7 Purnama

7 Purnama
Bab 46


__ADS_3

. Raisa berlari lalu memeluk Arisa yang begitu lemah. Bahkan perbedaan kulit di antara mereka terlihat sangat jelas. Rahma menyusul merasa penasaran pada kabar putri bungsunya karena baru saja Raisa sempat mematung sebelum berlari memasuki apartemen. Rahma ikut membeku, ia menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Arisa terlihat seperti orang lain dengan wajah pucat dan infusan di tangannya. Ia sejenak berpikir, sejak kapan putri bungsunya ini jatuh sakit, dan mengapa Tio tidak memberitahunya sama sekali.


Rahma perlahan masuk lalu ia meraih wajah Arisa dengan berlinang air mata.


"Pulang ya nak. Kita pulang sekarang." Lirih Rahma tak kuasa menahan tangisnya sehingga suaranya terdengar bergetar. Hatinya tersayat melihat Arisa yang begitu memprihatinkan. Ia memeluk kedua putrinya lalu menciumi Arisa dengan rasa sesal yang membuatnya tak bisa lagi berkata-kata.


"Aris tidak boleh kemana-mana. Dokter bilang Aris akan drop lagi kalau Aris keluar sebelum infusan Aris di lepas." Arisa menjelaskan dan ia menolak secara tak langsung ajakan ibunya.


"Aris demam berdarah Ma." Ucap Tio ikut memberitahu akan penyakit Arisa saat ini. Arisa beralih melirik Rama dan seakan ia tak mempedulikan kakak dan Ibunya. Ia tersenyum seraya menaikkan alisnya menggoda Rama yang hanya tersenyum membalas candaan Arisa.

__ADS_1


Setelah membujuk cukup keras, dan mendapat izin dari dokter, akhirnya Rahma bisa membawa Arisa kembali pulang dengan keadaan yang masih di infus. Selama perjalanan, Arisa hanya tertidur tak kuasa menahan tubuhnya yang masih terasa lemas. Ia bersandar pada pundak Tio yang duduk di sampingnya di kursi belakang. Raisa melirik sesaat dengan hati yang merasa teriris melihat Tio yang terus memeluk Arisa sedangkan ia tak di lirik sama sekali meski keduanya berdampingan. Raisa memilih untuk menatap keluar dengan wajah yang sayu dan ia tak bisa menahan air matanya yang perlahan meluruh berderai di antara pipi chubby nya.


Sampai di rumah, Tio menggendong Arisa dan ia langsung membawanya ke kamar. Tio menidurkan Arisa dan menyelimutinya sampai pinggang, lalu ia menggantungkan cairan infusan di tempatnya.


Hari sudah malam, Yugito baru pulang dan ia segera menemui Arisa yang di laporkan tengah sakit parah selama di apartemen Tio. Ia menghela nafas lega ketika melihat Rahma dengan perhatiannya merawat Arisa yang masih terlihat lemas. Melihat ayahnya semakin mendekat, Arisa mendadak terlihat murung dan ia menunduk seraya berpaling agar tak beradu pandangan dengan Yugito. Tanpa di duga, Yugito meraih kepala Arisa dan mengusapnya dengan lembut. Mata Arisa berubah sayu m3ndapati perhatian dari kedua orang tuanya yang begitu ia inginkan sejak lama.


"Kenapa? Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Atau setidaknya setelah Rais dinyatakan sembuh, kenapa Mama dan Ayah tidak memperhatikanku seperti sekarang?" Batin Arisa seraya menyeka embun di kelopak matanya.


"Aris. Kenapa menangis begitu? Katakan pada ayah apa yang sakit!" Namun, meski Yugito ikut bertanya dengan khawatir, namun Arisa menggeleng menanggapinya. Ia terlalu malu untuk mengatakan apa yang ada di hatinya dengan berharap bahwa momen ini tak akan berakhir dengan cepat. Rahma memeluk dan mengusap punggung Arisa dengan harapan putri bungsunya ini akan cepat tenang. Begitupun dnegan Yugito yang ikut memeluk anak dan istrinya agar keduanya merasa tenang dengan kehangatan yang ia berikan.

