
. Setelah Tio mengantarkan Diana pulang, ia segera membawa Arisa ke apartemennya. Ia merasa tenang karena barang-barang Arisa masih ada di sana. Ia benar-benar kecewa untuk kesekian kalinya pada Ayah dan Ibunya. Hatinya sangat hancur melihat mereka menampar Arisa yang sebenarnya mengharapkan sebuah perhatian dari mereka. Dan Arisa menghabiskan waktu di luar pun hanya untuk menghibur dirinya sendiri.
Tio menyelimuti Arisa yang kini terbaring di tempat tidur, ia tak bisa menenangkan dirinya melihat adiknya begitu terpuruk dan masih menangis dalam tidurnya. Jangankan Arisa yang merupakan anak perempuan dengan hati yang mudah tersinggung, ia sendiri saja sebagai laki-laki pun merasakan sakitnya mendengar apa yang terlontar dari mulut orang tuanya. Tio mengelus kepala Arisa agar tenang dan tak lagi menangis dalam tidurnya.
. Di kediaman Putra, Rahma tak lagi bisa menahan tangisnya menyaksikan Tio begitu kecewa terhadapnya. Terlihat jelas dari raut wajah dan amarahnya, putra sulungnya itu benar-benar pergi meninggalkannya. Ia mengingat kembali raut wajah Arisa yang semula begitu bahagia ketika turun dari mobil, seketika berubah saat ia tampar dengan keras. Rasa sakit di hatinya mulai menyesakkan dadanya, sehingga ia berkali-kali terbatuk dengan tangis yang sudah semakin menjadi. Ia merasa ingin memberikan perhatian lebih pada Arisa, namun kenyataannya ia selalu beralih memperhatikan putri pertamanya karena ketakutan Raisa akan kembali mengidap penyakit yang mematikan.
. Esoknya, Tio yang tidur di kamarnya, segera membangunkan Arisa untuk sarapan. Ia membuka pintu kamar yang di gunakan adiknya dan tersenyum getir melihat Arisa yang masih terlelap. Terlihat alisnya berkerut sehingga Tio mengusap bagian itu dengan gemas.
"Aris. Ayo bangun! Kita sarapan." Tio membangunkan Arisa dengan menepuk pipinya dan menyingkapkan selimut agar Arisa segera terbangun. Arisa perlahan meraih kepalanya dengan meringis, lalu ia bangkit dan terduduk menghadap Tio.
"Kepala Aris sakit kak." Ucapnya sedikit merengek.
"Kakak ada obat sakit kepala. Tapi harus makan dulu." Namun Arisa menggeleng dan ia kembali berbaring membenamkan wajahnya di bantal.
Tiba-tiba, Arisa terbangun. Dan benar saja, ada bercak merah di atas bantal tepat dimana ia membenamkan wajahnya. Segera Arisa meraih hidungnya untuk memastikan, dan lagi-lagi dugaannya benar. Ia mimisan tiba-tiba sehingga mengharuskannya bangun sekarang juga. Baru beberapa langkah, Arisa terhuyung dan ia tak bisa menyeimbangkan langkahnya karena kepalanya yang semakin berputar.
"Aris!" Pekiknya lalu meraih Arisa yang tergeletak dengan darah mimisan yang membuatnya begitu terkejut. Tio yang tak langsung membawa Arisa ke dokter, ia memilih untuk membersihkan darahnya dan menunggu Arisa untuk bangun.
__ADS_1
Setelah menunggu lama, akhirnya Arisa membuka matanya dan ia kembali meraih kepala yang terus berputar. Tio semakin khawatir melihat wajah Arisa yang kian memucat.
"Kamu sakit lagi?" Bukannya mengaku, Arisa malah menggeleng menanggapi pertanyaan Tio. "Jangan bohong Aris. Kalau sakit, kakak akan panggilkan dokter." Tutur Tio selanjutnya.
"Tidak kak. Aris tidak apa-apa. Kakak mau kerja kan? Aris mau tidur saja."
"Tidak Aris. Kakak tak akan pergi kalau kamu tidak di periksa. Kakak khawatir nanti kau ada apa-apa saat kakak tak ada."
