
. Pagi yang cerah terasa menghangatkan, namun tidak membuat suasana di keluarga Rama kembali menghangat setelah kenyataan pahit itu terungkap. Dan hari ini, Arisa datang ke rumah Rama dengan senyum yang mengembang. Ia membawa beberapa macam kue dan buah-buahan untuk Rama yang masih sakit. Meski Arisa tak di beritahu Rama sakit apa, namun ia hanya menebak bahwa Rama tengah sakit demam saja. Karena Rama tak ingin Arisa tahu kebenarannya, ia kembali bersikap bahwa kondisi tubuhnya sudah membaik dan lebih segar dari sebelumnya.
"Mau jalan-jalan?" Tanya Rama yang di tanggapi anggukan oleh Arisa. Sebenarnya Dimas sangat ingin menegur agar Rama tidak kemana-mana, namun karena menuruti keinginan Rama yang kemungkinan termasuk permintaan terakhir, Dimas hanya bisa menurut saja.
"Hati-hati. Pakai sweater nya!" Mungkin hanya peringatan itu yang bisa Dimas katakan pada adiknya.
"Kak Dimas mau gabung? Hari ini libur kan? Ayo barengan ke bazar." Arisa dengan antusias mengajak Dimas agar ikut dengannya.
"Tidak Aris. Hari ini ada urusan. Kau saja dan Rama yang pergi. Hati-hati kalian ya! Jangan teledor pada barang berharga." Rama terhenyak sesaat. Ia salah mengartikan maksud Dimas, ia mengira barang berharga yang di maksud ialah Arisa yang harus di jaga dengan baik olehnya. Namun, sebenarnya maksud Dimas itu tentang barang-barang yang mahal, seperti uang, perhiasan, dan ponsel. Ia tahu banyaknya orang di bazar itu kebanyakan ada yang mencari kesempatan.
"Aku akan menjaganya kak." Lirih Rama seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Setelah mendapat izin dari kakak dan ibu Rama, keduanya berlalu dengan mobil Arisa menuju tempat yang ingin mereka datangi.
Sampai di tempat bazar, Arisa dan Rama berjalan-jalan mengelilingi tempat itu. Arisa beberapa kali terhenti saat melihat apa saja yang menarik perhatiannya. Seperti halnya kali ini, Arisa kembali terhenti dan saat di tanya ingin apa, ia selalu menjawab tidak. Dan Rama sedikit tersingkir saat ada beberapa orang lewat tepat diantara mereka. Ketika Arisa hendak menyusul Rama, ia tak sengaja menyenggol lengan seseorang yang mengakibatkan minumannya tumpah.
"Maaf Kak!" Pekiknya segera meraih jaket pria itu dengan menyesal. "Tissue... mana ya?" Ucapnya lagi seraya mencari sebuah tissue dari dalam tas kecilnya. Melihat sikap Arisa tersebut, Bayu hanya termangu dan ia bahkan tak berkedip.
"Bidadari dari alam mana ini? Ya Tuhan... kenapa ciptaan-Mu sesempurna ini?" Batin Bayu tak sedikitpun memalingkan pandangannya dari Arisa.
"Siapa namamu?" Tanya Bayu seketika menghentikan aktifitas Arisa yang tengah membersihkan jaket Bayu.
"Eh?" Tampaknya Arisa tak langsung paham dengan pertanyaan Bayu yang tiba-tiba.
"Namamu siapa--"
__ADS_1
"Aris! Aishh maaf ya. Tadi ada orang lewat." Belum selesai Bayu mengulang pertanyaannya, Rama lebih dulu menarik perhatian Arisa sehingga ia mengabaikan Bayu seketika.
"Kau tak apa kan? Tadi ada yang menabrak tidak?" Sesegera mungkin Rama meraih kekasihnya dengan khawatir.
"Tak apa. Justru aku yang menabrak orang. Lihat! Jaket kakak ini kotor gara-gara aku." Jawab Arisa kemudian menunjuk Bayu yang menyimak obrolan mereka.
"Oh... kak maaf ya! Pacar saya memang suka sekali menabrak orang." Tutur Rama meminta maaf dengan merangkul pundak Arisa dan sedikit melempar candaan sehingga Arisa tertawa kecil karena kejahilan Rama. Bayu hanya mengangguk seraya tersenyum lebar melihat keduanya yang begitu bahagia.
