7 Purnama

7 Purnama
Bab 45


__ADS_3

. Hari sudah siang, dan Raisa yang tak sekolah pun terlihat tengah memantau bunga-bunga di taman depan rumah. Pandangannya tertuju pada sebuah mobil asing yang memasuki pekarangan rumahnya. Ia menghentikan aktivitasnya dan segera menghampiri tamu yang datang, dan ternyata itu adalah anak-anak dari sekolah Arisa. Reski dan Rama turun terlebih dahulu sebagai perwakilan anak-anak lain yang ikut ke sana.


"Aris! Kau sudah sembuh?" Teriak Reski melambaikan tangannya dengan antusias. Raisa menyernyit, ia tak mengerti maksud dari sapaan pria di samping Rama itu.


"Dia Raisa. Bukan Aris." Tegur Rama berbisik pada Reski sehingga Reski membisu seketika.


"Rama. Ada apa? Dimana Aris?" Kali ini giliran Rama yang di buat terheran oleh pertanyaan Raisa. Bukankah seharusnya Arisa ada di rumah ini? Tapi mengapa Raisa bertanya seolah Arisa tak ada di sana.


"Rais. Apa Aris ada di rumah?" Mendengar pertanyaan Rama tersebut, Raisa mendadak sendu dengan menundukkan pandangannya.


"Sejak malam itu, Aris tak pulang Ram. Kak Tio membawanya ke apartemen dan tak ada kabar dari mereka sampai sekarang. Bahkan kak Tio juga tidak masuk bekerja kata ayah." Jawab Raisa kembali mendongak dan menatap Rama dengan pandangan yang sayu.


"Tapi, Aris tidak masuk 3 hari ini. Kata kak Tio, Aris sakit dan di rawat di rumah. Aku pikir Aris ada di sini."


"Aris sakit? Di rawat? Kau jangan bercanda Rama. Kalau Aris sakit, kak Tio pasti memberitahu Ayah dan Mama." Pekik Raisa yang jelas tak mempercayai ucapan Rama.


"Kau tahu dimana apartemen kak Tio?"


"Aku tahu Rama. Aku akan ikut dengan kalian." Jawab Raisa yang bergegas memasuki rumah untuk mengambil baju penutup. Kemudian mereka pergi tanpa memberitahu orang rumah. Rahma yang mengetahui itu tak bisa tinggal diam, ia meminta supirnya untuk mengejar Raisa dengan anak-anak asing yang ia kira sebagai anak yang berandalan membawa kabur putrinya.


Sampai di apartemen, Raisa mencoba mengingat kamar kakak sulungnya. Ia menyusuri setiap pintu dan akhirnya menemukan kamar yang di tuju. Segera Raisa mengetuk pintu di temani Rama dan yang lainnya di belakang.


Sementara itu, Tio mengusap wajahnya dan menghentikan tangis yang tiba-tiba menyesakkan dadanya. Ia benar-benar tak habis pikir pada Ayah dan Ibunya yang begitu santai dan tak mencari tahu keadaan Arisa yang ia bawa dan tak sedikitpun memberikan kabar pada keluarganya. Tio membawa nampan dengan semangkuk sayur sop dan nasi untuk mengganjal perut adiknya. Ia yang sebelumnya tak bisa memasak apapun, 3 hari ini semua makanan ia yang buat. Ada suka dan ada duka menjadi seorang kakak, Ayah, dan Ibu di waktu yang bersamaan untuk Arisa.


"Makanan sudah jadi. Spesial untuk adik tersayang kakak Tio." Ucap Tio dengan penuh candaan meletakkan makanan di samping tempat tidur Arisa.


"Awas geraknya hati-hati." Arisa hanya terkekeh kecil mendengar peringatan Tio yang terdengar begitu menyebalkan. Perlahan Tio menyuapi Arisa yang sudah terduduk bersandar pada bantal yang mereka tumpuk di belakang Arisa.

__ADS_1


. Raisa terus mengetuk menunggu Tio membukakan pintu. Ia mendadak berbinar saat terdengar suara pintu yang mulai terbuka.


