7 Purnama

7 Purnama
Bab 61


__ADS_3

Singkatnya, setelah libur selama 2 bulan, ia sudah merasa jenuh berada di rumah. Karena sudah mendekati malam purnama, Arisa selalu diam dan menatap bulan setiap malamnya sampai akhirnya bulan purnama kembali muncul. Seperti biasa, Rama menemui Arisa ke rumahnya dan mereka melihat bulan di tempat biasa mereka menghabiskan waktu bersama. Dari arah kamarnya, Raisa menatap iri pada Arisa yang diperbolehkan mempunyai pacar sedangkan dirinya harus sembunyi-sembunyi menjalani hubungan karena tuntutan dari Ibunya yang melarangnya untuk berpacaran. Bukan tanpa alasan, Rahma terlalu takut jika ada suatu hal terjadi pada Raisa, sekalipun itu hubungan dengan lawan jenis. Ia takut jika nantinya Raisa akan salah melangkah sebab ia masih terlalu muda untuk berpacaran. Namun, aturan itu tidak berlaku bagi Arisa yang seakan dibiarkan begitu saja oleh Rahma. Dan hal itu juga yang membuat Arisa beranggapan bahwa Rahma memanglah menyayangi Raisa saja.


Tak terasa, hari yang ditunggu telah tiba, dimana hari pertama Arisa berangkat ke kampus dan Rama yang menunggunya di depan gerbang kampus. Dengan berbinar, Arisa menjahili Rama dengan mengacak rambut Rama dnegan gemas. Begitupun Rama yang membalas Arisa dengan serupa. Ia mengacak rambut Arisa dengan gemas sehingga keduanya terlihat seperti seorang anak yang tengah bertengkar.


Saat acara dimulai, Arisa dan Rama berpisah kelompok karena masalah dari absen Nama. Bayu tersenyum penuh kemenangan ketika tahu bahwa Arisa berada dibawah pengawasannya. Semakin hari, gelagat Bayu semakin membuat Rama geram. Sampai akhirnya ospek berakhir, Rama sudah tak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak menegur Bayu. Tepatnya di samping sebuah kelas yang jarang dilewati mahasiswa, Bayu terlihat begitu santai menghadapi Rama yang mungkin cemburu melihatnya berdekatan dengan Arisa.


"Kak maaf jika saya terkesan tidak sopan. Tapi saya harap, kakak tidak mengganggu Aris. Kakak tahu Aris itu pacar saya, dan juga Aris selalu menghindar setiap kakak mendekatinya."


"Hem... oke maaf kalau aku membuatmu cemburu. Tapi, selama Aris tidak membenciku, aku akan terus berjuang mendapatkan hatinya."


"Bukankah Aris sudah menegaskan pada kakak kalau dia tak akan pernah memalingkan pandangan dan hatinya dari saya?"


"Kau begitu yakin Rama. Siapa yang tahu kan? Hati wanita itu lemah. Sekuat apapun dia mempertahankan egonya, bisa saja dia luluh jika beribu perhatian sudah diberikan padanya." Rama sudah tak kuasa menahan kekesalannya mendengar ucapan Bayu yang sudah tak bisa ia balas.


"Kita bersaing secara sehat saja Rama. Jangan karena kau yang menjadi pacarnya sekarang, kau kira kau sudah menang. Ingat! Aku tak akan menyerah. Dan satu hal lagi. Jangan karena kau adiknya Dimas, kau merasa lebih unggul dan punya kesempatan untuk mengalahkanku."


"Kau tahu kakakku?"


"Menurutmu?" Bukannya menjawab, Bayu malah pergi dengan seringai meninggalkan Rama yang masih merasa penasaran mengapa Bayu berbicara seakan begitu mengenal kakaknya.


Setiap melihat Arisa yang begitu sempurna, Rama terus terpikirkan apa yang terjadi padanya dan Bayu. Ia memutar pikirannya bahwa mungkin Bayu akan menjadi penggantinya jika ia benar-benar mati karena penyakitnya. Siapa yang tahu kalau kanker itu akan menyerangnya lagi. Ia baru melakukan operasi pengangkatan kanker. Belum pasti apakah sel kanker di hatinya akan kembali membunuhnya atau akan sembuh karena keinginannya untuk hidup. Namun satu hal yang ia ketahui, ia bisa hidup lebih lama menemani Arisa setelah operasi kali ini. Mungkin akan lewat satu tahun lagi ia akan bersama dengan Arisa, atau selamanya. Rencananya untuk menikahi Arisa mulai ia pikirkan matang-matang. Jika dirinya sembuh total, maka ia akan segera melamar Arisa meski mereka masih berkuliah. Itu akan dilakukan karena ia tak ingin ada banyak laki-laki yang mencari perhatian Arisa, atau bahkan berniat ingin menjadi penggantinya.


