7 Purnama

7 Purnama
Bab 22


__ADS_3

. Tio yang berniat untuk menemani Arisa di kamarnya pun mengambil beberapa alat tidur. Ia berbaring di sofa dengan menatap dalam pada langit-langit kamar.


"Aris. Apa kau bahagia dengan Rama?" Sontak Arisa langsung mendongak dan menoleh pada Tio.


"Sangat bahagia. Dan bagaimana dengan kakak? Kakak bahagia dengan kak Diana?"


"Sama sepertimu."


"Kak Diana itu wanita yang baik loh. Kakak jangan menyakitinya ya! Kakak harus ingat bahwa kakak juga punya adik perempuan." Ucap Arisa menasehati. Tio semakin dalam menatap langit-langit kamar.


"Adik perempuan ya? Ah benar! Aku punya 2 adik perempuan. Apa aku terlalu mengabaikan Rais?" Batinnya kemudian beranjak dan keluar dari kamar Arisa tanpa bicara. Arisa yang terlanjur asyik dengan novelnya, ia hanya melirik sesaat lalu melanjutkan membaca.


Tio memasuki kamar Raisa tanpa mengetuk terlebih dahulu. Terlihat Raisa tengah fokus dengan laptopnya, dan entah sedang mengerjakan apa.


"Rais." Panggil Tio setelah ia berada di belakang Arisa.


"Ya?" Raisa memutar tubuhnya menghadap kakak sulungnya.


"Belum tidur?" Raisa menggeleng menanggapi pertanyaan Tio.


"Rais belum mengantuk kak. Dan juga Rais ada tugas dari anggota OSIS." Jawabnya kemudian beralih kembali fokus pada laptopnya.


"Bukankah kelas 12 sudah lepas jabatan dari OSIS ya?"


"Ya... aku masih ikut bertanggung jawab kak. Sekalian membantu adik kelas."

__ADS_1


"Ohhh... mau kakak bantu? Ini kurang tepat. Harusnya begini. Dan yang itu, tinggal di hapus saja." Raisa tertegun, ia menoleh pada kakaknya dan menatap dalam penuh arti. Air matanya berderai begitu saja melihat wajah serius Tio yang tengah membantunya mengerjakan tugas. Tio meraih kepala Raisa saat ia menyadari bahwa adiknya tengah terharu karena ia membantunya.


"Kalau sudah selesai langsung tidur. Kalau ada apa-apa, panggil kakak saja di kamar Aris." Tuturnya setelah dirasa cukup memberi masukan pada tugas Raisa.


"Kakak tidur di kamar Aris?" Terlihat Raisa menunduk dan tak bisa menyembunyikan perasaan iri nya pada Arisa yang bisa tidur dengan kakaknya.


"Iya. Aris kan sedang sakit, jadi kakak temani dia. Kau tahu kan kalau bukan kakak yang merawatnya, siapa lagi?" Raisa terhenyak mendengar ungkapan Tio bernada sindiran untuknya itu. Raisa hanya bisa mengangguk, untuk bicara pun ia akan kalah. Memang benar dengan apa yang di katakan Tio, jika Arisa sakit, yang merawatnya hanya kakaknya saja. Paling di bantu oleh Bi Ina, itu pun hanya sesekali.


. Di akhir pekan, Arisa membersihkan area balkon dan ia merubah beberapa posisi bunga yang masih sedikit. Hanya bunga mawar dengan berbagai warna saja. Ia teringin menambah beberapa jenis bunga lainnya, sehingga ia berniat untuk membelinya hari ini. Tak lupa, ia mengajak Rama untuk menemaninya membeli bunga. Setelah Rama menyanggupi, Arisa menjemput Rama ke rumahnya lalu bergegas ke toko bunga. Setelah sampai, ia tak tahu harus membeli bunga apa.


"Rama... menurutmu apa yang bagus?" Tanya Arisa saat menatap satu persatu bunga yang tengah bermekaran.


"Apa kau tak suka anggrek?"


"Hemmm suka."


"Tapi aku tak tahu warna yang bagus."


"Ahh kau benar. Bunga-bunga disini kalah indah jika di bandingkan denganmu." Arisa seketika menoleh dan menatap Rama dengan dalam, ia tak menyangka Rama bisa membuatnya merasa terbang di atas awan.


