7 Purnama

7 Purnama
Bab 23


__ADS_3

. Karena terkejut melihat Raisa yang tergeletak di lantai, Arisa tak dapat menggerakkan tubuhnya. Tak lama, terlihat Rahma menyusul dan langsung meraih Raisa yang sudah tak sadarkan diri. Bi Ina pun terkejut dengan Raisa yang sudah berlumuran darah.


"Rais. Sayang. Bangun nak." Rahma mencoba mengguncangkan tubuh Raisa namun tak kunjung membuka mata. Ia beranjak dan meminta Bi Ina untuk menjaga Raisa di tempatnya. Rahma menghampiri Arisa yang masih mematung, lalu 'plak' terdengar suara tamparan yang nyaring bahkan wajah Arisa sampai berpaling kasar.


"Apa yang kau lakukan?" Teriak Rahma terdengar sampai ke tempat Juna bertugas. Juna yang penasaran pun mendongak dan ia hanya melihat rambut Arisa saja.


"Aris tidak melakukan apa-apa ma."


"Terus ini apa? Kalau bukan kamu, siapa lagi yang membuatnya begini?"


"Tapi Aris benar-benar tidak melakukan apa-apa ma. Justru Rais yang jahil pada Aris."


"Bukannya mengaku, kau malah melemparkan kesalahan pada orang lain."


"Tapi sungguh Aris tak berbuat apa-apa. Kenapa mama tidak percaya?"


"Karena kamu tidak bisa mama percaya."


"Iya. Terus saja salahkan Aris. Memang Aris yang selalu salah di mata mama." Pecah sudah tangis Arisa di depan ibunya. Rahma yang berpikir ini salah Arisa pun hanya menatap rendah putri bungsunya. Ia menganggap bahwa Arisa hanya membela diri saja. Yugito bergegas menyusul setelah ia mendengar teriakan Rahma dari lantai atas. Ia menyusuri setiap ruangan yang ia lalui, dan akhirnya mendapati istri dan anaknya di kamar Arisa. Ia begitu terkejut melihat kemarahan Rahma pada Arisa yang begitu meluap. Yang membuatnya lebih terkejut, kini kondisi Raisa sangat parah, darah terus mengalir meski lukanya tak seberapa.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? Lupakan Aris! Cepat bawa Rais ke rumah sakit!" Arisa terhenyak dan seketika meraih pipinya yang terasa panas. Rasa sakit di pipinya tidak seberapa jika di bandingkan dengan makian ibunya dan ungkapan ayahnya barusan. Arisa terdiam meski ibu dan ayahnya sudah berlalu membawa Raisa dari kamarnya. Tubuhnya ambruk dan terduduk di lantai. Ia menjambak rambutnya sendiri, lalu menangis tanpa suara dengan tekad yang semakin bulat untuk mengakhiri hidupnya. Tangannya kembali berdarah akibat ia yang terlalu keras menjambak rambutnya.


"Non. Hentikan! Tangannya pendarahan lagi." Tegur Bi Ina segera meraih Arisa yang putus asa.


"Bi... kenapa Bibi menghalangiku? Biarkan aku mati saja Bi... hidupku saja tak berguna. Untuk apa aku hidup."


"Tidak non. Jangan bicara begitu. Tak ada yang sia-sia dengan hidup non. Pasti ada kebahagiaan yang menunggu non di depan."


"Bahagia yang bagaimana Bi? Aku tak menemukan kebahagiaan hidup di keluarga ini. Bahkan ayah saja tak mempedulikan aku. Bibi dengar sendiri kan tadi ayah bilang apa? Kata ayah lupakan saja aku." Bi Ina sudah kehilangan kata-kata untuk menguatkan Arisa. Di tengah tangisnya yang terdengar frustasi, tiba-tiba Arisa terdiam dan Bi Ina mendapati Arisa sudah terlelap. Tio yang mengetahui Raisa di bawa pergi oleh orang tuanya, ia mencari tahu apa yang terjadi. Niat hati ingin bertanya pada Arisa, namun Tio malah mendapati adiknya tak sadar di pangkuan Bi Ina. Segera ia membawa Arisa ke tempat tidur lalu mengganti perban yang sudah penuh dengan darah.


