7 Purnama

7 Purnama
Bab 65


__ADS_3

Tanpa pikir panjang, Arisa tak memikirkan jadwal kuliahnya, ia berniat pergi ke rumah sakit tempat dimana Dimas bekerja. Wina yang melihat Arisa terburu-buru, langsung mengejar dan mempertanyakan kepergiannya.


"Maaf Wina. Tolong katakan pada Dosen kalau aku izin tidak masuk."


"Iya tapi kenapa? Kau ada masalah? Urusan keluarga, atau..."


"Aku mau ke rumah sakit."


"Kau sakit Aris? Sakit apa?"


"Tidak Wina, bukan aku."


"Terus? Rama tahu kau izin?"


"Justru aku ke rumah sakit mau melihat kondisi Rama."


"Rama?"


"Iya. Maaf ya Wina. Aku harus pergi sekarang."


"Ya sudah cepat sana. Nanti kalau ada apa-apa kita bertukar kabar saja."


"Baik. Terima kasih ya!" Setelah selesai berbincang demikian, Arisa segera berlalu menuju tempat dimana ia memarkirkan mobilnya. Bayu yang semakin merasa bersalah pun menyusul Arisa, dan ia berniat untuk mengajak Arisa menjenguk Rama. Namun sayang, Arisa sudah jauh melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran mahasiswa.


Singkatnya, Arisa sampai di rumah sakit dan ia langsung berlari ke ruangan Dimas. Dan sayangnya, Dimas tak ada dimanapun. Hal itu membuat Arisa bergegas mencari informasi tentang Rama pada petugas lain. Dan sayangnya lagi, tak ada nama Rama ataupun nama lengkapnya di rumah sakit itu. Bayu yang melihat keputusasaan Arisa pun menghampiri gadis itu dengan wajah yang menyesal.

__ADS_1


"Aris..." belum sempat Bayu melanjutkan kalimatnya, Arisa beranjak pergi entah kemana meninggalkan Bayu. Sangat jelas kalau Arisa tak ingin berbicara sama sekali dengan Bayu.


Meskipun terus diabaikan, namun Bayu tak ingin menambah kebencian Arisa padanya. Ia berusaha agar ia bisa berguna di sisi Arisa walaupun tengah mencari Rama. Saat keduanya keluar dari lobby rumah sakit, terlihat Dimas baru keluar dari salah satu ruangan. Dan ruangan itu ia khususkan untuk merawat Rama tanpa adanya daftar nama Rama dimanapun sebab Dimas sendiri lah yang merawat Rama secara langsung.


Karena merasa usahanya sia-sia, Arisa berniat untuk mencari Rama ke setiap rumah sakit di kota itu. Ketika saat ia hendak berangkat, ponselnya berbunyi dan seketika itu juga peluh di pelipisnya terlihat mengalir melewati pipinya.


"Ha-halo A--"


"Kau dimana Aris? Kenapa Ayah mendapat panggilan kau tak masuk kelas? Kau mau membodohi ayah? Kau mau mempermainkan ayah?" Terdengar dari seberang suara Yugito begitu memekik telinga sampai Arisa pun menjauhkan ponselnya.


"A-ayah. A-Aris tidak... maksud Aris. Aris hanya.... akhh Aris salah Ayah. Aris minta maaf. Hanya hari ini saja. Besok Aris akan--"


"Pulang sekarang, atau ayah cabut fasilitasmu bahkan ayah putuskan kuliahmu. Dan satu lagi! Ayah pastikan kau tak akan bertemu lagi dengan kekasihmu itu." Mendengar ancaman di akhir kalimat, Arisa benar-benar merasa bahwa ia tengah berbicara dengan orang yang mengerikan. Dari pada berpisah dengan Rama, kali ini ia menurut dan bergegas pulang. Bayu yang tak bisa melakukan apapun hanya diam mematung menatap kepergian Arisa.


Saat ia hendak melangkah, ingin sekali rasanya Bayu menoleh ke dalam rumah sakit, dan ia terbelalak melihat Dimas yang kini ternyata tengah menatapnya.


"Maaf. Selain petugas, dilarang masuk." Tegur salah satu perawat yang langsung menghampiri Bayu.


