7 Purnama

7 Purnama
Bab 54


__ADS_3

Arisa menepikan mobilnya di kantor Artaris dan memberikan kuncinya pada petugas yang berjaga. Ia segera berlari ke pinggir jalan untuk menghentikan angkutan umum ataupun taksi. Saat melihat sebuah bis, ia segera menghentikannya dan buru-buru memasuki bis takut jika Ayahnya menyusul. Benar saja, tepat saat bis kembali melaju, Tio yang mengikuti arah GPS mobil adiknya pun langsung saja masuk ke area kantor. Dan saat itu juga, ia melihat mobil Arisa terparkir di dekat pos keamanan sehingga ia menghampiri dan menanyakan keberadaan Arisa.


"Maaf Tuan. Tapi Nona sudah pergi lagi setelah memberikan kunci mobilnya. Tadi kalau tidak salah, nona naik taksi Tuan. Karena tak lama Nona ke tepi jalan, ada sebuah taksi yang berhenti." Jawab security yang menebak meski sebenarnya ia tak memperhatikan apakah taksi yang terhenti itu adalah tumpangan Nona mudanya atau bukan. Dan sesegera mungkin Tio kembali melaju menembus jalanan berharap ia masih sempat mengejar adiknya. Tio akui, pelarian Arisa sangatlah rapi. Ia selalu menyembunyikan jejaknya bagaimanapun caranya. Ia mencoba menghubungi Arisa, namun ponselnya tidak bisa di hubungi. Tio menyalip beberapa taksi, namun ia tak menemukan Arisa di dalamnya.


Di samping itu, Arisa memasuki kawasan kost-an elit yang berada di dekat kampus. Nasib baik berpihak padanya, meski tidak sebesar kamarnya, namun tempat ini cukup untuk dirinya tinggal sendirian. Bahkan semua alat rumah tangga sudah tersedia, hanya saja harga yang harus di bayarnya cukup mahal baginya yang hanya membawa uang cash beberapa juta saja. Disini masih banyak kamar yang kosong dikarenakan perihal harga yang terlalu tinggi. Sebab, di kampus ini kebanyakan bukan anak dari keluarga berada seperti Arisa.


Ia menatap ponselnya dengan sangat dalam. Ia berpikir ulang untuk menghidupkannya saat ini, karena keberadaannya akan diketahui oleh Tio yang sangat terampil dalam mencari jejak seseorang hanya dari letak ponselnya yang masih aktif. Arisa berniat mencari pekerjaan setelah situasi di rasa aman. Ia mendatangi Ibu kost yang tak jauh dari kamarnya.


"Jika ada yang mencari saya, katakan saja ibu tak tahu. Tolong saya ya bu! Saya kabur dari rumah, dan tak ingin pulang lagi." Ucapnya dengan memohon pada Ibu kost.


"Tapi bagaimana kalau nanti kamu di temukan dan keluargamu menyalahkan saya?"


"Untuk itu, katakan saja ibu tidak kenal pada saya karena saya akan memakai masker setiap pulang atau berangkat."


"Baiklah." Mendengar jawaban Ibu kost tersebut, Arisa mengembangkan senyumnya lalu mencium tangan Ibu kost dengan girang. Ia kembali ke kamarnya dan mengunci pintu.


Esoknya, Tio sudah putus asa karena tak menemukan keberadaan Arisa dimanapun. Ia mendatangi rumah Seno, dan tak mendapatkan hasil. Begitupun ke rumah Rama yang tak mendapati Arisa di sana. Tio memutuskan untuk mencari Arisa sendiri tanpa bantuan orang lain. Ia mencoba melacak ponsel Arisa, namun ponselnya masih belum aktif.


Sementara itu, Arisa yang berjalan-jalan di pusat pembelanjaan pun mencoba mencari tahu apakah ada gerai yang tengah membutuhkan pegawai atau tidak. Beruntungnya, ia mendapatkan kesempatan di sebuah gerai fashion store dan besok pagi ia sudah bisa bekerja.


