7 Purnama

7 Purnama
Bab 36


__ADS_3

. Atas permintaan dari orang tua pasien, dokter segera melakukan tes untuk memastikan akankah itu sel kanker yang aktif atau hanya gejala biasa. Lama Yugito menunggu dan Arisa pun sudah siuman, dokter baru terlihat dengan membawa hasil tes tersebut.


"Sebelumnya saya meminta maaf atas kesalahan yang sudah saya katakan tadi. Menurut hasil tes, putri anda negatif dari kanker. Sekali lagi saya mohon maaf." Dan saat itu juga Rahma dan Yugito menghela nafas lega kemudian keduanya memeluk Arisa dengan erat. Dan ini baru pertama kali baginya mendapat pelukan dari kedua orang tuanya sekaligus.


"Ayah? Apa kanker akan membuat ayah menyayangi Aris?"


"Apa yang kau tanyakan itu? Tanpa itupun ayah sudah menyayangimu."


"Ayah bohong. Ayah pembohong." Lirihnya mulai terisak dengan membenamkan wajahnya pada dekapan Ayahnya.


Setelahnya dokter berlalu dari hadapan mereka, sedangkan Yugito masih menemani putrinya di dalam ruangan inap VIP agar lebih leluasa. Rahma sudah tak ada di sana sebab ia segera pulang mendengar Raisa mencarinya di rumah. Arisa yang melihatnya pun mencengkram selimut dengan tatapan yang sendu.


"Nak... kau dari mana saja? Mengapa tak memberi kabar pada ayah? Ponselmu mati, GPS juga mati. Apa kau pikir ayah tidak cemas? Dan kenapa kau membuang jepitan yang ayah beli?" Mendengar pertanyaan beruntun itu, Arisa memilih terbaring dengan membelakangi Yugito dan tak menjawab satu pertanyaan pun sehingga Yugito mulai merasa kesal.


"Aris! Jika ayah bicara itu dengarkan. Dan jika ayah bertanya itu jawab!" Tegas Yugito membuat Arisa bangkit lalu menatap ke arahnya dengan datar.


"Kenapa ayah mempermasalahkannya? Bukankah anak yang selalu ayah utamakan itu hanya Rais? Seharusnya ayah baik-baik saja tanpa mengetahui kabarku. Untuk apa? Saat denganku saja ayah masih mengingat Rais."


"Kalian itu putri ayah. Wajar saja jika ayah ingat padanya meski tengah bersamamu."

__ADS_1


"Lantas? Jika ayah bersama Rais, apa ayah mengingatku juga? Bukan kekanak-kanakan, tapi nyatanya melihat Rais yang begitu senang mendapat hadiah tanpa pemberitahuan sebelumnya. Yahhh sepertinya menyenangkan jadi dia. Sederhana, namun sangat membahagiakan." Bersamaan dengan kalimat ini, Arisa kembali menitikkan air matanya meski wajahnya begitu datar tanpa ekspresi apapun. Yugito terdiam membisu, ia terheran dari mana Arisa tahu jika ia diam-diam membelikan sesuatu untuk Raisa.


"Jika kanker membuat ayah dan mama menyayangiku, aku tak keberatan ayah. Lebih baik aku kanker saja agar bisa mendapatkan kasih sayang ayah dan mama seutuhnya. Mau bagaimanapun, aku sudah terlalu lama kesepian tanpa peran ayah." Kini tangis Arisa pecah setelah mengatakan hal tersebut. Dan segera Yugito meraih putrinya lalu memeluk seraya menenangkan agar Arisa tidak berkata apa-apa lagi.


"Jangan bicara begitu nak. Kau tak tahu jahatnya penyakit itu. Ayah tak mau lagi punya anak yang menderita penyakit mematikan seperti yang kau sebut tadi. Ayah ingin anak-anak ayah semuanya baik-baik saja."


"Kalau begitu jangan patahkan harapan Aris lagi."


"Iya nak... ayah akan berusaha untuk selalu ada untuk kamu." Meski hatinya ragu, namun Arisa harus percaya pada apa yang di katakan Yugito. Ia berharap, kedepannya Yugito akan benar-benar memperhatikan dan mempedulikannya.