"Tapi Sus. Saya ingin berbicara dengan dokter Dimas."


"Kalian bisa bicara di luar kan?"


"Iya. Maaf sebelumnya. Tapi...." belum sempat Bayu menjelaskan kembali, Dimas terlihat beranjak dan membawa beberapa peralatan beserta tas dan hoodie yang ia kenakan saat berangkat bekerja. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Dimas berlalu meninggalkan Bayu yang canggung dibuatnya.


Tanpa ingin memberitahu kemana, Dimas terus berjalan dengan langkah cepat menghindari Bayu. Hingga sampailah Dimas di salah satu ruangan tanpa mengizinkan Bayu mengikutinya. Dimas menutup pintunya rapat-rapat meski sebenarnya ia tahu bahwa Bayu begitu mengharapkan maaf darinya. Bayu tak tahu ruangan apa yang ada di depannya ini, tapi ia tak peduli dan berharap Dimas akan membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Dimas. Maaf kalau aku lancang. Tapi dengarkan penjelasanku. Aku moh--Ra-Rama?" Bayu yang semula begitu lantang saat memaksa masuk ke dalam ruangan pun mematung seketika. Ia benar-benar tak bisa berkata apapun lagi melihat kondisi Rama yang diluar dugaannya.


"Dim... Rama? Dia begini karena aku? Dim. Jawab Dim!" Mendengar Bayu demikian, Dimas tiba-tiba tertawa dan menutupi wajahnya. Tanpa diduga, Dimas berubah terisak dengan masih membenamkan wajahnya pada tangan yang menyembunyikan ekspresi menyedihkannya itu.


"Dim. Aku benar-benar tak sengaja. Aku tak bermaksud."


"Lalu maksudmu apa? Adikku baru saja pulih setelah operasi, tapi kau malah memukulnya tepat di tempat jahitannya. Sekarang, kankernya malah semakin parah. Aku tak tahu apa yang akan terjadi kalau alat ini dilepaskan dari tubuhnya. Apa kau mau menjadi pendonor hati untuk adikku? Hah?" Dengan penuh amarah, Dimas menghampiri dan mencengkram kerah baju Bayu dengan air mata yang terus berderai.


"Ka-kanker?" Lirih Bayu terbata dan membiarkan Dimas masih mencengkram bajunya.


"Iya! Kanker hati stadium akhir. Padahal bulan lalu, kankernya sudah mulai pulih. Ini semua gara-gara kau! Aku tak tahu masalahmu pada adikku apa. Tapi, dengan kenyataannya begini, kau sudah menunjukkan bahwa kau tidak lebih rendah dari seorang pengecut."


"Dim.. aku..."


"Apa? Sekarang, sebaiknya aku bawa kau ke ruang operasi." Dan seketika itu juga, wajah Bayu berubah panik mendengar ucapan Dimas. Benar saja, Dimas menyeret Bayu menuju pintu, dan Bayu yang ketakutan pun berusaha terlepas dari Dimas.


"Dim. Aku mohon jangan lakukan itu Dim. Aku masih ingin hidup. Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku tapi jangan dengan cara ini. Aku masih ingin hidup dengan keluargaku."


"Lalu, apa jadinya dengan adikku?"


"Aku akan membiayai pengobatan adikmu. Bahkan sampai adikmu menemukan pendonor yang cocok. Asal kau tak mengambil hatiku Dim. Aku akan bicara pada ayahku nanti."


"Kau pikir aku akan percaya padamu? Jika aku lepaskan sekarang, aku yakin kau akan kabur dan tak bertanggung jawab kan?"


"Aku serius Dim. Kalau kau tak percaya, aku akan menghubungi ayahku sekarang juga." Setelah mendengar penuturan Bayu, Dimas melepas cengkramannya dengan kasar. Dan saat itu juga, Bayu segera menghubungi ayahnya dengan hati yang sudah tak karuan.

__ADS_1


Benar saja, baru satu kalimat ia mengadukan perbuatannya, Ayahnya langsung memarahinya habis-habisan. Meski demikian, Bayu hanya bisa pasrah karena memang semua ini adalah salahnya sendiri.


Bersambung


__ADS_2