7 Purnama

7 Purnama
Bab 63


__ADS_3

"Jangan kira karena kau sudah melakukan operasi, kau jadi seenaknya sendiri." Tegur Dimas saat Rama baru memasuki rumah. Rama yang mendengar hal itu pun hanya mendelik dan tak menanggapi lebih jauh. Ia memilih masuk ke dalam kamarnya lalu membuka hasil pemeriksaan kondisi tubuhnya minggu lalu.


"Kankernya masih ada. Huft... tak apa. Setidaknya umurku tak terlalu pendek. Aku bisa menghabiskan waktuku lebih lama dengan Aris. Semoga saja." Ucapnya bergumam sendirian. Rama perlahan menghela nafas dalam sesaat lalu ia tersenyum saat menghembuskannya. Bayangan senyuman Arisa masih membekas dalam ingatannya. Ia menyentuh dadanya, rasa cintanya pada sang kekasih terasa semakin menggebu. Baru beberapa jam berpisah saja sudah membuatnya ingin kembali bertemu.


"Haihhhh aku memang berpacaran dengan seorang bidadari." Ucapnya lagi kini tertawa kecil.


Di setiap harinya, selalu ada saja cerita dari 2 insan yang tengah dimabuk cinta itu. Kebersamaan mereka selalu menjadi pusat perhatian. Terlebih saat Rama membawakan buku dan tas Arisa menyusuri koridor kelas. Arisa yang merupakan seorang putri tak beruntung di keluarganya, namun diperlakukan layaknya seorang ratu oleh pasangannya. Benar-benar sebuah hadiah istimewa yang telah diberikan kepadanya. Begitupun dengan Rama. Ia tak beruntung dalam segi ekonomi, namun ia memiliki kekasih yang sangat mencintainya tanpa syarat, dan tanpa memandang apapun. Jika dibandingkan dengan pria lain, mungkin wajah Rama terkesan biasa saja. Namun, di mata Arisa, Rama adalah orang yang paling sempurna.


"Rama..." panggil Arisa dari belakang.


"Apa cantik?" Balasnya menoleh ke belakang dan berhasil membuat Arisa tersenyum manis.


"Nanti sore beli permen kapas lagi ya!"


"Boleh boleh. Tapi jangan banyak-banyak. Nanti sakit gigi."


"Siap pak bos."


Semakin hari, kedekatan Arisa dan Rama semakin membuat iri pasangan lain. Bayu yang tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan skripsi pun mendadak tak fokus. Ia sering melamun sejak tahu Arisa dan Rama semakin romantis. Bahkan mereka tak segan menunjukkan keromantisan mereka di depan umum. Namun masih dalam batas normal. Seperti saling menyuapi camilan disaat yang satunya sibuk dengan satu hal. Dan tak terasa, seiring berjalannya waktu, Arisa tak menyadari bahwa purnama selanjutnya sudah di depan mata.


"Emmm ulang tahun Rama tinggal 3 minggu lagi. Aku beri kado apa ya?" Gumam Arisa ketika melihat kalender yang ia pajang di atas nakas.


Seakan sudah melupakan momen purnama, Arisa bersikap biasa saja dan tak menyinggung tentang hal itu sedikitpun. Rama yang sudah tak ingin menghitung berapa purnama yang mereka habiskan pun memilih untuk dia saja. Ia merasa umurnya akan lama dan janji 7 purnama dengan pencipta pun mulai ia abaikan. Ia sangat bersyukur atas kesembuhannya meski tidak sampai sembuh total, namun setidaknya itu bisa mengurangi kecemasannya.

__ADS_1


"Apa kau melihat bulan tadi malam?" Tanya Rama mulai menyinggung obrolan tentang itu.


"Hemm tidak. Aku tidak keluar rumah." Jawab Arisa.


"Nanti malam aku ke rumahmu ya."


"Eh. Mau apa?"


"Mau melamar."


"Hah? Ta-tapi aku belum...." terlihat jelas wajah panik Arisa yang terkejut mendengar apa yang akan dilakukan Rama. Melihat Arisa demikian, Rama tak bisa menahan tawanya.


"Bercanda! Hahaha aku belum punya uang untuk membeli cincinnya. Hanya modal ucapan dan janji saja, aku tak cukup berani."


