
Tio menatap dengan seksama wajah Bayu dan ia kemudian berpaling sebab Arisa sudah berlalu dari tempat ramai itu. Rama yang berada di samping Tio hanya terdiam dan memilih untuk mengikuti kemana Tio membawanya.
"Kau terkejut?" Tanya Tio memecah keheningan diantara keduanya.
"Sedikit."
"Lalu, kenapa kau mendadak diam?"
"Aku hanya khawatir kalau Bayu dan teman-temannya akan melakukan sesuatu pada Aris karena menampar Bayu."
"Dan, kenapa kau mengajaknya putus?"
"Aris dan Bayu berpacaran."
"Siapa bilang?"
"Bayu!"
"Ada bukti?"
"Minggu lalu, aku sempat menemukan Arisa sedang belanja berdua di Mall. Dan, Bayu memberinya barang-barang mahal, jadi pantas saja kalau Aris lebih memilih Bayu." Mendengar jawaban Rama tersebut, Tio seketika mendadak tertawa dengan keras sampai Rama terdiam keheranan.
"Aihhh kenapa aku tertawa ya?" Ucapnya berbicara sendiri.
"Ada apa kak? Apa ucapanku ada yang salah?"
"Tidak Rama. Hanya saja aku tak tahu harus berekspresi apa. Aris kabur dari rumah dari beberapa minggu yang lalu, entah 2 atau 3 minggu, bahkan lebih. Ahh aku lupa kapan dia pergi, yang jelas saat itu dia bertengkar dengan Mama. Tak ada yang tahu dimana Aris sampai Mama sakit dan dirawat. Semua bawahanku tak ada yang menemukannya, sampai akhirnya aku mendapati ponselnya hidup setelah sekian lama dibiarkan mati. Yang paling menyedihkan dari kepergiannya, ahhhh aku ingin menangis kalau mengingat ini." Sejenak Tio menghela nafas untuk memberi jeda penjelasannya dan mencoba mengatur nafasnya sesaat. "Aris bekerja di Mall yang kau maksud, dan mencoba untuk hidup sendirian. Salahnya Mama, berkata bahwa Aris itu merepotkan. Jadi, Aris mungkin kesal dan memilih untuk menghidupi dirinya sendiri. Meski aku kesal pada Bayu, tapi sejujurnya aku merasa salut dan berterima kasih padanya karena sudah menjaga Aris." Lanjut Tio membuat Rama terdiam membisu. Ia jelas-jelas sudah salah mengira bahwa Arisa telah berpaling pada hati lain. Namun, ada satu hal yang membuatnya masih merasa penasaran dan masih berpikir bahwa Arisa dan Bayu memang berpacaran.
__ADS_1
Tio menepikan mobilnya mengikuti Arisa yang terhenti disebuah taman dan terlihat Arisa berlari menuju sebuah danau yang tak terlalu besar dan menyusuri dermaga menuju tengah danau. Sejujurnya Arisa ingin berteriak, ia merasa hidupnya sangatlah tidak beruntung. Keluarga yang berantakan, dan sekarang Rama yang meninggalkannya tanpa alasan yang jelas, dan sebuah tuduhan bahwa dirinya berpaling pada orang lain. Dari belakangnya, Raisa mencoba menyusul Arisa namun secepatnya Tio menahan agar Raisa tidak melangkah semakin mendekati Arisa.
"Rama... aku tidak ada niat sedikitpun memalingkan pandanganku pada orang lain." Ucap Arisa dengan lirih dan berjongkok di ujung dermaga.
"Ya.. aku tahu. Dan maaf karena sudah berpikir yang tidak-tidak padamu." Mendengar suara yang sangat ia kenal di belakangnya, Arisa terhenyak lalu beranjak dan memutar tubuhnya memastikan bahwa orang tersebut memang Rama.
"Rama... dengarkan penjelasanku. Jangan memutuskan sendiri."
"Tapi... apa aku boleh bertanya satu hal? Mungkin itu yang akan menentukan hubungan kita lanjut atau berakhir." Terlihat pula, pandangan Arisa berubah seakan bertanya apa yang ingin ditanyakan oleh Rama padanya.
