7 Purnama

7 Purnama
Bab 43


__ADS_3

. Malam semakin larut, tapi belum ada tanda-tanda Arisa beserta yang lainnya pulang meski acara sudah berlangsung. Raisa terlihat bahagia di depan semua orang meski sebenarnya hatinya merasa tersayat dengan ketidak hadiran Arisa di acara mereka berdua. Rahma melihat kegundahan putrinya, dan ia hanya bisa menyemangati lewat sentuhan tangannya yang membelai rambut Raisa dengan lembut. Raisa yang menyadari arti sentuhan dari ibunya pun tak kuasa menahan tangis. Ia memalingkan wajahnya dan berharap acara ini cepat selesai.


Saat acara sudah hampir selesai, terlihat sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Yugito. Memanfaatkan momen Arisa yang turun dari mobil dan menarik perhatian semua tamu, Raisa memilih meninggalkan tempatnya. Ia berlari memasuki kamar dengan menangis dan di ikuti oleh Rahma yang memahami perasaan Raisa.


"Waktu yang tepat." Ucap Arisa dengan suara pelan. Senyumnya begitu mengembang karena belum sampai 5 menit ia tiba di rumah, acara sudah di akhiri atas permintaan Yugito. Setelah acara benar-benar selesai, Arisa mengajak Rama untuk masuk ke rumah dan setidaknya ia membuatkan minum untuk pacarnya itu.


"Aris. Sepertinya aku harus segera pulang. Sudah larut malam. Ibu pasti cemas karena aku tak kunjung pulang." Mendengar Rama yang berpamitan, Arisa mendadak sendu. Ia menunduk karena sepanjang hari ini Rama tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Padahal kebanyakan pasangan yang berpacaran, ungkapan itu pasti dikatakan di awal waktu. Di tengah kegundahannya, Arisa tertegun saat Rama tiba-tiba meraih rambutnya lalu mencium dengan dalam pada rambut hitamnya yang terurai indah.


"Selamat ulang tahun." Ucapan itu berhasil membuat pipi Arisa merona. Jantungnya berdegup kencang mendapati kecupan dari Rama meski hanya pada rambut.


"Maaf aku mengatakannya terlambat. Tapi aku sangat suka mengucapkan selamat pada seseorang di akhir waktu." Ucapnya kemudian. Meski demikian, Arisa tak merasa keberatan, ia tersenyum penuh kelegaan karena ternyata Rama tidak melupakan hari istimewanya. Ia benar-benar merasa bahwa ulang tahunnya saat ini adalah ulang tahun yang paling istimewa.


Setelahnya, Rama pulang dengan di antar oleh Juna atas perintah dari Tio. Sedangkan Arisa memasuki rumah dan menemui ayahnya yang sudah berada di ruang tengah. Ia ingin meminta maaf pada Yugito karena tak pulang lebih awal. Dan ia berniat menjelaskan alasannya kenapa ia kembali ke rumah saat acara sudah selesai.

__ADS_1


Belum sempat mengucapkan sepatah kata, 'plak' Arisa terdiam seketika dan wajahnya berpaling bersamaan dengan suara nyaring yang terdengar di seluruh ruangan. Tio yang tengah berada di ruang tamu pun segera mencari tahu ada apa di ruang tengah. Begitupun dengan Diana yang ikut penasaran apa yang terjadi. Tio terbelalak melihat Arisa yang tengah meraih pipinya dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Ia lebih terkejut saat melihat wajah merah ayahnya yang sedari tadi menahan amarah pada Arisa.


"Kenapa kau tak kembali di jam yang sudah ayah tentukan?" Arisa masih terdiam, ia mendadak tak tahu apa yang harus di jelaskan pada ayahnya mengapa ia pulang terlambat. Terlihat Rahma turun dari kamar Raisa, lalu menghampiri Arisa yang mendongak menatapnya dengan tatapan harap agar ibunya akan membelanya. Namun siapa sangka, 'plak' kembali terdengar suara yang sangat nyaring ketika Rahma begitu keras menampar Arisa di pipi yang satunya.


