
. Setelah mereka merasa kondisi Rama sudah lebih baik, mereka kembali ke area acara. Sepanjang waktu, Rama mencoba menahan rasa sakit di ulu hatinya, namun semakin lama, ia sudah tak bisa lagi bertahan. Rama diam-diam pergi dengan ibunya menjauhi keramaian di acara itu. Arisa yang terlalu menikmati kebersamaannya dengan Tio, ia tak menyadari kepergian Rama beserta ibunya.
Sampai acara sudah hampir selesai, Arisa mulai menyadari ketiadaan Rama dan Diah. Meski khawatir, namun ia belum bisa pulang sebelum acara selesai. Sebab, ia sudah berjanji pada teman-teman perempuannya bahwa ia akan ikut menjalani foto bersama dengan mereka.
Singkat cerita, Diah yang mulai menyadari ada kejanggalan pada putra ke duanya, ia berniat untuk menanyai Rama agar rasa penasaran dan rasa janggalnya bisa terjawab.
"Rama. Jujur sama Ibu! Kamu sakit apa?" Mendengar pertanyaan Ibunya yang tiba-tiba, Rama membisu, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Untuk menutupi kebenarannya, Rama tersenyum dan sesekali tertawa dengan gugup seakan meyakinkan pada ibunya bahwa ia baik-baik saja dan tidak mengidap penyakit apapun.
"Kata Abang juga kan Rama sakit lambung Bu." Jawabnya benar-benar mengelak dan tak ingin Ibunya tahu yang sebenarnya.
"Bohong! Ibu tahu kamu bohong, Rama. Sekarang jujur pada Ibu! Kamu sakit apa?" Dengan penuh penegasan, Diah mengulang pertanyaan dan menekan agar Rama jujur saat ini juga.
"Rama tidak sakit apa-apa Bu! Serius! Kalau Ibu ragu dan tak percaya, Ibu bisa tanya Bang Dimas." Mendengar usulan Rama tersebut, Diah segera menghampiri Dimas di kamarnya dan membawanya ke hadapan Rama.
"Dimas. Kamu dan Rama menyembunyikan sesuatu dari Ibu kan?" Dengan lirih, Diah bertanya dan menahan air matanya agar tidak berderai. Dimas menoleh sesaat pada Rama yang memberi kode agar ia tak mengatakan kebenarannya pada Diah. Saat Dimas beralih menatap Ibunya, matanya ikut berkaca-kaca mendapati air mata Diah terus berderai tanpa henti.
"Ali...." jawabannya terjeda karena air matanya berderai menunjukkan bahwa memang ada yang ia sembunyikan di belakang Diah.
"Dimas. Katakan saja nak. Katakan yang sebenarnya terjadi pada adikmu!"
"Bu! Rama benar-benar tak sakit apa-apa." Rama mencoba menghentikan usaha Diah untuk mencari tahu tentang penyakitnya.
__ADS_1
"Ali... kan--"
"Abang!" Teriak Rama menyela cepat agar Dimas tidak meneruskan jawabannya. Hal itu membuat Diah semakin yakin bahwa Rama tengah menyembunyikan penyakitnya.
"Rama diam!" Teriak Diah yang membalas teriakan Rama pada kakaknya. "Teruskan nak." Ucap Diah beralih pada Dimas dengan suara yang pelan dan penuh harap.
"Dimas takut Bu. Dimas belum siap kalau melihat Ibu harus mendengar faktanya."
"Abang berhenti!" Lagi-lagi Rama menyela dengan berteriak.
"Rama!" Kembali Diah berteriak karena merasa Rama sudah kelewatan.
"Ali kanker Bu! Kanker hati stadium akhir. Umurnya tidak sampai 3 bulan lagi." Selepas marah yang meluap, Diah terdiam seketika. Seperti sambaran petir yang memekik telinga, kebenaran yang di katakan Dimas cukup membuatnya membisu. Tubuhnya mematung bagaikan sebuah batu yang tak bisa bergerak. Ia perlahan melirik Rama yang memalingkan wajahnya dengan air mata yang berderai. Diah menggeleng tak percaya akan kenyataan yang ia terima.
