
. Menjelang malam, Arisa tak kunjung kembali ke rumah. Yugito sudah kelewat kesal menunggu putrinya yang sebentar lagi harus bersiap untuk acara mereka malam ini. Para tamu sudah mulai berdatangan, sedangkan Arisa tak sedikitpun menampakkan sehelai rambutnya. Tio memutuskan untuk menyusul Juna ke taman hiburan. Sebab seharian ini Juna tak sedikitpun memalingkan perhatiannya dari Arisa. Jika Juna masih di sana, kemungkinan adiknya pun ada di sana. Ketika Tio sudah sampai, ia segera menemui dimana Juna berada. Dengan sirat amarah, Tio hendak memarahi Juna saat itu juga.
"Dimana adikku? Kenapa kau belum membawanya pulang?" Geram Tio mencengkram kerah kemeja Juna.
"Maaf Tuan. Nona masih menikmati waktunya." Jawab Juna terlihat gugup dan panik mendapati kemarahan Tio. "Nona masih berada di dalam bianglala Tuan." Lanjut Juna membuat Tio mencari keberadaan Arisa di dalam wahana permainan yang di sebutkan Juna. Matanya terbelalak ketika melihat Arisa yang begitu girang bersama Rama, sehingga ia berpikir pantas saja Arisa belum pulang, karena memang kenyataannya di sini lebih menyenangkan dari pada di rumah. Meski demikian, ayahnya pasti marah jika ia tak membawa pulang Arisa sekarang.
Setelah menunggu sedikit lama, Arisa turun dengan tak henti memudarkan senyum dan tawanya menggandeng tangan Rama. Terlihat pula ia membeli camilan di sana dengan alasan sudah lapar. Karena tak ingin di marahi, Tio menghampiri Arisa yang tengah menyantap jajanan yang ia beli.
"Eh kak Tio. Kenapa di sini?" Tanya Arisa yang terheran mendapati kakak sulungnya sudah berada di tempat yang sama dengannya.
"Apa kau tak ada niat untuk pulang? Ini sudah malam. Bukankah ayah sudah memperingatkan mu?" Mendengar celotehan Tio, Arisa mendadak diam dan ia tak melanjutkan makannya. Ia meletakkan sisa makanannya di dekat tempatnya berdiri lalu menatap Tio dengan tajam.
"Ini malam istimewa untuk Aris. Hari nya pun istimewa. Aris tak mau seperti tahun-tahun kemarin. Kakak sendiri tahu Aris bagaimana kalau menghadiri acara ulang tahun Aris sendiri." Tio terdiam seketika, ia hanya bisa tersenyum getir merasa bahwa apa yang di katakan Arisa memanglah benar. Seharusnya ia tak perlu mengganggu kesenangan Arisa malam ini. Sebab jika bukan karena ulang tahun, Arisa tak pernah berpergian kemanapun yang ia mau. Tio merangkul pundak Arisa dan Rama lalu ia tertawa penuh rencana dan membawa kedua anak itu memasuki sebuah wahana yang menantang nyali mereka.
"Aaaa Aris tidak mau kak... Aris mau naik itu saja. Jangan kesini....." rengek Arisa meronta-ronta ingin kabur dari Tio.
__ADS_1
"Kenapa tak mau? Pasti ini seru. Ayo ke sini! Kakak temani." Tio pun tak kalah membujuk Arisa agar mau memasuki rumah hantu bersamanya. Setelah lelah membujuk dan mengiming-imingi sesuatu yang Arisa mau, akhirnya Arisa bersedia memasuki rumah hantu bersama kakak dan pacarnya. Sebelum itu, Tio menyuruh Juna untuk menjemput Diana yang sudah berada di rumahnya untuk menghadiri acara keluarga Putra untuk memperingati hari ulang tahun anak kembar Yugito.
"Aaaa kak Tio tolong." Teriak Arisa segera memeluk Tio dengan erat saat ada tangan menyentuh lengannya. "Ihhhh jauh-jauh dariku!" Teriak Arisa lagi, dan kali ini ia memukul orang yang menjadi hantu itu.
"Aw." Rintihnya membuat Arisa begitu puas.
"Makan pukulanku." Ejek Arisa segera berlalu dan menuju spot lainnya.
Di samping kesenangan Arisa dan Tio, ada seorang ayah yang mengkhawatirkan mereka dan terus menunggu kedatangan Putri bungsunya.
Sedangkan di tempat hiburan, Arisa menjerit tiada henti saat ia di kejutkan oleh beberapa makhluk menakutkan yang terus muncul di depan wajahnya.
"Rama.... tolong!!" Teriaknya lagi semakin memekik telinga. Tio dan Rama pun tak jarang berteriak karena terkejut mendapati serangan kejutan dari hantu-hantu yang ada di sana.
Rama meraih dadanya yang mulai berdenyut akibat jantungnya yang tak sinkron. Ia berkali-kali terbatuk dan sudah tak mempedulikan seramnya hantu-hantu yang menakutinya.
__ADS_1
Tio yang menyadari ada yang aneh pada Rama pun memutuskan untuk segera mengambil jalan keluar. Saat ia keluar dari rumah hantu, terlihat Diana sudah berada di tempat yang tak jauh dari mereka. Diana segera meraih Arisa yang terlihat tak kuasa untuk berdiri. Ketakutannya sendiri membuat dirinya merasa lemas. Namun perhatiannya seketika terfokus pada Rama yang terus terbatuk dan meraih dadanya. Sesegera mungkin Arisa menenangkan dan berharap bahwa Rama akan baik-baik saja. Namun Rama semakin membuat Arisa panik karena kondisinya yang kian memprihatinkan.
"Aaaa Rama.... jangan terjadi apa-apa." Rengek Arisa mulai putus asa dan ia pun mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba Rama terdiam dan membenamkan wajahnya pada tangan Tio yang sedari tadi memegangi pundaknya. Arisa yang panik pun ikut meraih pundak Rama dengan mulai kesal.
"Rama ihhh...." rengeknya lagi. Dan saat Arisa sudah putus asa, Rama tersenyum lalu menoleh pada Arisa di sampingnya.
"I Love You" ucap Rama dengan tiba-tiba. Arisa yang terkejut pun termangu dan ia kemudian memukul lengan Rama dengan keras. Tio yang sama-sama merasa di tipu pun menepuk dahi Rama dengan gemas.
"Kau ya. Jahil."
"Hehe maaf kak. Habisnya lucu lihat Aris begitu." Jawabnya dengan tanpa merasa berdosa. Arisa mengepalkan tangan lalu bersiap memukul Rama dengan kekuatan penuh. Rama yang menyadari nyawanya terancam pun segera beranjak dan berlari menjauhi Arisa. Karena terlanjur kesal, Arisa mengejar Rama dan keduanya hanya tertawa sehingga Tio merasakan sebuah kelegaan melihat adiknya bisa merasa bahagia bisa bercanda dengan Rama. Ia tak mempermasalahkan kondisi keluarga Rama yang akan bersanding dengan adiknya kelak.
"*Rama! Semoga kau yang menjadi tempat Arisa untuk pulang. Dan semoga kau juga yang akan menemani Aris dalam keadaan apapun. Aku tak akan menghalangi jalan kalian untuk bersama."
-bersambung*
__ADS_1