
Melihat Rama yang terduduk di hadapannya, Bayu pikir Rama hanya merasakan sakit dari tinjunya saja, ia memilih untuk berlalu meninggalkan Rama yang kian melemah. Rama terlihat seperti tengah menahan nafas dengan tangan terus memegangi perut atasnya. Dengan tiba-tiba, ia merasakan mual yang tak tertahan sehingga dengan terpaksa harus muntah di sana. Alangkah terkejutnya Rama yang melihat darah berceceran dari mulutnya dan pandangannya yang semakin kabur.
"Tolong! Suster atau siapapun bawa..............." terdengar suara seseorang yang menghampirinya berteriak memanggil orang lain. Namun suara itu kian menghilang bersamaan dengan tertutupnya mata Rama. Ia hanya menebak bahwa itu adalah orang yang lewat dari atau akan ke rumah sakit. Ya, hari ini adalah jadwalnya untuk kontrol dan terapi, dan alasan itu yang membuatnya membatalkan acara dengan Arisa. Namun, kejadian tak terduga menimpanya.
Perlahan, Rama membuka matanya dan ia samar-samar mendengar seseorang tengah berbincang di dekatnya.
"Berapa biaya operasi transplantasi hati Dok? Saya mohon selamatkan adik saya. Tak apa jika pihak rumah sakit akan memotong seluruh gaji saya sampai lunas, asalkan adik saya bisa di sembuhkan." Dari suaranya, Rama sudah mengenali bahwa yang bicara itu adalah kakaknya, Dimas.
"Tidak semudah itu Dimas. Transplantasi harus dilakukan jika pendonor memiliki gen yang cocok dengan adikmu."
"Tapi Dok...."
"Bang Dimas." Panggil Rama menyela obrolan Dimas dengan seniornya.
"Li... kau tak apa kan? Kau tenang saja ya! Abang pasti akan temukan pelaku yang sudah memukulmu dan menyebabkan kankermu jadi tambah parah." Ucap Dimas setelah ia berlari menghampiri dan meraih tangan Rama. Ia menghela nafas dalam sesaat lalu menahan air matanya agar tak terjatuh di depan Rama.
"Abang juga akan sembuhkan kamu. Abang janji, dalam waktu dekat Abang akan temukan hati yang cocok untuk kamu. Maaf hati Abang tidak ada kecocokan dengan hati kamu." Lanjut Dimas sudah tak bisa membendung air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Ternyata kankernya jadi parah. Pantas saja rasanya sakit. Bau amis di tenggorokanku masih terasa, dan mungkin aku akan muntah darah lagi sampai aku mati. Ya Tuhan! Apa kau tak mengizinkan aku untuk hidup lebih lama? Aku masih ingin menghabiskan waktu dengan Aris. Aku juga masih ingin menemaninya. Dia kesepian, jika bukan aku, lalu siapa yang bisa menjadi rumah keduanya?" Batin Rama saat ia sudah mencerna semua obrolan Dimas.
"Bang... Ali baik-baik saja. Dan jangan bekerja terlalu keras. Ali takut usaha Abang akan sia-sia nanti."
__ADS_1
"Tak ada usaha yang sia-sia Li. Apa kau tak memikirkan Aris? Kau bilang Aris anak yang kesepian, kalau kau tak ada, siapa yang mau menemani Aris? Kau sangat menyayanginya kan?" Mendengar semua yang diucapkan Dimas, Rama hanya tersenyum seraya menitikkan air matanya.
"Ali ada satu permintaan terakhir untuk Abang. Dan Abang harus menyanggupinya."
"Apa itu Li? Jangan yang aneh-aneh. Abang gak akan biarin Ali pergi."
"Ali mau, setelah kepergian Ali, Abang jaga Aris ya. Jadi pengganti Ali juga tak apa Bang. Asalkan Aris bisa bahagia tanpa Ali. Atau, Abang jaga Aris sampai Aris dapat pengganti Ali yang bisa buat Aris bahagia." Mendengar permintaan adiknya ini, Dimas tak kuasa menahan tangisnya.
"Abang...." rengek Gilang yang ternyata sudah mendengar semua yang dikatakan Rama.
"Bang Rama jangan pergi. Bang Rama harus sembuh. Gilang kesepian kalau Abang pergi." Lanjutnya masih merengek dan kini ia memeluk kakak keduanya dengan erat.
"Kan Bang Dimas masih ada."
"Ibu juga ada kan Lang?"
"Terus Abang pikir karena ibu ada, Gilang senang kalau Bang Rama pergi?"
