
. Paginya, Arisa yang masih memeluk lengan Tio pun mulai mengerjapkan mata lalu melirik ke arah jendela. Arisa bangkit dari tidurnya kemudian ia beralih ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya, ia meraih ponselnya dengan daya yang sudah terisi penuh. Baru ia duduk di meja rias, ia mendapatkan sebuah notifikasi dari Rama.
[Aku sudah di depan rumahmu.]
Arisa terbelalak, ia kemudian berlari keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan tergesa. Benar saja, Arisa mendapati Rama tengah bermain catur dengan Mang Ujang di teras rumah.
"Rama? Sejak kapan?" Tanya Arisa yang masih tak percaya dengan keberadaan Rama.
"Sejak kapan ya Mang?" Rama beralih bertanya pada Mang Ujang dengan wajah polosnya.
"Sekitar satu jam." Jawab Mang Ujang pun mengingat waktu Rama berada di sana.
"Serius? Kenapa tidak membangunkanku?"
"Kata Juna, jangan mengganggu tidur non Aris dan Mas Tio." Jawab Mang Ujang berhasil meyakinkan Arisa bahwa tak ada yang perlu di salahkan.
"Hemm ngomong-ngomong apa hari ini kau ada waktu?" Tanya Rama beralih menghampiri Arisa.
"Kalau kau juga tidak sekolah, sepertinya aku luang. Kenapa?"
"Aku mau mengajakmu jalan-jalan."
"Sekarang?" Dengan sedikit keraguan, Rama m3ngangguk menanggapi pertanyaan Arisa.
"Tapi aku belum bersiap. Apa kau tak keberatan untuk menunggu sebentar lagi?" Tanya Arisa selanjutnya.
"Tak apa. Aku tunggu di sini."
"Kenapa tidak di dalam? Aku buatkan teh atau kopi."
"Tak apa Aris. Di sini lebih nyaman dengan Mang Ujang. Lagi pula, kita belum selesai main caturnya."
"Ya sudah. Tunggu ya!" Setelah mengatakan itu, Arisa bergegas kembali ke kamarnya dan bersiap untuk pergi dengan Rama meski ia tak tahu akan pergi kemana. Melihat adiknya yang tengah berias, Tio menatapnya dari tempat tidur dengan wajah yang masih mengantuk.
"Ehhh adiknya kakak mau kemana?"
"Mau jalan-jalan lah..."
"Dengan Rama?"
"Memangnya dengan siapa lagi?"
"Ya.... siapa tahu dengan yang lain."
__ADS_1
"Tak ada."
"Masa?"
"Serius! Hanya Rama saja."
"Hemmm setia...."
"Iya lah... kita itu harus setia."
"Kakak juga setia."
"Setiap tikungan ada"
"Ehh tidak Aris. Kau itu selalu memfitnah kakak."
"Aku mengatakan kenyataan saja."
"Tapi itu tidak benar." Mendengar kakaknya yang mulai kesal, Arisa tertawa terbahak-bahak sehingga Tio hanya tersenyum menanggapinya.
"Kakak tidak bekerja?" Tanya Arisa kemudian. Tio malah berguling ke sisi lain lalu memeluk guling dan menarik selimutnya kembali. Meski tak di jawab pun, Arisa sudah tahu jawabannya.
"Kakak minta cuti pada ayah. Jadi hari ini tidak perlu bangun pagi." Jawab Tio.
. Setelah bersiap, Arisa meraih tas kecilnya lalu berpamitan pada Tio yang melanjutkan tidurnya meski hari sudah siang. Saat di tangga, Arisa bersamaan dengan Raisa menuruni tangga. Namun keduanya tak ada yang bicara sampai di lantai bawah. Arisa segera menemui Rama yang berada di luar, sedangkan Raisa berbelok ke ruang kerja ayahnya.
"Wah... non Aris sudah cantik." Puji Mang Ujang dengan menatap kagum pada nona kecilnya.
"Terima kasih Mang." Balas Arisa dengan tersenyum manis pada supir pribadi ayahnya.
"Mang. Rama pergi dulu ya!" Rama beranjak dan berpamitan pada Mang Ujang dengan sopan.
"Iya Den. Hati-hati. Jangan ngebut bawa mobilnya."