"Maaf cari siapa?" Mendengar pertanyaan itu, Raisa memudarkan senyum karena ternyata tak sesuai dengan yang di harapkan. Kamar itu bukan milik kakaknya.


"Maaf. Saya salah kamar." Jawab Raisa beralih meninggalkan kamar tersebut. Ia terkejut melihat Rahma sudah berada tak jauh dari mereka dengan sirat amarah padanya.


"Mama..." pekik Raisa yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendapati ibunya di sana.


"Sedang apa kamu di sini? Rama. Kamu mau apa bawa Rais ke apartemen? Kamu pacar Aris kan? Kenapa kamu bawa Rais?"


"A-anu tante... saya..."


"Kamu dan teman-teman kamu mau apakan anak saya?"


"Tidak tante. Saya tidak akan apa-apakan Rais. Saya ke sini mencari Aris." Rahma mendelik mendengar alasan Rama yang ia kira hanyalah alasan semata.


"Tahu dari mana kau?" Tanya Reski yang penasaran mengapa Naufal tahu kamar Tio.


"Aku bertanya lah. Dari penghuni apartemen yang tadi." Jawab Naufal tersenyum dengan puas.


Setelah beberapa kali mengetuk, terlihat seseorang muncul dari balik pintu dengan tatapan yang datar dan menekan. Rama tersenyum dengan lega akhirnya ia bisa menemukan Tio.


"Eh Rama? Ada apa? Dari mana tahu apartemen kakak?" Tanya Tio meluluhkan pandangannya menjadi hangat saat mendapati Rama yang bertamu ke apartemennya.


Raisa yang khawatir pada adik kembarnya, ia ikut menghadap ke depan wajah Tio dengan memasang ekspresi yang sendu.


"Aris mana kak?" Tanyanya seraya berjinjit berharap ia melihat Arisa di dalam apartemen kakaknya.

__ADS_1


"Tak ada. Kau pulang saja." Jawab Tio dengan ketus.


"Tio. Kenapa sikapmu begitu pada Rais." Tegur Rahma yang tak terima Raisa di perlakukan tidak baik oleh Tio.


"Sedang apa Mama di sini?" Tanya Tio seolah ia tak mengharapkan kedatangan ibunya sendiri.


"Kak... Aris mana? Aku ingin bertemu Aris." Rengek Raisa mulai berkaca-kaca dan menatap harap pada kakaknya agar memberikan jalan.


"Untuk apa kau menemuinya? Kau mau Aris di marahi lagi oleh Mama dan Ayah hanya gara-gara kau?"


"Rais. Ayo pulang. Kau jangan memohon begitu pada kakakmu."


"Silahkan saja Mama dan Rais pulang. Tio tak berharap Mama ada di samping Aris sekarang." Rahma terdiam membisu. Ucapan anak sulung nya berhasil membuat hatinya merasa di tikam belati seketika.


Rahma menarik tangan Raisa menjauh dari depan apartemen Tio tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Rais mau bertemu Aris Ma..." Raisa mencoba menolak ajakan ibunya yang tak langsung itu. Rahma berhenti lalu menatap Raisa dengan tajam sehingga Raisa terdiam karena baru pertama kali melihat ibunya menatapnya setajam ini.


"Aris sakit Ma..." rengek Raisa namun tak berhasil membuat Rahma mengizinkannya menemui adik kembarnya.


. Di dalam, Arisa berjalan dengan tertatih karena tubuhnya yang lemas tak bertenaga. Ia mencari Tio yang tak kunjung kembali setelah mengatakan ada yang mengetuk pintu depan apartemennya.


"Kak... Aris minum obatnya yang mana?" Tanya Arisa berusaha berteriak agar kakaknya bisa mendengar. Benar saja, Tio menoleh seketika mendengar suara Arisa yang terdengar dari belakang tubuhnya.


"Aris!" Pekik Rama, Reski dan Naufal bersamaan. Dan seketika itu Raisa melepaskan tangan ibunya dan bergegas kembali ke apartemen Tio. Ia tak bisa menahan dirinya melihat kondisi Arisa yang begitu memprihatinkan. Wajah pucat, dan infusan yang Arisa bawa membuat hati Raisa sesak melihatnya.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2