7 Purnama

7 Purnama
Bab 30


__ADS_3

. Seno yang semula terdiam, kini ia tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Arisa yang ia rasa tak masuk akal. Seno tahu bagaimana Tio yang menyayangi Arisa dari pada dirinya sendiri.


"Aris. Kau buat lelucon apa?" Dan Seno masih tertawa terbahak-bahak, namun Ani merasa kebingungan akan sikap Arisa dan anaknya yang jelas bertolak belakang.


"Aku serius. Kakak bilang aku anak pembawa masalah, anak pembawa sial, dan juga dia tak mau punya adik sepertiku." Pecah sudah tangis Arisa yang sedari tadi ia tahan di depan Seno dan Ani. Melihat Arisa yang terlihat frustasi, Ani segera memeluk Arisa dengan erat berharap anak ini akan tenang di dalam pelukannya. Namun, tak di duga, Arisa malah menangis semakin keras lantaran ia merasa di perhatikan oleh orang asing dari pada ibunya sendiri.


"Sudah nak sudah. Jangan terlarut dalam kesedihan, bisa saja kejadian ini ada hikmahnya yang bisa kau ambil manisnya."


"Tapi Aris salah apa? Kenapa semua keluarga Aris tak peduli pada Aris? Padahal kalau begini jadinya, kenapa Aris tak mati saja."


"Ehhh jangan bicara begitu. Setiap masalah pasti ada hikmahnya nak. Bersabarlah, dan kau akan menemukannya suatu hari nanti. Jangan ingat pada siapa yang menjauhimu, tapi ingat siapa yang peduli dan menyayangimu." Arisa semakin tenang setelah mendengar nasehat Ani, Seno ikut senang melihat Arisa bisa di tenangkan dengan nasehat ibunya. Namun ketenangan mereka tak bertahan lama, Seno terbelalak melihat nama Tio memanggil ke nomor ponselnya. Dengan memberi isyarat agar Arisa diam, Seno mencoba menjawab panggilan Tio dengan mencoba untuk tenang.


"Hallo!" Sapanya setelah ia menggeser tombol penerima panggilan.


"Sen... apa kau bertemu dengan Aris?" Seketika itu Seno mematung, ia tak tahu harus menjawab apa pada Tio sekarang.


"Hah! Hallo Tio? Kau bicara apa? Aishhh sepertinya sinyalku bermasalah." Ucap Seno berpura-pura mengalami masalah untuk mengalihkan pembicaraan.


"Aku mendengarmu sangat jelas Sen. Mana mungkin sinyalnya jelek."


"Apa Tio? Jangan dulu bicara! Aku tak mendengarmu dengan jelas."


"Aku ke rumahmu sekarang!" Bukannya bisa di atasi, Seno malah membuat suasana menjadi kacau. Dan setelahnya Tio memutus panggilan dan kemungkinan Tio langsung meluncur menuju ke rumahnya.


"Tio ke sini. Kau sembunyi cepat!" Ucap Seno dengan panik dan Ani pun terlibat bahkan ia terlihat lebih panik dari Seno.

__ADS_1


"Mobil.. mobilku bagaimana? Kak Tio pasti langsung tahu kalau melihat mobilku."


"Itu gampang, sekarang kau bersembunyi dulu di kamar kakak." Seno menarik tangan Arisa menuju kamarnya, namun sesegera mungkin Ani merebut Arisa dan mengajak gadis itu ke kamar miliknya.


"Yang aman itu kamar mama. Tio tak pernah mau ke kamar mama meski dengan alasan bagaimanapun juga." Ani ikut masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Seno yang di tinggal sendiri, kini ia hanya perlu menyembunyikan mobil Arisa ke suatu tempat. Setelah berpikir beberapa saat, ia sepertinya tahu harus kemana. Sesegera mungkin Seno melajukan mobil Arisa ke garasi bawah tanah miliknya dan di posisi yang paling tersembunyi. Tak lupa ia menutupi mobil Arisa dengan penutup mobil yang ia punya. Meski terlalu besar, justru itu lebih membantunya menyembunyikan mobil Arisa.


Setelah ia kembali dari garasi, tepat saat ia mengambil air minum di dapur, terdengar suara Tio yang berteriak dari luar sampai ke dalam seperti orang gila.


