meski sekedar bertegur sapa. Ia sangat ingin mendengarkan bujukan Arisa untuk menjelaskan hal yang terjadi kemarin. Namun sampai siang, bahkan sampai sore pun Arisa tak kunjung memberikan kabar kepada Rama. Di waktu yang sama, Bayu kewalahan mencari keberadaan Arisa yang tak ia temukan dimana pun. Ia sudah mengelilingi semua gerai yang ada di mall tempat Arisa bekerja, dan juga ia sudah menyusuri setiap jalan yang kemungkinan sering di lewati oleh Arisa dari tempat kost.
"Arisa.... kau dimana? Ponselmu tidak aktif, dan juga kau tak ada di tempatmu." Ucap Bayu dengan putus asa menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi.
__ADS_1
Hari kembali berganti, dan selama 3 hari berlalu, Rama tak menemukan Arida dimanapun. Bahkan saat ke rumahnya, pengasuh dan beberapa penjaga lainnya mengatakan Arisa tak ada di rumah. Dengan rasa bersalah yang kian menyelimuti dirinya, Rama mencoba menghubungi nomor ponsel Arisa, namun hasilnya selalu sama. Tak pernah ada jawaban satupun dari panggilannya.
"Jangan mentang-mentang kau sudah membaik karena operasi kemarin, kau jadi seenaknya keluar tanpa memberitahu siapapun. Bagaimana kalau di jalan kau--".
"Apa sih Bang? Abang mau kerja kan? Sudah jam 11 tuh! Nanti telat." Dengan cepat, Rama menyela teguran Dimas tentangnya yang baru pulang entah dari mana. Sebab Dimas tak menyadari kepergian Rama sebelumnya, dan ia hanya berpikir bahwa Rama berada di dalam kamar saja. Meski terkesan tegas, namun dalam hatinya yang terdalam, Dimas merasa sangat khawatir karena operasi kemarin. Banyak larangan yang harus Rama perhatikan, dimulai dari makanan, sampai kebiasaan. Bahkan Rama dilarang stres, atau terlalu membebani pikiran sendiri. Dan seharusnya, Rama tak boleh khawatir berlebih seperti saat ini. Hal itu akan membuat keadaan Rama akan menjadi drop dan kankernya mungkin akan lebih ganas dari sebelumnya.
Arisa yang sudah terbiasa menyendiri di kamar, hari ini ia tengah duduk santai di sofa balkon dengan novel di tangannya.
"Dor!" Hampir saja Arisa jatuh karena terkejut dengan tingkah Raisa yang mengejutkannya.
"Ish Rais." Protesnya dengan ketus.
"Haha kau sedang apa? Eh novel? Novel apa? Percintaan ya? Mau lihat boleh kan?"
__ADS_1
"Ehh tidak tidak. Nanti Mama memarahiku gara-gara memberimu novel. Sudah ah. Aris simpan saja. Lagi pula, kau kenapa ke sini? Kau punya kamar kan?" Sesegera mungkin Arisa menghindari saudari kembarnya.
Bersambung