__ADS_1


"Jika aku boleh memilih, aku ingin merasakan sakit seumur hidup agar Ayah dan Mama bisa memelukku seperti ini Tuhan. Aku rela, sangat rela." Batinnya membenamkan wajah di lengan Yugito yang semakin erat memeluknya.


Di luar kamar Arisa, Raisa mendadak murung dan ia berjalan ke kamarnya dengan menunduk sendu. Hal itu di lihat oleh Tio yang kebetulan menaiki tangga hendak menjenguk dan ingin tahu keadaan adik kesayangannya. Ia mengikuti Raisa dan berniat untuk menghiburnya. Namun, matanya terbelalak saat ia perlahan membuka pintu, dan tubuhnya bereaksi seketika dengan berlari lalu merebut cutter yang sudah siap di sayatkan pada urat nadi Raisa. Lalu 'plakk' suara tamparan terdengar begitu nyaring bersamaan dengan wajah Raisa yang berpaling dengan rambut yang berantakan menutupi sebagian wajahnya. Tidak seperti Arisa, Raisa langsung meraih pipinya dan menangis keras sembari memukul dada dan lengan Tio dengan keras.


"Kenapa kakak menghalangiku?" Teriaknya mulai tersedu-sedu. Dan Tio hanya terdiam membiarkan amarah Raisa mereda dengan sendirinya. Namun, meski dadanya sudah linu dan nyeri, Tio belum menemukan tanda-tanda Raisa mereda. Tangisnya semakin keras sehingga Yugito dan Rahma pun menyusul ke kamarnya. Ketika Yugito dan Rahma berada di ambang pintu dan bersiap untuk bertanya, matanya membulat saat menyaksikan Tio menampar Raisa dengan begitu keras. Meski Raisa berhenti memukulinya, namun hal itu membuat Yugito geram dan amarahnya memuncak seketika. Yugito menghampiri Tio, lalu melayangkan tinju sehingga Tio terhuyung dan meraih ujung bibirnya yang berdarah. Tak cukup hanya itu, Yugito menyeret Tio keluar dari kamar Raisa lalu ia mendorong Tio dari tengah tangga sehingga Tio tak bisa menyeimbangkan langkahnya dan ia berguling di tangga sampai lantai bawah. Karena tubuhnya yang sudah terlatih, Tio bangkit dan meraih wajahnya yang sudah berdarah di bagian-bagian tertentu seperti hidung dan pelipisnya. Belum puas melihat Tio berlumuran darah, Yugito segera memanggil bawahannya untuk membawa Tio ke luar rumah.


"Ikat dia lalu siram dengan air es, dan biarkan dia di luar sampai pagi." Sebelum menanggapi dan menyanggupi perintah bos besarnya, semua bawahan Yugito termasuk Juna pun saling berpandangan. Namun melihat geramnya Yugito, semua tak bisa membantah dan menuruti perintahnya. Segera mereka membawa Tio dan mengikatnya di sebuah kursi, lalu beberapa dari mereka mengambil air es sebanyak mungkin dan mengguyur Tio sampai air itu habis. Tio mulai menggigil kedinginan di tambah angin malam yang menusuk membuat bibir Tio membiru. Ia merasakan perih di pelipisnya yang terkena air es dan hidungnya terus mengeluarkan darah akibat benturan di tangga.


Arisa yang mendengar keributan pun beranjak dan keluar dari kamar dengan membawa infusan, namun ia tak mendapati apapun, suasana mendadak hening sehingga ia memutuskan untuk kembali ke dalam kamar dan tidur dengan tenang malam ini.

__ADS_1


. Paginya, Arisa bangun dan ia sudah merindukan suasana taman. Ia berjalan di balkon sebelum dokter datang, namun, matanya membulat saat melihat pemandangan yang membuatnya membeku seketika. Arisa memaksakan tubuhnya untuk berlari keluar rumah tanpa mempedulikan kesehatannya. Ia sempat terjatuh di depan teras untuk menghampiri Tio yang sudah tak sadarkan diri.


-bersambung


__ADS_2