
. Di tengah asyiknya Tio dan Arisa menyantap makan siang mereka, terlihat seorang karyawan lain menghampiri dan berdiri tepat di samping mereka duduk.
"Tidak di perbolehkan membawa anak ke kantor."
"Dia adikku. Mau kenalan?" Tio membalas dengan santai ejekan dari teman satu departemen dengannya, namun tak tahu bahwa ia adalah putra sulung dari bos besar mereka, dan dengan kata lain adalah pewaris yang sah atas perusahaan ini.
"Wah. Bawa adik? Berani sekali kau membawa adikmu makan di sini. Apa kau tidak punya uang untuk makan di rumah? Atau kalian terlalu miskin sampai makan pun harus di kantor orang." Arisa yang mendengar ejekan tersebut hanya memiringkan kepalanya merasa heran sendiri.
"Maaf tuan. Apa kau tahu siapa orang yang sedang anada ejek ini?" Arisa ikut menimpali dengan santai beranjak dari duduknya dan menatap pada karyawan itu dengan datar.
"Adik manis. Sebaiknya jangan ikut campur. Dia itu orang yang hanya bisa merugikan perusahaan."
"Merugikan? Kenapa?" Tanya Arisa kemudian. Ia bersikap seolah tak tahu dan berpura-pura polos di depan semua orang yang sudah menyaksikan perdebatan mereka. Hanya anak SMA, tapi begitu berani berhadapan dengan karyawan yang bekerja di sana.
"Hei anak kecil. Jangan membuat masalah. Kasihan kakakmu nanti di pecat hanya karena membawamu makan ke sini."
Arisa masih datar menanggapi celotehan karyawan tak tahu diri ini, ia justru tersenyum mengejek padanya dengan percaya diri. "Siapa yang berani memecat kakakku?"
"Wahhh kau berani juga ternyata. Mau jadi pahlawan kakakmu?" Ditengah riuhnya perdebatan antara Arisa dan karyawan ayahnya, tiba-tiba suasana menjadi hening seketika. Seluruh karyawan di sana menunduk kecuali Arisa dan Tio yang sama-sama melanjutkan makan dengan santai.
"Dimana sopan santun kalian?!" Tegurnya lagi namun tak membuat Arisa dan Tio menanggapinya.
"Ada apa ini?" Tanya Yugito melirik satu persatu karyawannya kemudian kembali melirik pada kedua anaknya.
"Ini bos. Ada karyawan yang membawa adiknya makan di kantor kita." Jawabnya dengan percaya diri mengadukan Tio.
"Ohhh... kau dari departemen mana?" Yugito beralih bertanya pada Tio seakan dirinya tak mengenal anaknya sendiri.
"Ayah yang menempatkan tapi masih bertanya?" Cetus Arisa masih asyik memakan makanannya. Hal itu membuat Yugito tersenyum, kapan lagi ia melihat Arisa makan selahap ini.
"Apa makanannya enak?" Tanya Yugito kemudian duduk di samping Arisa.
"memangnya ayah belum coba?" Yugito menggeleng menanggapi pertanyaan putrinya. Sedangkan seluruh karyawan yang menyaksikan mereka hanya bisa melongo tak bisa mencerna kata 'ayah' yang keluar dari mulut gadis kecil di depan mereka.
"Aris boleh bawa ini ke rumah tidak? Atau ayah undang kokinya ke rumah. Atau boleh Aris makan di sini setiap hari?" Kali ini Yugito mengangguk menanggapi pertanyaan Arisa.
__ADS_1
"Oh iya ayah. Memangnya kak Tio belum jadi presdir? Kata ayah setelah lulus, kak Tio akan langsung di angkat jadi pengganti ayah." Karyawan yang tadi menegur mereka pun mulai panik mendengar penuturan Arisa tersebut. Keringat dingin sudah mulai terasa tak nyaman di tubuhnya.
"Belum. Ayah beri pelatihan dulu. Kalau sudah meyakinkan, baru akan di angkat." Jawab Yugito terdengar jelas oleh semua karyawannya yang ada di sana.
"Aris. Diamlah. Aku tak bisa makan dengan tenang." Tegur Tio yang mendelik seraya menyantap sedikit demi sedikit makanan di depannya.