"Aku melihat kau dan Bayu--"
"Sudah ku bilang aku dan Bayu tak ada hubungan apa-apa. Saat di Mall, aku hanya membantunya memilih beberapa pakaian untuk dia berikan pada sepupu dan Ibunya. Maaf saat itu aku tak mengejarmu dan mencoba menjelaskan di sana. Aku..."
"Kau bekerja kan?"
"Kau tahu?" Mendadak sorot mata dan ekspresinya berubah heran saat Rama mengetahui ia bekerja.
"Terus kenapa kau meminta putus? Kau tahu aku bekerja, tapi kau masih saja salah faham."
"Aku baru tahu tadi di mobil, Aris! Sebelumnya aku tak tahu apa-apa. Kau tak bisa dihubungi, dan Bayu bilang kalian pacaran. Dna juga jika iya pun wajar saja kalau kau memilih Bayu. Dia lebih kaya dariku."
"Kau bicara seolah aku adalah wanita murahan, Rama."
"Tidak Aris. Aku tak bermaksud begitu."
"Kalau begitu, percaya padaku!"
__ADS_1
Mendengar permintaan Arisa, Rama terdiam dan membiarkan Arisa meraih ujung jaketnya dengan menunduk seakan menyadari sikapnya yang tak mempercayai Arisa.
"Aris. Kalau semisal aku pergi, apa kau--"
"Aku tak akan membiarkanmu pergi. Kalaupun kau harus pergi, maka aku harus ikut denganmu."
"Kenapa?"
"Karena kau rumahku. Aku tak bisa pulang kalau kau tak ada. Aku tak bisa menjalani hidup kalau kau tak di sampingku. Kau pikir kemarin aku hidup sendirian, aku merasa baik-baik saja? Jujur aku kesepian Rama."
"Maaf." Hanya kata itu yang berhasil terlontar dari mulut Rama. Sebenarnya ia ingin memberitahu Arisa tentang penyakitnya, namun hal itu mungkin akan membuat Arisa menjadi tertekan dan kemungkinan beban pikirannya pun akan bertambah.
Melihat kedua anak manusia di depannya sudah berbaikan, Tio mencoba untuk ikut menyusul Arisa ke ujung dermaga. Raisa yang menyaksikan Arisa dan Rama dari jauh, ia memilih untuk tetap diam di tempatnya. Ia tak ingin merusak mood Arisa yang kini tengah membaik.
Setelah dirasa cukup menghabiskan waktu di taman, mereka berempat sepakat untuk mampir disebuah cafe untuk membeli dan mengemil beberapa camilan di sana. Ditengah asyiknya mereka berkumpul, Tio terlihat mendapati sebuah telepon masuk dan menjawabnya dengan menjauh dari ketiga anak-anak itu.
"Pasti pergi." Ucap Arisa menatap tajam pada punggung Tio yang membelakangi mereka.
Benar saja, setelah Tio memutuskan sambungan teleponnya, ia memberitahu adik-adiknya bahwa ada pekerjaan mendadak dan mengharuskannya untuk pergi lebih dulu dari tempat itu.
"Yah.... terus aku jadi nyamuk?" Protes Raisa menyadari bahwa ia tengah berada di antara pasangan yang mungkin akan menghabiskan waktu berdua.
"Kau mau ikut dengan kakak?" Sontak Raisa mengangguk antusias menanggapi pertanyaan Tio, dan secepatnya ia beranjak dan menggandeng tangan Tio agar tak tertinggal.
Sementara itu, Arisa dan Rama hanya saling pandang saat Tio dan Raisa meninggalkan mereka berdua. Keduanya melanjutkan menyantap makanan dan minuman yang ada di atas meja tanpa harus memikirkan pembayaran. Sebab, sebelum pergi, Tio melakukan transaksi pembayaran terlebih dahulu.
Waktu terus berlalu, hari terus berganti, dan tak terasa libur sekolah sudah hampir berakhir. Arisa mempersiapkan beberapa kebutuhan yang harus ia persiapkan sebelum acara ospek tiba. Sebelum ospek, ia mengingat kembali tanggal dan sepekan sebelumnya, adalah malam bulan purnama. Dimana malam itu ia dan Rama pasti akan kembali melihatnya disuatu tempat.
__ADS_1
"Berapa purnama ya? Hemmm kenapa harus purnama? Rama itu memang aneh." Ucap Arisa membuka pintu balkon dan menatap keluar dengan tatapan yang tenang namun tak lagi kosong.
Bersambung