7 Purnama

7 Purnama
Bab 24


__ADS_3

. Tio membawa Arisa ke kamarnya lalu mengambil peralatan medis yang tersedia di ruang tengah. Tanpa menghiraukan Raisa, Tio terus fokus mengobati luka Arisa.


"Kak... Rais minta maaf. Rais tidak sengaja." Rengek Raisa terus mencoba meluluhkan hati kakak sulungnya yang sudah membeku pada dirinya.


"Kau bisa diam tidak?" Teriak Tio memekik telinga. "Apa kau tidak punya otak? Aris terluka, dan kau malah menarik tangannya. Lihat! Pendarahan lagi kan? Kau selalu saja membuat masalah. Dan kemarin, sebenarnya kau juga kan yang membawa Aris dalam masalah?" Kata-kata Tio tersebut terdengar jelas oleh orang tuanya yang menyaksikan dari ambang pintu.


"Tio! Apa yang kau katakan? Dan kenapa lagi kalian?" Tegur Yugito kemudian menghampiri ketiga anaknya yang berbeda ekspresi. Tio yang berpaling dengan amarah yang terpendam, Raisa yang menunduk dengan air mata perlahan mengalir di pipinya, dan Arisa yang terlihat biasa saja dengan menahan rasa perih di tangannya.


"Kau buat masalah apa lagi Aris? Apa kau tak cukup membuat Rais terluka? Lalu sekarang kau membuat Tio memarahi Rais. Kau ini maunya apa?" Sontak Arisa menoleh ke arah ibunya yang berkata demikian dengan suara bernada tinggi.


"Mama ini benar-benar ya! Aku tak habis pikir pada mama. Kenapa mama selalu membela Rais? Padahal disini Rais yang salah. Dan kemarin pun Rais juga yang bersalah." 'Plak' Rahma tak bisa menahan dirinya mendapati bentakan keras dari anaknya sendiri.


"Siapa yang mengajarimu membentak orang tua? Mama tak pernah mengajarimu begitu."


"Iya. Mama memang tak mengajari Tio untuk membentak orang tua, tapi sikap mama yang membuat Tio menjadi begini." 'Plak' kini giliran Yugito yang menampar keras pipi Tio.


"Jangan durhaka Tio. Kau harus sadar dengan apa yang kau katakan!"


"Orang tua seperti apa yang harus aku hargai? Padahal aku tak akan bersikap begini jika mereka tak pilih kasih dalam menyayangi anak." Batin Tio kemudian membereskan alat medisnya lalu menarik tangan Arisa keluar dari kamarnya. Tio tak bisa menahan embun yang menggenang di pelupuk matanya untuk berderai tanpa ijin. Rasanya ia sudah tak sanggup jika harus menghadapi keadaan keluarga seperti ini.


Arisa tak protes dengan sikap Tio yang terus diam, bahkan saat Tio memilih untuk berangkat menggunakan mobilnya pun, Arisa tak protes.


"Kakak...." panggilnya membuat Tio semakin bersedih. Air matanya semakin deras berderai meski tanpa suara. Melihat keadaan kakaknya yang mungkin tak ingin di ganggu, Arisa kembali terdiam dan membiarkan Tio melajukan mobilnya dengan kemauannya sendiri.


Sampai di depan area sekolah, Arisa terheran mengapa Tio yang keluar dari mobil? Seharusnya Arisa yang keluar dan nantinya Tio yang menjemput.


"Kenapa tak pakai mobilku kak?" Arisa tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Tak apa. Kau saja yang bawa. Kakak khawatir nanti kakak lembur, dan kau tak ada yang menjemput."


"Aris bisa naik taksi."


"Kakak saja yang naik taksi."


"Ya sudah. Kalau misal kakak tidak lembur, kakak beritahu Aris. Nanti Aris jemput." Ucap Arisa seraya beralih ke kursi kemudi. Tio yang mendengarnya hanya tersenyum dan tak menjawab iya ataupun tidak.


Arisa melajukan mobilnya menuju parkiran, dan Tio masih berdiri di tempat menatap kepergian Arisa dari hadapannya seraya menunggu taksi yang lewat.