"Kenapa kau?" Tanya Seno berpura-pura tak tahu apa yang terjadi.


"Aris Sen. Aris tak pulang."


"Belum mungkin."


"Tidak biasanya dia pergi tanpa memberitahu siapapun. Aku khawatir Sen. Bagaimana kalau dia kecelakaan, atau di culik? GPS nya bekerja hanya sampai taman. Dan setelahnya aku tak bisa melacaknya. Ponselnya juga mati."


"Jelas aku cemas Sen. Kau tahu Aris itu sangat berharga di hidupku, dan sekarang dia tidak ada tanpa memberi kabar. Bahkan Rama pun tak tahu di mana dia. Biasanya kalau belum pulang, Aris selalu pergi ke rumah pacarnya. Bagaimana Sen? Aris tak ada di manapun." Seno menyernyit menghadapi sikap Tio yang berbeda dari cerita Arisa. Melihat kekhawatirannya, Seno bisa tahu bahwa Tio sangatlah mempedulikan Arisa.


"Kenapa kau begitu panik?" Tanya Seno selanjutnya, namun hal ini malah membuat Tio merasa kesal.


"Apa kau tidak salah bertanya? Aris itu adikku Sen. Adik yang sama-sama kesepian."


"Tidak. Bukan itu jawaban yang aku mau. Aku tanya kenapa kau sepanik itu Tio?" Tio seketika terhenyak, ia mulai sadar dengan maksud pertanyaan Seno.


"Aris salah faham padaku Sen. Dia pikir aku mengatakan hal itu untuknya, padahal aku salah mengenali. Aku pikir dia itu Raisa, dan aku melepaskan semua isi hatiku pada Arisa yang aku simpan untuk Raisa."

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Arghhhh aku menyesal Sen. Andai saja aku mengenalinya lebih awal, mungkin aku tak akan mengatakan itu padanya."


"Lagi pula, kenapa kau menyimpan amarah untuk Rais? Dia juga adikmu Tio."


"Aku kesal Sen. Dia bersikap seolah dia tidak bersalah sudah merebut perhatian ayah dan mama dari Aris. Dan dia terus mencoba menarik perhatianku dengan sikap yang menurutku menyebalkan."


Di tengah perbincangan keduanya, Ani keluar dan menghampiri mereka. Ia bersikap biasa saja dan seolah tak terjadi apa-apa di rumahnya.


"Tio? Kapan datang?" Sapa Ani begitu santai.


"Baru saja tante."


"Kau mau menginap?"


"Tidak Tan. Tio sedang mencari Aris."


"Loh memang kemana?"


"Tio sedang mencarinya Tan." Ani hanya mengangguk pelan menanggapi jawaban Tio yang menurutnya sangatlah putus asa.


. Di waktu yang sama, Yugito meraih ponselnya dan beberapa kali mengecek posisi Arisa, namun ia kembali menghela nafas kecewa karena GPS yang ia pasang di mobil putrinya sudah tak bekerja. Bawahannya sudah mencari Arisa ke hampir setiap sudut kota, namun hasilnya tetap sama. Ia merasa menyesal sendiri karena menyuruh Juna menjemput Raisa sepulang sekolah, padahal Juna sudah di tugaskan untuk mengawasi Arisa. Yigito menyuruh bawahannya mencari Arisa di seluruh kota dan harus bisa di temukan bagaimanapun keadaannya. Juna menghadap Yugito lalu memberikan jepitan rambut yang di beli kemarin malam dari pameran.


"Saya menemukannya di area parkir sekolah non Aris, Tuan! Maaf jika salah, tapi seingat saya kemarin non Aris pakai jepitan ini saat berangkat." Seketika Itu Yugito mencengkram jepitan tersebut setelah mendengar laporan dari Juna. Ia mencoba mengingat hal apa yang mungkin membuat Arisa sampai tak pulang. Kemudian ia menghubungi nomor Tio, dan ia kembali kecewa mendengar jawaban Tio yang tak menemukan Arisa.

__ADS_1


"Kau dimana nak? Kenapa kau suka membuat keluarga menjadi cemas." Batin Yugito dengan begitu sendu.


-bersambung


__ADS_2