"Rama... apa kau sakit?" Tanya Arisa saat menoleh pada Rama yang baru saja duduk di tempatnya yang berada di belakang Arisa.


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Wajahmu terlihat pucat. Atau hanya perasaanku saja ya? Akhir-akhir ini aku merasa khawatir padamu."

__ADS_1


"Hemmm khawatir ya? Kenapa? Apa kau banyak pikiran? Mau cerita sesuatu?"


"Tidak. Hanya khawatir saja Rama." Setelah menjawab pertanyaan Rama, Arisa membalikkan tubuhnya dna menghadap ke depan sehingga kini ia membelakangi Rama. Dengan jawaban Arisa demikian, Rama hanya terdiam dan beralih menatap rambut Arisa dengan lekat dan penuh rasa penasaran.


"Kau mewarnai rambutmu?" Tanya Rama saat ia baru menyadari perubahan dari warna rambut Arisa. "Aris! Jawab!" Lagi, Rama bertanya dan kali ini ia memaksa Arisa untuk berbalik dan menatapnya. Dengan terpaksa, Arisa pun berbalik dan perlahan melirik lalu ragu-ragu menatap Rama yang sudah menatapnya dengan kesal.


"Kenapa di warnai?" Tanya Rama lagi mencoba untuk mendesak agar Arisa menjawab pertanyaannya.


"Kan aku dan Rais kembar." Jawabnya menunduk dan tatapannya menjadi sendu.


"Terus?" Rama seolah menginginkan jawaban yang lebih jelas dari sekedar jawaban yang baru saja terlontar dari Arisa.


"Mau terlihat beda saja." Jawabnya lagi namun tak membuat Rama puas dengan jawaban Arisa.


"Tapi kenapa harus diwarnai?"


"Daripada aku potong. Kan tak boleh." Kali ini Arisa menjawab dengan nada sedikit meninggi.


"Aku kesal Rama. Kemarin Mama mengira aku ini Rais. Padahal jelas-jelas aku dan Rais berbeda. Kenapa harus salah mengira?"


"Aih mendadak manja?" Batin Rama saat mendapati perubahan sikap Arisa yang mendadak manja.


"Begitu? Sudah terlanjur. Dan aku tak bisa berkomentar lagi. Mau bagaimana pun, caramu salah. Kau bisa mengubah gayamu atau--"


"Tak semudah itu Rama. Pokoknya aku tak mau sama dengan Rais."


"Iya iya maaf. Jangan marah! Maaf ya."

__ADS_1


"Mau es krim" pinta Arisa dengan sangat manja sehingga ia menjadi pusat perhatian di kelasnya.


"Iya nanti pulang kita beli. Mau apa lagi? Maksudnya jangan yang mahal ya!" Mendengar ucapan Rama yang seperti tak nyaman, Arisa langsung menggeleng lalu menepuk pipi Rama dengan pelan.


"Aku mau jalan-jalan di taman saja. Kalau sore kan biasanya ada penjual permen kapas."


"Jadi, maunya es krim atau permen kapas?"


"Dua-duanya."


"Emmmm ya sudah. Nanti kita beli."


"Kita ajak kak Seno ya!"


"Loh? Kak Seno siapa?"


"Dosen pelajaran sekarang." Bisik Arisa seraya melirik waspada pada teman-teman sekelasnya.


"Pak Seno? Kau kenal?"


"Dia kakakku."


"Bukannya kakakmu itu kak Tio saja?"


"Kalau kak Seno itu teman kak Tio. Tapi dia sudah seperti kakakku sendiri."


"Hemmm pantas saja."

__ADS_1


Dari tempatnya masing-masing, teman sekelas Arisa saling berbisik dan merasa bahwa Arisa sangat berbeda jika berada di hadapan Rama.


Bersambung


__ADS_2