7 Purnama

7 Purnama
Bab 41


__ADS_3

. Diana yang merasa di ratukan oleh Ti9, ia hanya bisa tersenyum dan bersyukur karena di berikan pasangan yang begitu perhatian. Ia akui saat dengan Seno pun ia di ratukan dengan begitu manis, sehingga tak ada yang percaya dengan fakta bahwa ia dan Seno sudah putus.


"Tio... apa ini tidak berlebihan?" Tio memiringkan kepalanya mendengar pertanyaan Diana yang tak bisa ia pahami.


"Berlebihan apanya?"


"Kau membelikanku barang mahal ini."


"Yang berlebihannya perkara apa?"


"Yaaa... rasanya kau terlalu memanjakan ku. Padahal aku bisa membelinya sendiri." Mendengar Diana yang seperti mengeluh itu, Tio tersenyum kemudian ia mengacak rambut Diana dengan gemas.


"Apa salahnya jika aku ingin memberikan sesuatu pada pacarku. Kan nantinya juga kau akan belanja dengan uangku setiap hari." Bukannya senang, Diana malah menyipit seakan ia di rendahkan oleh perkataan Tio barusan.


"Aku bukan perempuan gila uang. Tio, aku punya bisnis sendiri. Untuk apa aku meminta uangmu." Dan lagi, Tio tersenyum menanggapi kekesalan Diana yang jelas hanyalah salah faham.


"Terus tugasku sebagai kepala keluarga apa jika kau akan memakai uangmu saja, kau tak mau memakai uangku?"


Kali ini giliran Diana yang merasa heran akan maksud dari perkataan Tio. "Maksudmu?"


"Maksudku.... bukankah istri itu berbelanja pakai uang suami." Sontak Diana terbelalak mendengar ungkapan Tio tersebut. Ia mematung dan masih tak percaya bahwa Tio bisa berkata demikian padanya.


"Berkedip Di!" Tio terkekeh seraya mengusap kasar wajah Diana yang mulai merona dan tersipu.


"Di... mau kan? Tunggu aku sukses dan tunggu aku lamar kamu tahun depan."

__ADS_1


"Jangan memintaku menunggu di waktu yang kau tentukan. Buktikan saja kapan kau siap. Aku tak mau menunggu, tapi pada waktu itu kau tak datang, aku malah kecewa nantinya." Mendengar penuturan Diana tersebut, Tio hanya terdiam, ia merasa bahwa yang di katakan Diana ini memang benar.


. Setelah makan siang, Rama meminta Arisa untuk menunggunya yang ingin ke toilet. Tanpa di duga, Rama memuntahkan semua darah yang membuatnya terus merasa mual sejak tadi. Bersamaan dengan itu, Rama mendapati dirinya mimisan juga, sehingga ia membersihkan seluruh wajahnya karena khawatir Arisa akan curiga. Setelah bersih, Rama mencari lip balm untuk menutupi bibir pucat nya.


"Setelah ini mau kemana?" Tanya Arisa ketika Rama sudah berada di depannya.


"Emmm nonton?"


"Emmm boleh."


Keduanya tersenyum riang lalu Rama bergegas menarik tangan Arisa menuju halte yang tak jauh dari tempat mereka. Ketika bis datang, Arisa segera menarik tangan Rama untuk masuk dan mencari kursi kosong. Saat ini terlihat mata Rama yang sayu dan berusaha untuk tetap sadar meski sebenarnya ia sudah lelah dan kepalanya terus berputar-putar. Ia merasakan mual namun ia tak mungkin menunjukkannya di depan Arisa sekarang.


"Rama... kenapa pusing ya?" Arisa bertanya seraya memijit pelipisnya pelan.


"Kamu pusing? Sini aku pijat sedikit." Rama menyandarkan kepala Arisa pada bahunya lalu ia perlahan memijit pelipis Arisa agar rasa peningnya berkurang. Arida memejamkan matanya dan ia meraih hidungnya segera karena bau yang ia hirup semakin menyengat. Sampai di halte berikutnya Rama membawa Arisa turun dan menenangkan dirinya terlebih dahulu.