"Pacar ya? Hemmm... ku kira masih sendiri. Tapi tak heran. Gadis ini benar-benar cantik, dan juga dia terlihat sangat manis. Andai saja aku juga mendapatkan wanita sepertinya, pasti hidupku juga akan bahagia." Batin Bayu memudarkan senyumnya lalu berpamitan pada Arisa dan Rama agar dirinya segera pergi.
"Tapi kak. Jaketnya..."
"Tak apa.. hanya kotor sedikit." Balas Bayu kembali menarik senyum sesaat lalu berbalik dan pergi tanpa menoleh kembali. Yang ia ingat sepanjang jalan hanyalah wajah dan nama Arisa saja. Ia seakan tak ingin menghilangkan nama itu dari pikirannya. Disamping itu, Arisa dan Rama memilih untuk kembali berjalan-jalan dan melupakan kejadian barusan.
"Aris. Kau Aris kan? Yang tadi di bazar?" Meski merasa ragu, Bayu tetap menyapa dan bertanya untuk memastikan bahwa gadis ini memanglah gadis yang ia temui di bazar. Tidak seperti sebelumnya, sikap Arisa terlihat sedikit dingin. Ia hanya mengangguk seraya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Bayu. Bayu yang semula merasa senang dan bersemangat pun, berubah heran akan sikap Arisa.
"Oh iya. Tadi kita belum sempat berkenalan. Aku Bayu." Ucapnya mengulurkan tangan ke depan Arisa.
"Aris." Jawab Arisa hanya demikian. Ia membalas uluran tangan Bayu dengan senyum tipis yang mengiringi balasan perkenalan mereka. Meski demikian, namun Bayu merasa bahwa senyum itu sangatlah berharga.
"Untuk yang tadi..."
"Aris minta maaf ya kak! Aris tidak sengaja." Arisa segera menyela dan menghentikan ucapan Bayu yang belum sempat terucapkan.
__ADS_1
"Tak apa Aris."
"Terima kasih kalau begitu. Maaf Aris duluan." Lagi-lagi, saat Bayu hendak kembali berucap, Arisa dengan cepat menyela, dan bahkan kali ini Arisa berlalu ke tempat kasir untuk bertransaksi. Bayu cepat-cepat mengambil kopi yang hendak ia beli lalu menyusul Arisa ke kasir. Entah apa yang membuatnya begitu bersemangat mendekati gadis yang sudah punya pacar, rasanya Bayu sangat menginginkan kedekatannya lebih dari sekedar hanya orang asing yang berkenalan karena sebuah kebetulan saja.
Bayu kembali mengejar Arisa di parkiran setelah ia pun membayar minumannya.
"Aris tunggu! Boleh aku bertanya?" Terlihat jelas wajah Arisa begitu malas untuk berbincang dengan Bayu, dan Bayu sendiri masih bersemangat untuk mendekati Arisa. "Apa kau mahasiswa?" Tanya Bayu selanjutnya, meski ia tahu Arisa mulai risih.
"Tidak kak. Aku baru lulus SMA."
"Terus, kau akan kuliah dimana?"
"Di kampus Xxxx." Meskipun merasa risih, Arisa menjawab dengan masih melemparkan senyum agar Bayu tak merasa tersinggung.
"Benarkah? Kebetulan aku juga kuliah di sana, semester 6, dan sedang ujian. Emmm kau ambil jurusan apa?" Bayu semakin antusias setelah mendengar Arisa ternyata akan satu kampus dengannya.
"Bisnis." Jawab Arisa sudah ingin segera pergi dari sana.
"Serius? Aku juga bisnis."
"Benarkah? Tapi, sebelumnya aku minta maaf kak. Aku harus segera pergi." Dengan penuh pertimbangan dan keberanian, Arisa mengungkapkan niatnya agar pergi dari hadapan Bayu secepatnya.
Setelah Arisa berlalu, Bayu tak sedikitpun memudarkan senyum di wajahnya karena 'kebetulan' yang di alaminya tidak sia-sia.
__ADS_1
Bersambung