"Sebenarnya kenapa Bi?" Tanya Tio seraya memasang perban di tangan Arisa.


"Anu... Mas Tio. Tadi non Rais pingsan dan dahinya terluka. Sepertinya tertimpa pot bunga non Aris. Dan..."


"Ibu." Jawab Bi Ina dengan singkat.


"Apa memang Aris yang salah?"


"Saya tak tahu Mas. Tadi non Aris bilang non Rais yang jahil. Tapi saya kurang yakin."

__ADS_1


Mendengar jawaban Bi Ina tersebut, Tio hanya menghela nafas gusar kemudian mengusap pipi Arisa yang memerah bekas tamparan dari ibunya. Tak lama, terlihat Arisa membuka mata dan saat itu juga air matanya berderai meski ia tak terisak sedikitpun. Rasa sakit di tangan dan pipinya kembali terasa, sehingga ia melihat pada perban yang sudah di ganti.


"Aris. Kau baik-baik saja kan?" Tanya Tio menatap harap pada Arisa yang perlahan meliriknya lalu beranjak dan memeluk Tio dengan erat.


"Aris tak melakukan apapun kak. Itu salah Rais sendiri. Rais yang mengambil ponselku dan dia juga yang membuat pot jatuh. Aris.. Aris..." ucapnya menjelaskan di iringi isak tangis yang membuatnya sulit menjelaskan keseluruhan.


"Sudah Aris. Jangan bicara terus. Sini mana yang sakit? Biar kakak kompres bagian sakitnya?" Meski Tio membujuk, Arisa menggeleng dan memilih untuk terus memeluk Tio dengan erat.


"Tolong jangan pergi kak. Aris tak mau sendirian." Lirihnya semakin erat memeluk Tio.


"Iya. Kakak di sini. Kau jangan khawatir."


Setelahnya, Bi Ina berlalu karena harus melanjutkan pekerjaannya di dapur. Melihat Arisa yang tak ingin lepas darinya, Tio hanya bisa pasrah dan ikut berbaring dengan Arisa. Malam semakin larut, orang tuanya dan Raisa belum terdengar pulang. Ketika Tio menoleh pada Arisa, ia melihatnya sudah terlelap memeluk lengannya dengan erat. Namun karena sudah lelap masuk ke dalam mimpi, pegangannya kian terlepas dan Tio enggan untuk meninggalkan Arisa sendirian.


. Tanpa ada yang menyadari, akhirnya Raisa dan orang tuanya pulang tepat ketika jam sudah menunjukkan tengah malam. Raisa bergegas ke kamar Arisa dan meminta maaf karena sudah membuat ibunya memarahi Arisa. Ketika membuka pintu, ia membeku mendapati kakak beradik yang tengah tertidur pulas dan saling berpelukan. Pemandangan itu yang sangat ingin ia rasakan bersama kakak laki-lakinya. Raisa kembali menutup pintu dengan menangis tanpa suara dan kembali ke kamarnya.


Yugito yang melihat Raisa bersikap demikian, ia merasa penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi di dalam kamar Arisa. Saat Yugito membuka mata, reaksinya berbeda dengan Raisa. Ia terlihat sendu saat mendapati kebersamaan Arisa dan Tio. Namun ia pun merasa lega saat Tio lebih memilih menemani Arisa dari pada Raisa. Setidaknya ada penggantinya untuk sekedar menenangkan, dan kehadiran Tio di sisi Arisa terasa menggantikan perannya sebagai ayah.


. Paginya, karena hari Senin, Arisa bergegas dari pagi dan meminta Tio untuk mengantarkannya. Saat Arisa turun, ia berpapasan dengan Raisa yang kebetulan keluar dari kamarnya. Dan tak seperti biasa, Arisa menjadi acuh bahkan ia memalingkan wajahnya dari Raisa. Karena merasa bersalah, Raisa mengejar Arisa sampai di ujung tangga.

__ADS_1


"Aris tunggu." Raisa memanggil seraya menarik tangan Arisa yang terluka sehingga lukanya kembali berdarah. Tio menepis kasar tangan Raisa.


-bersambung


__ADS_2