"kalau sudah selesai, tunggu di ruangan ayah saja." Ucap Yugito beranjak dari duduknya lalu mengusap kepala Arisa.
"Ayah tidak makan?"
"Nanti saja. Masih ada pekerjaan."
"Jangan di tunda. Nanti ayah bisa maag."
"Iya. Nanti kalau sudah selesai, ayah akan makan."
"Aris bawa ke ruangan ayah saja ya!" Yugito tertegun, ia mengangguk saja menanggapi tawaran putrinya.
"Kamu ke ruangan ayah saja. Nanti yang bawa makanannya biar petugas saja."
"Sa-saya..."
"Tak perlu minta maaf. Hanya salah paham kan? Paling nanti siapkan saja surat pengunduran dirimu." Cetus Arisa membuat karyawan itu semakin gemetaran.
"Heh. Apa yang kau bicarakan? Aturan dari mana itu?"
"Aih aku membaca di novel adegannya selalu begitu."
"Tapi ini berbeda dengan novel. Dan kasusnya juga beda."
"Ohhhh hehe maaf."
"Kau ini ada-ada saja."
"Tuan. Apa saya akan di berhentikan?" Arisa dan Tio serentak menoleh ke arah karyawan yang menyela obrolan mereka.
__ADS_1
"Kita lihat keputusan bos besar saja. Tapi jika kamu tidak di berhentikan, saya harap ini yang terakhir kamu merendahkan seseorang, siapapun itu."
"Baik tuan. Saya mengerti." Setelah mendapati tanggapannya, Tio mengangguk lalu menyuruhnya untuk pergi dari sana.
. Selepas makan siang, Arisa bergegas menuju ruangan ayahnya, dan Tio kembali ke ruangan tempat ia bekerja. Ketika ia masuk, semua karyawan menunduk memberi penghormatan pada Tio.
"Siang bos." Ucap mereka serentak. Tio hanya mengangguk kaku lalu kembali keluar dan bergegas menuju ruangan ayahnya.
"Aris. Ayah mana?" Tanyanya dengan panik setelah ia membuka pintu dan mendapati Arisa ada di dalam ruangan.
"Tak tahu. Belum ada ke sini." Jawabnya mendongak sesaat lalu kembali fokus pada buku bisnis yang ada di rak buku.
"Sial." Cetus Tio kemudian berlalu entah kemana.
. Satu jam berlalu, terdengar pintu terbuka, sehingga Arisa mendongak dan mendapati Tio dan ayahnya yang masuk seraya mengobrol.
"Baguslah. Besok ayah akan umumkan kau menjadi direktur di sini."
"Tapi ayah..."
"Tak ada tapi. Jika kau masih di departemen itu, kau tak akan bekerja dengan efektif. Mereka akan memperlakukanmu dengan berbeda." Tio menunduk lesu, ia setuju dengan apa yang di katakan ayahnya. Memang benar, ia akan di perlakukan istimewa oleh karyawan lain karena statusnya sebagai anak presdir.
"Hemmm kakak jadi direktur? Terus nanti Aris jadi apa?" Tanya Arisa ikut masuk ke dalam obrolan.
"Kau belum lulus SMA. Oh iya. Bagaimana ujian masuknya?" Seketika itu, Arisa memasang jempol seraya tersenyum puas pada Yugito.
"Aku dan Rama lolos ayah." Jawabnya terlihat begitu bahagia.
"Hemmm pantas saja tak mau dengan Rais. Ternyata kau maunya satu kampus dengan pacar." Ejek Yugito membuat Arisa tersipu malu.
"Ayah tak marah? Tak apa kan kalau Aris berpacaran dengan Rama?"
"Tak apa kalau kau ada di dalam batas wajar. Sepertinya kau sangat senang jika bersama Rama."
"Tentu saja ayah. Dia itu pria yang baik, dna juga tahu cara menghargai perempuan. Di sangat menjagaku, dan juga keluarganya sangat ramah, bahkan mereka menganggapku seperti keluarga mereka sendiri." Yugito tersenyum menanggapi ungkapan Arisa.
__ADS_1
-bersambung.