"Iihhh Rama... awas kau ya! Aku kira serius." Arisa memukul-mukul lengan Rama dengan keras karena ia sudah kesal dibuatnya.


"Lebih baik meninggalkan keluargaku dari pada harus kehilanganmu." Balas Arisa seakan begitu menegaskan.


"Kalau semisal aku meninggal?"


"Apa yang kau bicarakan? Rama, aku tak suka kalau kau bicara sembarangan. Kalau memang kau meninggal, aku juga akan meninggal denganmu." Lagi-lagi Arisa berkata dengan tegas. Karena tak ingin mendengar celotehan Rama, Arisa beralih duduk di belakang Wina. Meski mereka sejajar, setidaknya mereka tak akan berbincang sampai pelajaran selesai.


"Wina... nanti pulang bareng ya!" Ucap Rama berhasil membuat Wina menoleh padanya dan Arisa terlihat memelototinya.

__ADS_1


"Apa? Cemburu?" Tanya Rama kemudian. Dengan begitu, Arisa semakin merajuk dibuatnya. Ia bahkan terlihat tak lagi mempedulikan Rama meski pelajaran sudah selesai. Melihat Arisa yang marah, Wina ikut menjelaskan bahwa ia tak tahu apa-apa. Namun, Wina yang mengira Arisa akan marah, ternyata Arisa tak mempermasalahkan hal ini. Ia tak menyalahkan Wina atas pertengkarannya dengan Rama.


"Sayang. Hei tunggu." Panggil Rama menghampiri mereka.


"Ya sudah Win. Aku duluan ya." Ucap Arisa pada Wina kemudian ia berlalu dan mengabaikan Rama.


"Aris. Hei... kau marah?" Dan Arisa tak menjawab, ia memilih untuk terus berjalan ke arah parkiran.


"Aris... maaf aku salah. Tadi aku hanya bercanda untuk menggodamu saja agar kau tak merajuk terus." Dan akhirnya Arisa menanggapi Rama yang terus berusaha meluluhkan hati Arisa. Keduanya saling diam dengan pandangan yang berbeda.


"Apa harus dengan candaan seperti itu?"


"Iya maaf Aris. Aku janji tak akan mengulanginya lagi. Sudah ya jangan marah! Plisssss." Rama terus membujuk dan memohon agar Arisa bisa memaafkannya dan tak lagi merajuk. Namun, hal tak terduga berhasil membuat Rama terkejut. Arisa tiba-tiba memukul-mukul dadanya dengan masih kesal. Dan saat ini wajahnya sangatlah muram. Rama membiarkan Arisa memukulnya saat ia melihat embun mulai menggenang di pelupuk mata Arisa.


"Bercandamu kelewatan Rama. Sudah tahu aku takut kehilanganmu. Kenapa kau malah begitu?"


"Iya maaf. Kan aku sudah minta maaf." Dengan penuh penyesalan, Rama terus meminta maaf agar Arisa tak lagi marah padanya. Bayu yang melihatnya pun merasa risih, ia merasakan kecemburuan padahal Arisa bukan siapa-siapa.


"Woy Bay. Cepat!" Panggil salah satu temannya. Dan Bayu pun segera bergegas menyusul temannya tersebut. Ia terlihat begitu kesal sebab Arisa seperti disakiti oleh Rama.


Sepulang dari kampus, Rama tidak langsung pulang bersama Arisa, meski Arisa sudah memintanya untuk pulang bersama. Tanpa memberitahu akan kemana, Rama diam-diam memasuki sebuah bis untuk pergi ke suatu tempat setelah Arisa berlalu. Tanpa ia sadari, di belakang bis yang ia tumpangi, ada sebuah mobil yang mengikutinya. Sampai di tempat tujuan, Bayu turun dan menghampiri Rama yang baru keluar dari bis.


"Rama!" Panggil Bayu dengan sirat amarah di wajahnya.

__ADS_1


"Eh kak Bay--" 'bugh' belum sempat Rama menyelesaikan kalimatnya, Bayu tiba-tiba melayangkan tinju tanpa Rama tahu penyebabnya apa. Bukan hanya di wajah, Bayu juga memberi dorongan pada bagian perut Rama sehingga Rama ambruk seketika.


Bersambung.


__ADS_2