Meski ia sudah bisa bekerja, namun untuk makan malam ini, ia tak tahu harus memakan apa. Dari kemarin, ia belum memakan apapun untuk sekedar mengganjal perutnya. Arisa memutuskan untuk membeli mie ke mini market terdekat agar perutnya terisi. Saat di ujung gang, ia melihat bahwa orang yang ada di depan mini market adalah Juna yang mungkin tengah mencarinya. Arisa yang takut Juna melihatnya pun segera bersembunyi di tempat gelap. Ia berharap Juna segera pergi dari sana agar ia bisa bersembunyi dengan tenang. Tanpa di duga, Arisa melihat sosok yang tak asing kini tengah berbincang dengan Juna. Ternyata Juna menanyakan sesuatu dengan memperlihatkan fotonya pada Bayu.


"Aku sempat bertemu dengannya kemarin. Memangnya kenapa?" Bayu tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya dengan apa yang terjadi pada gadis yang sudah memikat hatinya meski hanya karena pertemuan sekali saja.

__ADS_1


"Dia hilang. Kami sedang mencarinya. Kalau kau menemukannya, cepat beritahu kami."


"Baiklah." Setelah mendapati tanggapan meyakinkan dari Bayu, Juna berlalu dan melanjutkan pencariannya. Dan saat itu juga, Arisa keluar hendak kembali ke kost-annya. Bayu terbelalak, ia langsung mengejar sosok yang tengah dicari oleh beberapa orang itu.


"Aris!" Panggilnya ketika mereka sudah dekat. Arisa terhenti dan menoleh sesaat lalu berlari sekencang mungkin. Namun karena kecepatan Bayu lebih mendominasi, Bayu dengan mudah bisa menyusul Arisa dan meraih tangannya sehingga Arisa terhenti.


"Aris! Tunggu. Kau yang di cari oleh mereka kan?" Seketika itu juga, Arisa terhenyak ia langsung membalas genggaman Bayu dengan menatap penuh harap.


"Kak. Tolong jangan beritahu mereka Aris ada dimana. Aris... Aris.... Aris korban penculikan merek kak. Beruntung Aris bisa kabur. Tolong ya... jangan beritahu siapapun kakak menemukan Aris."


"Kenapa kau tidak pulang saja ke rumah? Pasti di rumahmu aman. Kakak antarkan ya? Kebetulan kakak bawa mobil, jadi kau bisa bersembunyi."


"Tidak kak. Jangan. Justru itu suruhan Ayah."


"Begini kak. Aris selalu di siksa di rumah, dan Aris tidak mau lagi kembali ke rumah. Aris takut kak. Tolong ya! Pliissss Aris akan lakukan apapun untuk kakak asal kakak tidak memberitahu siapapun tentang Aris."


"Apapun?"


"Apapun kak."


"Kalau begitu, aku mau kamu Aris." Seketika Arisa terhenyak, tangisnya terhenti, dan raut wajahnya semakin panik.


"Maaf kak. Aris memilih mati saja." Mendengar jawaban Arisa tersebut, Bayu hanya tertawa menanggapinya. Jujur, baginya Arisa sangatlah menggemaskan.

__ADS_1


"Aku bercanda Aris. Jadi pacar boleh tidak?".


"Aris sudah punya pacar kak."


"Katanya boleh minta apapun."


"Tapi tidak yang itu. Aris akan beri kakak uang nanti."


"Berapa?"


"Kakak mau berapa?"


"2M?"


"Kalau begitu, silahkan kakak beritahu Ayah Aris saja." Ucap Arisa menjadi dingin dan berbalik hendak meninggalkan Bayu. Sesegera mungkin Bayu kembali meraih tangan Arisa dan tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini.


"Ehhh tidak Aris. Hanya bercanda. Aku tidak mau apa-apa. Tapi, boleh minta nomor ponselmu kan?" Arisa terdiam, meski tangannya di genggam seorang laki-laki selain Rama, ia tak memikirkannya, yang ia pikirkan sekarang hanyalah nasib ponselnya yang belum juga ia aktifkan.


"Ponsel Aris mati kak. Bagaimana Aris memberi nomor Aris pada kakak?"


"Emmm ponselmu mati? Pakai ponsel kakak saja bagaimana? Kebetulan kakak punya lebih dari satu ponsel." Mendengar tawaran Bayu, Arisa mencoba mempertimbangkan sebelum akhirnya ia mengangguk setuju.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2