"Maaf ya Lang. Abang belum bisa jadi kakak yang baik buat Gilang. Abang selalu jahil, Abang selalu buat Gilang risih."
"Enggak Bang. Abang itu baik. Gilang gak bisa tanpa Abang." Lagi-lagi Rama tersenyum menanggapi ucapan Gilang yang masih sesenggukan karena tak bisa menahan diri untuk menangis.
__ADS_1
"Lang..." belum sempat Rama melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Rama menjadi sesak, Dimas dan seniornya segera mengambil tindakan, dan Gilang diharuskan keluar dari ruangan sesuai dengan kebijakan dan aturan rumah sakit. Gilang yang ketakutan pun tak bisa menahan tubuhnya yang gemetaran.
Malamnya, Arisa sudah bersiap dengan merias diri dan berpakaian yang sangat rapi dan menarik. Ia menatap wajahnya dari balik cermin lalu mengambil ponsel untuk menghubungi Rama. Beberapa kali Arisa memanggil namun tak satupun ada jawaban dari nomor yang dituju. Bi Ina yang sudah menyiapkan apa saja yang Arisa butuhkan di gazebo pun memberi laporan, dan saat itu juga Arisa segera pergi ke gazebo tempat dimana Rama selalu menemaninya melihat bulan purnama. Malam semakin larut, dan raut wajah Arisa mulai berubah menjadi kesal setiap panggilannya tak kunjung terhubung. Hingga Arisa yang kecewa pun memilih untuk tidur. Atas permintaan Dimas, Gilang mencoba mengirim sebuah pesan untuk Arisa dengan menggunakan ponsel Rama.
Pagi menyingsing, Arisa terbangun dengan perasaan masih menyimpan amarah pada Rama yang tak menepati janjinya. Ia sudah lelah menunggu namun tak ada yang datang. Dengan malas, Arisa mencoba membuka ponselnya, dan benar saja, ia mendapati sebuah pesan dari nama kontak pacar kesayangannya.
[Mbak. Ini Gilang pakai nomor Bang Rama. Gilang mau bilang kalau Bang Rama sakit. Gilang lihat ada bekas pukulan di pipi Bang Rama, Mbak. Maaf ya kalau Bang Rama ada salah pada Mbak Aris. Bang Rama sayang sama Mbak Aris kok. Mbak Aris harus percaya!] Kurang lebih seperti itu isi pesan yang Gilang kirim. Arisa mengernyitkan alisnya dan berpikir ulang siapa yang memukulnya? Gilang tak memberitahu dirinya tentang Rama sepenuhnya. Karena tak ingin terlarut dalam pikirannya, Arisa segera bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Kak Bayu. Kita itu sudah siapkan acara ini matang-matang loh. Kenapa kakak sendiri yang ingkar dan memilih untuk tidak ikut?" Protes Fabian dari dalam gor basket yang baru saja keluar setelah ia mengambil perlengkapannya.
"Kau itu tak tahu apa-apa. Rama itu adiknya Dimas. Dan Dimas itu temanku dari SMA. Aku merasa bersalah sudah menghajar Rama hanya karena salah faham. Aku kira Rama menyakiti Aris. Tapi tidak. Jadi, sebaiknya kalian saja yang pergi. Aku ingin menyelesaikan urusanku dulu."
"Kak. Kakak kaptennya. Mana mungkin kita berangkat tanpa kapten." Ucap Fabian lagi.
"Kau wakilnya, dan kau bisa menggantikan aku."
"Tapi kak...."
"Fabian. Aku harus menebus kesalahanku. Aku harus menemui Rama, dia di rumah sakit sekarang. Dan itu salahku." Setelah Bayu mengatakan itu, raut wajah Fabian berubah seperti orang ketakutan. Bayu sendiri merasa terheran dengan Fabian, sehingga ia langsung menoleh pada arah tatapan Fabian saat ini. Saat ia berbalik, ia pun sama terkejutnya, bahkan ia terlihat lebih gugup dan ketakutan.
"A-Aris--" 'plak' tanpa ingin mendengar apapun lagi, Arisa menampar keras pipi Bayu hingga berpaling. Ia sekarang sudah mendapatkan jawaban siapa yang memukuli pacarnya. Dan ia tak menyangka, Bayu, orang yang ia percaya bisa sampai hati memukul Rama yang tak ada salah sedikitpun padanya.
__ADS_1
"Aris.. aku jelaskan." Dan tanpa ingin mendengar penjelasan Bayu, Arisa berlalu begitu saja dari hadapannya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Bersambung