"Kita pakai kendaraan umum Mang." Jawab Rama terdengar santai namun berhasil membuat Arisa dan Mang Ujang terheran. Meski demikian, Arisa terlihat antusias dan setuju dengan Rama. Kapan lagi ia akan jalan-jalan pakai kendaraan umum.
Ketika keduanya sudah siap untuk berangkat, langkah mereka terhenti saat Yugito keluar dari rumah dengan mengenakan stelan yang rapi. Arida bisa menebak bahwa ayahnya akan berangkat bekerja siang ini.
"Kalian tidak sekolah?" Tanya Yugito sedikit tegas.
"Tidak ayah." Jawab Arisa singkat.
"Jangan mengesampingkan hal yang penting demi hal yang tidak penting. Mesku tidak belajar, bukankah absen masih berlaku?"
__ADS_1
"Maaf Om... tapi saya yang mengajak Aris untuk keluar hari ini." Ucap Rama berharap agar Yugito tidak memarahi Arisa.
"Rama. Saya rak yakin akan mempercayakan putri saya pada kamu kalau sekolah saja sudah kamu tinggalkan." Ujar Yugito semakin bernada menekan.
"Bukankah Rais juga tidak sekolah? Kenapa hanya menyalahkan aku dan Rama?" Arisa sudah kehilangan kesabarannya, ia mengepalkan tangan dan berbicara dengan nada sedikit membentak.
"Rais sedang sakit."
"Kalau begitu, Aris juga sedang sakit."
"Aris. Dia tidak mengada-ngada."
"Aris juga tidak mengada-ngada. Aris serius sedang sakit."
"Kamu sakit apa? Kenapa tidak bilang pada ayah?"
"Untuk apa? Ayah tak akan ada waktu untuk mengurus atau bahkan memikirkan keadaan Aris. Ayo Rama!" Setela mengatakan kalimat dan ajakan tersebut, Arisa langsung menarik tangan Rama menjauh dari ayahnya.
"Pastikan kau pulang sebelum senja." Teriak Yugito namun tidak di hiraukan oleh Arisa. Rama menoleh sesaat pada Yugito lalu ia beralih mengikuti langkah Arisa menuju gerbang depan yang lumayan menguras tenaga.
Melihat sikap Arisa, Yugito lagi-lagi harus menghela nafas berat dan ia berharap acara malam ini akan membuat Arisa bahagia. Karena besok ia akan mengajak Arisa untuk berlibur kemanapun Arisa mau.
. Yugito meminta kunci pada Mang Ujang karena ia memilih untuk berangkat seorang diri dengan alasan khawatir pada Arisa jika nanti ingin di jemput oleh Mang Ujang. Dengan menurut, Mang Ujang hanya mengiyakan perintah majikannya.
Yugito terkejut saat melihat Arisa dan Rama memasuki sebuah bis umum meninggalkan persimpangan tempat mereka menunggu kendaraan lewat. Yang membuatnya keran ialah, mengapa Arisa memilih kendaraan umum sedangkan ia sendiri punya sebuah mobil dan sudah pandai mengemudikannya.
Di dalam bis, Arisa memilih untuk berdiri dan meraih pegangan di atas kepalanya. Sangat menyenangkan, apa lagi saat ia berbagi kursi dengan lansia dan ibu hamil. Rasanya ia menjadi anak yang paling baik fi seluruh jagat raya. Rama tersenyum sepanjang jalan memperlihatkan betapa bahagianya Arisa hari ini.
"Kita mau kemana sekarang?" Tanya Arisa berhasil membuyarkan tatapan Rama darinya.
"Apa kau sudah sarapan?" Rama balik bertanya untuk memastikan Arisa sudah makan atau belum.
"Emm belum."
"May makan?"
"Makan apa?"
"Apa saja."
"Soto?"
"Boleh. Di dekat stasiun ada."
__ADS_1
"Kita mau ke stasiun?" Dan Rama hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Arisa tersebut. "Apa di stasiun itu ramai?" Tanya Arisa lagi, dan kali ini rama tertawa mendengarnya. Meski demikian, ia memaklumi karena Arisa memanglah polos dan wajar jika ia tak tahu suasana stasiun. Bagaimana tidak, Arisa selalu berada di rumah selepas pulang sekolah dan tak sekalipun ia keluar.
-bersambung