. Malamnya, Arisa di perbolehkan pulang namun ia masih harus istirahat di rumah. Sesuai yang ia ucapkan, Yugito menemani Arisa malam ini di kamarnya. Sampai pagi menjemput, Yugito tak sedikitpun meninggalkan Arisa dan secara tak langsung, Arisa mulai merasa percaya bahwa ayahnya tak akan meninggalkannya lagi.


Hari berganti, ia sudah tak lagi masuk sekolah karena alasan sakit. Dan tanpa ia tahu, Rama tengah meregang nyawa di rumah sakit menghadapi maut yang mungkin bisa menghilangkan nyawanya saat itu juga. Reski dan Naufal yang tak tahu dengan kabar Arisa pun tak memberitahunya kebenaran ini. Sampai di hari berikutnya, Arisa masuk sekolah dan tak seperti biasanya, sekarang tak ada Rama menunggu di depan perpustakaan. Ia mencari-cari keberadaan Reski ataupun Naufal. Namun sudah lelah ia mencari, ia tak kunjung menemukan kedua orang itu. Gibran menghampiri Arisa yang tengah mencari seseorang di sepanjang koridor kelas.


"Iya. Apa kau tahu kenapa dia tak masuk sekolah?"


"Dia masih di rawat. Sejak hari itu, Rama belum masuk sekolah. Sepertinya dia punya penyakit serius." Mendengar penuturan Gibran, Arisa menjadi terdiam dan ia mulai penasaran dengan yang sebenarnya.


Sepulang sekolah, Arisa bergegas ke rumah sakit untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Rama. Saat ia tengah mencari keberadaan pacarnya tersebut, kebetulan ia melihat Naufal yang sama-sama berniat untuk menemui Rama. Naufal terlihat gugup meski ia dengan senang hati mengajak Arisa untuk bersama menuju kamar Rama.

__ADS_1


Ketika keduanya masuk, terlihat Rama tengah bermain game bersama Reski sehingga menimbulkan ekspresi berbeda dari Arisa dan Naufal. Keduanya sama-sama menghampiri Rama dan Naufal memilih duduk di samping Rama dan Arisa berdiri di samping Reski.


"Ehhh tuan putrinya Rama. Silahkan." Canda Reski beranjak lalu memberikan tempat duduknya pada Arisa.


"Tidak Reski. Kau saja yang duduk."


"Tak apa. Aku sudah lama duduk di sini. Lagi pula, aku dan Naufal mau beli sesuatu ke luar. Iya kan Naufal?" Reski beralih menatap Naufal dengan memberi kode dari matanya.


"Ah? Oh? Haa ah ya ya ya... ayo Res. Beli siomay." Ucapnya segera beranjak dan menarik kemeja Reski keluar dari ruangan Rama. Arisa tertawa kecil melihat tingkah konyol kedua temannya yang berlalu meninggalkan mereka.


"Aris. Katanya kemarin kau tidak masuk selama 3 hari. Kau sakit? Sakit apa? Parah tidak?" Tanya Rama memulai obrolan mereka.


"Hemmm.. itu tak seberapa denganmu yang masih di infus. Dan sebenarnya kau punya penyakit apa? Kenapa saat itu kau muntah darah?" Arisa berbalik menginterogasi Rama dengan tatapan tajamnya.


"Ya... lambungku sudah rusak. Ada luka, jadi saat asam lambungku naik, ada darah yang ikut keluar." Jawabnya memberi alasan.


"Benarkah? Kau tidak bohong kan?"


"Ahaha untuk apa aku bohong sayang?" Rama meraih kepala Arisa lalu mengusapnya perlahan dengan terus tertawa menyembunyikan kenyataan yang tak akan pernah bisa ia katakan pada Arisa.

__ADS_1


"Apa jawabanku itu logis? Kemarin asma, dan sekarang lambung. Jika dia sadar, dia pasti akan curiga. Maaf Aris. Aku tak bisa memberitahumu kalau aku sudah mencapai batasku." Batin Rama semakin sendu menatap Arisa yang kini tengah asyik membalas sebuah pesan di ponselnya. Mata teduh itu mungkin akan ia ingat, dan senyuman manisnya pun akan ia simpan di memorinya.


-bersambung


__ADS_2