"Dimas? Kamu tahu bagaimana menyembuhkan adikmu?" Tanya Diah mendadak bersemangat dengan meraih bahu Dimas dengan tatapan penuh harap.
"Harus operasi Bu. Cangkok hati. Dan biayanya lebih dari 200 juta Bu. Gaji Dimas tak akan sampai kalau waktu 3 bulan lagi." Mendengar jawaban Dimas tersebut, Diah kembali melemah. Ia terduduk lesu di lantai dengan bersandar pada sofa di belakangnya.
"Rama anak Ibu... kenapa kau tak bilang?" Diah memeluk erat putranya dengan penuh rasa sesal karena tak menyadari lebih awal.
"Rama tak mau Ibu khawatir."
__ADS_1
"Terus kamu akan tinggalkan Ibu tiba-tiba? Kamu juga Dimas. Kau tahu Rama sakit, tapi kau tak memberitahu Ibu." Diah beralih memarahi Dimas di sampingnya.
"Ali yang melarang Dimas Bu. Sebenarnya Dimas sudah mau memberitahu Ibu."
"Tapi kau malah menurut pada Rama kan? Kalau sudah begini, kau pikir akan kembali seperti dulu hanya karena tidak memberitahu Ibu? Kamu ini jangan mentang-mentang dokter, berpikir akan bisa menyembuhkan pasien apapun penyakitnya. Tapi tidak semua penyakit akan mudah di sembuhkan. Kalau kau tak bisa melakukannya, 2 hal yang harus kau lakukan. Memberikan tanggung jawabmu pada orang lain yang mampu, dan memberitahu keluarganya apa yang terjadi."
"Maafkan Dimas Bu. Dimas sudah berusaha menyembuhkan Ali. Tapi Dimas tak bisa membuatnya sembuh. Dimas malah membuatnya semakin parah."
"Cukup ayahmu saja yang pergi. Kau jangan ikut meninggalkan Ibu nak. Kau boleh pergi jika Ibu sudah pergi lebih dulu." Bukan hanya Diah, kini Rama dan Dimas menangis dengan suara yang kian keras. Siapa sangka, Gilang yang mendengar pembicaraan di luar kamarnya pun ikut menangis dengan fakta bahwa kakaknya mengidap penyakit mematikan.
"Abang kanker? Kurang dari 3 bulan?.... arghhh jangan tinggalkan Gilang Bang. Gilang masih ingin bersama Abang." Batin Gilang memeluk lututnya dan menunduk lesu seraya terus menangisi kenyataan yang bahkan belum bisa ia percaya.
Malamnya, Gilang yang mengetahui secara diam-diam apa yang di alami Rama, kini terlihat jelas perbedaan sikapnya. Yang biasanya selalu mencari masalah, sekarang Gilang lebih banyak diam dan menuruti setiap keinginan Rama. Termasuk mengalah dengan saluran TV yang di inginkan oleh Rama, dan kali ini Gilang tak protes atau marah padanya. Gilang dengan santai menonton apa yang ingin di to ton oleh Rama meski tatapannya begitu kosong. Dimas segera mengusap kasar wajah Gilang dan menyuruhnya untuk berkedip.
"Tak baik malam-malam melamun begitu." Tegur Dimas membuat Gilang tersenyum ke arahnya.
"Bang Rama mau minum? Gilang mau ke dapur soalnya." Gilang beranjak dengan menunggu jawaban dari Rama, barang kali kakaknya itu ingin sesuatu untuk di ambilkan.
"Tidak Lang." Hanya begitu tanggapan Rama. Ia merasa heran karena tak biasanya Gilang bersikap demikian padanya.
"Apa Gilang tahu aku sudah akan mati?" Batin Rama mencoba menebak penyebab perubahan sikap Gilang yang terasa berubah tiba-tiba.
__ADS_1
"Bang. Jangan sampai Aris tahu ya!" Lirih Rama pada Dimas di belakangnya.
Bersambung