"Aris benar-benar tak apa-apa kak. Serius!"
"Menurut pada kakak. Kalau tidak, kakak akan marah padamu."
"Setelah memastikan kau baik-baik saja, kakak akan berangkat ke kantor. asal kau mau di periksa dulu ya!" Kali ini, akhirnya Arisa mengangguk mengiyakan permintaan Tio. Tio segera memanggil dokter dari rumah sakit terdekat untuk memeriksa kondisi Arisa.
. "Adik anda terkena gejala demam berdarah. Saya sarankan agar adik anda harus di rawat di rumah sakit. Dan saya akan menanganinya di sana." Tutur dokter setelah memeriksa keadaan Arisa yang sudah semakin tak berdaya.
"Demam berdarah dok? Kenapa bisa? Aris!" Lagi-lagi Arisa menggeleng menanggapi lirikan Tio yang begitu sayu.
__ADS_1
"Nona harus segera di tangani tuan."
"Aris tidak mau ke rumah sakit." Lirih Arisa memalingkan wajahnya dengan air mata yang mengalir dari ujung matanya.
"Tapi kamu harus di rawat. Demam berdarah itu bukan penyakit sepele Aris. Kau harus dengarkan dokter." Tio mencoba menasehati agar Arisa mau mengerti dan menurut untuk di rawat.
"Boleh tidak kalau di rawatnya di sini? Aris tidak mau kemana-mana dok. Kepala Aris pusing." Ucapnya memohon pada dokter dengan wajah harapnya. Dokter yang merasa iba pun akhirnya mengizinkan Arisa untuk di rawat di apartemen saja. Dan untuk proses pemeriksaan, kemungkinan dokter akan ke sana setiap pemeriksaan dan waktu minun obat pasien.
Arisa meringis saat merasakan jarum menancap di tangan kanannya dan ia hanya memejamkan matanya merasakan rasa sakit di kepalanya.
Menjelang siang, Yugito baru saja memasuki ruangan, lalu ia di hadapkan dengan berita ketiadaan Tio hari ini. Beberapa pimpinan departemen yang biasanya meeting di jam 9, kini sudah lewat waktu dan Tio tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Yugito menghela nafas dalam sesaat, kemudian ia memasuki ruang meeting beserta sekertarisnya.
"Tio sedang ada urusan. Maaf sudah membuat kalian menunggu." Ujar Yugito memulai meeting yang seharusnya sudah berakhir. Ia tak menyalahkan ketidak hadiran Tio hari ini, sebab ia berpikir bahwa mungkin Tio merajuk karena kejadian semalam.
Karena Arisa yang sakit, Tio bertanggung jawab memberikan informasi pada pihak sekolah jika adiknya tidak bisa masuk. Meski pembelajaran sudah selesai, namun ada beberapa siswa yang selalu datang untuk sekedar daftar hadir. Reski dan Naufal yang kebetulan masuk sekolah pun mewakili nama Arisa untuk dinyatakan sakit di daftar kehadiran absensi nya.
. Hari berganti, dan Tio belum juga masuk kerja. Yugito mencari tahu apakah Tio kabur membawa Arisa atau hanya mogok bekerja saja karena masih marah padanya. Namun, setiap laporan yang ia terima, Tio hanya berdiam diri di apartemennya dan sesekali keluar hanya untuk belanja di mini market terdekat. Terkadang, Tio berbelanja ke swalayan membeli beberapa bahan makanan untuk Arisa yang tengah di infus di apartemennya. Yugito masih membiarkan Tio dan berpikir mungkin hanya 2 hari saja Tio tidak masuk kerja. Namun ternyata, esoknya pun Tio tak lagi datang ke kantor. Hal ini membuat Yugito sedikit kesal. Ia berpikir mengapa hanya masalah kemarin, Tio sampai tak masuk kantor.
__ADS_1
Di apartemennya, Tio yang baru selesai memasak untuk Arisa makan sebelum minum obat, ia menatap nanar adiknya dan tak di sadari, air matanya meluruh membasahi pipinya.
-bersambung