"Dia pusing karena bau parfum?" Batin Rama tidak menjawab pertanyaan Arisa tersebut.


"Kau juga mual kan? Aku lihat tadi. Memangnya selera wewangian dia itu seperti apa? Aku yakin yang ada di dalam bis pasti merasa mual semua." Rama terhenyak mendengar Arisa yang masih menggerutu begitu. Yang membuatnya terkejut bukanlah kekesalan Arisa, tapi ia terheran mengapa Arisa bisa menyadari bahwa ia menahan mual sejak tadi.


"Sudah tak apa. Kita hanya perlu beralih bis saja kan?" Rama kembali termangu, ia semakin merasa bersalah karena mengajak Arisa jalan-jalan dengan kendaraan umum padahal bisa saja Arisa pergi dengan mobil mewahnya yang berjejer rapi di dalam garasi keluarganya.


"Aris... aku sungguh minta maaf." Lirih Rama menatap nanar pada Arisa di sampingnya.


"Minta maaf untuk apa Rama?"

__ADS_1


"Karena aku yang tak punya apa-apa, kau jadi kepanasan dan juga--" ucapan Rama terhenti saat Arisa tiba-tiba meraih kedua pipinya dan menatapnya dengan lekat.


"Aku tak merasa kau membawaku dalam situasi seperti itu Rama. Justru aku merasa senang hari ini. Bagiku, ini adalah hari yang paling istimewa. Kapan lagi kita menghabiskan waktu sama-sama begini, dan kapan lagi aku bisa merasakan rasanya naik kereta api, naik bis, sungguh Rama ini sangat menyenangkan." Mata Rama membulat mendengar ungkapan Arisa tersebut. Wajah dan tatapan matanya memang memperlihatkan kesenangan dan kegembiraan, Arisa tak menunjukkan rasa tertekan sama sekali. Bahkan saat ini Arisa terlihat lebih bersemangat dari pada dirinya.


Akhirnya Rama tersenyum, kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju mall yang ada di kota mereka. Arisa tak berbohong sedikitpun, ia terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka dan ia sangat antusias ketika menunggu Rama membeli tiket nonton mereka.


"Jadwalnya 1 jam lagi. Mau berkeliling? Tapi maaf ya, jalan denganku kau tak akan membeli apapun." Ucap Rama ketika ia sudah kembali ke sisi Arisa.


"Kau ini bicara apa? Aku tak butuh uangmu. Meski kita berjalan-jalan begini pun dengan uang kita sendiri, aku tak mau memberatkanmu. Dan kau jangan merasa aku lebih punya segalanya, dan lebih menginginkan apapun yang menurutmu berharga mahal. Aku hanya ingin waktu dan kebersamaan denganmu saja. Hari istimewa ini, aku tak mau menyia-nyiakannya lagi Rama. Setiap tahun aku merasa sendiri, tapi hari ini kau merubahnya dan berhasil membuatku merasa bahwa aku tidaklah sendirian."


"Aku beruntung bisa memilikimu Aris."


"Tidak Rama. Justru aku yang beruntung memilikimu."


"Hahaha sudah yu. Mau jalan-jalan di mana?"


"Aku mau beli camilan."


"Aih... kau sudah makan tadi."


"Hehe.. menunggu 1 jam itu lama."


"Baiklah. Tuan Putri mau beli apa?" Sontak Arisa tertawa lepas mendengar candaan Rama tersebut. Keduanya kembali berjalan-jalan mengitari setiap gerai yang mereka lalui. Sampai waktunya tiba, keduanya bergegas memasuki studio.


. Sementara itu, Raisa yang di batasi pergaulannya oleh Rahma pun memilih diam di rumah dan ia menolak ajakan temannya untuk merayakan ulang tahunnya di luar rumah. Hari semakin sore, dan Arisa belum juga pulang. Yugito masih mendapat laporan mengenai Arisa yang belum ada tanda-tanda akan pulang. Setelah dari bioskop, Arisa dan Rama beralih ke sebuah taman hiburan. Yugito sempat berniat menyusul Arisa, namun Juna mengatakan Arisa sangat bahagia sehingga Yugito mengurungkan niatnya.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2