"Rama... serius! menurutmu warna apa yang bagus."


"Aku juga tak tahu Aris. Semuanya bagus."


"Haih... kau tak punya selera."

__ADS_1


"Kau tak mengaca sebelum bicara ya! Harusnya kau lebih tahu mana yang bagus. Kau kan perempuan."


"Yaa tapi aku kalau suka semuanya, aku akan beli."


"Ya sudah beli saja semuanya."


"Oke. Pak... saya beli anggrek ya!" Ucap Arisa beralih pada penjual dengan menunjuk bunga anggrek berwarna ungu di depannya.


"Warna apa dek?"


"Semua warna saja pak." Seketika itu Rama menganga menatap pacarnya yang ternyata benar-benar membeli semua warna bunga.


"Kau benar-benar membeli semua warna?" Arisa hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Rama dengan wajah yang datar dan polos. Kemudian ia mengatur posisi bunga untuk di bawa pulang setelah bertransaksi. Rama benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Arisa hari ini. Arisa berniat untuk membawa Rama ke rumah agar memberi arahan menata bunga-bunga itu. Namun Rama menolak beralasan ia ada urusan lain. Semula Arisa curiga, tapi rama meyakinkan bahwa dirinya tidak menyembunyikan apapun dari Arisa. Setelah mengantarkan Rama ke rumahnya, Arisa bergegas pulang.


Selepas kepergian Arisa, Rama menahan tubuhnya yang terhuyung karena pening yang sedari tadi terasa dan ia terus menahan agar Arisa tidak curiga. Ia merasa ada sebuah cairan yang keluar dari hidungnya, lalu ia hanya mendelik seraya meraih cairan itu.


"Mimisan lagi." Keluhnya lalu bergegas memasuki rumah dan membasuh darah tersebut di kamar mandi. Setelah dirasa bersih, Rama hendak ke kamarnya dengan meraih tembok rumah agar dirinya tidak ambruk. Namun, lututnya sudah benar-benar lemas, dan pandangannya sudah mulai kabur. Rama sudah tak bisa menahan dirinya dan saat itu juga ia ambruk tak sadarkan diri. Dimas yang sama-sama libur pun keluar kamar karena mendengar suara dari ruang tengah.


"Li... hei... Ali... bangun!" Dimas terus mengguncangkan tubuh Rama dan berharap adiknya akan bangun. Sesegera mungkin Dimas membawa Rama ke rumah sakit dengan harapan Rama akan baik-baik saja.


"Dimas. Adikmu sudah mencapai batasnya. Jika tidak melakukan operasi, aku tak tahu dia akan bertahan sampai kapan. Walaupun umur di tangan tuhan, tapi jika kondisinya sudah begini, dokter pun tahu umurnya sudah tak lama lagi." Ujar dokter yang merupakan senior Dimas di rumah sakit ini.


"Aku tahu kak. Tapi aku tak tahu dari mana aku mendapatkan uang untuk biaya operasi adikku." Mendengar hal ini, dokter tersebut hanya menunduk lalu meraih bahu Dimas seraya memberi dukungan.


"Aku yakin, dalam waktu dekat ini kau akan segera di promosikan." Dimas menanggapi dengan mengangguk dan berdoa bahwa ucapan seniornya akan terwujud dalam waktu dekat ini.

__ADS_1


. Di balkon kamar, Arisa menata seluruh bunga sendirian. Mang Ujang hanya membantunya membawa bunga-bunga itu naik ke kamarnya saja. Dan disaat ia tengah sibuk, terlihat Raisa datang menghampirinya dan berniat untuk membantu Arisa. Pandangan Raisa mendadak tertuju pada ponsel Arisa yang tergeletak di atas sofa. Layarnya menyala ketika ada pesan dan memperlihatkan wallpaper foto Arisa dan Rama. Menyadari ponselnya di ambil oleh Raisa, Arisa langsung berniat untuk merebutnya kembali. Namun naas, Raisa yang mundur menghindari Arisa pun membentur pot bunga yang menggantung lalu ia tertimpa dan menyisakan luka di dahi Raisa.


-bersambung


__ADS_2