Seperti biasa, Rama selalu menunggu Arisa di ujung lorong. Pagi ini Rama terlihat sayu, namun bibirnya lebih merah dari hari-hari biasanya. Arisa yang melihatnya pun merasa penasaran dan terheran akan perbedaan raut wajah Rama pagi ini.


"Rama. Apa bibirmu berdarah?" Tanya Arisa ragu-ragu. Dan saat itu juga, Rama meraih bibirnya yang lembab karena lip balm yang ia pakai sebelum berangkat ke sekolah.


"Oh... tadi aku pakai lip balm. Soalnya kering." Jawab Rama mengada-ngada.


"Sepertinya begitu. Tapi sudah baikan."


"Benarkah? Matamu sayu Rama."


"Aku serius. Mungkin efek batuk kemarin. Kau tahu sendiri kan kalau gejala batuk itu bawaannya selalu lelah."


"Hemmm iya sih. Tapi kalau ada apa-apa, beritahu aku. Kalau tidak, berarti kau tak menganggap aku pacar."


"Haha iya sayang." Rama tertawa seraya mengacak kepala Arisa hingga rambutnya sedikit berantakan.


"Ihh berantakan." Keluhnya dengan manja. Keduanya sama-sama tertawa sampai kelas. Setiap siswa laki-laki yang di lalui oleh Arisa dan Rama, tak satupun dari mereka ada yang memalingkan pandangannya. Mereka benar-benar terpesona pada Arisa yang memperlihatkan sisi lain dari dirinya. Hanya ada satu siswa perempuan yang begitu dalam menatap Rama dan Arisa yang sudah memasuki kelas. Tak lain adalah Dira, mantan pacar Rama.

__ADS_1


"Lihat penggemarmu!" Ucap Rama menatap Arisa dengan tajam tanpa menoleh pada siswa-siswa yang mengagumi pacarnya dengan memanggil Arisa dari luar.


"Terus?"


"Haihhh.... inilah kenapa aku menyukaimu. Kau itu sangat acuh pada orang lain." Keluh Rama kemudian beranjak membuat Arisa penasaran akan pergi kemana pacarnya ini.


"Mau kemana?" Tanya Arisa ikut beranjak.


"Ke toilet. Mau ikut?" Sontak Arisa kembali duduk dan menggeleng kasar mendapati pertanyaan konyol dari Rama. Mana mungkin ia ikut ke toilet bersama Rama, yang ada ia akan di marahi dan di anggap tidak bermoral jika ia ikut. Rama berlalu setelah meyakinkan Arisa bahwa dirinya memang akan ke toilet. Di luar, ia tak sengaja berpapasan dengan Dira, dan tatapan Dira seakan mengharuskan Rama untuk berhenti di hadapannya.


"Dira." Sapanya terdengar ragu.


"Kau dan Arisa sangat cocok ya! Aku iri melihatnya." Ucap Dira tanpa basa-basi. Ia melirik ke arah kelas Arisa dan beralih kembali menatap Rama.


"Terima kasih. Aku senang mendengarnya." Balas Rama di luar dugaan Dira. Bukannya mengelak atau merendah, Rama malah menanggapi seakan dia memang serasi bersanding dengan Arisa. Dira tersenyum ketus, lalu menatap rendah pada Rama yang menyipit mendapati sikapnya yang mendadak berbeda.


"Ternyata kau memanfaatkan dia."


"Siapa yang bilang?"


"Aku. Kau memutuskan hubungan denganku yang hanya anak dari seorang kepala sekolah SMP, lalu kau mendapatkan putri raja yang kaya raya."


"Kenapa kau berpikir begitu?"


"Sudah jelas bukan? Tak perlu aku jawab." Mendengar jawaban Dira ini, Rama menyunggingkan seringai penuh arti lalu ia tertawa membuat Dira terheran.


"Sebaiknya kau tanya sendiri pada Arisa kenapa dia mau menemaniku yang tak sebanding dengannya itu. Aku juga sadar. Dia seorang putri raja, dia sangat kaya, dan juga sangat misterius. Tapi dia istimewa di mataku. Semula aku memang tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, tapi lain lagi jika dengan Aris. Dia istimewa!" Tegas Rama kemudian berlalu dari hadapan Dira.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2