"Mama!" Teriak Tio yang langsung berlari meraih Arisa yang mulai menangis tak bersuara. "Apa yang kalian lakukan?" Teriaknya lagi dengan tanpa memandang siapa yang ia marahi. Tio seakan tak peduli pada status Ayah dan Ibunya, ia sudah terlanjur marah melihat adik kesayangannya di berikan tamparan keras tepat di hari ulang tahunnya.


"Apa kau puas Aris? Kau puas sekarang membiarkan Rais merayakan ulang tahunnya hanya sendirian? Apa kau tak berpikir bahwa Rais sangat mengharapkan kau ada di sampingnya untuk meniup lilin bersama-sama? Dimana pikiranmu Aris? Dimana hatimu?" Kini giliran Rahma yang berteriak memekik telinga. Diana memilih untuk keluar, ia tak ingin menyaksikan masalah keluarga yang mungkin akan menyeretnya ke dalam masalah jika ia masih diam di ruang tamu.


"Ayah dan Mama menyalahkan ku? ayah dan Mama hanya mengikuti apa mau Rais. Tapi kalian tak pernah mendengarkan apa mau Aris. Kapan? Kapan ayah mewujudkan keinginan Aris?" Dan, Arisa pun tak bisa menahan amarahnya sehingga ia ikut berteriak memekik telinga. Kini tangisnya menjadi pecah setelah ia tahan agar tak bersuara.


"Apa? Kamu mau apa? Kamu tak pernah mengatakan apapun, bagaimana Ayah dan Mama akan mewujudkan keinginanmu. Kamu dan Rais itu sama-sama anak Mama. Tapi kenapa kamu tak mengerti dengan keadaannya?"


"Sampai kapan Ma? Sampai kapan Aris harus mengerti sedangkan semua yang Mama wujudkan hanya keinginan Rais saja. Padahal Aris tak ingin apa-apa selain perhatian Mama dan Ayah." Ibu dan anak itu terus beradu argumen dengan persepsi mereka masing-masing. Tio yang sudah tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa ikut menangis sebab isi hatinya tak akan pernah bisa ia ungkapkan lagi. Semua akan percuma meski ia menjelaskan dengan air mata darah pun, orang tuanya akan tetap membela Raisa.

__ADS_1


"Ayo Aris. Sebaiknya kita pergi saja. Percuma kau mengungkapkan semua isi hatimu, Ayah dan Mama tak akan pernah mendengarkan kita." Tio segera menarik tangan Arisa dan ia bergegas meninggalkan rumah tanpa mempedulikan panggilan Ayah dan Ibunya.


"Kalau kalian pergi, kalian bukan lagi anak Mama."


'Deg'


Arisa dan Tio mematung seketika, mereka benar-benar tak menyangka Ibunya bisa berkata demikian. Meski begitu, Tio tetap memasuki mobil tanpa mendengar ancaman Ibunya.


"Sebaiknya Mama urus saja anak kesayangan mama! Aku dan Aris sudah terbiasa tanpa kasih sayang Mama." Balas Tio kemudian berlalu meninggalkan kediaman Ayahnya dengan perasaan yang berkecamuk. Arisa yang berada di pelukan Diana pun hanya bisa menangis pilu mengingat betapa malangnya jalan hidup yang harus ia tempuh. Keluarga yang utuh, namun terasa seperti keluarga yang hancur. Ia punya rumah, namun tak bisa di jadikan tempat untuk pulang.


Diana ikut merasa sedih, apa lagi melihat bekas tamparan yang jelas di pipi Arisa. Ia pikir keluarga Putra adalah keluarga yang harmonis. Namun ternyata, jauh dari perkiraan. Siapa sangka, keluarga Putra begitu kacau jika di lihat dari dalam. Apa lagi dugaan Arisa yang paling bahagia, ternyata lebih malang dari yang mereka kira.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2